
"Aku punya trauma di masa lalu. Pertama kali, suami aku dulu gauli aku lagi setelah punya anak. Aku tanya dia pas lagi penyatuan, karena ekspresi wajahnya macam kesal. Abang tau gara-gara apa? Abang tau Mahendra ngomong apa waktu itu? Dia kata, 'kok udak tak gigit lagi?' terus juga dia kata, 'kesel, turn off terus bikin lama keluar. Gara-gara tak ada rasa, malah lebih ketat genggaman tangan sendiri.' Rasanya detik itu juga aku mau minta cerai. Sekarang aku ngerasa Abang kek gitu. Ekspresi wajah Abang datar aja, belum lagi kek macam pengen cepet selesai. Aku ini capek ngurus anak, hiburan aku cuma main hp sama ****. Sedangkan, suami sendiri aja rasanya kek udah malas gitu ladenin aku. Nampak betul pengen cepet selesai! Padahal aku sering bilang, Bang. Istri cantik itu, karena kuat modalnya, sama suaminya pengertian untuk gantiin ngasuh anak pas aku sibuk ngerawat tubuh aku. Abang dulu nikahin aku karena apa? Begitu terobsesi sama aku karena apa? Karena mulusnya aku kan? Karena beningnya aku kan? Karena Abang tau aku ini pasti enak kan? Dengan segala olahraga dan perawatan yang aku jalani dulu, Abang sampek rela ngejar aku. Kan? Kan? Udah ngerasain kan? Tak enaknya istri, begitu dia punya anak. Bisa jadi Abang ini bosen sama aku? Iya kan?" ucap Adinda dengan menghentikan langkahnya, dengan langsung menyuarakan ucapannya dengan menunjuk dada suaminya.
Adi menghela nafasnya untuk kesekian kalinya, ia pun tak mengerti pasti permasalahan ini. Ia pun mengakui bahwa memang dirinya sudah tak seperti dulu, dalam mengajak istrinya untuk menyatu. Terlintas di benaknya, apa ia benar bosan dengan istrinya? Ia terdiam beberapa saat, menemukan jawaban yang pasti atas segala tuduhan dari istrinya.
"Maaf, ya? Nanti Abang usahain tak macam itu lagi. Jangan marah-marah terus, tak enak sama orang rumah. Perlu Adek ingat terus, Abang ini bukan Mahendra. Abang tak macam dia, Abang pasti berusaha jaga keutuhan rumah tangga kita." balas Adi dengan membingkai wajah istrinya.
"Bertahan karena anak. Udah pasti itu jawaban dari hati Abang, Abang kasian dengan anak-anak yang segudang itu. Ingat ya, Bang! Aku bukan l*nte, yang lepas Abang puas, Abang langsung tidur atau pergi gitu aja!" ujar Adinda dengan mendorong dada suaminya. Lalu dirinya berlalu pergi menuju ke kamarnya.
Ibu Meutia menyadari bahwa anak dan menantunya tengah beradu argumen. Hanya saja, ia tak tau pasti apa permasalahan mereka dan juga ia tak punya hak untuk mencampuri urusan mereka.
Adi berjalan untuk menemui anak-anaknya yang tengah berkumpul di ruang keluarga, dengan dirinya yang langsung merebahkan tubuhnya di samping bayi kembarnya yang berada di atas karpet.
"Berantem lagi? Tak cocok kah sama pihak WO tadi? Atau Dinda ada pilihan sunting lain?" tanya ibu Meutia, dengan memperhatikan wajah murung anaknya.
"Tak, Umi." jawab Adi dengan memejamkan matanya. Ia merasa serba salah, dengan permasalahan internal ini.
Penyebabnya adalah dirinya, yang memperlakukan istrinya di ranjang dengan cara yang menyinggung perasaan istrinya. Tapi Adi pun, tak bisa memahami sesuatu yang ia rasakan dalam dirinya.
Ia mengoreksi rasa dalam dirinya. Cintanya masih sama, hanya untuk istrinya saja. Sayang, kasih dan perhatian pun hanya tertuju untuk istrinya. Meski memang, ia menyadari rasa itu terbagi dengan anak-anaknya juga.
'Bosan?' Pertanyaan yang tiba-tiba muncul di pikirannya. Ia langsung bergegas mencari ponselnya, dengan langsung mengutak-atik benda pipih tersebut. Sembari berjalan menuju ke ruangan lain.
"Hallo, Ris." ucap Adi, setelah menyambungkan panggilan teleponnya pada sahabatnya tersebut.
"Hmm, apa?" sahut Haris dengan suara serak.
__ADS_1
"Kau sibuk kah? Lagi tempur kah?" tanya Adi merasa tak enak hati, karena ia beranggapan bahwa dirinya mengganggu waktu sahabatnya tersebut.
"Tak, baru bangun tidur. Semalam tugas malam aku, Di." jawab Haris kemudian.
"Ohh… aku mau nikah sama Dinda, kemungkinan bulan depan." ujar Adi dengan berjalan menuju ke halaman belakang. Ia menelpon Haris, bermaksud untuk bertukar pikiran. Ia ingin mencari solusi, agar dirinya dan Adinda tetap harmonis. Padahal ia baru melakukannya malam tadi, tapi Adinda menyadari bahwa suaminya memang tengah merasa jenuh pada dirinya.
"Dinda pun udah ada bilang, aku usahain juga bakal datang nanti." balas Haris kemudian.
"Hmmm… masalah eksternal udah selesai. Aku sama Maya udah cerai, tinggal resmikan Dinda aja. Tapi… masalah internal malah muncul. Aku ngerasanya memang baik-baik aja, tapi Dinda udah meletup aja dia." ungkap Adi terdengar begitu ragu-ragu di telinga Haris.
"Ck… perempuan kan sering bilang, bahwa kita para laki-laki ini makhluk yang tak peka. Kalau kau ngerasanya baik-baik aja, ya wajar. Tapi wajar juga, kalau Dinda meletup atas ketidakpekaan suaminya." jelas Haris yang membuat Adi berpikir keras.
"Aku tak paham." sahut Adi yang membuat Haris terkekeh di seberang telepon.
"Udah, intinya apa masalahnya? Padahal kalian tak kekurangan uang, tapi masih aja punya masalah intern. Heran aku." ucap Haris kemudian.
"Jenuh itu wajar, yang penting kau bisa ngakalinnya aja." sahut Haris dengan suara yang sudh terdengar stabil.
"Mau makan tak, Bi?" tanya seorang wanita di seberang telepon, yang bisa didengar jelas oleh Adi.
"Ambilin minum aja. Nanti, abis dzuhur aja makannya." jawab Haris, menyahuti tawaran perempuan tersebut.
"Alvi kah?" Adi memastikan suara yang didengarnya tersebut.
"Ya, lah. Masa iya Sukma, kan tak mungkin betul." balas Haris yang mendapat gelak tawa ringan dari Adi.
__ADS_1
"Coba kau potong rambut gaya baru, makan di luar, rubah tampilan kamar, atau sesekali nginep di hotel berduaan." saran Haris kemudian.
"Kalau kau bosen, kau sama Alvi ngapain?" tanya Adi dengan melangkah masuk ke dalam rumah kembali.
Karena ia mendengar suara gaduh anak-anaknya, ia khawatir mereka saling berebut mainan.
"Ke club, mabok sambil hubungan. Alvi anak jaman sekarang, ngilangin penat di tempat hiburan malam kek macam itu. Mungkin itu juga kali ya, yang buat dia susah hamil." jawab Haris dengan intonasi suara menurun.
"Aku tak suka tempat hiburan malam, bikin mata aku juling. Mungkin aku coba saran dari kau aja dulu kali, mana tau Dinda juga bisa ngasih saran." sahut Adi dengan mangajak Naya dalam gendongannya.
"Jangan tanya ke Dinda, dia bisa lebih ngamuk. Tinggal kau keluar sebentar, rubah penampilan kau. Nanti selanjutnya kau buat Dinda berubah juga, ganti warna rambut atau potongan rambutnya jadi pendek." balas Haris memperjelas.
"Macam itu kah? Ya udah deh, aku coba ikuti saran kau." ujar Adi dengan melepaskan Naya di teras rumah. Anak itu berebut mainan dengan Novi. Hingga berakhir Ghifar yang memenangkan mainan yang direbutkan itu, dengan kedua gadis kecil tersebut saling menangis memanggil orang tuanya.
"Dih… nu, nu, na…" celotehan Ghifar yang berada di ambang pintu.
"Pah…" ucap Naya dengan memeluk ayahnya kembali, gadis kecil itu ketakutan dengan kehadiran Ghifar.
"Pue, Nak? Tante mana? Akak Naya takut sama Adek Ghifar, gih Adek sama tante Zuhra dulu." ucap Adi dengan menoleh ke arah putranya.
"Repot betul kau, Di? Nampaknya enak ya Di, banyak anak macam itu?" suara Haris yang masih tersambung dengan panggilan telepon.
"Enak, tak enak. Dinikmati aja, Ris. Kalau indukannya udah ngambek, tengok anak ribut macam ini bikin pening di kepala." aku Adi dengan yang ia rasakan sekarang ini.
"Ya udah, kau urus dulu itu yang dih-dihan terus. Kalau ada apa-apa, tinggal kabarin lagi aja." balas Haris dengan langsung mematikan sambungan teleponnya. Ia memahami, keadaan sahabatnya yang kerepotan dengan anak-anaknya tersebut.
__ADS_1
TBC.
Begitu loh, cara mengatasi rasa jenuh pada pasangan. Intinya, lakukan kegiatan lain dengan pasangan. Merubah tampilan pasangan, yang sebelumnya belum pernah dicoba. Ini aku bukan asal aja ya, sebelumnya udah googling dulu 🤣😝😂