
"Hallo… Umi." ucapku dengan menempelkan ponselku pada telingaku. Aku berkata lirih, agar Givan tak terganggu dalam tidurnya.
"Puas? Senang? Bahagia? Sampek sengaja telepon dari umi dan istri kau, tak kau angkat." seru umi begitu kuat terdengar. Padahal aku tak meloudspeaker panggilan telepon ini.
"Abang baru sampek di rumah." jawabku seperlunya. Sudah pasti ini karena masalah foto yang aku unggah. Perlahan-lahan aku akan membuka sesuatu yang aku tutup-tutupi ini. Namun sepertinya kali ini, aku mesti harus berbohong lagi.
"Kau tengok Dinda udah bersuami, dia udah nikah, udah lagi hamil dia! Kau tak nampak kah fakta itu? Masih aja kau kejar dia ke sana ke mari." ungkap umi dengan nada tinggi.
"Abang tau. Itu kan Abang sama Sukma, sama Nurul juga. Tak berduaan sama Dinda." sangkalku. Aku harus bisa sedikit tegas.
"Alasan aja Sukma dan Nurul. Nyatanya kau asik berduaan sama dia kan? Itu istri orang, Di. Kau juga punya istri, Di!" tutur umi kemudian.
"Sok tau, Umi." tukasku cepat.
"Zulfa juga liat status Dinda, kau mesra betul sama Dinda. Bikin boomerang segala, macam laki-laki lajang aja. Ingat Di, istri kau tengah hamil besar." ujar umi. Hebat sekali, langsung menyebar ke sana ke mari. Aku pun akan segera melihat postingan Dinda lepas ini.
"Siapa sih suami perempuan itu? Gatal betul dia sama suami orang! Bisa-bisanya suaminya ijinin aja dia pergi sama kau." lanjut umi.
"Udahlah, Umi. Jangan terlalu berlebihan." ucapku tak menyangkal ucapan umi.
"Jangan lagi-lagi macam itu, Di. Maya nangis terus, Umi pun pikiran terus. Kau yang benar aja! Kau beristri, tapi lagak kau macam laki-laki bujang aja." ujar umi kemudian.
"Iya, Umi." sahutku. Aku tak bisa menerima Dinda dimaki umi macam itu. Apa lagi nanti, jika umi tau kalau Dinda adalah istri pertamaku.
"Telepon Maya! Jangan bikin dia setres! Tenangin dia!" balas umi. Lalu aku mengiyakan, dan menyudahi panggilan teleponku.
Aku penasaran sekali dengan posting dan story milik Dinda.
Aku langsung membuka aplikasi berlogo lensa kamera itu. Dan langsung mengetikan nama Ananda Dinda.
Astagfirullah, keterlaluan ini Sukma. Dia mengambil video boomerang, saat Dinda tengah bersandar di dadaku sembari memainkan kancing kemejaku. Saat kami berada di rumah makan tadi, jelas kami nampak mesra sekali. Apa lagi aku tengah tersenyum bahagia di video itu, aku dan dia tengah melihat video lucu dalam ponselku waktu itu.
Dan lebih parahnya, Dinda membagikan ulang postingan story Sukma dalam storynya, makanya Zulfa bisa mengetahui.
__ADS_1
Tempat makan tadi cukup private. Jadi Dinda dengan seenaknya bisa bersandar padaku. Apa lagi jelas aku suaminya, ia tak akan sungkan-sungkan melakukannya.
Dan aku beralih melihat postingan miliknya. Dia tak mengunggah foto denganku. Dia hanya mengunggah fotonya sendiri, dengan caption 'Punya suami batangan kadang repot sendiri. Tak ada dusbooknya, dan tak memiliki chargernya pulak. Kadang repot kalau baterainya habis.' tulisnya dalam fotonya dengan memamerkan gigi yang baru ia rawat itu.
Apa ya kira-kira maksudnya? Aku disamakan dengan ponsel macam itu. Dusbook mungkin surat-surat, Dinda menyindir pernikahan resmi lagi. Charger berarti pengisian daya. Apa dia mengkode untuk diisi daya olehku kah? Kenapa selalu memusingkan aku setiap ia membuat caption.
Setelah men-tap foto tersebut dua kali. Aku kembali pada pusat notifikasi yang berlogo lonceng tersebut. Lalu aku melihat satu persatu, komentar dari para teman lamaku. Dan juga Haris, Jefri.
Jefri menuliskan, 'Perjuangan masih panjang' tumben Jefri berbicara lurus.
Dan Haris menuliskan, 'Akan aku ambil balik, perempuan yang pakek kerudung cream itu.' tulisnya dalam komentar. Oh ternyata ia masih saja mengincar Sukma.
Pantas saja Sukma begitu percaya diri, mengungkapkan bahwa dirinya tak kalah dari gadis kaya itu.
Aku menanggapi komentar mereka satu persatu. Dan setelahnya, aku membalas chat pada nomor baru Maya.
[Ya, Abang save. Gimana kabar kau? Gimana kabar anak kita?] tulisku dalam kolom tersebut, lalu menyentuh tanda panah keluar.
Tak lama kemudian, aku mendapatkan balasan dari Maya.
[Jangan semena-mena. Yang tau diri! Kalau aku tak nikahi kau, kau pun pantas disebut dengan janda beranak.] tulisku mengirimkan balasan padanya.
[Oh jadi Abang lebih belain dia gitu? Jangan-jangan setelah ini nomor baru aku, Abang block juga? Heran aku, kok ada laki-laki kaya Abang. Jadi suami itu cuma sebatas status aja ya, Bang? Kewajiban Abang tak Abang penuhi. Uang pun dikirimkan oleh orang lain. Lebih-lebih Abang lebih belain mantannya, ketimbang istrinya sendiri. Nyesel aku hidup disia-siain Abang.] balasnya. Aku hanya membacanya tanpa membalasnya. Ponselku langsung aku kantongi lagi, dan aku bangkit dari posisiku.
Aku tak bisa menumpahkan amarahku dalam tulisan macam ini. Tapi jika aku menelponnya, anakku akan terbangun. Karena suaraku yang tak bisa aku tahan, karena amarah yang memuncak ini.
Aku hanya bisa mengatur nafasku, dan berjalan ke luar rumah. Aku ingin menyegarkan pikiranku sejenak.
Terlihat Dinda masih asik bersenda gurau dengan Sukma dan Nurul.
Aku sudah pusing sekali memikirkan ini semua. Entah kapan masalah ini akan selesai. Jika sudah banyak pikiran, aku merasakan kepalaku sakit sebelah. Dan tengkukku terasa begitu berat.
"Bang, kenalin aku sama yang pakek kerudung cream itu lah." ucap Safar, yang tengah duduk di depan warung nasi ibunya Shasha.
__ADS_1
"Janda dia, anak satu." sahutku kemudian. Aku mengayunkan kakiku menuju ke arah mereka.
Ada beberapa kawan-kawanku juga di sini. Mungkin mereka akan bermain bola.
"Di, mau tak? Tinggal satu nih." ujar seseorang yang berada di samping warung ini.
"Apaan?" tanyaku, dengan melangkah menghampirinya.
"Nih, tinggal satu linting lagi. Udah siap hisap ini, Di." jawabnya dengan menyodorkan barang yang dulu aku konsumsi tersebut.
"Berapa?" sahutku kemudian.
"Macam biasa aja." balasnya. Aku mengambil alih barang tersebut. Dan memperhatikannya.
Setidaknya, aku bisa tenang jika menikmatinya.
Aku butuh penyelesaian, tapi aku yakin ini bukan jalan keluar. Aku ingin kepalaku tak sakit lagi, tapi bukan ini obatnya. Aku ingin masalahku cepat teratasi, tapi aku tau bukan barang itu yang menyelesaikan masalahku.
"Mau tak? Kalau tak mau, aku kasih ke yang lain." tanyanya memastikan. Dia pemakai aktif, mungkin ia tengah butuh uang. Sampai-sampai ia menjual barang konsumsinya sendiri.
Aku memperhatikan wajahnya sekilas, dan menoleh pada rumahku.
Setidaknya aku bisa bertahan dengan masalah berat ini, jika aku…
TBC.
Linting daun labat sangat
Lambat laun goyang-goyang
Bikin manyon buat hati makin bimbang
Tawa canda mati rasa ngomong sendirian
__ADS_1
😆😆😆 Aku kira lagu ini, lagu dari Jawa...
Lagu ini, sama Tokyo drift itu.. aku kira mereka lagi dari Jawa 🤭