
"Ihh… katanya Papah yang minta, bisanya dihap sama Mamah?!!" seru anakku pada ibunya yang tengah duduk di depannya, sambil menikmati jajanannya tersebut.
Dinda cekikikan, karena mendapat amarah dari anaknya tersebut. Aku pun ikut mendekati mereka, kemudian duduk di sebelah Givan.
"Papah minta yang ini, ya?" ucapku dengan menyomot makanan yang berbentuk seperti kubah masjid.
"Beli sendiri tuh! Cuma dua ribu perak, pada eman-emanan betul!" sewot anakku, dengan mengambil alih makanannya kembali.
"Pelit tuh, kata siapanya sih? Mamah tak ajarin Abang jadi pelit." ujar Dinda dengan memelototi anaknya.
"Aku lagi pengen, Mamah! Mana aku cuma jajan lima tusuk aja." sahut Givan yang sepertinya akan menangis.
"Nanti kalau Ghifar udah besar, Ghava sama Ghavi udah besar. Direbutin loh makanannya, kalau tak mau bagi-bagi macam itu." balas Dinda dengan mata yang masih fokus pada anaknya.
"Lagian heran betul aku. Ladang banyak, uang sampek di simpan di kulkas biar tak berjamur. Tapi buat jajan aja perhitungan betul! Masa ia sepuluh ribu, mau dibagi jadi empat? Harusnya adil dong! Aku sepuluh ribu, Ghifar, Ghava sama Ghavi juga sepuluh ribu. Bukan sepuluh ribu, buat bareng-bareng macam itu! Kalau tak mau ngeluarin uang banyak, makanya jangan beranak banyak-banyak!!!" seru Givan dengan berpindah tempat, dengan membawa makanannya tersebut.
Sungguh, tak ada yang tak tertawa. Sumber tawa dari berbagai arah, terdengar karena seruan anakku barusan.
"Nah tuh, Zuhra! Apa kan Akak kata, dibilang Givan tuh tak usah disekolahkan. Jadi pandai kan dia, mana itu lidah jelas betul ngucapin kalimatnya. Bikin malu aja!" ujar Dinda dengan berjalan menghampiri Zuhra yang berada di teras rumah dengan Ghifar.
"Mamah tuh, anaknya pandai tak boleh. Kalau aku dibodohin sama abang Ken, Mamah langsung marah-marah." timpal anakku, yang ternyata memiliki pendengaran yang tajam.
"Nih, nih. Sana beli yang banyak! Kalau yang dagangnya cantik, montok, bening. Sekalian kau bungkus sana, terus kasih ke Papah!" ujarku dengan mengambil dompetku, yang berada di saku belakang celanaku.
"Tapi keknya dia udah ada suami, Pah. Ada yang ikut ngipas-ngipasin abang-abang manis." sahut anakku yang ternyata nyambung.
"Bungkus abang-abangnya juga! Mamah doyan kok makanan yang manis-manis." balas Dinda yang membuat tawa semua orang menyatu ke ruang tamu ini.
Ayah dan umi muncul dari tempat persembunyiannya. Mereka berkumpul dan mengambil tempat masing-masing, dengan fokusnya pada sulungku yang tengah melahap makanan di atas sofa tersebut.
"Gih beli. Papah temani kah? Jangan cemberut aja dong, tadi cuma bercanda." ucapku dengan duduk di sebelah anakku.
"Papah tuh deket-deket aku, sengaja kan? Mau lobi aku, biar bisa dapat seafood bakarnya?" ketus anakku dengan melirik tajam padaku.
__ADS_1
"Tak, lah! Nih uangnya, sana beliin buat semua orang. Buat Papah jangan dikasih cincau ya." ujarku dengan menaruh uang di dekat makanannya.
Givan melirikku sekilas, dengan ia turun dari sofa. Jangan lupa makanannya yang dibawanya juga.
"Mamah dikasih cendol tak? Es batunya yang banyak apa sedikit?" tanya anakku sambil menghampiri ibunya yang berada di teras rumah.
"Heh? Memang mau beli apa? Perasaan tadi ramai seafood bakar, sekarang malah cendol. Beli apa memang?" suara istriku yang terdengar di telingaku.
Ayah sampai terpingkal-pingkal, mentertawakan drama keluarga kecilku ini.
"Tau tuh papah! Katanya beli seafood bakar, tapi jangan kasih cincau. Harusnya papah tuh ngomong sama b*k*ng!" suara anakku yang membuatku melongo sesaat.
"Yuk sama Tante, Tante juga mau jajan." suara Zuhra dengan disusul suara anakku.
Ghifar sepertinya minta ikut dengan Zuhra. Mesti anak itu masih sering meneriaki Zuhra, tapi Ghifar begitu lengket dengan tantenya itu.
"Bang… Ghifarnya ini." seru Zuhra, dengan disusul suara Ghifar yang semakin mendekat.
Sungguh aku tak akan pernah melupakan panggilan kesayangan anakku yang satu ini, "Bang… Bang…. Dih… Dih… Dih…" dengan tak lama, terlihat Ghifar gempal yang mengesot ke arahku.
"Kau bukannya cepet jalan, malah ngomong duluan. Bang, bang, bang. Kau kira aku ini abang kau kah? Muka sampek tak ada yang dibuang, minus mata aja kau mirip emak kau itu. Masih aja kau belum paham, bahwa aku ini papah kau!" ujarku dengan mengangkat tubuhnya, yang telah sampai di depan kakiku.
Ghifar tersenyum lebar, sampai matanya terlihat tinggal garis saja. Aku langsung menciuminya, rindu betul aku pada si hitam mameh ini. Tawa gembiranya terdengar begitu candu, seperti tawa ibunya.
"Kembar mana, Umi?" tanyaku dengan mengalihkan pandanganku.
"Di kamar Zuhra, tadi sih abis disusuin Dinda. Mungkin pada tidur, makanya Dinda bisa keluar." jawab umi, dengan aku langsung mencari keberadaan istriku.
Terlihat Dinda seperti memikirkan sesuatu, dengan menggenggam ponselnya. Aku langsung mengecup pipi kanannya, dengan Dinda yang langsung menoleh ke arahku.
"Ngelamun terus. Mikirin apa? Pengen jalan-jalan kah? Gih jalan-jalan, tapi sama Zuhra aja ya. Abang capek pengen istirahat di rumah, nanti biar kembar sama Abang. Ghifar di bawa aja, Givan nanti ditanya mau ikut atau di rumah." ucapku dengan duduk di lantai, dengan menurunkan Ghifar dari dekapanku.
Lalu anak itu langsung memindahkan alas duduknya ke sana ke mari. Dengan mainan yang berbentuk seperti jagung, yang digigit-gigit seperti layaknya makanan.
__ADS_1
"Aku pengen sendiri dulu, Bang." sahutnya dengan bangkit dari duduknya.
Aku menarik roknya, berharap ia tak melangkah masuk ke dalam rumah.
"Sini dulu! Ada apa? Kan Abang udah jelaskan, itu Salma yang iseng semprot ke baju Abang. Abang tak ngapa-ngapain sama Salma, Dek. Demi Allah, Abang tak bohong." ungkapku dengan mendongak menatap wajahnya.
Dinda duduk kembali di kursi yang tadi ia tempati, "Iya, Bang. Tak perlu dibahas, ya aku percaya. Nanti kalau aku udah yakin, aku bakal cerita ke Abang. Aku masuk dulu ya, pengen lurusin pinggang." balasnya yang langsung kuangguki. Lalu Dinda bergegas masuk ke dalam rumah.
"Nih Naya udah selesai makannya. Gih main sama Ghifar." ujar Bena yang mengangetkanku.
Naya tersenyum padaku, lalu ia beralih menatap Ghifar yang kakinya sudah menyentuh tanah. Biarkan sajalah, biar nanti tinggal diajak untuk bersih-bersih saja. Karena sudah susah, Ghifar sudah tertarik dengan tanah. Ia juga paham bahwa tanah tak untuk dimakan, ia hanya memainkannya saja sembari mengesot ke sana ke mari. Tentu jangan tanyakan, bagaimana kotornya pakaian Ghifar.
"Novi mana, Ben?" tanyaku karena Bena masih berada di sekitarku.
"Lagi nonton C*** Melon, di ruang keluarga. Novi anteng, kalau udah nonton film kesukaannya itu." jawab Bena, dengan memberikan Naya mainan yang mengeluarkan bunyi musik.
"Kak Dinda disuruh-suruh terus kah? Selama Abang nemenin Naya di rumah sakit." sahutku dengan memperhatikan wajah istri dari adikku ini.
"Gak juga. Ya paling, disuruh makan aja Bang. Cuma memang Bena perhatiin, sejak teman Abang yang kemarin datang antar surat-surat itu. Kak Dinda kaya pusing gitu, Bena sih takutnya kak Dinda diperas teman Abang itu." jelas Bena yang membuatku berpikir keras.
Siapa memang yang kemarin datang? Karena sebelumnya tak ada kawan yang menelponku untuk datang ke rumah.
"Siapa, Ben? Kawan yang mana?" balasku bingung.
"Yang minta cek 200 juta itu." ujar Bena lirih, seperti biasa layaknya perempuan ghibah.
"Buuuuuuh, buhhhhh…" suara anak kecil yang muncul dari balik pintu utama. Ternyata Novi, ia mencari keberadaan ibunya ternyata.
Gemas aku pada Novi, ia sudah bisa berjalan dan berlari. Aku ingin Ghifar cepat berjalan dan berlari, agar bisa kuajak main bola bersama Givan. Pasti anak itu heboh, meski tak meniupkan peluit lagi.
"Aku masuk dulu ya, Bang. Ini awas Nayanya, takut digetok jagoan." tutur Bena yang kuangguki.
Kenapa ya Ilham datang lagi? Apa ia memberikan dokumen yang telah jadi? Tapi kenapa membuat istriku murung?
__ADS_1
TBC.