Belenggu Sang Pemuda

Belenggu Sang Pemuda
BSP162. Cek Kandungan si adik


__ADS_3

"Mau makan apa, Dek?" tanyaku dengan menyibakkan rambut yang menutupi wajahnya.


"Nanti aja." jawabnya ringkas dengan mata yang masih terpejam.


Aku mengulurkan tanganku, untuk menyentuh pinggangnya. Agar ia merasa nyaman, karena Dinda jika sedang hamil ia sering merasa sakit pinggang. Apa lagi setelah perjalanan jauh.


Oh iya, istriku habis perjalanan jauh. Aku akan memeriksakannya ke dokter. Agar aku mengetahui bagaimana kondisinya dan kondisi bayinya secara medis.


"Sore nanti ke dokter ya, Dek." ujarku yang hanya dianggukinya saja.


Aku menemaninya, sampai terdengar dengkuran halus darinya. Lalu aku ke luar rumah, untuk menyuapi anakku makan. Kemudian melanjutkan pekerjaanku yang belum selesai.


~


Sore harinya, aku tengah menggendong Ghifar. Karena Dinda tengah bersiap, untuk pergi ke dokter kandungan di tempat biasa Dinda cek kandungan bayi Ghifar dulu.


Zuhra pun ikut, karena Givan meminta ikut juga. Sebetulnya aku sanggup membawa Givan, tanpa mengajak Zuhra. Hanya saja, Dinda berkata bahwa takut Zuhra bosan.


Dinda hanya berbicara seperlunya denganku, ia hanya mau bercanda dan bergurau dengan Zuhra dan anak-anaknya saja.


Setelah sampai di tempat tujuan, aku dan Dinda langsung menemui dokter tersebut. Karena sebelumnya aku sudah membuat janji untuk bertemu dengannya.


Lalu Dinda langsung menjalani USG, kemudian tes darah. Karena Dinda tak tahu kapan ia terakhir kalinya haid. Pasalnya Dinda belum mendapatkan haidnya kembali, sejak ia selesai nifas.


"Hmm… masih muda betul ini. Baru 3 mingguan aja usia janinnya." ucap dokter tersebut, setelah Dinda selesai menjalani pemeriksaannya.


"Gimana keadaannya, Dok?" tanyaku dengan membantu menarik bangku untuk tempat duduk Dinda, lalu Dinda duduk di tempat tersebut.


"Sehat, baik-baik aja kok. Nanti dihabiskan ya vitaminnya. Istirahat yang cukup, makan yang sering, terus jangan banyak pikiran, jangan sampai kecapean juga ya." jawab dokter tersebut, dengan tersenyum ramah padaku dan Dinda.

__ADS_1


"Terus gimana, Dok? Karena saya masih menyusui bayi." sahut Dinda terlihat begitu serius.


"Sebetulnya tak apa, hamil dan masih menyusui. Tapi kadang di masyarakat kita, menganggap hal itu sesuatu yang tidak boleh dilakukan. Dikhawatirkan air susu yang dihasilkan, adalah air susu jelek. Padahal tidak demikian, menyusui saat sedang hamil tak menghalangi nutrisi pada si kakak atau si adik. Tapi ya… begitu, kolostrum yang dimaksudkan untuk si adik. Malah dilahap habis sama si kakak, mungkin juga si kakak enggan menyusu lagi karena perubahan rasa air susu saat sudah diproduksinya kolostrum. Kalau saran dari saya, tetap menyusui saja. Tapi sambil diiringi dengan susu formula. Supaya nanti pas lepas ASI, si kakak udah tak begitu kaget." jelas dokter tersebut, dengan Dinda yang mengangguk mengerti.


"Kok Ibu bisa paham, bahwa ibu tengah hamil? Padahal Ibu belum dapat masa menstruasinya kembali." ujar dokter tersebut dengan memperhatikan wajah Adinda.


"Minggu lalu saya cek kesehatan, di salah satu lab di kota C. Terus kemarin, hasil tes saya udah keluar. Kawan dokter saya jelasin, bahwa saya tengah berbadan dua. Jadi saya coba testpack, terus hasilnya positif tapi samar." sahut Dinda bercerita.


Oh, jadi seperti itu kejadiannya. Terus Dinda langsung bertolak dari kota C, untuk menemuiku begitu? Aku akan bertanya nanti, lepas pulang dari sini.


Lalu setelah aku menerima resep obat dari dokter, aku dan Dinda langsung pamit pulang.


"Sini biar Ghifar aku yang gendong." ucapnya dengan meraih Ghifar yang berada di dekapanku.


"Abang aja yang gendong, Adek jangan angkat berat-berat." sahutku dengan menepis tangannya, yang mencoba mengambil alih Ghifar. Lalu tangannya aku genggam, kemudian aku langsung membawanya menuju parkiran.


Ternyata Givan dan Zuhra tengah duduk di kap mobil, sembari menikmati teh dalam kemasan botol.


Aku dan Dinda mengangguk secara bersamaan, "Nanti Abang tebus resep obat dulu, terus nanti baru pulang." jawabku dengan membuka pintu mobil untuk Adindaku.


"Jalan-jalan dulu dong, Bang. Jangan langsung pulang. Kita ke… rumah makan dulu." ucap Zuhra dengan begitu semangat, setelah kami berada di dalam mobil.


Aku hanya mengangguk menanggapinya, dengan Zuhra dan Givan yang begitu terlihat senang.


Aku memberikan Ghifar pada Dinda, karena aku akan menyetir. Lalu kami perlahan keluar dari halaman tempat dokter kandungan tersebut.


~


Malam harinya, aku tengah menemani Dinda yang tengah menyusui Ghifar. Bayi itu sudah mengantuk, sebentar lagi sepertinya ia akan terlelap.

__ADS_1


Dinda masih seperlunya saja berbicara padaku. Meskipun aku yang selalu mengoceh pun, ia hanya menjawabku dengan singkat.


"Aku besok ke kota L. Aku pump ASI aja, biar Ghifar di sini aja sama Abang." ucapnya dengan menoleh ke arahku sekilas.


"Sama siapa Adek pergi? Sama Zuhra kah?" tanyaku dengan berpindah posisi lebih dekat dengannya.


"Sendiri aja, anak-anak sama Zuhra di sini sama Abang. Aku ada kerjaan soalnya." jawabnya dengan menggeser posisinya, menjadi sejengkal lebih jauh dari posisi baruku.


Sebegitu tidak sudinya dia kah? Jika didekati olehku. Kenapa sikapnya membuatku tersinggung? Apa lagi itu, dia berkata tentang pekerjaan?


"Kan ada tuh ATM Adek yang Abang kasih, waktu di rumah ibu. Memang tak Adek pakek kah? Sampai Adek kerja macam itu." sahutku dengan bersandar pada kepala ranjang.


Tanganku terulur, untuk menyentuh rambutnya yang terus melambai padaku. Namun, ia malah menjauhkan kepalanya. Sesaat setelah aku bisa menggapai rambutnya.


"Tuh, ATM itu ada di nakas. Aku tak pakek sepeserpun. Udah aja buat Abang dan istrinya itu, kasian dia keknya lebih membutuhkan buat perawatan tubuh. Aku masih sanggup cari uang sendiri, aku tak butuh shodaqoh dari Abang." balasnya dengan menunjuk nakas yang berada di belakangku.


Ya ampun, mulut istriku kenapa begitu menyakitkan? Aku ingin kami tetap bersama, hanya saja aku tak yakin jika mendengar ucapan frontalnya yang seperti ini.


"Sini coba lebih dekat, Abang mau cerita. Sini sandaran sama Abang, biar Adek tau macam mana Abang ke Adek." ujarku dengan menyentuh lengannya.


Ia langsung melepaskan cekalan tanganku, lalu ia malah merebahkan dirinya di tempat tidur.


"Udah tak usah cerita apapun! Karena aku tak mau dengar, juga tak mau tau. Itu masalah Abang, Abang selesaikan sendiri aja sana. Aku tak mau tau-tau! Hidup aku udah tak sejalan dengan hidup Abang, lebih baik Abang pikirin aja kehidupan Abang. Aku di sini, karena aku paham bahwa aku masih berstatus sebagai istri Abang." ketusnya dengan memeluk guling dan memejamkan matanya.


"Tak boleh macam itu, Sayang. Coba dengar dulu, jangan kasar terus ngomongnya." ujarku lembut, dengan ikut merebahkan diri di sampingnya dan menghadap padanya.


Aku tak begitu paham, dengan maksud segala ucapan kasarnya. Tapi tepat saat aku melihat wajahnya, terlihat gulir bening yang keluar dari matanya. Dengan secepat kilat, ia menghapus air matanya tersebut.


"Macam mana, Sayang? Kenapa nangis, hm?" tanyaku dengan menyentuh pipinya.

__ADS_1


......................


__ADS_2