
"Selingkuhan yang mana, hm?" tanyaku dengan membalas tatapannya.
"Abang pikir aku ini gak tau apa-apa, Bang. Nomor aku diblok, media sosial aku pun diblok. Itu udah cukup bikin aku curiga, Bang. Hp Abang pakai wallpaper foto penulis itu, terus Abang jadi sampul novelnya si penulis itu. Itu cukup jelas, meski aku gak tau yang sebenarnya." tuturnya dengan keadaan yang sangat buruk. Wajahnya memerah, hidungnya berair, juga matanya langsung bengkak karena terlalu banyak air mata yang terbuang.
Memang aku menjadi sampul novel Dinda yang terbaru, tapi bukan foto asliku. Hanya gambaran aku yang dibuat seperti kartun, ya layaknya sampul buku pada umumnya.
"Jangan ngada-ngada, pakek dihubungkan dengan sampul segala. Jangan balik nuduh, jelas-jelas kau yang jalan sama laki-laki lain. Dari pengakuan Hamzah pun, kau sering jalan sama dia. Jangan memutar balikan fakta, May." tukasku yang membuat matanya melebar, dan berhenti menangis sejenak.
"Tapi aku gak pernah macam-macam sama Hamzah, Bang." ucapnya dengan menyentuh lenganku.
Aku melepaskan sentuhan tangannya, "Macam-macam atau semacam, tetap tak bisa dibenarkan kalau kau pergi sama laki-laki lain." sahutku kemudian.
"Aku bikin kesalahan satu aja, udah fatal di mata Abang. Sedangkan Abang bagaimana, hm? Abang tidur sama perempuan lain, Abang bahagia sama perempuan lain. Rupanya itu bukan kesalahan bagi Abang. Abang sepelekan aku dan malah asik-asikan sama perempuan lain. Aku diam aja, Bang. Aku tak bisa marah karena hal itu, karena jelas Abang pasti menyangkalnya." balasnya dengan kembali menangis pilu.
__ADS_1
"Siapa bilang Abang tidur sama perempuan lain?" tanyaku saat Maya tengah menghapus air matanya kasar.
"Tanda merah itu, aku masih ingat jelas tanda itu. Sekarang pun ada, dengan warna pias yang hiasi jakun Abang. Aku yakin itu bukan kadas, kurap atau jamur. Itu bukan gatal bekas garukan, atau bekas kerokan." jawabnya dengan pandangan mengarah pada jakunku.
Aku bangkit dari posisiku dan berjalan menuju ke depan cermin lemari. Aku melihat bayangan diriku di cermin itu, betul apa yang Maya katakan. Ternyata di jakunku ada tanda merah pias, sepertinya ini sisa dosaku yang aku lakukan kemarin malam bersama Dinda. Kenapa disebut dosa? Karena aku melakukannya, saat Dinda masih dalam masa nifas. Memang keadaan inti Dinda sudah bersih, hanya saja belum empat puluh hari. Yang tandanya dirinya belum selesai dari masa nifasnya.
"Benar kan? Abang tidur sama perempuan lain." tuduh Maya kembali, saat aku berbalik badan dan berjalan ke arahnya.
Matanya melebar kembali, "Abang tidur sama perempuan lain? Sedangkan aku istri Abang sendiri, Abang biarkan tidur sendirian. Pikiran Abang di mana? Aku sabar, Bang. Selama ini tingkah Abang begitu. Kewajiban Abang lalaikan, tanggung jawab gak Abang penuhi. Tapi aku gak pernah minta cerai, Bang. Aku sadar, mungkin Abang masih berat nerima aku. Tapi sekarang Abang udah keterlaluan, dengan bangganya Abang ngakuin hal itu sama aku. Aku ngerasa gak ada gunanya di kehidupan Abang, untuk kepuasan pun Abang cari di luar." tukasnya dengan sesekali menghapus air matanya yang mengalir deras.
"Kalau udah tak ada gunanya kan mending udahan aja gitu kan? Biar tak nambah-nambah dosa. Heran Abang, kenapa kau kuat betul pertahanin Abang? Dengan kau tau Abang macam itu, malah lebih jelas rasa sakit kau May. Herannya Abang di situ, kenapa kau tak minta cerai? Pasti ada maksud terselubung kan di balik pernikahan ini? Rasa-rasanya perempuan tak akan kuat, kalau memang udah tau macam mana laki-lakinya di luar sana." ungkapku, mengungkapkan rasa curigaku padanya.
"Dari awal nih May, waktu pertama kali Abang datang ke kota C ini. Waktu itu jelas, kau yang datang ke kamar Abang. Dengan tanpa ba-bi-bu lagi, kau peluk-peluk Abang. Kau seolah pengen kita ketangkap basah terus dikawinkan begitu, maaf ya kalau salah. Tapi otak Abang berpikir demikian. Terus saat kejadian di rumah Abang, kau paham May bahwa Abang paling lemah dengan tubuh perempuan. Dengan mudahnya juga, kau mau e*ut dan ngangkang di atas Abang. L*nte aja jual mahal loh, May. Mereka tak mau nampak murahan, meski mereka dibayar. Tanpa semangkuk bakso, tanpa diajak jalan-jalan ke pasar malam. Dengan mudahnya kau naik ke atas Abang, terus terjadi kejadian itu. Lepas selang beberapa bulan, kau ngabarin bahwa kau hamil. Rasanya kek makan kuning telur, tapi tak minum tau May. Sesak di tenggorokan dan tak bikin kenyang di perut. Macam itulah pernikahan kita yang Abang rasain. Cuma bikin sesak di dada, tapi tak bisa beri kebahagiaan untuk diri Abang sendiri." ungkapku panjang lebar, dengan suara yang halus. Namun, jelas aku menahan rasa marahku. Tapi kalau aku mengutamakan emosiku, maka permasalahanku dengan Maya tak akan pernah usai.
__ADS_1
"Perempuan pada umumnya itu curiga, kalau dia udah tak haid satu bulan. Udah pasti mereka kelabakan cari tau masalahnya, yang buat dirinya tak haid. Kau pun udah dewasa, umur kita udah sekitar 30 tahunan. Tak mungkin, kalau kau tak tau caranya biar kau bisa haid kembali. Tak mungkin sampek nunggu 3 bulan dulu, terus kau baru kelabakan cari jalan keluarnya. Saat itu pun, Abang udah ada bilang ya May. Biar kau sabar sebentar, biar ada yang nikahin kau. Tapi dengan gampangnya, kau malah ngadu ke orang tua. Padahal Abang udah wanti-wanti, biar kau tutup mulut. Kalau udah macam ini, mau macam mana lagi May? Kau tak bahagia kan jadi istri Abang? Abang pun demikian, May. Kau bertahan sejauh mana pun, pernikahan kita tetap sia-sia. Karena cuma kau yang niat di sini, kau niat untuk jadi istri Abang. Sedangkan, Abang tak demikian May. Kau paham kan sampek sini. Siapa di antara kita, yang begitu pengen untuk kita menikah?" lanjutku kemudian.
Air matanya sudah tak merembes kembali, ia hanya menatapku dengan tatapan kosong.
Aku ini laki-laki waras, berotak dan berakal. Aku paham dengan yang apa inginkan. Meski aku tak begitu paham, dengan kode-kode yang wanita berikan. Aku tak begitu peka, dengan sesuatu yang mereka buat dengan isyarat saja. Tapi aku mengerti, sejauh ini Maya memang ingin sekali menjadi istriku. Ia begitu mengusahakan agar dirinya bisa aku nikahi.
Dia paham, kalau aku tak tertarik lagi dengannya. Jadi ia menyerah dengan menggunakan cara halus, ia ingin jalur cepat dan memutuskan untuk mendapatkan aku dengan tubuhnya. Ya aku paham sekarang, ia hamil agar bisa menikah denganku.
"Kenapa selalu diputar balikkan, Bang? Kenapa seolah aku yang salah sama Abang. Ditambah lagi dengan tuduhan aneh yang tak bermutu." sahutnya setelah sekian lama terdiam.
TBC.
Ada yang sepemikiran dengan Adi?
__ADS_1