Belenggu Sang Pemuda

Belenggu Sang Pemuda
BSP16. Menjemput Givan


__ADS_3

Aku sudah sampai di rumah abusyikku, rumah yang aku tempati sementara sampai rumahku telah selesai direnovasi.


Aku langsung menaruh pakaian kotor Dinda. Dan aku membersihkan diriku. Luka lebam di sekujur tubuhku, masih begitu sakit jika tersentuh macam ini.


Aku melihat pantulan diriku di cermin kamar mandi. Pantas saja orang-orang melihatku dengan aneh. Dan pantas saja Dinda mengatakan bahwa aku begitu jelek. Mataku bengkak sebelah macam ini. Belum lagi bibir atas yang sedikit jontor. Dan daguku sobek sedikit.


Aku mengingat kembali kejadian waktu aku dikeroyok. Rasa-rasanya, tak mungkin kakak Dinda tau aku menikah lagi. Kalau tak diberi tahu oleh seseorang.


Hm, hmm. Sudah pasti pelakunya adalah Jefri. Ia tau aku akan menikah pasti dari Zulfa. Dan ia juga paling akrab dengan Arif. Beberapa unggahan terbaru di sosial medianya, ia nampak tengah bersama Arif terus.


Sudah pasti Jefri bang*at itu pelakunya. Mana mereka ngeroyok tak bagi tau dulu lagi. Kalau aku tau kan mungkin aku bisa menghindar, atau melawan mereka.


Huh, sudahlah. Kejadian itu sudah terjadi. Kemudian aku bersiap dengan membawa beberapa pakaian Dinda, pakaianku, dan pakaian Givan. Aku menaruh ransel pakaian itu di dalam mobilku yang lama tak ku panasi. Lalu aku berjalan menuju rumah kak Ayu.


Tentu saja diiringi dengan pandangan warga kampung yang melihatku dengan tatapan aneh.


"Assalamualaikum." ucapku sambil menarik gagang pintu rumah kak Ayu.


"PAPAH ADI…." teriak anak laki-lakiku dengan berlari ke arahku. Lalu aku memeluknya erat.


"Wa'alaikum salam." sahut kak Ayu dari dalam rumah.


"Kenapa kau bonyok-bonyok macam itu?" tanya kak Ayu yang ternyata sudah berada di depanku.


"Biasa, Kak. Buronan mertua." jawabku sambil mengangkat anak laki-lakiku.


"Kalau kau balik ke sana, bawalah anak istri kau juga. Setidaknya, mereka cukup membuat kau aman dari mertua kau." sahut kak Ayu dengan duduk di sofa ruang tamunya.


"Kayaknya Dinda cukup lama tak akan balik ke orang tuanya. Lebaran nanti juga dia di sini." balasku dengan duduk di sofa seberang tempat kak Ayu.


"Kenapa memang?" ujar kak Ayu kemudian.

__ADS_1


"Dia tengah hamil. Aku khawatir nanti dia kontraksi di pesawat." tuturku sambil memperhatikan wajah anakku yang begitu kotor. Sepertinya ia tengah flu, ingus keringnya sampai dibiarkan saja macam itu. Beginilah kalau anak dititipkan, pasti tak terurus macam ini. Ditambah lagi kak Ayu mempunyai dua orang anak. Yang pastinya karena anak-anaknya saja, ia cukup kerepotan. Ditambah lagi Givan dititipkan padanya.


"Jadi kau udah tau?" tukas kak Ayu, yang langsung kuangguki.


"Gimana ceritanya dia sampai masuk rumah sakit?" tanyaku setelah keheningan melanda.


"Singkatnya, ya karena dia muntah-muntah terus. Tubuhnya kekurangan cairan. Terus dia pingsan. Untungnya Shasha lagi sama dia. Jadi ketahuan kan, coba macam mana kalau tak ada orang di sana. Terus langsung dibawa ke rumah sakit. Soalnya Dinda tak sadar-sadar." jelas kak Ayu memberitahuku.


Ya ampun, aku tak menyangka. Istriku sampai kekurangan cairan. Pasti ia berkali-kali memuntahkan isi perutnya.


Untungnya, saat pagi tadi. Dokter mengatakan kondisi Dinda sudah baik-baik saja. Siklus muntahnya pun tak terlalu sering, tak seperti awal-awal saat ia baru masuk rumah sakit. Seperti itu penuturan dokter yang mengecek keadaan Dinda.


"Jadi jajan Givan habis berapa, Kak?" tanyaku yang bermaksud untuk mengganti uang kak Ayu.


"Kau macam tak kenal Akak aja. Akak bilang macam itu. Biar kau cepat balik. Dinda tak mau ngasih tau kau. Katanya biar kejutan. Tapi malah kau yang kayaknya betah di sana, kau tak balik-balik. Akak kasian sama Dinda, dia sendirian di rumah sakit. Kalau Liana dan Safar sibuk, otomatis istri kau tak ada yang menemani. Belum lagi Givan sakit, dia rewel kali. Ngerengek aja. Akak keteteran sendirian di sini." ungkap kak Ayu kemudian. Sudah kuduga, pasti kak Ayu mengatakan hal tersebut.


"Makasih, Kak. Givan, Adi bawa ya." pamitku langsung. Kemudian aku pergi dari kediaman kak Ayu.


"Papah kenapa? Pakai micellar water, biar tak macam ondel-ondel." ujar anakku kemudian. Aku terkekeh geli mendengarnya. Aku tahu apa itu micellar water. Produk pengahapus make up yang sering tayang di televisi. Mungkin Givan juga memahaminya dari iklan produk tersebut. Karena disitu begitu jelas, model seorang wanita yang wajahnya penuh make up dengan kelopak mata yang berwarna. Tiba-tiba langsung bersih setelah mengelap wajahnya, dengan kapas yang dibasahi dengan produk itu.


"Ok, nanti Papah beli micellar water." sahutku kemudian. Karena jika aku mengatakan bahwa aku kena tonjok. Pasti suaranya akan terdengar sepanjang jalan.


Mungkin karena ini waktunya tidur siang untuk Givan. Ia tertidur pulas selama perjalanan menuju rumah sakit.


Setelah sampai di parkiran rumah sakit. Aku memarkirkan mobilku di posisi yang cukup aman. Setelahnya aku keluar dari mobil dengan menggendong ranselku. Aku berniat memutar, untuk bisa menggendong Givan yang masih tertidur.


Namun saat aku hendak mengangkat tubuh Givan. Dering ponselku berulang kali terdengar.


Pikiranku langsung tertuju pada Maya. Hm, padahal sudah aku peringatkan dia untuk tak menghubungiku.


Namun tebakanku salah. Ternyata umi yang menelponku. Pasti Maya mengatakan hal yang tidak-tidak pada umi.

__ADS_1


"Ya hallo, Umi." ucapku dengan menempelkan ponselku pada telingaku.


"Hallo, Bang. Kenapa baru balik dari rumah sakit, langsung buru-buru balik ke provinsi A?" tanya umi kemudian.


"Abang lagi punya orang yang lagi renovasi rumah. Belum lagi Abang harus ngecek ladang yang ditanami bibit baru. Terus juga pengairannya lagi tata ulang." jawabku yang memang begitulah adanya. Meski alasan kepulanganku sebenarnya adalah karena Dinda.


"Biasanya Abang pakai orang semua. Kenapa sekarang Abang yang turun tangan sendiri?" sahut umi kemudian.


"Abang pengen ngelola ladang Abang sendiri, Umi. Biar tak nampak macam pengangguran." balasku jujur. Aku ingin hidup damai dengan anak istriku. Di kampung halamanku sendiri.


"Kalau macam itu. Nanti Maya kau boyong, Bang. Tak baik suami istri jauh-jauhan. Umi khawatirnya nanti ada orang yang gantiin posisi Maya." ucap umi yang membuatku mengelus dada. Aku tak mungkin membawa Maya ke kampungku juga. Di sini ada anak istriku.


"Abang tak mungkin bawa Maya. Rumah Abang kan lagi direnovasi. Terus Maya juga lagi hamil, selain bahaya di pesawatnya. Nanti siapa yang urus dia juga. Abang sibuk di sini, tak mungkin Abang selalu ada untuknya." ungkapku beralasan.


"Inikah pelarian Abang dari Dinda? Nyibukin diri macam ini?" tanya umi menebak. Sebetulnya malah Dinda memang ada di sini. Aku bekerja di ladang bukan karena pelarian. Tapi karena aku memiliki tanggung jawab atas kebutuhan anak istriku.


"Apa pun lah itu. Abang pasti nanti bakal nyempetin waktu untuk bisa nengok Maya. Udah dulu ya, Umi. Abang sibuk." jawabku, lalu memutuskan sambungan telepon. Setelah mengucapkan salam pada umi.


"Maya siapa, Pah?" tanya Givan yang membuatku terkejut, sampai ponselku hampir terjatuh dari tanganku. Tadi aku melihatnya masih tertidur. Jadi sejak kapan ia terbangun?


"Siapa Maya itu, Pah?" tanya Givan berulang. Itulah Givan, ia selalu mengulang pertanyaannya jika tak segera mendapat jawabannya.


TBC.


Gemes sama Givan tuh 🤭


Lebih gemes sama papah sambungnya Givan. Pengen aku gigit aja rasanya 😆


Udah pandai dia bohong rupanya, heh 🤨


Sebetulnya apa yang dimau laki-laki ini? 🤔

__ADS_1


__ADS_2