
Ayo peregangan dulu, ketawa kita sikit-sikit 😅
Maaf eh kalau kurang greget, kurang bikin gemes, dan kurang bumbu-bumbu lainnya.
Berikan kritik dan sarannya, agar author bisa memperbaiki kekurangan dalam cerita ini 😁
Happy reading
"Siapa Jef?" tanya Haris pada Jefri.
"Dek Dinda." jawab Jefri dengan raut wajah yang begitu tegang.
"Kau bilang apa? Kau bagi tau dia?" ucap Adi cepat.
"Dia lagi tak baik-baik aja. Mungkin ia merasakan karena di sini suaminya kawin lagi." sahut Jefri dengan duduk di kursi yang tersedia. Ia meremas rambutnya, lalu menyugarnya ke belakang.
"Dinda sakit? Apa bagaimana? Gimana kondisinya?" balas Adi terlihat begitu panik.
"Kau cari taulah sendiri. Aku dilarang dia buat ngasih tau kabarnya sama kau." ujar Jefri kemudian.
"Ngobrol apa aja memang?" tanya Haris.
"Dia nanya udah ketemu Adi belum. Katanya udah lima harian Adi belum balik ke provinsi A." jawab Jefri, "Dia nanyain kabar kau Di. Kenapa tak berusaha ngabarin dia. Dia marah kau malah diamkan." lanjutnya berkata untuk Adi.
"Bukan aku diamkan. Aku cuma takut keceplosan. Aku tak bisa bohong sama dia. Apa-apa aku terbiasa cerita ke dia." ungkap Adi memberikan alasannya.
"Terus kau bagi tau dia, bahwa Adi di sini kawin lagi?" ucap Haris dengan memperhatikan Adi dan Jefri bergantian.
"Tak, aku tak bagi tau. Masalahnya kondisinya tak memungkinkan dia untuk kuat mendengar ini semua. Aku malah takut kejadian itu terulang lagi, misal Dinda dengar kabar buruk ini." jelas Jefri membuat Adi mengerutkan keningnya. Ia tak mengerti dengan maksud ucapan Jefri.
"Maksudnya gimana? Dinda kenapa? Kondisinya gimana?" sahut Adi menuntut jawaban dari Jefri.
"Tak tau lah. Kau cepat pulih. Terus balik lah kau sana. Biar kau tau sendiri." balas Jefri terlihat begitu frustasi.
"Apa sih Jef? Coba bisikin. Aku kepo betul." tutur Haris berkata dengan mendekati Jefri.
Lalu Jefri berniat membisikan sesuatu pada Haris. Namun urung, karena Adi menyerukan kalimatnya.
"Kau bagi tau dia. Tapi kau tak bagi tau aku yang jelas suaminya? Kau betul-betul ya, Jef!" seru Adi membuat Jefri dan Haris terkekeh.
__ADS_1
"Suami tak layak pakai! Udah doyan kawin, mana bonyok macam itu lagi." maki Jefri sengit.
"Memang kau layak pakai? Dasar lobang taik! Tengok tuh kau punya p*n*at, tajam betul macam itu. Jangan-jangan perjaka kau, kau lepas dengan lobang kering." Adi membalas makian Jefri. Lubang kering adalah perumpamaan, untuk menyebutkan lubang pembuangan manusia.
"Sembarangan! Mending p*n*at aku tajam. Dari pada biji kau besar sebelah macam itu." sahut Jefri melemparkan ejekan kembali.
'Perasaan, biji memang bentuknya besar sebelah semua.' gumam Haris heran.
"Bukan masalah. Yang penting aku punya barang dari pangkal sampai kepala besarnya sama. Tak macam kau, pangkal kau kecil betul. Cuma besar kepala aja!" seru Adi tak mau kalah.
Haris hanya bisa menghela nafas dan menggelengkan kepalanya saja. Melihat tingkah temannya, yang memang selalu berseteru sejak dari zamannya sekolah itu.
"Tak apa tak besar. Yang penting panjangnya memuaskan!" ucap Jefri dengan senyum bangganya.
"Besar pasak dari pada tihang, Woy!" ucap Adi mengotot.
"Apa hubungannya pasak, tihang sama senjata mematikan itu?" Tanya Haris dengan bingung. Bukannya jawaban, malah ia mendapatkan serangan ledekan dari dua orang temannya itu.
Lalu mereka saling berseteru dengan kata-kata kotor, dan melempar ejekan tentang keburukan masing-masing.
~
"Di, memang betul kau menang di besar aja?" tanya Haris langsung. Ia termakan ejekan Jefri tadi.
Adi langsung menoleh pada Haris, dengan manaikan satu alisnya.
"15cm lah kira-kira, kurang lebihnya kau tanyakan langsung ke Dinda ajalah. Sungkan betul aku, kalau harus nunjukin ke kau!" sahut Adi malas.
"Wow, pantesan dari dulu kau banyak betinanya. Ternyata…" balas Haris, dengan terkekeh kecil dan menggelengkan kepalanya.
"Pantaslah aku kalah saing sama kau. Aku cuma sama Sukma aja, dari sekolah sampai nikah. Lain sama kau, betina kau banyak kali tak terhitung." ucap Haris kemudian.
"Itu kan genetik. Kalau bisa pun aku mau ubah ke ukuran normal aja." keluh Adi dengan memainkan ponselnya. Ia menghubungi beberapa anggota keluarganya, yang berada di provinsi A. Ia begitu khawatir sejak mendapat kabar, yang katanya kondisi Dinda sedang tidak baik-baik saja.
"Memang kenapa?" tanya Haris menoleh pada Adi. Karena umumnya laki-laki berkeinginan untuk memiliki p*nis yang besar dan panjang.
"Kasian istri, kadang sampai ampun-ampunan. Belum lagi aku harus sabar. Harus tunggu mekar dulu. Tak macam itu, bisa-bisa aku yang terpaksa puasa. Karena Dinda pasti lecet-lecet." ungkap Adi. Ia tak mengerti ucapnya cukup membuat Haris iri.
"Tukeran barang, Di. Alvi udah mulai renggang soalnya. Kayaknya dia udah ada barang baru." tutur Haris, yang membuat Adi tak habis pikir.
__ADS_1
"Pakai minyak lintah Papua. Pakai pump sekalian." tukas Adi yang mengubah posisinya untuk duduk di ranjangnya.
"Tapi Dinda ok, Di? Enak mana sama istri baru kau ini. Yang kau hamili ini." ujar Haris penasaran.
"Menang Dinda ke mana-mana. Biarpun udah punya anak, tapi dia bisa jaga bentuk tubuhnya. Di sana susah cari sanggar senam semacamnya. Karena tempat aku ini masih kampung batul. Dia bela-belain cari gerakan tutorial senam di y*utube. Yoga juga dia main. Belum lagi dia suka sayur, sering makan lalaban macam itu. Kol, timun, daun selada, kemangi dicocolnya pakek sambel aja. Jadi, kau kira-kira aja lah." jelas Adi, Haris hanya manggut-manggut mengerti.
"Sukma pun waktu akur sama Dinda, enak dia dipakeknya." sahut Haris bercerita.
"Berarti Alvi itu betina yang pernah kau cobain selain Sukma? Tak ada yang lain kah?" tanya Adi sedikit penasaran dengan Alvi itu. Karena ia ingat betul saat Alvi memohon, untuk berhubungan badan pada Haris. Saat Dinda tengah pendarahan.
"Tak ada. Cuma dua itu. Aku udah kenyang sama Sukma. Jadi aku tak begitu penasaran dengan rasanya betina. Nemu perawan celingukan, yang masih awam soal begituan. Ya udah lumayan. Jodoh ya nikah, tak jodoh ya sudahlah." jawab Haris dengan bercerita.
"Aku kira kau dapat Alvi udah jebol." sahut Adi menimpali.
"Perawan segel-an. Kau paham kan, macam mana betina kalau udah tau enak." balas Haris dengan merebahkan tubuhnya di spring bed single, yang berada di seberang ranjang Adi.
Adi hanya manggut-manggut mengerti. Pantas saja Alvi seperti itu pada Haris. Ternyata Haris orang pertama yang mengenalkan Alvi pada dunia kesenangan laki-laki.
"Ngobrolin betina tak ngajak-ngajak!" ucap Jefri dengan melangkah masuk ke dalam ruangan Adi. Karena saat Haris hampir menyelesaikan kalimatnya. Jefri sudah membuka pintu ruangan Adi.
"Eh, Di. Bentar lagi keluarga kau datang." lanjutnya berkata pada Adi. Adi hanya mengangguk menanggapinya.
"Lain ceritanya kalau Jefri, Di. Adik kau sampai jadi korbannya." ujar Haris pada Adi.
"Iya, betul-betul kau ini Jef. Sampai hati kau mangsa adikku sendiri. Apa kau tak punya rasa tak enak hati sama aku kah?" sahut Adi kemudian.
"Karena biasanya laki-laki yang nampak alim macam dia itu. Itulah yang lebih berbahaya. Aku aja dirusaknya. Diajaknya ke club. Minum, main betina. Itu Jefri semua yang ajarin." ungkap Haris memberitahu Adi.
Adi nampak kaget. Ia memikirkan adiknya, Zulfa. Ia khawatir Zulfa tertular penyakit seksual dari Jefri.
"Kau jangan jelek-jelekin aku di depan kakak iparku macam itu dong, Ris. Jangan sampai aku ngikutin jejak kakak iparku, yang nikah diam-diam macam dia." balas Jefri pada Haris. Haris terkekeh kecil. Dengan Adi yang menatapnya dengan sengit. Pasalnya Jefri selalu ingin berseteru dengannya.
"Siapa yang nikah diam-diam?" suara seseorang yang berada di ambang pintu.
Ketiga laki-laki itu menoleh pada sumber suara. Mereka enggan menjawab pertanyaan dari….
TBC.
SUPPORT AUTHOR YA KAK 😊
__ADS_1