
"Mamahnya bening, matanya juga macam orang Korea." sahutku yang dianggukinya saja.
Lalu tak ada lagi pembicaraan di antara kami, aku sengaja menyibukkan diri dengan ponselku.
"Udah, Bang. Mana dompet Abang." suara istriku, saat aku meluruskan pandanganku. Aku melihat kedua kakinya, yang sudah berada di hadapanku.
"Loh… Dinda. Bukannya dulu pacarnya Rozi?" ucap Salma dengan berdiri dan menunjuk ke istriku.
Aku memberikan dompetku, dengan langsung diambil alih oleh Dinda.
"Aku mau bayar dulu, Bang." ujar Dinda yang langsung kuangguki.
"Rozi siapa? Kapan mereka pacaran?" tanyaku dengan menoleh ke arah Salma.
"Sepupu aku, Rozi orang punya nama di kota C. Karena usahanya sukses, diusia muda. Kapan ya, ya memang sih udah cukup lama. Tapi kayanya belum sampai dua tahun kemarin deh, aku denger kabar itu." jawab Salma yang membuatku melongo.
Aku berpikir sejenak, karena aku sepertinya pernah beberapa kali bertemu dengan seseorang yang disebutkan Dinda bernama Rozi.
"Ohh… yang peternak puyuh itu?" sahutku kemudian.
Salma menjentikkan jarinya, seperti kebiasaannya dulu. Dengan ia langsung mengiyakan ucapanku barusan.
"Bukan lah, bukan pacarnya. Memang Dinda ambil puyuh itu dari Rozi, tapi mereka tak lebih dari kenalan aja." balasku mengelak atas tuduhan dari Salma. Karena memang aku tak menyukai, dengan hal yang Salma sangkakan pada istriku.
"Masa iya? Dia pernah diajak Rozi ke tempat aku, dikanalinnya sebagai calonnya Rozi. Aku juga pas main ke rumah bibi aku itu, si ibunya Rozi. Sempat liat Dinda beberapa kali bolak-balik ke rumah, keluar masuk kamarnya Rozi." jelasnya yang membuat moodku buruk seketika, ya aku cemburu.
"Udah, Bang." ucap Dinda dengan merengkuh lenganku.
__ADS_1
"Mari Kak, duluan." pamit Dinda dengan tersenyum pada Salma.
Detik itu juga, aku tak mengajak Dinda berbicara. Aku kesal, aku cemburu. Aku diam memendam rasa marahku, karena aku takut berbicara dengan nada tinggi dengan posisi kami yang masih berada di ruang publik.
"Siapa tadi, Bang?" tanya Dinda, setelah aku memasang sabuk pengaman padanya.
"Mantan." jawabku berharap ia mencercaku dengan pertanyaan yang beruntun.
"Ohh… kirain siapa." balasnya enteng, dengan suara yang stabil. Menandakan bahwa dirinya baik-baik saja, tak merasa cemburu atau sejenisnya.
"Kenapa tak ada bilang, kalau Adek mantanan sama Rozi. Tau begitu, tak Abang izinkan buka usaha yang ambil barangnya dari Rozi. Bikin kesel aja!" ketusku dengan memutar arah mobil yang aku kendarai.
Terdengar helaan nafasnya, "Kenapa sih sensitif betul sama yang namanya mantan? Lagi pulak, bisanya langsung percaya aja tanpa tanya langsung ke istrinya? Lebih percaya omongan mantan ya? Ketimbang penjelasan istrinya. Udah aja sana mati cemburu, kesel aku sama sifat Abang yang macam ini. Tak belajar dari kejadian yang udah-udah. Waktu Supriyatna, main langsung tonjok aja. Sama bang Fanji, main bentak aja. Ini apa lagi? Langsung cemberutin aku, langsung ngegas aja?" sahutnya dengan nada meninggi. Bisanya malah dia yang berbalik marah padaku?
"Ya… macam mana? Adek tak terbuka sama Abang. Tau-tau ternyata mantannya segudang." balasku dengan memperhatikan sekilas wajahnya yang ditekuk tersebut.
Aku menarik pipinya pelan, "Sebagus apa sih Adek? Sampek banyak yang mau macam itu. Memang punya apa aja? Sampek kawannya orang sukses semua?" tanyaku kemudian.
"Bagus lah... kan aku wanita sholehah, pintar ngaji, rajin sunah, puasanya full terus, belum lagi karena sifat nurutnya. Hmm, jaminan surga." jawabnya yang langsung kuaminkan dalam hati, berharap memang Dinda seperti yang dikatakan. Padahal melenceng jauh.
Memang dia pandai mengaji, hukum tajwid pun dia paham. Juga sifat penurutnya juga, meski harus disogok dulu dengan belanjaan dan uang. Tapi masalah rajin sunah, sama full puasa ini. Itu patut diselidiki lebih lanjut. Karena sholat wajib pun, ia masih harus aku ingatkan. Entah karena ia begitu repot dengan anak-anak, atau memang karena ia malas melakukannya.
Aku menarik bibirnya, dengan langsung melepaskannya. Membuat bibirnya mengeluarkan bunyi khas. Dinda langsung memberiku pelototan tajam, dengan mencubit lenganku.
"Rese betul!" serunya sewot.
"Ehh, tapi mantan dari mana itu Bang? Kak Salma PNS loh, Bang. Guru SD, di kota J ini." lanjutnya kemudian.
__ADS_1
"Salma itu, yang Abang bilang pertama kali anu sama dia." jawabku jujur, karena memang sebelumnya pun aku sudah pernah mengatakannya.
"Ohh… ya, ya, ya. Ih, pantesan dia tak nikah-nikah, tak taunya jebol perawan karena perjaka kampung. Ish, kasian betul nasibnya. Padahal dia tak jelek-jelek betul, wajahnya keibuan. Keknya dia tak nikah, karena malu soalnya udah tak perawan." balas Dinda dengan nada berghibah.
"Memang Adek dulu tak jebol perawan? Janda pun kena jebol jari tengah Abang, sok kali Adek ini." ujarku, karena aku merasa tak enak hati. Karena perbuatanku dulu, membuatnya menjadi trauma untuk memiliki hubungan dengan laki-laki. Padahal dulunya, ia sendiri yang menginginkan kami berpisah. Dengan serbu alasan, dia memintaku untuk meninggalkannya.
"Kena jebol jari, Abang harus nikahin aku saat itu juga. Tuh kelakuan Abang tuh! Tak kasian sama perempuan. Sana nikahin, kasian nanti dia jadi gadis lapuk." tuturnya yang membuatku melongo.
Aku langsung menarik tangannya, berniat untuk kugigit. Tapi ia malah melepaskan cekalan tanganku lebih dulu. Kemudian Dinda mentertawakanku.
Masalah dengan Maya aja, baru mau diselesaikan. Sekarang dia malah memintaku untuk menikahi Salma. Tentu itu jebakan untukku.
"Udah ditemenin perawatan, udah ditemenin ke salon. Udah ke klinik gigi juga, belanja pun udah. Jadi fix ya, Dek. Malam nanti Abang dapat, tanpa k*ndom. Abang udah rindu kali jepitan Adek, udah pengen dis*p*n* juga." ucapku setelah kami terdiam tanpa suara.
Dinda menoleh ke arahku, dengan aku yang mengarahkan pandanganku padanya. Lalu aku menarik tangan kanannya, kemudian aku genggam dan kucium. Berharap hatinya meluluh, karena semua pengorbananku hari ini. Bukan hal yang mudah, untuk sabar menunggunya selesai treatment ini dan itu.
"Aku tanya serius sama Abang. Abang pernah tak maen sama Maya? Selama kalian jadi suami-istri." tanyanya dengan menarik tangannya, dari genggaman tanganku.
"Belum, Dek. Pernah sekali pun, sebelum kita nikah. Itu pun pakek k*ndom, betul deh Abang tak bohong." jawabku jujur. Setelah sekian lama, Dinda membahas hal ini kembali. Menandakan, bahwa dirinya belum percaya akan hal itu.
"Coba cek kesehatan." sahutnya yang membuatku menghela nafas beratku. Apa ia lupa kah?
"Adek tak ingat, waktu Abang tes darah dan lanjutan. Pas Adek masuk rumah sakit, kalau tak salah si kembar umur lima bulan di perut. Waktu itu Adek juga kan, diminta tes itu sama pihak rumah sakit. Abang juga sekalian, karena diminta cek juga sama pihak rumah sakitnya." ungkapku mengingatkannya kembali.
Dinda manggut-manggut mengerti, "Hmm… gimana ya? Tapi Abang harus pakek……
TBC.
__ADS_1