Belenggu Sang Pemuda

Belenggu Sang Pemuda
BSP129. Merangkai nama


__ADS_3

"Kalau Gavin Diyana macam mana, Dek?" ucapku dengan mengadu hidungku, dengan hidung anakku.


Matanya terbuka perlahan, dengan menggeliatkan tubuhnya. Matanya sedikit mirip dengan Dinda, tapi lebih dominan aku. Mungkin karena saat membuatnya, aku yang lebih dominan menguasai permainan. Atau karena memang rasa cintaku lebih besar dari pada cinta Dinda. Karena menurut mitos di daerahku, jika anak sangat mirip dengan ibunya. Berarti sang perempuan sangat mencintai ayah dari anaknya, melebihi cinta laki-lakinya. Begitu pun sebaliknya, jika anaknya begitu mirip dengan ayahnya. Berarti laki-lakinya begitu mencintai wanitanya, melebihi cinta wanita itu.


"Macam anak kembar aja. Abangnya Givan, adiknya Gavin." sahut Dinda kemudian. Aku paham, artinya Dinda menolak usulan nama yang aku berikan.


"Aku maunya Aldebaran Al-Fahri." lanjutnya memberikan usulan. Aku tau siapa Aldebaran itu. Dia tokoh laki-laki, di sinetron yang ditontonnya lepas ba'da isya.


"Tak mau Abang. Namanya musiman, mana dia sinetron itu cuek kali. Abang takut nanti dia cuek juga ke orang tuanya." tolakku langsung.


Aku teringat dengan Naya, ia aku berikan dengan awalah khas nama daerah sini. Bagaimana kalau anak-anakku yang lain pun, aku berikan awalan yang khas daerahku juga? Biar orang-orang tau kalau ini adalah produk Serambi Mekah.


"Teungku…" tuturku yang dipangkas langsung oleh Dinda.


"Abang mau anak aku jadi tukang pijat?" tukasnya kemudian. Aku menoleh padanya, dengan mendapatinya tengah memberiku tatapan tajam.


Aku tersenyum kuda, "Teuku deh. Adek kira yang dipanggil teungku tukang pijat aja? Kyai, orang penting di kampung, terus…." ungkapku yang diselanya lagi.


"Ok, teuku. Teuku apa? Teuku Ghifari ya?" selanya dengan mata berbinar.


"Teuku… Teuku Abizar Al-Ghifari. Teuku artinya anak laki-laki yang memberikan kebahagiaan dan kehormatan pernikahan. Abizar Al-Ghifari, bisa diartikan penyebar pengampunan. Macam mana, Dek?" ucapku jelas. Kemudian menoleh ke arahnya dengan tersenyum lebar.


"Abizar bukannya artinya tambang emas ya?" tanya Dinda kemudian.


"Itu Abidzar, kalau Abizar artinya yang penyebar." jelasku, Dinda hanya manggut-manggut saja.


"Sana beliin makanan, beliin pembalut. Aku tak nyaman pakek diaper." ujarnya mengalihkan pembicaraan. Padahal ia sendiri yang memulai pembicaraan ini, sepertinya Dinda tak menyukai usulan nama yang aku berikan.


Aku mengangguk dan memberikan anakku pada Dinda kembali. Di sana Maya yang selalu ingin memakai diaper, di sini Dinda yang tak nyaman memakai diaper. Dia lebih memilih memakai pembalut, padahal jelas darahnya sedang banyak-banyaknya sekarang.


Saat aku ke luar, aku bertemu dengan mak cek dan Zuhra yang menggendong Givan.


"Nih, Mak cek bawain makanan. Lagi ngapain Dinda di dalam?" sapa mak cek saat melihatku baru ke luar dari rumah bidan ini.


"Lagi duduk aja." sahutku dengan membukakan pintu untuk mereka.


"Kau ini mau ke mana?" tanya mak cek.

__ADS_1


"Mau beli makanan, Dinda udah kepengen makan." jawabku kemudian.


"Ya udah ayo masuk. Tak usah beli, Mak cek bawakan." ajak mak cek. Givan langsung beralih ke gendonganku, ia terlihat begitu manja.


"Papah… janji ya, aku tetep disayang." ungkap anakku tiba-tiba.


Aku langsung mencium pipinya, "Tenang aja, Abang tetap Bang jagonya Papah. Tetep jadi kesayangan Papah, Abang bisa pastiin itu kalau Abang lagi dimarahi mamah nanti." jelasku yang membuat tawa renyahnya terdengar.


"Bang Givan, ini Adeknya udak keluar." ucap Dinda, saat melihatku masuk ke ruang bersalin dengan menggendong Givan.


Givan meminta turun dari gendonganku, kemudian ia berlari ke arah ibunya.


"Dek, nih makan. Mak cek siapin ya." seru mak cek pada Dinda.


"Agak banyakan lauknya, aku lapar kali." sahut Adinda kemudian.


"Tak Adi, tak istrinya. Kalau kelaparan pasti minta lauknya dibanyakin." gerutu mak cek terdengar jelas, lalu kami semua terkekeh kecil.


Ya seperti itulah aku dan Dinda, lebih doyan lauk ketimbang nasi.


Tak lama setelah selesai sarapan, Rani datang dengan membawa teh manis.


"Mau pakek B*JS tak, Bang?" tanya Rani, saat aku sedang menyelesaikan pembayaran persalinan Dinda.


"Bayar biasa aja, tak perlu pakek itu." sahutku kemudian.


Lalu Rani menghitung total, "Totalnya, Rp.1.260.000 Bang Adi." ucap Rani dengan memberikan kwitansi pembayaran.


Aku mengangguk, kemudian mengeluarkan uang dari dompetku.


"Kembali 40 ribu, ya Bang." ujar Rani setelah menghitung uang tersebut.


"Tak usah, simpan buat kau aja." balasku dengan bangkit dari kursi.


"Kak Dinda udah boleh pulang ya, Bang. Nanti cek up tiga kali gratis, sampek 40 hari ya Bang. Bisa juga nanti ibu Nur yang ke sana buat cek keadaan kak Dinda sama bayinya." jelas Rani sebelum aku berlalu.


Aku hanya mengangguk, lalu langsung berjalan ke ruangan bersalin kembali.

__ADS_1


Aku membereskan semua barang-barang Dinda. Juga juga kain-kain bekas darah dan cairan yang keluar bersama anakku juga.


Selepas ini, aku akan mencucinya di sungai besar yang berada tak jauh dari rumahku. Kemudian aku akan membeli perlengkapan bayi, juga perlengkapan Dinda.


Sepertinya ia akan banyak membutuhkan pembalut malam dan susu menyusui. Karena Dinda begitu niat ingin menyusui anaknya, berbanding terbalik dengan Maya di sana.


Padahal jelas, Naya lebih membutuhkan ASI ibunya. Karena meskipun ia lahir dengan kandungan yang sudah pada waktunya, tapi berat badannya di bawah rata-rata.


~


Alhamdulillah, kami sudah berada di rumah. Banyak sanak saudara yang menunggu kami di rumah.


Aku menitipkan anak-anakku pada mak cek, karena aku akan membantu Dinda untuk membersihkan dirinya.


"Beli pembalut belum?" tanya Dinda saat aku mengikutinya ke dalam kamar mandi dalam.


"Belum, ini nyomot punya Zuhra. Yang penting pembalut malam kan." jawabku yang diangguki Dinda.


Semoga aku kuat menahan pemandangan di depanku. Karena mau bagaimana pun juga, aku adalah laki-laki normal.


"Duduk sini, Dek." ucapku dengan membantu Dinda untuk duduk di kloset yang sudah kututup.


Darah dalam diapernya cukup banyak, bahkan ada yang kental dan berwarna merah kehitaman.


Dinda mengangguk, kemudian perlahan duduk di kloset dengan berpegangan padaku.


Dengan berhati-hati sekali, aku membilas tubuhnya. Perutnya kendor dengan sedikit cembung. Aku mengingat kembali bentuk Maya, saat aku membantunya mandi. Kenapa Maya tetap terlihat bervolume perutnya? Apa itu bagian dari lemak?


Karena jelas, menurutku perut Dinda ini adalah kulit kendur. Karena sang bayi sudah dilahirkan. Ya sudahlah, masing-masing. Kenapa aku malah seperti membanding-bandingkan mereka berdua?


Aku sedikit membuka kakinya, untuk bisa membersihkan area intinya. Hatiku mencelos, tanganku langsung gemetaran. Saat melihat benang yang disulam rapih di inti istriku. Sampai, tanpa sadar aku meneteskan air mataku. Entah mengapa hatiku merasa sesak, melihat pengorbanannya sejauh ini.


Pantas saja ia sampai menangis kejar, rupanya rasa sakit yang diterimanya sungguh luar biasa.


Bayangkan saja, kewanitaan wanita adalah titik sensitif wanita dan seluruh saraf tergabung di situ. Kemudian bagian yang sobek tersebut, dijahit dengan keadaan sadar. Memang Dinda sudah diberikan suntik bahal, sebelum dijahit. Tapi dengan reaksi Dinda menangis kejar, menandakan sakit dan perih dalam bentuk nyata. Ia harus merasakannya, setelah perjuangannya mengejan untuk mengeluarkan buah hati kami.


"Rani bilang, bilas kem*luannya pakek air matang Bang." ucap Dinda mengingatkan.

__ADS_1


Aku mengangguk, lalu berjalan ke luar. Untuk mengambilkan air matang yang tersedia di kamar kami.


......................


__ADS_2