
AUTHOR POV
Hari ini, di mana Adi dan Adinda tengah bersiap-siap dengan pakaiannya. Adinda terlihat begitu cantik, meski dirinya merasakan berat di kepalanya.
"Anak-anak sama siapa, Dek?" tanya Adi setelah ia selesai mengenakan pakaiannya.
"Zuhra, Zulfa, Bena, sama itu istrinya Edo." jawab Adinda dengan melirik sekilas ke arah suaminya. Ia tak bisa menoleh dengan baik, dengan beban berat yang ia sangga di lehernya.
"Langsung ke musholla, Bang. Akad dulu." ucap Edi yang masuk ke ruangan khusus untuk mereka berganti pakaian ini.
"Siapin mobilnya, Akak tak sanggup jalan. Nyungsep nanti yang ada." sahut Adinda yang membuat beberapa orang terkekeh geli.
"Dasar lemah!" ejek Adi dengan menghampiri istrinya.
"Lemah, lemah! Lemah-lemah gini, aku ibu dari anak-anak kau!"
"Kesel betul aku! Kalau tak cinta, mana sanggup aku nurutin kemauan Abang gini-gini."
Gerutu Adinda, yang membuat pihak yang merias dirinya menahan tawanya. Dengan Adi yang tersenyum samar, dengan menggelengkan kepalanya.
"Nanti Abang gendong dari sini ke mobil, dari mobil sampek duduk di musholla, dari musholla sampek nyampek lagi ke rumah. Makannya Abang suapin, minumnya Abang sedotin. Mantap pokoknya, Adek Abang ratukan hari ini." ujar Adi dengan begitu semangat.
"Aku diratukan, tapi macam orang lumpuh." sahut Adinda yang membuat Adi terkekeh kecil.
"Lepas aku lahiran nanti. Abang harus pakek KB, anak kita udah setengah lusin. Jangan-jangan Abang mau ngalahin keluarga gen itu?" tuduh Adinda dengan memicingkan matanya.
"Is, enak aja! Tak mau Abang." sahut Adi dengan tangguhnya.
"Kak, aku pernah denger sunting A***. Prosesi pernikahannya panjang banget, sebelum hari H itu ada ritual kekeluargaan yang berurutan. Kok kali ini beda ya? Kaya dibuat sendiri prosesinya, gak mirip sama adat sana." tanya seseorang yang tengah menambahkan semacam tusuk konde berbahan emas, yang Adi pesankan pada Seila ke kepala Adinda. Seperangkat perhiasan itu belum lengkap dipasangkan ke kepala Adinda, tapi Adinda sudah amat merasa terbebani dengan hiasan tersebut.
__ADS_1
"Soalnya mempelai wanitanya udah hamil, jadi dilewat semua prosesinya." jawab Adi dengan nada serius, padahal ia bermaksud bercanda saja.
"Mempelai laki-lakinya pun anaknya udah lima!" timpal Adinda dengan wajah kesalnya. Ia tak suka, Adi mengatainya sudah hamil.
Adi terkekeh kecil dengan menoel hidung istirnya, "Kalau ikut adat A*** yang betul-betul kan panjang macam itu prosesnya, sedangkan sebetulnya kami udah nikah. Jadi ini cuma untuk tanda mata aja, untuk kenang-kenangan semua orang dan diri kita sendiri. Ini cuma… semacam resepsi pernikahan aja. Kalau ikut adat sana, diawali jak ba ranub, ini semacam cari kesepakatan sama pihak perempuan. Jadi keluarga pihak laki-laki datang, bawa sirih, kue sama lain-lainnya. Terus kedua keluarga diminta untuk mempertimbangkan pernikahan itu. Kalau udah sepakat dan setuju, langsung jak ba tanda bisa disebut juga tunangan. Terus meugatip, malam inai, koh andom, seumono dara baro, upacara wo linto, terus terakhir tueng dara baro. Nanti kalau dijelasin satu-satu, malah langsung tamat ini novel. Makanya kita ambil yang tengahnya aja, akad ulang, terus resepsi di rumah. Macam ini aja udah miliaran, belum lagi polisi yang jaga itu, takut ada perampokan perhiasan mempelai wanita. Intinya… nikah itu mahal ongkosnya, lebih baik nunggu digrebek aja." ungkap Adi yang tengah mengobrol dengan pihak MUA tersebut.
Dengan mereka yang berakhir menyuarakan tawa renyahnya, karena ucapan akhir Adi barusan.
"Enak ya digrebek?" tanya Adinda dengan ekspresi wajah masamnya.
"Enaklah. Dapat kawin free, esuk lusa jumpa tuk kadi, Abang tak buat lagi, Abang ade aneuk bini." jawab Adi yang malah menyanyikan lagu Melayu.
Adi mendapat cubitan di perutnya, dengan Adi yang terkekeh sembari mencuri kecupan di pipi istrinya. Lalu Adi menghadap ke cermin yang terpampang di depan istrinya, Adi melihat pantulan dirinya yang menggunakan pakaian adat daerahnya.
"Masya Allah, gagah betul aku. Pantaslah Dinda mabok, sampek mau dihamili berkali-kali." Adi bermonolog sendiri, dengan bergaya di depan cermin tersebut.
Adinda yang mendengar ucapan suaminya barusan, malah langsung meremas milik suaminya yang bisa ia gapai dengan tangan kirinya.
Adinda tertawa puas, lalu ia memasang wajah meledek pada suaminya.
Adi menggelengkan kepalanya, karena melihat beberapa orang yang menahan tawanya dengan melihat ke arah mereka.
"Punya istri sebiji b*nalnya Masya Allah, mana agresif lagi kau! Kuhantam kau nanti sampek nangis!" ucap Adi dengan geram. Namun, mereka berdua berakhir saling menyuarakan suara tawanya.
~
Semua yang Adi rencanakan berjalan lancar, sudah empat jam mereka lalui dengan berdiri dan menyambut tamu yang datang. Setelah beberapa saat Adi dan Adinda bergantian untuk membersihkan dirinya, Adinda dibuat gemetar dengan bercak merah yang berada di segitiga berkaretnya.
"ABANG…." seru Adinda dengan rasa cemas akan kandungannya.
__ADS_1
"Apa, Dek?" sahut Adi yang berada di dalam kamarnya, sedangkan Adinda berada di dalam kamar mandi kamar.
"Aku ngeflek, macam mana ini?" balas Adinda dengan suara yang bergetar.
Dengan cepat Adi menuju ke kamar mandi, lalu ia mendapati Adinda yang tengah tertegun dengan menatap kain yang berada di tangannya.
"Ke rumah sakit yuk, biar tak sampek keguguran." ajak Adi dengan menutup tubuh istrinya dengan handuk.
Adi pun tak menyangka, bahwa istrinya sampai demikian. Ia meyakini Adindanya pasti kuat, untuk berdiri beberapa jam dengan beban di kepalanya tersebut. Namun, perkiraannya meleset.
"Nih, pakek bajunya. Nanti Abang ke sini lagi, buat gendong Adek. Abang mau nitipin anak-anak dulu." ucap Adi dengan memberikan istrinya satu set pakaian.
Dengan berlari kecil, Adi menuju ke lantai bawah. Ia menemui keluarga istrinya, juga keluarga besarnya.
"Bu.. Pak.. Yah.. Mi.. Adi nitip anak-anak dulu, kembar kalau nangis buatin susunya aja. Dinda ngeflek, Adi mau bawa ke RS dulu." ucap Adi dengan nafas yang tersengal-sengal.
"Istirahat aja dulu, besok aja." sahut pak Sodikin, membuat Adi terdiam dengan memperhatikan wajah ayah dari istrinya tersebut.
Pikiran jelek Adi bermunculan, tentang ayah mertuanya yang tak menginginkan cucu lagi. Padahal dirinya dan istrinya yang mengasuh dan membiayai anak-anak mereka sendiri, tapi terlihat begitu jelas di mata Adi bahwa ayah mertuanya tak menginginkan Adinda memiliki anak lagi.
"Nanti kenapa-kenapa macam mana, Pak? Masih mending kalau cuma keguguran, kalau pendarahan lagi terus anak kitanya yang terancam kan lebih bahaya. Dinda haid aja macam lahiran, apa lagi kalau keguguran. Pernah kan dulu dia keguguran anaknya Mahendra, pendarahannya sampek ngundang orang sekampung buat donor." timpal ibu Risa yang membuat pikiran Adi bertambah jelek.
"Iya, Bu. Dulu aja Dinda pernah pendarahan, sampek Adi yang urus. Waktu mereka masih berkawan, waktu di kota C dulu." balas ibu Meutia, membuat orang tua Adinda mengetahui hal yang tak diketahui oleh mereka.
Pak Sodikin dan ibu Risa saling melempar pandangan, "Masa? Kenapa dia bisa pendarahan?" tanya mereka yang tak sengaja berbarengan.
"Soalnya Ibu sama Bapak ngelarang Adi sama Dinda, terus Dinda setres pas masa haid. Jadilah dia pendarahan, terus yang jadi suaminya ini yang urus." aku Adi sengaja mengungkapnya.
Ingatan ibu Risa dan pak Sodikin berputar kembali, kala dirinya dan keluarganya berdebat dengan pilihan Adinda yang jatuh pada laki-laki yang berasal dari ujung pulau Sumatra tersebut.
__ADS_1
......................