Belenggu Sang Pemuda

Belenggu Sang Pemuda
BSP166. Tak berguna


__ADS_3

AUTHOR POV


Adinda sudah memarkirkan mobilnya di halaman rumahnya. Ia memperhatikan rumah yang begitu sepi dan tak terawat.


'Macam bangunan terbengkalai. Ini pada ngungsi atau macam mana?' gumamnya dengan melangkah menuju pintu utama, dengan perlahan-lahan.


"Assalamualaikum…" ucap Adinda dengan membuka pintu rumah tersebut.


Ia melihat pemandangan yang menyentuh hatinya. Bayinya tengah tertidur di atas dada suaminya, dengan Givan yang tertidur, dengan berbantal lengan Adi. Zuhra tertidur pulas di sebelah Givan, dengan kipas dari anyaman yang tergeletak di atas dadanya.


Adinda langsung melangkah masuk, dengan mengendap-endap menuju kamarnya.


Ia mengganti pakaiannya, lalu ia menuju ke dapur untuk membuatkan sesuatu untuk keluarga kecilnya.


Tak lama kemudian, ia sudah selesai dengan pekerjaannya. Lalu ia menuju ke ruang khusus pakaian, untuk mengerjakan pakaian yang menumpuk tersebut.


Adi tak menyadari kehadiran istrinya. Ia yang terbangun karena rengekan dari Ghifar, berlanjut untuk mengisi perutnya yang keroncongan.


Saat ia akan membuat telor ceplok, ia melihat makanan yang tersaji di atas meja.


"Siapa yang ngirim? Perasaan tak ada orang yang masuk." ucapnya berbicara sendiri, dengan memperhatikan lauk pauk tersebut.


Dinda berjalan menuju kamarnya, dengan membawa pakaian yang sudah terlipat rapi. Tentu ia sempat melihat suaminya yang tengah mematung, dengan memperhatikan masakannya.


Adi masih belum menyadari bahwa Adinda sudah berada di rumah.


Brughhhhh…..


"Astaghfirullah… apa itu?" ujar Adi dengan menyentuh dadanya. Ia merasa terkejut mendengar suara bantingan pintu, yang ditimbulkan dari Adinda yang masuk ke dalam kamarnya.


Adi berjalan menuju ke sumber suara, ia merasa penasaran dengan bunyi tersebut.


Tepat saat ia akan menarik gagang pintu, malah pintu tersebut dibuka lebih dulu oleh Adinda.


Membuatnya terkejut bukan main, bahkan sampai berpindah dari posisinya.


"ALLAHU AKBAR!" pekik Adi cepat.


Dengan Adinda yang tak kalah terkejutnya, dengan kemunculan Adi di depan pintu.

__ADS_1


"Dodol!!! Ngagetin aja." seru Adinda dengan menepuk dada Adi, lalu ia berlalu dari hadapan Adi begitu saja.


Adi langsung berbalik dan mengejar istrinya, "Datang kapan, Sayang?" tanya Adi yang berjalan membuntuti istrinya.


"Tadi." jawab Adinda singkat. Membuat Adi teringat sesuatu, jika sudah seperti ini. Ia tak mau mendengar makian dan ucapan kasar lagi, dari mulut istrinya.


Adi berharap dirinya bisa bertahan dan membuat Adinda paham akan dirinya.


"Ghifar di kamar Givan, Dek. Soalnya di sana ACnya udah nyala, jadi udah aja Abang taruh dia di sana." ungkap Adi, mencoba mencairkan suasana.


"Hmm…" sahutnya dengan gumaman saja.


"Biar Abang bantu, Dek." ujar Adi kemudian.


Adinda menoleh pada suaminya, "Tak usah." balasnya dengan helaan nafas panjang.


Adi hanya mengangguk, lalu berlalu pergi dari ruangan berisikan tumpukan pakaian itu. Ia paham, jika ia terlalu banyak mengajak istrinya berbicara. Pasti perdebatan yang sengit, yang akan terjadi setelahnya.


~


Malam harinya, Adi mengendap-endap menuju kamar baru istrinya yang berada di lantai dua. Selepas menidurkan Givan, Adinda membawa anak bayinya menaiki tangga. Tentu untuk beristirahat sambil menyusui di kamar barunya.


Namun, hati Adi mencelos tak percaya. Ia memejamkan matanya, setelah melihat aktifitas istrinya dari lubang kunci pintu kamar tersebut.


'Ya Allah, Dek. Sebegitu tak bergunanya Abang kah, untuk diri Adek? Adek kira Abang tak hancur kah, nampak Adek tengah memuaskan diri sendiri?' rintihan Adi dalam hatinya, dengan mengusap dadanya berulang kali.


Ia memejamkan matanya, setelah melihat istrinya tengah beraktifitas dengan jarinya. Nafasnya tak teratur, karena dirinya tengah menahan rasa sedih yang menyelimuti hatinya.


'Apa gunanya Abang, Dek?' pertanyaan yang tak bisa terlontar dari mulut Adi untuk istrinya.


"Ughhhh…" suara lenguhan panjang yang terdengar dari dalam kamar tersebut.


Adi memahami suara itu, istrinya sudah mencapai titik tertingginya barusan. Lalu ia pergi menuruni anak tangga, ia ingin menyegarkan pikirannya sejenak. Ia berjalan ke luar dari rumahnya, lalu ia ikut menimbrung dengan Safar dan beberapa pemuda yang tengah duduk di pos ronda. Yang berada tak jauh dari tempat tinggal Adi.


"Heh, Di. Betulkah dek Dinda jadi orang ketiga di rumah tangganya artis dari kota L itu?" tanya seorang teman yang menepuk pundak Adi.


Adi reflek menggelengkan kepalanya, "Mana ada. Dek Dinda istri aku, mana mungkin dia jadi orang ketiga." jawab Adi mantap.


"Coba tengok di *G, rame Dinda sama Fanji punya hubungan khusus. Disebutin juga tuh, Dinda ini janda bukan istri kau." sahut teman Adi dengan menunjukkan Adi layar ponselnya yang menyala.

__ADS_1


Adi mengerutkan keningnya, ia tak percaya dengan berita yang beredar tersebut.


"Kau ke mana aja, Bang? Dari kak Dinda belum balik ke sini, memang udah ramai kak Dinda sama Fanji itu jadi trending topik di provinsi A ini." timpal Safar, dengan mengamati Adi yang fokus pada layar ponsel temannya tersebut. Bahkan jari-jari Adi bergerak, untuk menyentuh layar ponsel tersebut.


"Abang sibuk sama Ghifar dan Givan aja. Kau tau sendiri, ke ladang pun sampek ajak si hitam putih itu." balas Adi dengan menoleh pada Safar sekilas.


Terlihat foto Adinda yang berada di dalam mobil, dengan laki-laki tersebut yang berpose di belakang Adinda. Yang menjadi pusat perhatian adalah posisi mereka yang cukup dekat, tentu mengundang pemikiran buruk untuk siapa saja yang melihatnya.


Terlihat beberapa gambar lagi, yang tak kalah mesranya. Adinda tengah bersandar manja, pada bahu laki-laki tersebut. Dengan beberapa foto lainnya, yang membuat Adi geleng-geleng tak percaya.


"Nih, Bang. Story-nya istrinya Fanjinya, dia nyindir kak Dinda habis-habisan." ujar Safar dengan menunjukkan layar ponselnya yang menyala tersebut.


Adi langsung beralih menatap layar ponsel Safar, dengan wajah tegangnya.


"Cobalah lah, Bang. Klarifikasi macam itu, biar semua orang tau bahwa kak Dinda bersuami. Terus biar nama kak Dinda tak semakin tercoreng jelek." lanjut Safar kemudian.


Adi hanya mengangguk menanggapi ucapan Safar. Pikirannya menerawang jauh, ia tak menyangka istrinya begitu intim dengan laki-laki lain.


Adindanya benar-benar bukan seperti Adinda yang dirinya kenal lagi. Entah itu hanyalah salah paham, atau memang Adinda tengah bermain di belakang Adi. Adi pun tak mengetahui pasti, cerita yang sebenarnya. Karena, saat Adi memergoki istrinya berada dalam satu kamar dengan laki-laki lain pun. Adinda tak mau membela dirinya, atau menjelaskan kesalahan pahaman waktu itu. Membuktikan bahwa Adi tak penting untuknya lagi.


"Bang… Zuhra tuh." tunjuk Safar dengan menunjuk ke arah rumah Adi.


Adi menoleh, mengikuti arah pandangan Safar.


"Suruh pulang tuh, Bang." lanjut Safar, saat melihat Zuhra melambaikan tangannya ke arah mereka. Tentu Zuhra pasti memanggil kakaknya, bukan orang lain.


Adi pamit dari hadapan mereka semua, lalu ia berjalan pulang ke rumahnya kembali.


"Apa, Dek?" tanya Adi, setelah dirinya berada di hadapan Zuhra.


"Aku abis beresin tas kak Dinda. Tadi soalnya aku disuruh beresin tas, sama kopernya. Terus aku nemu ini." jawab Zuhra dengan menggandeng Adi untuk masuk ke dalam rumah.


Ia ingin menunjukkan sesuatu pada kakaknya tersebut. Tentu Adi merasa penasaran dengan teka-teki tersebut.


Apa lagi Adi baru mengetahui, ternyata nama istrinya tengah tercoreng di luar sana.


TBC.


Seperti yang diketahui, kalau hormon ibu hamil itu suka bikin perempuan butuh pelepasan. Adinda butuh suaminya, tapi ia udah terlanjur jijik. jadi, ya..... begitulah.

__ADS_1


__ADS_2