Belenggu Sang Pemuda

Belenggu Sang Pemuda
BSP30. Syukuran


__ADS_3

"Jadi menurut kau, aku salah macam itu?" tanya Adi, dengan mendelik pada Haris.


"Ya kau ngerasanya macam mana? Aku yakin, perempuan itu pun ngerasa nyesel betul udah kau kawinin." jawab Haris santai.


Adi tak menyahuti perkataan Haris. Ia mengingat kembali, saat ia membentak-bentak Maya. Ia tetap tak menemukan titik kesalahannya. Menurutnya ia sudah benar, bersikap seperti itu.


"Jadi mau ngomongin apa? Jam tidur aku sampai terganggu." ujar Haris memecahkan keheningan.


"Kau lagi nugas malam kah?" tanya Adi, yang langsung mendapat anggukan dari Haris.


"Kau ada usaha sambilan kan? Aku nitip modal sama kau. Tapi, aku minta pembagian setiap bulannya. Soalnya aku tak mungkin minta ke Dinda buat jatah Maya." ungkap Adi jelas.


"Oh istri kedua kau namanya Maya?" sahut Haris, yang ternyata baru mengetahui nama dari istri kedua Adi.


"Iya, nanti hasilnya kau kirim ke rekening Maya aja." balas Adi memperjelas.


"Sebetulnya aku tak butuh suntikan modal. Tapi yaaa… sudahlah. Berapa kau nitip. Biar aku rinci perkiraannya." ucap Haris dengan merogoh ponselnya.


"Ya sekiranya sebulan tembus empat sampai lima juta aja. Kira-kira berapa yang harus aku tanam?" tukas Adi.


"Kau jatah istri kedua kau cuma segitu? Sedangkan Dinda puluhan juta, bahkan triliunan yang ia pegang. Kau tak bisa adil kah?" tutur Haris heran.


"Aku tak pernah jatah Dinda. Uang aku ya milik dia semua. Aku tak pernah butuh sesuatu yang lain. Segala-galanya udah Dinda siapin. Paling buat bensin sama pegangan aja. Kalau sewaktu-waktu Givan minta uang sama aku." ungkap Adi.


"Nah, terus kau cuma jatah Maya itu segitu? Kau yang betul aja?" tanya Haris menjeda ucapannya, "Udah tak adil nafkah batin. Nafkah lahir pun kau perhitungan betul." lanjutnya kemudian.


Setelah selesai dengan kalimatnya, Haris langsung mendapat lemparan bantal sofa dari Adi.


"Berisik betul. Tinggal sebutin aja berapa banyak dananya." seru Adi cepat.


"Tak tau pasti. Masalahnya kan usaha aku dagang. Dagangnya aku tak gelar lapak. Aku tergantung sama pihak yang kerja sama, sama produk aku." jelas Haris memberitahu.


"Memang kau usaha apa? Semacam supplier kah?" tanya Adi serius.


"Mungkin bisa disebut dengan supplier. Usaha ini tercetus dari istri kau, Dinda. Dia tak ada modal. Jadi dia nyuruh aku buka usaha. Sedangkan, aku lebih tertarik kerja. Daripada jadi pengusaha. Alhasil, dia dan teman-temannya dulu yang gerakin usaha aku sampai di titik ini." ungkap Haris jujur.


"Supplier apa? Berarti ada hak Dinda juga di usaha kau?" sahut Adi.


"Biji kopi aranio, kau pasti pernah dengar kan? Ada, setiap bulannya masuk ke rekening dia. Tapi dia pakek buat judi terus. Jadi buku tabungan sama kartu ATM-nya aku yang simpan." balas Haris memberitahu.


"Kok bisa Dinda tak ada bilang sama aku? Bahkan dia tak pernah cerita." ujar Adi, merasa Dinda masih bermain rahasia dengannya.


"Mungkin dia lupa. Soalnya terakhir kali dia turun tangan. Pas di club bareng itu. Awal-awal kau kenal dia itu, Di." jelas Haris. Adi manggut-manggut mengerti.


"Itu dari ladang kau sendiri? Apa kau juga ngambil dari orang?" tanya Adi kemudian.

__ADS_1


"Ayah aku selain anggota DPR. Dia juga peladang macam kau. Aku ambil barang dari kebun ayah. Sebetulnya, ayah sendiri udah punya pasarnya. Makanya aku cuma supply di coffe shop, dan resto-resto daerah sini aja." jawab Haris.


"Bolehlah aku main ke kampung kau. Belajar pembibitan kopi aranio itu." tutur Adi dengan tersenyum tipis.


"Jangan! Nanti kau tambah kaya lagi." tukas Haris cepat.


"Namanya juga usaha." ucap Adi dengan terkekeh.


Lalu mereka berlanjut membahas tentang usaha. Adi berniat menaruh dana pada usaha Haris. Agar jatah Maya aman, tanpa diketahui oleh Dinda.


~


Sore harinya, Adi tengah repot membawa catering untuk acara empat bulanan Maya. Yang akan dilaksanakan setelah waktu magrib.


"May, mandi!" ucap Adi, saat melihat Maya baru keluar dari kamar. Ia tertidur sejak siang tadi. Alhasil, akhirnya Adi makan di luar bersama Haris. Karena Adi tak terbiasa makan, jika tak dihidangkan. Apa lagi ia berada di rumah mertuanya.


"Bentar lagi." sahut Maya yang berjalan ke arah dapur.


Adi menggelengkan kepalanya, melihat tingkah laku Maya. Bagaimana emosinya tak meledak-ledak, melihat Maya yang sangat susah diatur itu.


"Bu, catering ini habis berapa?" tanya Adi pada mertuanya, yang tengah menggelar karpet di ruang tamu.


"850, Di." jawab ibu Rokhayah ringkas.


Adi mengangguk mengerti. Ia membantu mertuanya. Lalu ia pergi, mencari keberadaan Maya.


"Ya Bang. Di kamar." sahut Maya keras.


Lalu Adi berjalan menuju kamar, dan menutup pintunya. Setelah ia menemukan Maya tengah duduk di atas tempat tidur, dengan memainkan ponselnya.


"Catering siapa yang bayar?" tanya Adi kemudian.


"Ibu." jawab Maya yang masih asik dengan ponselnya.


"Taruh coba hpnya!" tegas Adi, "Tak sopan betul kau sama suami. Diajak ngomong fokus ke hp aja!" lanjutnya pelan, namun penuh penekanan.


"Iya, Bang. Ibu yang bayar." jawab Maya memperjelas ucapannya.


"Kau kan udah dapat transferan dari Abang kemarin. Kenapa tak kau kasih ke ibu, buat bayar cateringnya?" ucap Adi duduk di sofa single.


"Kalau aku kasih, malah uang aku gak sampai ke akhir bulan." ujar Maya dengan memperhatikan suaminya.


"Ya ampun Maya! Tinggal bilang sama Abang." sahut Adi, dengan menggelengkan kepalanya.


Lalu ia merogoh dompetnya. Dan memberikan uang catering, untuk acara tersebut.

__ADS_1


"Nih, kasih ke ibu." tutur Adi, dengan menyerahkan uangnya pada Maya.


Maya menerima uang tersebut, lalu menghitungnya.


"Kok pas aja?" tanya Maya kemudian.


"Kan kau udah pegang uang juga. Cepet sana kasih ke ibu." jawab Adi.


Lalu Maya bangkit dari duduknya, dan meninggalkan kamar itu. Tak lupa dengan ponselnya yang selalu ia bawa ke mana saja.


'Dinda mana pernah bawa-bawa hp ke mana-mana macam itu. Kadang hp sampai lowbet dia tak tau.' gumam Adi, lalu ia masuk ke dalam kamar mandi.


Dua jam kemudian, acara syukuran telah dimulai. Terlihat kedua orang tua Adi juga menghadiri acara ini. Mereka telah tiba satu jam sebelum acara dimulai.


~


Malam harinya, setelah selesai acara. Adi keluar dari rumah. Untuk bisa menghubungi Adinda.


Adi masuk ke dalam rumah yang Zulfa tempati. Dan masuk ke dalam kamar miliknya.


Adi memainkan ponselnya, lalu menyambungkan video call pada istrinya.


"Assalamualaikum, Dinda sayang." ucap Adi, dengan senyum yang mengembang.


"Wa'alaikum salam. Lagi di mana, Bang?" tanya Adinda, memperhatikan wajah suaminya.


"Lagi di kamar. Adek lagi apa? Givan mana, Dek?" jawab Adi terdengar begitu senang.


"Lagi tiduran. Givan lagi makan cemilan, sambil duduk di ruang tv. Susu aku habis Bang. Tak ada yang bisa disuruh. Liana lagi di kota L. Safar sibuk ngurus ladang Abang." ungkap Dinda bercerita.


"Besok Abang balik, Dek. Nanti sekalian Abang belikan susunya." jawab Adi halus.


"Abis ada acara apa, Bang?" tutur Adinda, membuat Adi terkejut.


"Acara apa, Dek?" tanya Adi gugup.


"Tak tau. Makanya aku nanya. Tadi Zulfa posting foto syukuran macam itu. Pakek gamis. Aku komen, katanya acara syukuran kakak iparnya." jelas Adinda, membuat Adi tak bisa berkata-kata lagi.


TBC.


Serapih itu Adi main belakang 😔


Sampai dia siapin dana, untuk disuntikin ke usaha Haris. Biar Dinda tak curiga 😳


Sebetulnya Maya yang memang susah dibilangin? Atau Adi yang temperamental sih?

__ADS_1


Nah kau, apa tak capek bohong terus?


Apa lagi ini? Kau mau bohong apa lagi?


__ADS_2