Belenggu Sang Pemuda

Belenggu Sang Pemuda
BSP126. Pembukaan


__ADS_3

"Bantuin aku, Bang. Aku mau BAB." ungkapnya dengan mencoba bangun dari tempatnya.


Aku pun langsung membantunya, "Bu, Dek Dinda mau BAB katanya. Di mana toiletnya?" tanyaku saat bidan kembali ke ruangan ini.


"Ini, di sebelah sini." tunjuknya di ambang pintu ruangan, "Jangan ngejen ya, Dek." lanjutnya kemudian. Mungkin seperti ini kah proses persalinan? Ibu hamil akan lebih sering untuk BAB terlebih dahulu.


Aku pun ikut masuk ke dalam toilet, bersama Dinda. Aku takut terjadi hal yang tak diinginkan, seperti kepeleset atau Dinda sulit untuk bangkit.


Saat ia selesai, aku melihat darah yang lumayan banyak di kotorannya. Ya ampun, darah apa lagi ini? Aku sudah khawatir sekali.


"Bu, BABnya berdarah. Apa di rujuk saja kah?" tanyaku, setelah Dinda selesai dan kembali ke ruangan bersalin. Ibu Nur pun tengah menelepon seseorang, mungkin yang akan membantunya untuk persalinan Dinda. Karena biasanya di sini bukan bidan seorang, terkadang ada dukun bayi atau asisten bidan juga. Karena sudah bukan rahasia lagi, proses itu sudah terjadi turun temurun. Tapi tetap, asisten bidan atau dukun bayi hanya membantunya. Yang lebih utama ya bidan itu sendiri.


"Dirujuk takutnya lahirannya di jalan. Tak mungkin juga d*b*r berdarah kalau memang tak ada masalah. Itu darah dari k*malu*nnya, mungkin pembukaannya udah nambah." ungkapnya terlihat santai.


"Oia, Safar anak pak Akbar itu saudara Bang Adi kan?" tanyanya yang langsung kuangguki.


"Dia udah Ibu minta buat ambilin beberapa kain." lanjutnya memberitahu.


Lalu ia keluar, kemudian kembali dengan roti di tangannya. Roti tawar yang masih terbungkus utuh.


Dia kata, Dinda harus makan dan cepat minum obat. Makan pun biar dia memiliki tenaga, sebab Dinda terlihat begitu pucat. Memang mungkin hal normal, karena dia menahan rasa yang tak pernah aku rasakan.


Tapi aku takut ia tak kuat mengejan, tak kuat menarik nafas. Meski dia kuat olahraga dan yoga, tentu melahirkan beda kasusnya.


"Diinfus dulu ya." ucap ibu Nur, dengan Dinda langsung menggeleng cepat.


"Betul deh, aku tak apa. Tak perlu diinfus, aku sehat dan masih kuat." ujar Dinda menolak langsung.


"Tapi…" sahut bidan tersebut yang aku sela cepat.


"Tak apa, Bu. Biar nanti aja, liat kondisinya dulu." selaku yang langsung diangguki olehnya.


Yang ada nanti Dinda akan menangis terus karena diinfus, bukan karena sakitnya melahirkan.

__ADS_1


Dinda sudah memakan beberapa halai roti tawar, kemudian langsung meminum obatnya.


Tak lama deru mesin mobil, berhenti di depan halaman rumah bidan Nur. Lalu dilanjut dengan pintu yang dibuka dengan begitu kuat.


"Mamah…. Papah…."


Lah kok, suara anakku yang terdengar. Bukannya suara Safar.


Aku langsung membuka pintu kamar persalinan ini, kemudian nampak Givan dengan senyum lebarnya. Kentara sekali matanya baru bangun tidur.


Saat Givan melangkah masuk, lampu kamar langsung meletup berbarengan dengan jendela ruangan ini yang tiba-tiba terbuka sangat lebar.


Aku langsung menggandeng Givan, lalu berjalan ke arah Dinda.


"Lah kenapa ini? Padahal lampunya baru ganti dua hari yang lalu, mana p*i**p lagi." ucap ibu Nur dengan mengaktifkan senter pada ponselnya.


"Biasanya p*i**p kan awet, Bu." sahut Dinda menimpali.


"Iya tak paham juga. Bentar ya, Ibu minta suami lepas lampu di ruangan lain aja. Soalnya tak punya stok lampu." balasnya dengan melangkah ke luar ruangan ini.


"Belum, mungkin nanti pagi. Doain ya, Bang. Semoga Mamah kuat, terus Adek bayi juga kuat." jawab Dinda. Jujur aku takut saat Dinda mengatakan hal demikian, ia seolah akan pergi ke surga saja. Membuat pikiranku begitu kacau.


"Pasti dong, Mah." ujarnya lalu terdengar suara kecupan kecil. Mungkin Givan mencium pipi ibunya.


"Perasaan aku tak enak terus. Terus betulan kan… pas aku ke sini. Ternyata adek bayi banyak yang ngincar." lanjutnya membuatku merinding asoy. Karena sudah tak lama Givan tak pernah mengatakan hal berbau mistis lagi. Tiba-tiba ia mengatakan hal itu, membuatku mengingat kembali saat aku dalam serangan santet.


"Tapi udah aman kan?" tanya Dinda memastikan.


"Aman. Mereka kabur, soalnya aku bawa yang di depan rumah itu. Yang di pohon belimbing wuluh. Sebelumnua aku udah ada bilang juga sama yang di depan rumah. Untuk jagain adek aku, terus jangan ada kawan-kawannya yang ngincar adek. Eh ternyata, malah dari perjalanan ke sini. Adek bayi banyak yang ikutin." jelasnya membuatku memepetkan tubuhku pada mereka.


"Apa sih, Bang? Sempit kali loh, nyempil-nyempil aja!" seru Dinda dengan mencubit pelan pahaku.


"Takut loh Abang, Dek." tuturku pelan. Karena aku tak ingin terlihat seperti penakut di depan anakku sendiri, meski kenyataannya memang seperti itu.

__ADS_1


"Mamah kan udah kata. Jangan berteman sama mereka, bukannya apa-apa. Karena Abang masih kecil, takutnya mereka bilangin Abang yang jelek-jelek. Takutnya mereka ajarin Abang sesuatu yang buruk." ungkap Dinda lembut.


"Bukannya kata Abang, bahwa yang di pohon belimbing wuluh itu serem? Sejenis siluman yang punya taring panjang? Tapi kok malah Abang kenal dan bawa ke sini?" Gih minta dia pulang lagi." timpalku dengan mengusap rambut anakku.


"Cuma sebatas itu aja kok. Iya Pah, nanti juga dia pulang sendiri. Oia, om Safar sama Tante Zuhra ada di depan." ujarnya kemudian, lalu mengalihkan pembicaraan kami.


Ibu Nur sudah kembali dengan lampu di tangannya, dengan suaminya yang berjalan dengan membawa kursi plastik. Suaminya juga seorang peladang di sini, memang tak banyak yang ia punya. Tapi ia juga memiliki usaha bengkel motor, dan dia juga seorang tukang pijat.


"Maaf nih, ganggu." ucap suami ibu Nur, yang bernama pak Rajudin. Namun, karena ia dikenal sebagai tukang pijat di sini, ia dipanggil dengan sebutan Teungku.


Lalu kami menyahuti dengan ramah. Berlanjut hingga pemasangan lampu selesai, kemudian aku keluar untuk menemui Zuhra dan Safar. Ternyata ada pak cek dan mak cek juga menunggu di luar. Tentu kain, ember dan beberapa botol air mineral kemasan ukuran besar.


"Ember buat apa?" tanyaku bingung.


"Buat kotorannya Dinda nanti, kau juga nanti paham. Nih Mak cek bawain buat tempat ari-ari anak kau nanti. Ini punya tetangga belakang Mak cek, lepas nanti kau gantikan aja dengan barang yang sama." jawab mak cek dengan memberiku wadah yang terbuat dari tanah liat. Seperti kendi jaman dulu.


"Oh iya, ini garamnya juga." lanjut mak cek dengan memberikan plastik hitam yang cukup berat. Mungkin garam ini sekitar satu kilogram beratnya.


Aku menerima barang tersebut, kemudian masuk dengan membawanya.


Saat aku kembali masuk, Givan keluar dituntun dengan ibu Nur.


"Dibawa pulang aja, Bang. Takut psikisnya terganggu, misal nanti kalau ibunya nangis atau macam mana. Intinya jangan liat, jangan dengar dulu anaknya ini." ungkap ibu Nur. Aku mengangguk mengerti, aku paham maksud baiknya.


Lalu aku mengantar Givan untuk kembali bersama Zuhra. Kemudian datang juga seorang wanita dengan jaket tebalnya.


Lalu ia langsung disambut dengan ibu Nur, mungkin dia asistennya yang akan membantu nanti. Umurnya mungkin seumuran dengan Liana, juga dia memakai kacamata.


Dua jam kurang, sekitar pukul 00.15 Dinda mulai bereaksi parah.


Dinda sudah merasa pinggulnya akan pecah, ia meringis kesakitan. Namun, ia tak menangis. Tapi tetap saja, air matanya tak kuasa menahan rasa yang ia rasakan.


Ia meremas-remas tanganku, suhu tubuhnya begitu dingin. Keringat bercucuran deras, sampai pakaian yang ia kenakan menjadi basah karena keringatnya.

__ADS_1


TBC.


Hanya gambaran umum persalinan saja. Yang belum pernah bersalin, semoga tak takut bersalin. Yang udah pernah bersalin, tentu punya kenangan tersendiri saat masa bersalinnya.


__ADS_2