Belenggu Sang Pemuda

Belenggu Sang Pemuda
BSP61. Adinda USG


__ADS_3

Pagi harinya, Adi semua yang membereskan tugas-tugas istrinya. Adi memantapkan hatinya, untuk memaklumi kondisi Adinda.


'Jangan sampek nyusahin orang. Jangan sampek ngerepotin orang tua.' gumam Adi pelan, sembari mencuci piring bekas sarapan mereka.


Sudah tiga hari ini, Adi tak meladang. Ia hanya mengarahkan orang yang berada di ladang lewat telepon saja. Hari pertama ia tak meladang, karena dirinya tengah cekcok dengan istrinya. Hari kedua ia tak bersemangat, karena Adindanya mendiamkannya. Dan ini hari ketiganya tak meladang, tentu karena tugas rumah tangga dan akan berencana untuk mengecek keadaan Adinda dan kandungannya.


"Bang… tolong buatin susu buat aku." ucap Adinda meminta tolong pada suaminya.


"Ya, Dek." sahut Adi. Ia mencuci tangannya, dan meninggalkan piring kotornya sejenak. Ia mengutamakan kepentingan istrinya terlebih dahulu.


Tak lama Adi memberikan susu untuk istrinya.


"Makasih Abang long." ucap Adinda menerima gelas berisi susu khusus ibu hamil tersebut. Dengan mengedipkan sebelah matanya, dan tersenyum manis. Long, memiliki arti aku atau untuk menyebut diri sendiri.


"Hmm." sahut Adi, kemudian ia berbalik menuju ke dapur kembali.


"Kalau tak ikhlas tak usah dikerjakan lah, nanti biar aku suruh orang." ujar Adinda membuat langkah kaki Adi terhenti.


Lalu ia berbalik badan, "Ikhlas, Sayang. Cuma memang tak biasa aja, karena biasanya kan Abang paling bantu-bantu sewajarnya." sahut Adi menyangkal. Agar istrinya tak menuduhnya lebih jauh.


"Ya udah kerjain. Terus kita otw jalan-jalan." balas Adinda.


'Gemes betul punya istri macam Dinda.' gumam Adi begitu lirih.


~


Satu jam kemudian, mereka bertiga bergegas menuju ke tempat dokter kandungan.


Dan sekarang, Adinda tengah tersenyum lebar dengan melihat layar yang menampilkan gambar buah hatinya dengan Adi.


Adi pun tersenyum bahagia, sambil menunjuk pada layar tersebut. Dengan posisinya yang menggendong Givan.


"Mau liat kelam*nnya tak, Pak?" tanya dokter tersebut.


"Boleh-boleh." sahut Adi cepat.


"Nih, pahanya. Waduh, kelam*nnya ditutupin kakinya. Padahal sih usai segini udah bisa liat jenis kelam*innya." ucap dokter perempuan tersebut.


"Tapi dia sehat kan, Dok? Dengan keluhan yang saya rasakan, apa ada masalah pada posisinya sekarang?" tanya Adinda serius.


"Sehat, semuanya normal. Bagus kok posisinya." jawab dokter tersebut, "Kadar cairan ketuban masih cukup banyak. Dan janin cenderung masih berputar-putar di dalam rahim, sehingga posisi yang dimilikinya sekarang belum tentu adalah posisi lahirnya nanti." lanjutnya menjelaskan.


"Tapi katanya tak bagus usia sembilan belas minggu, tapi udah masuk panggul." sahut Adinda.

__ADS_1


"Umumnya posisi kepala bayi sudah berada di bawah, saat usianya 22-23 minggu. Yang penting ibunya jangan beraktifitas berat. Jangan sampai setres. Dan makan sesering mungkin." balas dokter tersebut, "Pada minggu kesembilan belas usia kehamilan, ukuran janin Ibu kira-kira sudah sebesar lemon dengan panjang badan dari kepala sampai kaki sekitar 15cm, dan berat badan 240 gram. Ada banyak perkembangan yang telah terjadi pada janin di dalam kandungan Ibu saat ini. Kini, mata janin sudah terbentuk dengan baik, gigi-giginya pun mulai mengeras, begitu pula dengan tulang-tulangnya." lanjut dokter tersebut. Bermaksud agar Adinda fokus pada hal yang lain saja. Jika memikirkan permasalahan yang ia hadapi sekarang. Tentu akan memperburuk kondisinya.


"Terus posisi plasentanya nutupin jalan lahir tak, Dok?" tanya Adinda. Adinda begitu aktif bertanya, ia teramat ingin tahu tentang keadaan anaknya sekarang.


"Plasentanya... Corpus depan. Aman kok, tak nutupin jalan lahir. Plasentanya berada di depan rahim. Biasanya Ibu tak terlalu merasakan tendangan dari bayi. Untuk pemeriksaan jantung bayi pun, biasanya lebih sulit karena tertutupi oleh plasentanya." jawab dokter tersebut.


Lalu pemeriksaan USG selesai dilakukan. Adi membantu menghapus gel yang berada di atas perut istrinya. Dan setelahnya, Adinda bangkit dan berjalan menuju kursi yang berada di depan meja dokter.


"Ini beberapa vitamin yang harus ditebus." ujar dokter tersebut. Dengan menyunggingkan senyum ramahnya.


"Terima kasih, Dok." jawab Adi, "Hmm, apa masih boleh untuk berhubungan badan Dok? Dengan kondisi istri saya yang macam ini." lanjut Adi ragu-ragu.


"Masih bisa, Pak. Kalau plasenta previa, biasanya tidak diperbolehkan untuk berhubungan badan. Ini kan letak plasentanya aman. Cuma memang posisi kepala bayi udah di bawah, dan sedikit masuk ke panggul." jelas dokter tersebut.


"Abang malu-maluin aja, nanya macam itu." sewot Adinda pada Adi. Ia berbicara setengah berbisik, dengan menyikut perut Adi dengan siku tangannya.


"Tak apa, wajar kok Bu." tutur dokter tersebut, yang mendengar ucapan Adinda pada suaminya.


"Sehat-sehat ya Ibu dan bayinya." balas dokter tersebut. Lalu Adi dan Adinda pamit dan langsung keluar dari ruangan tersebut.


Adi menggandeng tangan istrinya, sambil berjalan beriringan.


"Aku tak puas. Jangan dipikirkan, jangan dipikirkan! Aku kan pengen tau pasti, macam mana sebab dan akibatnya. Abang juga diam aja! Malah nanyain gituan boleh tak. Palak kali aku!" gerutu Adinda yang terdengar jelas di telinga Adi. Palak, bisa diartikan sebagai kesal.


"Mamah-mamah, macam apa kali aku dengar. Tak pantas betul!" balas Adinda. Adi hanya bisa menggelengkan kepalanya. Ia tak mau memancing keributan dengan istrinya lagi, terlebih lagi mereka tengah berada di tempat umum.


"Pah, maen arum jeram yuk. Lagi rame orang maen arum jeram." ucap Givan, sesaat setelah mereka berada di dalam mobil.


"HAH?" suara kaget yang berasal dari Adi dan Adinda.


"Lahiran nanti emak kau." ucap Adi gemas. Ada-ada saja ucapan yang keluar dari mulut anaknya itu, segala meminta untuk bermain arum jeram.


"Asik betul keknya, Pah." sahut anaknya, yang menengok dari bangku belakang itu.


"Asik-asik! Yang ada Mamah tak ikutan maen." balas Adinda ketus.


"Hmm, ke mall aja yuk." ujar Adinda, setelah tak ada suara yang keluar lagi.


"Mall lagi, mall lagi." protes Adi.


"Bangkrut ya Pah ladangnya?" tanya Givan, dengan posisinya yang berada di tengah-tengah ruang kemudi.


"Sembarangan!" jawab Adi dengan ekspresi sewot yang dibuat-buat, karena ia merasa geli sendiri dengan perkataan anaknya.

__ADS_1


"Sih protes aja. Kenapa tak iyain aja?" sahut Givan kemudian. Lalu ia berpindah tempat, ke pangkuan ibunya.


"Awas jangan mundur-mundur duduknya. Nanti adeknya kepenyet." ujar Adi menoleh pada Givan.


"Tak ya, Mah?" tanya Givan memastikan pada ibunya.


Adinda hanya mengangguk menanggapinya. Ia tengah fokus pada ponselnya.


Adi menaruh curiga, karena istrinya begitu serius menekuni ponselnya sedari tadi.


"Liat apa, Dek?" tanya Adi dengan membagi fokusnya. Mobilnya pun ia lakukan dengan kecepatan sedang.


"Tak liat apa-apa. Lagi scroll beranda aja." jawab Adinda. Ia langsung menoleh pada suaminya, dan menyunggingkan senyum saat pandangannya bertemu dengan pandangan suaminya.


"Hmm, kirain liat apaan." sahut Adi menimpali.


"Liat Abang sama yang lain macam itu? Kan tak mungkin juga." ungkap Adinda yang membuat Adi serasa sport jantung.


"Dek, jadi kita ke mall?" tanya Adi mengalihkan pembicaraan. Lalu Adinda langsung mengangguk dan menyimpan ponselnya.


Pikiran Adi mulai kacau. Khawatir foto pernikahannya dengan Maya tersebar di sosial media, dan sampai diketahui oleh Adinda.


~


Beberapa saat kemudian, mereka sudah sampai di tempat tujuan. Dan mereka langsung mencari tempat makan yang nyaman. Adinda berkata bahwa dirinya sudah lapar. Jelas saja, karena sarapan pagi ia hanya beberapa suap saja.


"Bang, jagain Givan ya? Aku mau ke toilet sebentar." ucap Adinda. Adi mengangguk mengerti. Dan Adinda langsung berlalu pergi menuju toilet.


"Pah, minjem hp. Mau foto-foto." ujar Givan pada Adi. Adi langsung memberikan ponselnya, yang tengah ia mainkan.


Mereka asik berfoto ria dengan memamerkan senyum bahagianya. Namun Adi sedikit terusik dengan bunyi notifikasi dari ponsel Adinda yang terdengar berulang kali berbunyi.


Adi mencari sumber suara, dan ia langsung membuka tas milik istrinya. Ia mengambil ponsel istrinya yang masih terdengar notifikasi yang beruntun masuk tersebut.


"Astagfirullah, Adinda istriku." ucap Adi kaget. Saat dirinya melihat notifikasi yang bermunculan di layar ponsel istrinya.


TBC.


Kenapa tuh kira-kira?


Notifikasi apa yg masuk?


Apa jangan-jangan Adinda stalking sosial medianya Adi. Atau apa ini nih?

__ADS_1


Author kepo nih 😆


__ADS_2