Belenggu Sang Pemuda

Belenggu Sang Pemuda
BSP143. Zulfa pulih


__ADS_3

"Tuduhan aneh kau bilang? Coba aja dipikirkan dengan otak licik kau itu! Kau tau kau disakiti, kau tau Abang ada main sama perempuan lain. Terus buat apa lagi kau bertahan, hm? Jangan jadikan anak untuk alasan, karena jelas Naya pasti ikut papahnya. Hidupnya pasti tak kekurangan kasih sayang dan perhatian, Abang pasti berusaha untuk ngasih yang terbaik untuk Naya. Coba apa yang kau beratkan? Tak mungkin kau cinta sama Abang, saat kau ambil keputusan buat jalan sama yang lain. Perempuan kalau udah cinta tuh tak bakal tengok-tengok lagi, kecuali laki-laki. Kau berusaha pengen jadi istri Abang, sampek harga diri kau pun kau turunkan. Belum lagi bertahan dengan pernikahan yang tak sehat ini. Kau kentara sekali pengen harta dari Abang. Kau pengen hidup enak tanpa kerja keras ya, May?" jelasku dengan masih memperhatikan wajahnya, aku ingin tahu bagaimana reaksinya.


Ia memutuskan pandangan kami, ia menunduk memandang seprai bermotif bunga-bunga ini.


"Jadi, berapa banyak uang yang kau mau. Biar kau mau tanda tangan di sini?" lanjutku memberinya pertanyaan kembali. Rasanya unek-unekku tentangnya sudah aku keluarkan semua.


Aku ingin tahu jawabannya dengan semua pola pikirku. Aku ingin tahu, sejauh mana ia menyangkal semua hal ini.


"Aku tetap gak mau cerai, Bang." jawabnya dengan masih menundukkan kepalanya.


Kesabaranku sudah habis, kalau begini caranya. Aku akan bertanya lebih lanjut pada Ilham, tentang perceraian yang tanpa tanda tangan.


"Coba kita perbaiki semuanya, Bang. Tinggallah di sini satu bulan aja." ujarnya dengan menggenggam tanganku.


"Abang tak bisa selama itu ninggalin provinsi A. Lagian apa lagi yang harus diperbaiki? Pernikahan itu komitmen dari kedua belah pihak, kau bakal capek kalau harus berjuang sendirian May." tukasku dengan melepaskan genggaman tangannya. Lalu aku keluar kamar, karena adzan maghrib sudah berkumandang. Aku akan sholat di masjid saja, biar lebih tenang dan fokus.


~


Satu minggu kemudian

__ADS_1


Hari ini Zulfa sudah diperbolehkan untuk pulang. Keadaannya sudah pulih, tapi masih terlihat pucat. Jefri begitu mengusahakan donor darah, sampai ia mencari di bank darah untuk didonorkan pada Zulfa.


Untungnya Jefri mendatangi rumahku, saat Zulfa mengatakan bahwa dirinya akan nekat dalam panggilan teleponnya. Benar saja apa yang Zulfa katakan, tempat tidurnya menjadi saksi bisu darah yang mengalir dari pergelangan tangannya. Untungnya pendarahan pada tangannya masih bisa ditolong.


Tapi jelas, karena hal itu aku takut untuk pulang ke rumah. Padahal jelas Zulfa masih hidup, tapi tetap saja aku takut. Saat mengetahui tempat tidur Zulfa masih berlumuran darah. Jika malam aku tidur di rumah sakit, menemani Zulfa dan umi. Karena Jefri sudah kembali bertugas di provinsi A, tapi dia berkata akan segera kembali jika urusannya bisa teratasi. Ia cukup bertanggung jawab pada pekerjaannya, meski ia belum begitu menguasai bidang ini.


Jika aku ingin membersihkan diri dan mengganti pakaian. Aku pulang ke rumah Dinda yang lama tak ditempati. Untungnya Haris rajin membersihkan rumah itu, jadi tak terlalu seperti rumah yang terbengkalai. Saat aku mendatangi rumah dari uang jerih payah istriku, Adinda.


Jelas Haris rajin membersihkan rumah milik Dinda. Karena ia diberikan sekitar uang sebanyak 90 juta dari Dinda, untuk modal dirinya menikahi Alvi.


Istriku juga tak tau kira menyumbangkan uang, aku mana pernah menyumbang sebanyak itu. Tapi alhamdulillahnya, sekarang di daerahku ada masjid terdekat dari rumahku. Hasil dari tabunganku, yang dulunya aku niatkan untuk mahar pernikahan istriku kelak. Dinda sudah aku berikan mahar sebanyak 9 hektar ladang, jadi menurut Dinda uang tabunganku mending digunakan untuk membangun sebuah tempat ibadah saja.


Tentu karena aku irit, dalam artian aku hanya menggunakan uang jika butuh saja. Makan pun aku tak begitu memilih, aku malah terbiasa makan di tempat ibunya Shasha. Yang harga satu porsi makannya, hanya sekitar 7 ribuan saja. Tapi jelas, nikmatnya hidup sederhana itu bisa aku nikmati sampai sekarang. Dinda pun sudah terbawa dengan aku yang perhitungan, tapi tetap saja ia begitu royal jika bersedekah. Itulah hebatnya istriku, Adinda.


"Mau dicuci, apa mau dibuang aja ini kasur? Abang takut loh, kek film hantu-hantu di tv. Kasur berdarah cuma ditutupi seprai aja." ucapku bertanya pada Zulfa. Ia tengah duduk di ruang tamu, dengan aku yang diminta oleh umi untuk membersihkan kasur Zulfa.


"Abang beli kasur ini berapa? Sayang gak kalau dibuang?" tanya Zulfa dengan tersenyum samar. Sudah pasti ia tengah mencoba mengujiku, karena ia paham bagaimana aku jika menyangkut soal uang.


"3.5 juta kalau tak salah. Beli tiga kasur itu habis 10 juta, seingat Abang itu juga. Beli baru ya kau ya yang harus beli, masa ia Abang lagi. Kau gantiin ini kasur Abang yang kau nodai." jawabku yang membuat Zulfa dan umi tertawa renyah.

__ADS_1


"Zuhra aja haid nembus di seprai Abang langsung diminta untuk cuci detik itu juga loh, Kak. Katanya sampek mengamuk Abang kau itu." sahut umi dengan melirikku sekilas, kemudian pandangannya fokus pada Zulfa kembali.


Oh, jadi Zuhra cerita masalah itu. Jangan-jangan ia cerita juga tentang Dinda, aku harus sidang dia nanti.


Umi memanggil Zulfa dengan sebutan kak, karena Zuhra memanggil Zulfa dengan sebutan itu. Kembali lagi, katanya untuk mengajari anak-anaknya. Padahal anak-anaknya sudah besar, tapi umi tetap memanggil dengan sebutan itu.


"Iya, makanya aku gak mau pas diminta ikut Abang. Pasti siang malam diteriaki aja, suruh ini itu." timpal Zulfa dengan melihat aku yang tengah mengeluarkan seprai dan bed cover dari rumah ini.


"Tapi Zuhra betah, dia tak mau pulang. Katanya nanti bulan puasa besok sama lebaran di sana aja, di provinsi A." balas umi yang masih terdengar di telingaku.


Memang bulan depan akan memasuki bulan puasa, ini adalah puasa pertamaku sejak memiliki istri. Aku juga akan lebaran di sana bersama Dinda, Zuhra dan anak-anakku.


"Masih sama orang P*riaman gak sih, Umi? Perasaan mereka langgeng ya sejak SMA kelas 1." tanya Zulfa pada umi. Aku duduk sejenak di sebelah Zulfa, karena aku merasakan tenggorokanku begitu kering.


"Katanya tak boleh sama orang P*riaman kata Abang kaunya, jadi mereka udah putus. Macam itu yang Zuhra bilang di telepon sih." jawab umi, saat aku tengah meneguk air minum yang tersedia di sini.


"Memang begitu, Bang?" ujar Zulfa dengan mencolek tanganku dengan pandangan mengarah padaku.


......................

__ADS_1


__ADS_2