
"HAH YANG BETUL?" suara Dinda berseru. Tengah membahas apa mereka berdua? Kalau sudah ghibah pasti mereka asik sendiri.
"Istri kau akrab sama Shasha? Tapi dia ketus betul sama aku." ungkap Seila.
"Dia kata, Shasha dulu teman pertamanya pas dia tinggal di sini. Makanya mereka akrab." jelasku pada Seila. Karena Dinda pernah mengatakan alasannya ia begitu akrab dengan Shasha.
"Pengen dong Di, akrab juga sama istri kau. Biar dia sering beli perhiasan sama aku." ucap Seila kemudian.
"Udah coba, jangan bikin aku tambah banyak masalah. Balik lah kau. Aku tak mungkin datang ke acara Akbar. Anak aku tak ada yang jagain. Istri aku tak pun tak bakal bagi izin." sahutku padanya.
"Rencananya, aku mau ngajak kau berangkat bareng ke sana." balas Seila.
"Boleh, asal aku ikut." sahut Dinda yang muncul dengan menggandeng Shasha.
"Tapi, Dekβ¦" ujarku tak tuntas.
"Pokoknya ikut. Aku tak mau ditinggal-tinggal terus." selanya memaksa.
"Ati-ati ya, Kak. Dibikin happy aja. Jangan setres, kasian adek bayinya." ungkap Dinda berpesan pada Shasha yang akan pulang.
"Ok, kau pun jangan setres juga. Bek beungeh sabe." ucap Shasha sebelum ia beranjak pergi. Bek beungeh sabe kurang lebih artinya seperti, jangan marah terus.
"Siap, Kak." balas Dinda dengan senyum ramahnya.
Lalu Dinda berbalik badan, dan berjalan ke arahku.
"Dek, tak perlu pergi keknya. Nanti Givan sama siapa?" ucapku dengan memperhatikan dirinya, yang baru menduduki tempat di sebelahku.
"Sama Abang. Biasanya Abang mau gendong-gendong dia terus." sahutnya, dengan merogoh ponsel dalam saku gamis yang tak terlalu longgar di badannya.
"Acara dewasa, Dek." balasku lirih.
"Party se*?" tanyanya, dengan menoleh padaku.
"Ya bukan juga, Din. Maksudnya kan ada minuman. Asap rokok di mana-mana juga. Judi juga biasanya ada." bukan aku yang menjawab, melainkan Seila.
"Oh macam itu." sahutnya enteng. Maksudnya macam mana ini? Apa dia benar-benar mau mengajak Givan juga?
__ADS_1
"Tapi Abang kenapa bisa cepat KO kalau minum?" lanjutnya kemudian. Seila terkekeh kecil, lalu ia langsung menutupi mulutnya.
"Karena memang tak pernah. Dulu Abang makek pun cuma sedikit. Cuma karena terlanjur nyandu aja." jawabku jelas. Apalah istriku ini? Dia membuatku malu saja! Meski memang kenyataannya demikian.
"Cuma buat gaya-gayaan aja dia, Din." sahut Seila menimpali.
"Terus Abang ngapain kalau ngumpul macam itu?" balas Dinda bertanya lagi padaku.
"Dia judi aja. Banyak uang dia, meski kalah pun tak langsung mundur." jelas Seila. Kenapa dengan Seila ini? Kenapa ia yang selalu menjawabnya lebih awal? Bisa-bisanya aku kena sidang Dinda, selepas kepulangan Seila nanti.
"Oh macam itu." ucap Dinda manggut-manggut.
"Iya. Nanti kau balik aja, Din. Kalau udah jam sembilan apa jam sepuluh. Karena kalau lebih malam, pasti lebih parah keadaan di sana." ujar Seila dengan memperhatikan Dinda.
"Hmm, macam itu ya. Jadi nanti maleminnya biar Adi sama kau? Macam itu?" sahut Dinda dengan menoleh padaku.
"Tak, Dek. Abang memang tak berencana pergi. Kalau Adek mau jalan-jalan, ayok? Tapi tak usah datang ke pesta itu. Kita jalan-jalan aja bertiga." ungkapku sebelum disela Seila lagi.
"Pandai ya kau, Bang? Biar aku tak tau bobroknya Abang dulu." tutur Dinda kemudian.
"Tau lah. Aku capek, pengen tidur." sahutnya dengan berlalu pergi.
"Ngeri-ngeri sedap ibu hamil." ucap Seila sambil terkekeh. Tentu saja ia mengatakannya, selepas Dinda sudah tak terlihat lagi.
"Itulah. Makanya dari awal aku udah bagi tau kan? Kau tak percaya betul! Ini pasti aku yang habis dimarahinya." ujarku frustasi.
"Kau setakut itu sama istri kau?" tanya Seila dengan menggelengkan kepalanya. Aku hanya terdiam, tak berniat menjawab pertanyaannya.
"Tak habis pikir aku, Di." lanjut Seila berkomentar.
"Nanti juga ada kalanya kau nemu yang lebih asik. Pasti tak mungkin kau macam ini lagi ke dia." ungkap Seila kemudian. Karena aku masih terdiam, dengan pemikiranku saja.
"Aku cinta mati sama dia. Aku dibuatnya gila." sahutku, lalu menyandarkan punggungku pada sofa.
"Memang macam mana?" tanya Seila serius.
"Kau pikir aja, Sel. Aku sama dia, sama-sama cinta. Dari awal pun sepertinya memang macam itu. Tapi dia selalu bikin aku bimbang. Setelah aku mantap, dia ngejauhin aku terang-terangan. Terus aku tau sendiri dari mulutnya, bahwa dia pun punya perasaan cinta sama aku. Tapi dia nolak untuk aku nikahi. Udah macam itu, orang tua aku dan orang tua dia tak restuin aku dan dia. Aku sampai kejar dia ke sana ke mari. Agar bisa tetap untuk ajak dia nikah." jelasku panjang lebar.
__ADS_1
"What? Jadi kau nikah diam-diam, Di?" tanyanya kaget. Yang langsung kuangguki.
"Ya kurang lebihnya macam itu." jawabku ringkas.
"Kau nekat betul, Di." sahut Seila dengan helaan nafasnya.
"Mau bagaimana lagi? Aku tak mungkin bisa lebih lama lagi nahan perasaan aku. Kau tau kan kalau laki-laki cinta ke perempuan, mana mana mereka numpahin perasaannya?" balasku yang langsung mendapat anggukan kepala dari Seila.
"Iya, iya aku paham. Jadi udah berapa lama kau nikah?" ujarnya kemudian.
"Tiga bulanan. Sekarang dia udah hamil sembilan minggu, kalau aku tak salah kira." ucapku menjawabnya.
"Biasanya, bekas pecandu itu ada masalah sama reproduksinya. Ada yang lama tak dibagi anak. Ada yang susah er*ksi. Untung kau tak macam itu ya?" terang Seila. Wajar jika dia memahami hal ini.
Karena pendidikannya cukup tinggi. Kebanyakan kawanku, yang hobinya bermain mobil. Semua rata-rata orang punya, dengan nama yang memiliki gelar. Ada yang sarjana pendidikan, hukum, kedokteran, dan masih banyak lagi. Seila sendiri, pendidikannya mungkin setara dengan Jefri atau Haris. Tapi memang dia tak bekerja. Dikarenakan orang tuanya yang memang sudah mampu, membuatnya enggan untuk bekerja. Lebih mudah meminta, macam itu yang ia katakan dulu. Tapi sekarang, ia pun mengikuti jejak orang tuanya berbisnis perhiasan.
"Memang kenapa macam itu?" tanyaku ingin tahu. Karena dulu pun aku sempat mengalami tak tahan lama dalam berhubungan badan.
"Susah aku jelaskan, kau tak bakal paham. Nanti kau cuma jawab iya-iya. Malas kali aku!" jawab Seila yang membuatku terkekeh geli.
"Ya kenapa bisa macam itu? Garis besarnya karena apa?" sahutku teramat ingin tahu.
"Selain dari gele itu sendiri. Bisa juga karena obat-obatan yang diberikan saat kau di rumah rehabkan." balas Seila sedikit menjelaskan.
Aku manggut-manggut mengerti, "Ok, ok aku paham." ucapku kemudian.
"Tapi memang betul kau dulu tak ada masalah se*sual? Si Tika aja, udah beberapa tahun nikah dia belum punya anak juga loh, Di." ungkap Seila setengah berbisik. Seperti halnya jika Dinda mengajakku berghibah. Pasti suaranya ia pelankan.
Bagaimana aku harus menjawab? Malu betul jika aku harus mengatakan yang sejujurnya? Tapi untuk apa pulak aku mengatakan padanya?
TBC.
Squel Sang Pemuda, pasti memberikan pesan tersirat untuk pembacanya. Entah dimengerti atau tidak, tapi author coba untuk memberikan sedikit wawasan yang author tau.
Entah itu wawasan dalam ilmu basic π atau pengetahuan sekitar aja. Memang tak begitu penting sih, novel kan cuma buat hiburan ye kan π€
Pengennya tuh dapat VOTE yang banyak gitu π atau tips untuk authornya π€
__ADS_1