
"Laki-laki tadi itu, namanya Supriyatna. Dia yang punya apotek di jalan besar sana, di tempat biasa kita beli obat-obatan. Dia orang kota C juga." ungkap Adinda dengan bermanja-manja pada suaminya.
"Bukan berarti karena dia orang kota C, Adek bawa dia pulang ke rumah. Tak begitu, Dek. Kau bersuami, jaga martabat kau. Perlu kau tau, dia pengen jadi suami kau juga." jawab Adi bernada tinggi, membuat Adinda terkejut mendengar gelegar suara suaminya.
Adinda menegakkan punggungnya dan sedikit beringsut dari posisinya.
Adi bangkit dari duduknya, kemudian ia berdiri tepat di depan Adinda.
Tangannya terulur, menunjuk tepat di depan wajah istrinya. Adinda merasa tertekan, dengan mata yang memusat pada telunjuk tangan suaminya yang mangarah padanya.
"Kau beragama, kau tau hukum-hukumnya. Tapi kau macam tak berakal! Suami tak ada di rumah, dengan berani-beraninya kau bawa masuk laki-laki lain. Kau dengar, Dek. Dia begitu lapar natap kau, dia pengen gantiin posisi Abang untuk kau." ucap Adi dengan menatap tajam istrinya yang diam membeku.
"Sekalipun kau tertarik sama dia, jangan harap kau bisa hidup bersamanya. Sedikitpun, tak Abang ikhlaskan kau dengan yang lain." lanjut Adi dengan berjalan mondar-mandir di depan istrinya. Belum lagi suaranya yang membuat siapapun yang mendengarnya, pasti merasa takut.
"Mulai detik ini, kau tak pernah Abang izinkan ke luar rumah. Tanpa izin dari Abang." putus Adi setelah dirinya terdiam beberapa saat.
"Kenapa? Abang takut kah seseorang yang Abang sembunyikan diketahui sama aku?" ucap Adinda dengan air mata yang bercucuran dan tangan yang gemetar. Ia mencoba memberikan diri, dalam dirinya ia bertekad untuk tidak menjadi Adinda yang seperti dahulu. Adinda yang hanya diam menangisi yang sudah terjadi, Adinda yang menurut tanpa bantahan sedikitpun, Adinda yang lemah dan selalu ditindas suaminya sendiri.
"Berani kau jawab…!!" ujar Adi tajam dengan suara yang terdengar begitu dingin.
"Memang selama ini aku macam mana? Aku selalu nurut, bukan? Abang selalu bohong pun, aku percaya aja. Sekarang, aku udah capek pura-pura percaya, biar Abang senang. Sedikit aku jawab, Abang seolah menganggap aku ini berani sama suami. Mau Abang gimana sebetulnya?" ungkap Adinda mencoba setenang mungkin, padahal sebenarnya ia amat ketakutan dengan amarah suaminya.
Ia sadar, dengan dirinya demikian. Malah membuat suaminya semakin marah. Tapi Adinda merasa, semua ini harus segera diselesaikan. Banyak kejanggalan yang terjadi, bukan hanya tentang rekening bank. Dan suaminya yang jelas selalu gelagapan, saat diminta untuk bercerita tentang semua yang terjadi di kota C. Saat suaminya berkunjung ke kota C. Tapi juga tentang mimpi yang seolah dirinya tengah berada di titik yang paling kecewa. Di mana saat ia bermimpi baju-baju kesukaannya direnggut paksa oleh perempuan lain, dan barang-barang berharga yang hanyut begitu saja. Itu membuat Adinda semakin menaruh curiga pada suaminya.
"Abang butuh aku? Untuk se*?" lanjut Adinda dengan memperhatikan wajah suaminya, yang terlihat semakin marah padanya.
"Atau… Abang takut karena aku pemilik aset Abang? Abang takut kah untuk berjuang dari nol lagi dengan simpanannya? Setakut itukah simpanannya tak bisa Abang beri jatah lagi?" lanjut Adinda dengan mencoba tersenyum pada suaminya.
"Aku tak seserakah itu. Abang bosan sama aku, Abang tinggal ngomong. Aku bisa pergi, tanpa Abang maki-maki aku. Tak perlu Abang putar balikkan fakta, dan seolah aku yang bersalah di sini." ujar Adinda mencoba mengeluarkan segala unek-uneknya. Apa lagi beberapa hari ini Adi sibuk, tanpa memberi kabar padanya. Tentu Adi sibuk dengan Maya dan putrinya, hanya saja Adinda memang tak mengetahui fakta itu. Ia hanya merasa, bahwa memang ada yang menghalanginya dengan suaminya, dan merasa bahwa suaminya memang benar menyembunyikan sesuatu.
"Dari awal aku coba jelaskan, bahwa Supriyatna itu memang bukan siapa-siapa. Tapi Abang selalu mojokin aku, dan nyangka aku selingkuh sama dia. Kalau memang aku mau selingkuh sama Supriyatna tadi, aku tak mungkin bawa-bawa Givan. Aku tau konsepnya selingkuh, aku tau aturan mainnya agar terlihat rapi. Aku tau itu, Bang. Tak perlu gelagapan, tak perlu takut ketahuan. Lanjutin aja apa yang Abang anggap baik. Tak perlu terkecoh dengan ucapan aku." ungkap Adinda lalu ia menghela nafas panjangnya.
"Dan yang jelas…" lanjutnya dengan mengacungkan jari telunjuknya, untuk memberikan kode bahwa satu kebenaran yang terjadi dan harus Adi percayai.
"Supriyatna tadi, seseorang yang menyelamatkan isi dompet aku yang aku lupakan di bilik ATM. Dan pagi tadi pun, ia bantu aku untuk mengganti ban mobil Abang yang bocor. Sayang sekali, memang tak ada ban serepnya. Dan mau tak mau, aku diantar pulang olehnya. Dengan belanjaan yang ia bawa masuk ke rumah. Soalnya aku belanja banyak, belanja beras, kebutuhan dapur, dan lain sebagainya." ucap Adinda setelah menghapus air matanya, dan ia mencoba biasa saja pada suaminya.
Ia tersenyum lebar saat mengatakan hal itu, ia ingin sekali meneriaki suaminya. Ia amat kesal, karena Adi tak mengatakan sepatah katapun atas apa yang ia ucapkan tadi. Membuatnya semakin penasaran dengan spekulasi yang bermunculan di pikirannya. Namun, ia sadar keadaan ini tak baik untuk kandungannya. Ia mencoba tenang dan meredam apa yang akan membuatnya semakin stres.
Ia mencoba menganggap semuanya tetap baik-baik saja, lalu ia pun pergi ke dalam kamarnya. Meninggalkan Adi yang masih berdiri mematung, dengan pandangan kosong.
__ADS_1
~
Beberapa saat kemudian, Adi sibuk menemani Givan bermain. Sampai Ayu datang menjemput Givan, karena akan diajaknya untuk berjalan-jalan.
"Sama siapa, Kak? Dinda lagi istirahat keknya, Adi capek baru sampai pagi tadi." ucap Adi, saat Ayu mengutarakan niatnya berkunjung.
"Nanti Akak jemput dek Ning, buat bantuin jagain anak-anak. Kasian juga istri kau kalau diajak, perutnya udah besar. Suruh banyak-banyak istirahat aja, kalau abis aktifitas." ujar Ayu, dengan membantu Givan memakai sepatunya.
"Ya udah, nih buat jajan Givan." sahut Adi menyetujui, dengan memberiku tiga lembar uang berwarna merah.
"Tak usah lah. Mampu Akak cuma buat jajanin satu anak lagi sih." balas Ayu dengan ekpresi sombongnya.
"Ok, ok percaya. Bos ayam geprek." tutur Adi dengan menyambut uluran tangan Givan, yang akan mencium tangannya.
"Ati-ati ya, Bang." ucap Adi untuk anaknya.
"Ya Papah, baik-baik ya sama Mamah aku. Mamah aku disayang, jangan dimarahin." sahut Givan dengan tersenyum lebar pada ayah sambungnya.
Adi terkekeh geli, lalu ia menautkan ujung jari telunjuknya dengan ujung jempol tangannya. Membentuk huruf O.
"Assalamualaikum…" ujar Ayu dan Givan bersamaan.
Setelah Givan dan Ayu sudah tak terlihat lagi oleh pandangan Adi, Adi langsung memasuki rumahnya. Dan melangkah masuk ke dalam kamarnya.
'Ke mana dia? Perasaan tadi masuk ke kamar.' gumam Adi pelan.
Adi kalut, ia malah menyangka terjadi sesuatu pada istrinya. Adi langsung bergegas menuju ke kamar mandi kamar.
Namun nihil, Adi tak menemukan Adinda di dalam kamar mandi.
Dengan cepat Adi keluar dari kamar, lalu mencari istrinya di ruangan lain.
Adi menyesali pertengkaran mereka pagi ini. Harusnya saat Adinda sudah bermanja-manja padanya, setelah telponan dengan Haris tadi. Adi tak melanjutkan permasalahan yang membuatnya menjadi semakin renggang dengan istrinya.
'Ya Allah, ke mana Dinda?' gumamnya dengan melangkah menuju ke lantai atas. Karena di lantai bawah, Adi tak menemukan istrinya di mana pun.
Satu persatu ruangan Adi masuki, namun tak menemukan istrinya di mana pun.
Sampai sayup-sayup terdengar suara orang bernyanyi, membuat Adi merinding sesaat.
__ADS_1
"Lambat sang waktu berganti
Endapkan laraku di sini
Coba 'tuk lupakan bayangan dirimu
Yang selalu saja memaksa 'tuk merindumu"
'Macam suara Dinda.' gumam Adi setelah mendengar lebih jelas lantunan lagu lama tersebut.
"Sekian lama aku mencoba
Menepikan diriku diredupnya hatiku
Letih menahan perih yang kurasakan
Walau kutahu kumasih mendambamu"
'Bukan setan ini…' gumam Adi, setelah menemukan sumber suara dan petikan gitar dengan jelas.
Adi memperhatikan istrinya lewat jendela, karena dirinya berada di dalam ruangan. Dengan Dinda yang berada di balkon lantai atas.
Adi membuka pintu ruangan yang terhubung dengan balkon. Dan ia ikut menyuarakan suaranya, mengikuti lantunan lagu tersebut.
"Lihatlah aku di sini
Melawan getirnya takdirku sendiri
Tanpamu aku lemah dan tiada berarti"
Ucap Adi melanjutkan lirik lagu tersebut. Sontak membuat Adinda berhenti dari aktivitasnya, yang tengah memetik senar gitar dengan ia resapi tersebut.
Adinda menatap malas laki-laki yang muncul di hadapannya itu.
Berbeda dengan Adi yang tersenyum manis, dan perlahan melangkah mendekati istrinya.
......................
Drama kali ya 😝
__ADS_1