
CRAZY UP 😱
[Bang, aku pengen bakso lobster.] tulis Maya di pesannya.
Apa ini? Apa dia kira aku bakal menuhin keinginan itu? Malas betul aku meladeninya.
Aku masuk ke dalam rumah, dan menuju ke dapur. Terlihat Zulfa tengah membersihkan dapur. Dan Jefri yang asik di depan kompor.
"Dek, Abang tak bisa ngobrol bareng orang tua jantan kau itu." ucapku dengan menunjuk Jefri dengan daguku.
"Memang mau ke mana, Bang?" tanya Zulfa padaku.
"Abang mau ke… tempat peternakan puyuh dulu." jawabku yang bingung. Tak mungkin juga aku mengatakan ingin ke rumah mertuaku.
"Abang punya usaha baru?" sahut Zulfa menimpali.
"He'em, Abang pergi dulu." balasku dan berlalu pergi menuju rumah orang tua dari istriku. Ada dua hal yang mungkin terjadi. Aku kena pukul abangnya lagi, atau aku diajak berdebat dengan ibu dan ayahnya.
Bukan tanpa alasan. Karena mereka beranggapan, aku ini telah membawa kabur anak cucunya. Berulang kali mereka menelponku, untuk membuat rumah di daerah mereka saja. Namun apa daya, tak mungkin juga aku membawa ladang usahaku ke kota C ini.
Kurang lebih empat puluh menit, aku sudah berada di kediaman orang tua istriku.
Aku disambut dengan pertanyaan seputar kabar anak istriku. Terlihat ibu Risa, ibu mertuaku. Begitu senang mendengar ceritaku tentang Givan, dan Dinda.
"Nanti Dinda hamil dan lahirnya di sini aja, Di." ucap ibu mertuaku dengan senyum yang mengembang.
"Jangan dulu hamil. Belum nikah resmi. Ini cuma enakin di dianya aja. Rugi di anak kita." sahut ayah mertuaku, saat aku hendak menjawab ucapan ibu mertuaku.
"Adi juga tak akan ninggalin Dinda, Pak. Resmiin sih pasti, cuma waktunya aja belum tepat. Mana orang tua Adi lagi bolak-balik ke rumah sakit terus." ujarku halus. Karena aku sadar, aku berbicara dengan orang tua istriku. Bisa-bisa mereka memintaku untuk menceraikan anaknya, jika aku terbawa emosi karena ucapan bapak mertuaku.
"Duh, memang ngapain orang tua kamu bolak-balik ke rumah sakit?" tanya ibu mertuaku yang membuatku bingung. Tak mungkin juga rasanya orang tuaku bekerja di rumah sakit.
"Ya sakit. Masa nganterin cateringan bubur untuk pasien." sahut bapak mertuaku. Aku ingin tertawa sebetulnya. Jadi istriku sedikit kocak, karena turunan rupanya.
Lalu aku pamit untuk melanjutkan tujuanku ke peternakan puyuh milik istriku. Yang baru satu bulan berjalan. Aku ke sana dengan ditemani oleh a Arif. Meskipun kami seumuran, tapi aku tetap memanggil-manggil dengan sebutan aa. Karena statusku adalah adik iparnya. Tak sopan rasanya, bila aku hanya memanggil dengan nama saja.
Yang bekerja di peternakan ini, merupakan keponakan dan saudara dari Dinda sendiri. Dan ada sebagian tetangga yang ikut bekerja juga.
__ADS_1
~
Aku memutuskan untuk tidur di rumah mertuaku saja. Di kamar istriku yang terdapat kolam ikannya. Lalu aku melakukan panggilan video pada Dinda.
"Assalamualaikum, Dek Dinda sayang." ucapku saat sudah bisa melihat wajahnya yang cemberut saja. Aku tersenyum manis padanya, agar ia paham aku sebahagia ini bisa melihat wajahnya.
"Abang masih hidup?" tanya istriku dengan nada tak bersahabat.
"Ya ampun, Sayang. Masih marah kah?" sahutku kemudian.
"Aku tak mau ngomong sama Abang, sebelum Abang pulang ke sini!" ujarnya dengan mematikan sambungan video call.
'Ya ampun, dek. Tak tau kah Abang juga pengen cepet balik, ketemu adek, ketemu Givan. Abang udah rindu sama kau, yang sering marah tak jelas sama Abang. Abang rindu sama Givan, yang selalu minta disuapin sama Abang.' gumamku lirih.
Lalu aku menghubungi kawan lamaku. Untuk mencarikan seseorang untuk menikahi Maya nanti.
Ya, ideku seegois itu. Aku berencana mencarikan seorang laki-laki, untuk menikahi Maya. Sedangkan untuk masalah anaknya nanti, biar nanti aku dan Dinda yang akan mengurus. Bila nanti ia sudah dilahirkan.
Temanku berkata, ia akan menghubungiku esok. Jika ia sudah mendapatkan orangnya. Semoga nanti, Maya dan laki-laki yang akan menikahinya kelak bisa saling mencintai.
Aku menyambungkan ponselku pada kabel casan. Kemudian aku memejamkan mataku, berharap esok semua masalah bisa teratasi.
~
Sayangnya, aku berada jauh dengan istriku sekarang.
Setelah aku selesai shalat subuh, aku keluar dari rumah mertuaku. Bertujuan untuk berolah raga ringan. Dan jalan-jalan di sekitar sini.
Daerah mertuaku masih seperti perkampungan. Masih begitu banyak sawah dan terdapat kebun pohon jati juga di daerah sini. Saat aku melangkahkan kakiku lebih jauh. Aku bisa melihat beberapa santri yang berjalan kaki. Dan duduk di pematang sawah, dengan menghafalkan kitab kecil ditangannya.
Tak heran jika istriku bisa mengaji dan paham tentang aturan agama. Hanya saja, mungkin istriku kemarin benar-benar kehilangan arah. Untungnya sekarang, ia bisa aku tuntun ke jalan yang benar kembali.
Satu jam kemudian, aku sudah kembali ke rumah mertuaku. Aku diajak mereka untuk sarapan bersama. Dan siang harinya, aku pamit pulang. Beralasan untuk menjemput ayahku yang akan pulang dari rumah sakit. Sebetulnya memang betul ayahku baru pulang dari rumah sakit. Hanya saja aku tak bisa menjemputnya, aku hanya beralasan saja untuk bisa keluar dari rumah mertuaku. Dan menyelesaikan masalahku dengan Maya.
Sebelum kembali ke rumahku yang Zulfa tempati. Aku menyempatkan diri untuk berkunjung ke kedai kopi ayah.
Ternyata Zulfa tak bekerja juga hari ini. Apa dia punya acara dengan keluarga Jefri sekarang?
__ADS_1
Aku mengobrol santai dengan abang Mun. Lalu aku masuk ke dalam ruangan kerjaku dulu. Ruangan yang banyak menyimpan kenanganku dengan Dinda. Kedai ini adalah tempat kali keduaku bertemu dengan Dinda. Aku mengingat kembali, sikapku yang gampang tersinggung pada Dinda. Perempuan yang sering meledekku dan mengisengiku, Adindaku.
Lalu aku keluar dari kedai, dan menuju ke rumahku.
Namun saat mobilku sampai di depan halaman rumahku. Aku melihat mobil ayah dan mobil milik Edi terpakir berjejer di depan rumahku. Apa hari ini Zulfa dan Jefri menggelar pertunangan mereka? Tapi tak ada mobil Jefri di sini.
"Assalamualaikum." ucapku dengan membuka pintu rumahku.
"Wa'alaikum salam…" sahut semua orang yang duduk di sofa ruang tamu.
Ada ayah dan umi, Edi beserta istrinya, Benazir. Edo juga hadir, Zulfa juga ternyata ada di rumah. Dan di sofa yang paling dekat dengan posisiku, ada Maya dan ibunya.
Mereka semua menatapku. Terlebih lagi umi dan ayah seolah manatapku dengan marah.
Aku sedikit menunduk untuk bisa mencium tangan ayah dan umi. Namun apa, umi malah menghempaskan tangannya.
"Kenapa, Umi?" tanyaku dengan bingung. Pasalnya, ayah tak seperti itu. Ia tetap mengizinkanku untuk mencium tangannya.
Aku tak mendapatkan jawaban dari umi. Lalu aku berbasa-basi pada ayah.
"Datang kapan, Yah?" tanyaku pada ayahku. Namun aku tak mendapatkan jawaban juga.
Kenapa dengan semua orang? Kenapa mereka hanya terdiam memandangku?
Aku lalu mengecek penampilanku, jangan-jangan ada yang salah lagi. Atau aku lupa menarik resleting celanaku?
"Apa kau tau apa kesalahan kau? Umi malu punya anak macam kau, Di!" ucap umiku begitu kejam. Aku menoleh pada umi, dan terlihat air matanya terjatuh begitu saja.
TBC.
Abang masih hidup? tanya dek Dinda.
Author geli sendiri dengarnya 🤭
Ada apa nih kumpul-kumpul? Jangan-jangan…. 😫
BAGI DONG AMUNISI SEMANGATNYA 😋
__ADS_1
LIKE, VOTEnya jangan lupa 🤭