Belenggu Sang Pemuda

Belenggu Sang Pemuda
BSP14. Kabar buruk


__ADS_3

Adi langsung merogoh kantongnya, dan memberikan uang pada Maya. Ia sudah teramat kesal. Dan ia tak ingin meluapkan emosinya di depan mertuanya yang menyaksikan dari jauh.


"Aku lama tak balik." ucap Adi, yang membuat Maya langsung memusatkan perhatiannya pada Adi.


"Pegang uang ini dulu. Kurang-kurangnya nanti aku transferin. Jangan hubungi aku, sebelum aku hubungi kau. Jangan ngirim pesan apa pun, kalau memang tak begitu darurat." lanjut Adi kemudian.


"Abang mau ke mana? Cuma karena cucian kotor aja Abang sampai ngambek begitu?" tanya Maya dengan mencekal tangan Adi.


"Harusnya kau paham! Kau pernah menikah, bukan? Kau pernah punya suami, bukan? Beginikah caranya menyambut suami datang?" jawab Adi yang melemparkan pertanyaan balik pada Maya.


"Bang, aku lagi hamil." sahut Maya yang masih mencekal tangan Adi. Adi pun enggan melepaskan tangannya yang tertaut dengan Maya.


"Hamil bukan alasan! Malas nyuci, tinggal baju kotor kau simpan di keranjang kotor. Dan taruh di dekat mesin cuci sana. Kamar kau jadi bau gara-gara keranjang itu. Yang penting kau udah mandi, rambut kau tak lepek macam itu. Badan kau tak lengket macam ini. Dan bau badan kau tak sampai menyengat di hidung." balas Adi sewot.


"Heran, muka aja yang kau elus-elus terus. Wajah aja yang cantik glowing. Badan sendiri kau tak pandai urus." ucap Adi dengan melepaskan tangannya dari genggaman Maya.


"Aku pergi. Kau jaga diri. Dan tak usah kerja. Fokus sama kandungan kau." ucap Adi sambil berjalan keluar dari kamar Maya.


Ia menuju ke mesin cuci kembali. Dan mematikan keran air yang masih mengalir itu.


Setelahnya, ia langsung memutar timer masin cuci itu. Lalu pergi keluar dari rumah itu.


Ia berjalan cepat menuju rumahnya. Lalu meminta Edi untuk mengantarkannya sampai ke stasiun kereta api.


"Nanti sampaikan ke umi sama ayah. Abang lagi punya proyek pengerjaan pengairan. Dan juga Abang lagi renov rumah di sana. Jadi tak bisa lama-lama ditinggal." ucap Adi, saat mobilnya mulai melaju ke tempat tujuan yang Adi minta.


"Ya kan bisa besok pagi sama aku sama Bena. Malam ini kau nikmati dulu malam kau sama kak Maya, Bang." sahut Edo yang menginjak pedal rem. Karena lampu merah dihadapannya telah menyala merah kembali.


"Berisik betul malam pertama! Abang lagi banyak masalah. Boro-boro mikirin malam pertama. Yang ada Abang pengen cepat sampai di provinsi A sana." balas Adi sewot.


Edi tak berani menyahuti perkataan Adi. Ia hanya diam dan fokus pada jalanan.


Beberapa menit kemudian, Adi telah sampai di stasiun kereta api. Namun jadwal kereta api yang akan berangkat ke kota J, hanya ada malam hari. Kereta yang sebelumnya sudah berangkat beberapa menit yang lalu.


"Antar Abang ke terminal aja, cepet." ucap Adi dengan terburu-buru.


Mereka berlari kecil menuju mobil. Dan langsung tancap gas, begitu siap memutarkan mobilnya.


"Abang yakin mau naik bus?" tanya Edi memastikan.

__ADS_1


"Ya lah. Naik apa aja. Yang penting cepat nyampe di sana." jawab Adi ketus.


Lalu Adi memainkan ponselnya, dan menempelkannya di telinganya.


"Hallo Ris. Bus apa yang larinya laju?" tanya Adi langsung.


"Main tebak-tebakan kah, Di? Bus apa ya…" jawab Haris di seberang telepon.


"Aku nanya serius, Ris. Kau jangan bercanda!" sahut Adi dengan kesal.


"Ohh, kirain ngajakin tebak-tebakan. Tujuan kau ke mana dulu?" balas Haris kemudian.


"Bandara." jawab Adi ringkas.


"L******, Di. Patas, Di. Tapi kau tanya lewat tol c***** tak. Soalnya ada beberapa bus yang tak lewat tol." jawab Haris memberitahu.


"Tapi kau tunggu mobil itu di lampu merah k********** aja. Biar sekalian berangkat." lanjut Haris berbicara.


"Tapi itu tak langsung sampai depan bandara, Di." ucap Haris melanjutkan.


"Iya aku paham. Ya udah." ujar Adi dengan mamatikan sambungan teleponnya.


~


Setelah ia mendapat izin untuk masuk, ia langsung mencari letak kamar inap Adinda.


Beberapa kali ia bertanya pada suster yang berlalu lalang. Lalu ia menemukan kamar anggrek 09 itu.


Terdengar suara perempuan yang berusaha memuntahkan isi perutnya. Dan Safar yang berdiri di depan pintu kamar tersebut.


Adi langsung berlari mengahampiri Safar, "Kak Dinda di dalam kah?" tanyanya kemudian. Terlihat raut wajahnya begitu khawatir.


"Ya Bang. Sama Liana, dan ada suster juga baru masuk." jawab Safar. Adi langsung menerobos masuk ke dalam ruangan Adinda.


Usahanya menaiki beberapa bus dan angkot tak sia-sia. Akhirnya ia bisa melihat Adindanya kembali.


Adi begitu sedih, melihat istrinya tengah muntah-muntah di malam hari seperti ini. Dengan Liana yang membantu menekan tengkuknya. Dan suster yang tengah menyuntikkan sesuatu pada selang infus Dinda.


"Adek kenapa, hm?" tanya Adi, dengan mengahampiri Adinda dan menggantikan posisi Liana.

__ADS_1


Adi menatap istrinya sendu. Ia begitu merasa bersalah karena telah meninggalkan istrinya sendirian. Dan, ia kembali dengan dihadapkan Adinda yang berada di rumah sakit.


"Dinda keracunan apa bagaimana, Li?" tanya Adi pada Liana. Dengan Dinda yang masih memuntahkan isi perutnya terus.


Liana menggeleng kepalanya, "Tanya ke Akak aja langsung, Bang." sahut Liana kemudian.


Setelah diberi minum air hangat, mual yang Adinda rasakan berangsur mereda.


Ia menyeka keringat di pelipisnya, kemudian mendongakan kepalanya untuk bisa menatap wajah suaminya. Yang sedari tadi memeluknya dan membelai lembut rambutnya.


"Abang kenapa bonyok macam itu? Jelek kali. Udah jelek, Abang tambah jelek aja!" ucap Adinda kemudian. Adi hanya bisa tersenyum tipis. Ternyata Adindanya masih sama sebelum ia meninggalkannya.


"Adek sakit apa? Kenapa tak bagi Abang kabar? Abang sampek buru-buru balik ke sini. Sampek ngutang ke Edi buat ongkos." ujar Adi mencium pucuk kepala istrinya.


"Abang denger kabar dari siapa? Jadi kalau Abang tak dengar aku sakit, Abang bakal undur waktu untuk pulangnya. Abang tak rindu aku kah? Abang mau lepas tanggung jawab Abang kah? Apa umi minta Abang buat stay di sana?" tuduh Adinda seperti biasa. Adi hanya bisa menggeleng, saat pertanyaan dari Adinda muncul satu persatu.


Liana melanjutkan tidurnya, dengan memunggugi sepasang anak manusia yang saling mencinta itu. Dengan bantal yang sengaja ia taruh di atas kepalanya, yang ia gunakan untuk menutupi telinganya. Agar tak mendengar suara yang membuatnya geli itu.


"Tak macam itu, Sayang." sahut Adi dengan menciumi wajah istrinya. Kemudian ia membingkai wajah oriental yang terkunci di ingatanya itu.


Ujung mata Adi sedikit basah. Ia begitu sedih melihat wajah istrinya yang terlihat begitu pucat. Dengan mata bengkak, karena terlalu banyak mengeluarkan air mata itu. Dan pipinya yang sedikit tirus.


"Abang tinggal lima hari aja, Adek udah sekurus ini. Abang minta maaf, Dek. Abang usahain akan selalu di samping Adek." ungkap Adi dengan mendekap kembali tubuh istrinya.


"Jadi maksud Abang aku tak semok lagi? Abang kira aku tak pandai rawat tubuh aku, saat Abang jauh? Abang kira aku bakal malas-malasan, saat Abang jauh?" tutur Adinda kemudian. Ia pasti selalu seperti itu. Adi selalu salah menurutnya. Ucapan Adi selalu terdengar membangkitkan emosinya.


"Tak macam itu, Sayang. Sini bobo lagi, Abang puk-puk p*n*atnya." tukas Adi dengan merebahkan tubuh istrinya, lalu ia merebahkan tubuhnya di samping istrinya. Ia langsung memeluk tubuh istrinya dengan menepuk pelan part belakang Adinda.


Adinda memperhatikan wajah suaminya, "Kenapa Abang bisa bonyok macam ini? Coba cerita sama aku, macam mana kejadiannya?" tanya Adinda dengan menyentuh luka di pojok mata Adi.


Adi langsung membelalakkan matanya. Bagaimana ia harus menjelaskan pada istrinya? Harus dari mana ia bercerita? Ia tak tau ia harus jujur atau berbohong pada istrinya. Sedangkan ia sendiri khawatir menambah buruk keadaan istrinya, yang ia belum tau pasti istrinya tengah sakit apa.


TBC.


Ini Maya apa Adi sih yang keterlaluan?


Perjuangan Adi Masya Allah, sampek rela naik angkot bus. Padahal biasanya orang punya kan ogah-ogahan naik kendaraan umum macam itu.


Penyakit lama Dinda kambuh kah?

__ADS_1


Ayo ikuti kisahnya terus 😊


Dukung author juga ya 😋


__ADS_2