
Malam telah tiba. Namun, anak perempuanku masih ingin bersenda gurau denganku.
"Ke atas aja yuk, bobo sama mamah sama adek kembar." ucapku pada Naya, dengan mengusap jidatnya yang penuh dengan keringat.
Lalu aku mengangkat tubuhnya, yang kurus kering hanya dalam waktu hitungan hari saja. Sebetulnya aku kasihan pada Naya, tapi entah mengapa aku tak merasa dekat dengan Naya. Atau mungkin, karena aku yang dulu tak menginginkannya dan pernikahan dengan ibunya itu? Tak seperti pada anak-anakku yang lain, aku merasa mereka adalah bagian dariku. Meskipun Givan adalah keturunan dari laki-laki lain, tapi sedikit banyaknya hatiku menghangat sejak hadirnya dirinya di kehidupanku.
"Udah tidur, Sayang?" tanyaku setelah membuka pintu kamarku, yang sekarang menjadi kamar pribadi untukku dan Dinda.
Terlihat Dinda tengah menempelkan ponselnya di telinganya, aku bertanya hanya untuk berbasa-basi saja.
"Udah dulu ya, Bang." ucap Dinda pada seseorang yang berada di seberang telepon. Lalu beberapa kali Dinda mengiyakan, kemudian mengucapkan salam penutup.
"Naya belum tidur, Dek. Umi minta Abang tidurin Naya dulu, terus kasihin ke umi kalau Naya udah tidur." ungkapku dengan mencium pipinya sekilas.
Naya melongo saja, memperhatikan aku dan Dinda secara bergantian.
"Ini Mamah, panggil Mamah ya?" ucapku dengan memindahkan Naya untuk lebih dekat dengan Dinda.
"Panggil Akak, aku bukan Mamah kau!" ketus Dinda dengan menyandarkan punggungnya pada kepala ranjang. Terlihat ia memberi Naya pelototan tajam, sehingga membuat Naya merengek ketakutan.
Naya langsung tengkurap dengan memeluk pahaku, ia mencari perlindungan atas sahutan tak enak dari ibu sambungnya tadi.
"Sini-sini." ujar Dinda dengan mengangkat tubuh ringkih Naya, lalu Dinda mendekap Naya dengan mengusap-usap punggungnya.
"Tidur! Udah malam. Kalau tak nurut, nanti Akak kurung kau di kamar emak kau itu sendirian! Mau kau?!" tanya Dinda dengan membingkai wajah Naya, dengan satu tangannya.
Herannya, Naya malah menggeleng. Seolah ia mengerti apa yang Dinda ucapankan.
"Bikin susu belum ini, Bang?" tanya Dinda padaku, tatapan matanya seolah ia tengah kesal padaku.
__ADS_1
"Udah, Dek." jawabku dengan berjalan menuju ranjang baru milik si kembar. Ranjang bayi yang mungkin muat sampai umur enam tahun. Dengan pagar kayu khas ranjang bayi, yang mengitari pinggiran ranjang tersebut.
Mereka sudah terlelap, dengan pakaian khusus tidur. Ghava tidur miring ke arah kanan, dengan Ghavi tidur miring ke arah kiri. Mereka tumbuh dengan cepat, seperti Ghifar. Perkembangannya pesat sekali, tentunya dengan berat badan yang semakin bertambah besar.
Saat aku menoleh ke arah Dinda dan Naya. Terlihat ibu sambung itu tengah memeluk Naya sembari mengusap punggungnya, dengan Naya yang berbalik mendekap tubuh Dinda dan dirinya mulai memejamkan matanya.
Entah karena takut, atau apa. Sampai Naya menurut dan langsung tidur seperti itu.
Aku merebahkan tubuhku di sebelah Naya, dengan mulai memejamkan mataku.
"Jangan tidur dulu, Bang." ucap Dinda yang membuat mataku terbuka lebar.
Jangan-jangan ia butuh kasih sayangku. Baiklah, tak apa begadang malam ini. Asal ia terpuaskan karena pemberianku.
Aku memutar tubuhku, menghadap ke arahnya. Dengan tersenyum manis, agar ia paham aku selalu bersedia untuknya.
"Siap, Sayang. Abang pasti puasin Adek malam ini. Abang paham, Adek pasti kangen karena lama tak dikeluarkan." ucapku dengan memandangi wajahnya yang sudah terlihat amat mengantuk tersebut.
"Ck… padahal Abang udah berharap." balasku dengan meluruskan tulang belakangku kembali.
"Aku mau ada ngomong sama Abang. Tapi… sebetulnya aku ragu. Aku takut Abang tak percaya, terus ngira aku macam mana ke Naya. Padahal jelas, aku juga bawa Givan di rumah tangga kita." ujarnya yang membuat pikiranku melayang kemana-mana. Apa maksudnya? Sebetulnya ia berbicara ke arah mana?
"Naya tidur belum? Biar Abang pindahin dia sama umi." tuturku yang menganggap bahwa Dinda memang keberatan atas keberadaan Naya di tempat tidur ini. Anak-anaknya saja, tak satu ranjang dengannya. Apa lagi Naya yang jelas bukan keturunannya, pasti ia sangat merasa terganggu dengan anak perempuan ini.
"Biarin aja, dia tidur di sini juga tak apa." tukas Dinda yang malah membuatku dilanda kebingungan. Sebetulnya apa maksudnya?
"Macam mana sih, Dek?" tanyaku dengan bangkit dari posisiku, lalu aku duduk bersila menghadap ke arahnya.
"Naya belum lelap." jawab Dinda, yang membuatku terpancing emosi. Dinda sangat tak jelas, membuatku kesal sendiri.
__ADS_1
"Tinggal ngomong aja tuh." ucapku setelah meraup wajahku sendiri.
Dinda menepuk paha Naya pelan, lalu ia memindahkan kaki kecil itu yang berada di atas kakinya.
Kemudian Dinda duduk, dengan meraih ponselnya. Tak sampai di situ, ia bangkit dan berjalan menuju ke lemariku. Ia mengambil map berwarna hijau, juga map yang berwarna merah.
"Ini surat-surat Abang. Ada surat duda, KK Abang yang udah misah. Akte Naya, terus hak asuh atau apa itu. Biar kalau suatu saat Maya gugat, Abang punya bukti tentang Naya. Naya juga masuk ke KK Abang, juga ini KTP baru Abang ada di sini." ucap Dinda dengan menunjukkan map berwarna hijau.
"Terus, ini…. Maya punya. Surat janda, KK baru Maya, KTP baru juga ada. Masih banyak surat-surat penyerta lainnya, coba Abang cek sendiri." lanjut Dinda, dengan membolak-balikan lembar dokumen yang berada di dalam map merah.
"Ya, Dek. Nanti kasih ke ayah aja, yang punya Maya. Ayah kan punya orang kepercayaan, yang suka bolak-balik ke kota C untuk cek keadaan kedainya." sahutku kemudian.
"Hmmm… sebetulnya… macam ini loh masalahnya, Bang." balas Dinda terdengar ragu-ragu. Mungkin ini penyebabnya yang membuat Dinda melamun belakangan ini.
"Ini KTP Maya, di sini tertulis golongan darahnya juga. Aku yakin sih ini valid, karena di dokumen Maya juga ada surat sidik jari itu dan ada juga surat keterangan sehat yang disebutkan golongan darahnya." ungkap Dinda dengan menunjukkan KTP Maya, dengan status janda.
"Terus, Dek?" tanyaku, karena Dinda malah terdiam dengan ekspresi wajah seolah sedang berpikir keras.
"Terus ini KTP Abang, dengan golongan darah Abang yang tertulis di sini. AB kan, Bang? Betul kan?" sahut Dinda, dengan menunjukkan KTP baru milikku. Tentu dengan status menjadi duda.
Aku mengangguk mengiyakan, "Ya, Dek. Memang macam mana sih? Apa yang salah?" balasku dengan mengamati data yang tertulis di KTP milikku.
"Tengok ini." pintanya dengan menyodorkan layar ponselnya. Terlihat hasil screenshot, dari pencarian di G*ogle.
Ini tabel golongan darah, tapi aku tak mengerti. Aku tak secerdas dirinya, aku tak bisa memahami sesuatu jika tidak dijelaskan letak masalahnya.
"Lebih baik Adek suruh Abang nyangkul aja, atau suruh masangin sarung bantal. Sungguh, Dek. Abang pening, Sayang. Tak paham Abang nyoe, Dek." ujarku dengan memijat pelipisku.
Jangankan untuk masalah medis. Karena untuk hal mengingat sesuatu saja, aku sudah merasa amat kesulitan. Masih untung aku hafal nama anak-anakku.
__ADS_1
......................