Belenggu Sang Pemuda

Belenggu Sang Pemuda
BSP217. Tersinggung


__ADS_3

Ghifar langsung mempercepat pergerakan tumpuan duduknya, untuk bisa mencapai ayahnya yang tengah duduk bersama dengan Naya tersebut.


"Na na, na na. Na na, arghhhhhh…" seru Ghifar yang sudah berada di hadapan ayahnya. Tangannya tak tinggal diam, ia menarik dan memukuli Naya yang tengah Adi dekap.


"Ini Akak, Dek. Jangan dipukulin, kasian Kak Naya. Sini bareng, Adek juga Papah peluk sini, naik ke sini Adeknya." usaha Adi dengan mencoba mengakurkan kedua anaknya tersebut.


Naya menangis kuat, anak itu amat ketakutan karena tindakan anarkis Ghifar. Dengan Adi yang begitu kewalahan, menghadapi Ghifar yang terus menuntaskan kekesalannya pada Naya.


Hingga akhirnya ibu Meutia berlari keluar, karena mendengar suara gaduh tersebut. Ia langsung mengangkat tubuh Naya dengan segera, begitu ia sampai di tempat kejadian.


"Umi sih tak yakin, Naya masih hidup sampek besar kalau dia ikut kau Bang. Bukan sekali dua kali, Naya kena hantam Ghifar. Belum lagi nanti pasti Dinda juga beratnya ke anaknya, udah pasti Naya disiksa perlahan." suara lantang ibu Meutia, dengan mencoba menenangkan Naya dengan dekapan hangatnya.


"Namanya juga anak-anak, Mi. Bukan cuma sama Naya, Ghifar memang begitu sama abangnya juga. Sering juga Ghifar berantem sama Givan, itu bukan hal yang aneh. Namanya juga anak-anak, mereka belum tau yang baik dan benar." sahut Adi dengan mengangkat tubuh Ghifar.


Ghifar tengah mengagumi wajah tegas ayahnya, dengan tangannya yang begitu kuat berpegangan pada hidung ayahnya.


Anak itu lalu menciumi wajah ayahnya, ia memasang senyum kudanya seolah tak ada masalah yang ia perbuat sebelumnya.


"Kesayangan Papah, jangan kasar coba Nak. Kau nanti kena marah mamah." ucap Adi dengan atensi penuh pada putranya tersebut.


"Coba dimusyawarahkan lagi, tentang Naya ini. Umi sedikit keberatan, kalau harus urus anak orang sampek dia dewasa. Sakit hati betul Umi, karena kebohongan Maya. Mana ini mukanya tak ada miripnya, sama anggota keluarga. Kentara betul dia anak orang Chinese." sahut ibu Meutia, dengan menduduki kursi yang berada di teras rumah tersebut. Dengan Naya yang masih sesenggukan dalam tangisnya.

__ADS_1


"Kok Umi ngomongnya macam itu? Bagaimana Givan yang jelas bukan darah daging keluarga ini?" timpal Adinda yang ternyata berada di ambang pintu rumah tersebut.


Adi dan ibu Meutia menoleh ke arah sumber suara, "Bukan macam itu, Dek. Kan Umi lagi ngomongin Naya, bukan Givan." ujar Adi dengan melangkah mendekati istrinya.


"Aku tersinggung!" seru Adinda dengan berbalik masuk ke dalam rumahnya.


Adi menoleh ke arah ibunya, dengan ibu Meutia yang melempar pandangan ke arah Adi. Mereka menggelengkan kepalanya secara bersamaan, karena melihat ucapan Adinda barusan.


Adi mendekati ibunya, ia duduk di kursi teras dengan memangku Ghifar.


"Maafin Dinda ya, Umi. Dinda memang lagi marah-marah terus, kalau masalah belum selesai. Memang suka merambat ke masalah yang lain, dia lagi meletup-letup terus." ucap Adi dengan rasa tak enak hati pada orang tuanya.


"Tak apa, Bang. Umi sama Bena juga sering merhatiin, tambah kesiniin Dinda memang suka marah-marah. Nampak dari dia kalau urus anak, kalau ada yang tak nurut langsung dimarahinya habis-habisan. Mungkin Dinda tak betah tinggal di sini bareng Umi kali ya? Padahal Umi tuh coba jadi mertua yang bisa jadi orang tuanya juga, Umi juga ikut bantu urus anak-anak kalian. Umi sih ngerasanya macam itu. Karena kalau Givan sama Ghifar tak nurut, Dinda langsung bilang mamah mau pulang ke nenek. Jadi Umi langsung ambil kesimpulan, bahwa memang Dinda tak betah di sini." ungkap ibu Meutia, dengan Adi yang memperhatikannya dengan seksama.


"Hmmm… keknya Abang harus kasih kabar orang tua Dinda, Mi. Masalah pernikahan Dinda, juga Abang minta tanggal yang tepatnya. Soalnya Abang belum mantap, dengan tanggal pilihan Abang." sahut Adi kemudian.


"Oh, kalau macam itu. Biar Umi sama ayah ikut juga, biar sopan di mata orang tua Dinda." balas ibu Meutia yang membuat Adi memutar otaknya lagi.


Adi berencana untuk pulang ke mertuanya, karena ia ingin tinggal di rumah Adinda bersama anak-anaknya. Adi memahami semua kesalahan ini, berawal dari Adinda yang tak betah tinggal di sini. Harusnya dari awal Adi memahami, perubahan sikap dari istrinya. Bukan setelah semuanya sudah menjadi runyam, dengan bercampur dengan masalah internal mereka sendiri.


"Nanti Umi sama ayah nginep di mana? Rumah orang tua Dinda kan rumah minimalis, Umi pun tau sendiri kan? Setau Abang, cuma ada dua kamar di rumah itu. Kamar Dinda, sama kamar orang tuanya aja." tutur Adi, yang sebenarnya keberatan akan maksud baik orang tuanya yang akan berkunjung ke rumah orang tua istrinya.

__ADS_1


"Kan ada rumah Dinda, hotel juga banyak kan di daerah sana?" tukas ibu Meutia yang membuat Adi pasrah seketika. Ia tak tahu, harus beralasan apa lagi.


"Di daerah orang tua Dinda tak ada hotel, adanya pesantren. Ya udah, nanti besok kita berangkat. Tapi keknya, Abang sama Dinda bakal netap di sana. Sampek menjelang hari pernikahan kita, Mi." putus Adi dengan meladeni Ghifar yang tengah meloncat di atas pahanya tersebut.


"Tuh kan, Umi kan masih pengen urus cucu-cucu Umi. Terus juga macam mana coba sekolah Givan? Kasian dia baru juga beradaptasi dengan sekolah barunya, udah pindah sekolah lagi aja." ucap ibu Meutia yang membuat Adi teringat pada anaknya yang masih berada di sekolah dengan Zuhra.


"Pantesan tak liat tante Zuhra dari tadi ya, Bang? Papah lupa, tante lagi nemenin bang Givan sekolah." ujar Adi pada anaknya tersebut.


"Givan sama Naya di sini aja, sampek nanti kalian nikah. Biar yang kau bawa balik kembar sama Ghifar aja, macam mana?" saran ibu Meutia yang membuat Adi menoleh cepat.


"Abang tak bisa anak dititipkan lama macam itu. Dinda juga pasti tersinggung lagi, dikira Abang cuma pengen hidup sama anak-anak Abang aja. Segala Givan tinggal di sini, nanti dia bisa hantam Abang habis-habisan." maksud Adi menolak saran dari ibunya. Bagaimanapun keadaannya, ia ingin berkumpul bersama anak-anaknya.


"Ya udah, Naya aja di sini. Tapi Abang sambil ngomong ke Dinda nanti ya, macam mana untuk Naya kedepannya." balas ibu Meutia yang diangguki oleh Adi.


Lalu Adi melangkah masuk, dengan Ghifar yang masih berada di gendongnya. Pikirannya berkelana, ia malah memikirkan kehidupan anak gadisnya. Menurutnya, dengan penjelasan Adinda tentang golongan darah sudah cukup mengungkapkan kebenaran. Namun, masalah kian merambat karena Naya yang sering kali Adinda acuhkan.


Adi mendengar sendiri, perihal Adinda yang menerima Naya sebagai anaknya. Namun, ia sedikit kecewa atas perlakuan Dinda pada gadis kecil tersebut. Adi pun mencoba berpikir positif, bahwa ia memaklumi kondisi Adinda yang keteteran mengurus putra-putranya. Hanya saja, ia tak habis pikir dengan Adinda yang pura-pura tak mendengar setiap kali Naya menangis.


Apa lagi, Naya hanya bisa duduk saja. Anak itu, belum bisa merangkak maupun memindahkan alas duduknya. Membuatnya butuh bantuan orang tuanya, saat ia menangis karena ingin berpindah tempat.


"Dek, Sayang… salin gih, yuk temenin cukur rambut. Ghifar juga udah gondrong, waktunya pangkas rambut." ucap Adi setelah membuka pintu kamarnya.

__ADS_1


Ia melihat wanitanya tengah berbaring di atas tempat tidur, dengan memainkan ponselnya.


......................


__ADS_2