Belenggu Sang Pemuda

Belenggu Sang Pemuda
BSP65. Tujuh bulanan


__ADS_3

"Hallo, Bang." ucap Zulfa dengan gambar buram.


"Ya, Dek. Mana kak Maya?" tanyaku padanya.


"Tuh, tuh. Lagi dimandikan." jawab Zulfa, dengan membalikkan kameranya. Aku bisa melihat Maya memakai kain jarik, dan melati untuk menutupi dadanya dan rambutnya. Maya terlihat begitu… buntal.


Pangling betul aku melihatnya, kenapa ia bisa seperti itu? Perutnya tak begitu kentara besar, atau mungkin karena posisinya sedang duduk.


"Teumbon betul, Masya Allah…" gerutuku pelan. Namun beberapa orang terlihat menatap ke arah Zulfa, mungkin ke arah kamera ponselnya. Dan sepertinya Zulfa meloudspeaker panggilan telepon ini.


"Teumbon, teumbon!!! Teumbon-teumbon pun dia istri kau." ucap seseorang, yang dari suaranya aku bisa mengenal jelas. Bukan lain itu suara umiku. Teumbon sendiri berarti gemuk.


Aku terkekeh kecil, "Pangling aku sama dia, Umi. Lancar Umi?" sahutku kemudian.


"Lagi gantian mandiin." jawab ibuku seperlunya.


Tak ada percakapan lagi, aku memperhatikan mereka yang tengah beraktifitas.


"Di, mana adek?" tanya seseorang, namun aku tak bisa melihat wajahnya dalam panggilan video ini.


"Adek siapa?" jawabku bingung. Tapi ini seperti suara Jefri.


"Adek mana lagi memang, kalau bukan dek Dinda." sahutnya kemudian. Saat ia menyebutkan nama Dinda, suaranya sedikit berbisik.


"Oh, di rumah. Aku lagi di rumah saudara." balasku kemudian. Aku yakin, itu suara milik Jefri.


"Pantas bisa video call." ujarnya menyahutiku. Jadi calon menantu umiku juga hadir di sana. Hmm, pandai betul Jefri bersikap di depan orang tuaku. Pasti mereka menyangka Jefri adalah laki-laki baik. Apa lagi sopan santun, dan latar belakang pesantren memperkuat fakta yang ada di hidupnya.


"Apa sih kau nanyain adek terus?" tanyaku padanya.


"Foto kau udah berkeliaran di mana-mana soalnya. Mana sekarang kau maen toktok lagi." jawabnya dengan kekehan geli.

__ADS_1


"Pusing aku, mumet. Adek mainannya aplikasi itu terus. Udah aja sekalian ikut nimbrung, itung-itung hiburan." sahutku kemudian. Aku dan Jefri menyebutkan nama Dinda dengan sebutan Adek, mungkin agar mereka yang berada di sekitar Zulfa tak curiga padaku. Dan betul adanya juga, aku malah ikut eksis bersama Dinda. Apa lagi Dinda sudah punya nama, like yang ia dapat cukup banyak. Dan Dinda juga berkata, bahwa aplikasi itu bisa menghasilkan uang juga.


"Boleh tak aku main ke sana? Aku kangen sama anaknya, sama masakan emaknya juga. Biasanya kalau aku gajian pasti kumpul makan-makan di rumahku." balasnya kemudian. Kenapa pulak dia mengungkit-ungkit kebiasaan dulu. Apa ia tak paham, kalau aku mudah cemburuan.


"Buat apa kau main ke sini? Ngrepotin aja kau nanti!" ujarku ketus.


"Bapak aku udah sakit-sakitan terus, usaha kainnya sekarang tak lancar. Aku mau ambil alih usahanya terus mau pindah tugas ke kota M aja." tutur Jefri kemudian. Aku membelalakkan mataku kaget, yang benar saja dia mau meninggalkan Zulfa.


"Kau tunangan kapan?" tanyaku cepat.


"Tiga bulanan lagi." jawab Jefri.


"Zulfa gimana nanti, kalau kau balik ke kota kau." sahutku. Aku juga bisa melihat Zulfa tengah berada di samping Jefri, karena kamera sudah dibalikan menjadi kamera depan kembali.


"LDR mungkin, Bang." balas Zulfa menimpali. Kenapa aku merasa Zulfa perlahan-lahan akan ditinggal begitu saja oleh Jefri, membuat beban pikiranku bertambah rumit. Memang, pasti ada saja laki-laki yang mau menerima Zulfa. Buktinya, aku saja dengan setulus hati bisa menerima Dinda dan anaknya.


Tapi kenapa aku malah memikirkan terpuruknya Zulfa, jika sampai ia ditinggal Jefri. Ia sudah direnggut kesuciannya, bukan sampai di situ saja. Pasti Jefri juga bisa mengambil hati Zulfa, sampai Zulfa begitu percaya pada Jefri.


Apa lagi aku masih ingat betul, saat Zulfa menangis sesenggukan. Karena pacarnya dulu main serong dengan temannya. Sampai aku turun tangan, untuk melipurkan luka di hatinya. Padahal pacarnya dulu, hanya berpacaran sewajarnya dengannya. Bagaimana kalau Jefri yang meninggalkannya, dengan gaya pacaran tak sehat macam itu


"Tuh, Dek. Biar Abang nemuin kau juga dekat. Masih satu pulau dengan kota M, pakek mobil juga sampek." sahut Jefri menimpali.


"Aku pikir-pikir dulu aja, Bang. Daerah Abang masih kampung banget, pasti di sana serba susah." timpal Zulfa berasumsi sendiri.


"Tak susah, Abang kau banyak uangnya. Pasti semuanya bisa terpenuhi." balas Jefri kemudian.


Sebetulnya memang persis seperti yang Zulfa kira. Mall, tempat perawatan dan lain sebagainya. Memang cukup jauh, rumah sakit pun jauh juga. Sinyal provider pun, hanya ada satu provider yang menyambung sampai ke tempat ini. Tapi alhamdulilahnya, Dinda bisa menyesuaikan diri di tempat yang masih disebut dengan daerah kampung ini. Padahal dirinya fashionable, dan perawatannya harus rutin. Tapi ia tak malu menyebutkan daerahku, jika ditanya dirinya tengah berada di mana oleh kawan-kawannya.


"Iya… liat nanti aja." ucap Zulfa dengan intonasi suara menurun. Aku tahu ia tengah dilema sekarang. Dia bingung, dan pasrah.


"Coba arahin ke kak Maya lagi, Dek. Lepas ini Abang mau tutup panggilan." ungkapku, mengalihkan pembicaraan ini.

__ADS_1


Aku bisa melihat Maya berganti kain jarik yang berlapis-lapis itu. Dan kemudian, ia meloloskan buah kelapa kuning, dan menginjak telor. Lalu kakak iparnya membawakan kendi berisikan tumbuhan dan mungkin juga uang. Aku tak tau pasti, aku hanya bisa menebak dan melihat saja. Kemudian Maya berlalu pergi, mungkin ia akan berganti pakaian.


"Ya udah, Dek. Matiin aja. Abang mau istirahat." ujarku kemudian. Lalu setelahnya, Zulfa mematikan sambungan teleponnya.


Aku menghela nafas panjang, dan mataku menatap plafon kamar ini. Pusing sekali rasanya. Maya sudah tujuh bulanan, dua bulan lagi ia melahirkan. Namun dua bulan lagi juga, Dinda akan tujuh bulanan. Karena seperti itu adat orang-orang kota C. Dan saat Maya selesai nifas nanti, giliran Dinda yang melahirkan. Ditambah bayangan Zulfa yang menangis sesenggukan menambah runyam pikiranku.


Sebelumnya Dinda pun pernah bercerita, bahwa keuangan keluarga Jefri tengah tak stabil. Karena bapaknya tengah sakit-sakitan terus. Dan Jefri pun jelas, masih mengandalkan kiriman uang dari orang tuanya. Karena menurut informasi yang aku dengar, dokter baru seperti Jefri gajinya tak seberapa. Entah itu salah atau betul.


Aku jadi khawatir, jika mereka berjodoh nanti. Jefri tak bisa mencukupi kebutuhan Zulfa. Kalau memang demikian, biar nanti Jefri aku ajak usaha sepertiku juga. Selain biji kopi yang harganya terus merangkak naik di pasar dunia, ini juga bisa untuk investasi masa depan keturunan kami. Jika kami telah tiada, usaha ini bisa dilanjutkan oleh anak-anak kami. Seperti halnya yang terjadi di kehidupanku. Abiku yang telah tiada, menurunkan usahanya padaku.


Aku bangun dan berjalan menuju ke kamar Liana. Sudah waktunya Givan untuk tidur. Dinda juga pasti sudah menyelesaikan pekerjaannya, melipat pakaian.


"Ayo Bang, pulang." ajakku pada Givan. Ia tengah loncat-loncatan di atas tempat tidur Liana, dengan Liana yang ikut bermain seperti Givan. Itulah anakku, siapa pun orangnya pasti terbawa arus permainannya. Sampai Liana pun terbawa Givan dan tertawa lepas bersamanya.


"Ayo Pah." sahut Givan yang berlarian ke arahku.


"Heh, awas jatuh." ujarku, saat ia turun dari tempat tidur dengan terburu-buru.


"Papah, jajan dulu ya. Terus baru pulang." ucap anakku, setelah kami berada di luar rumah.


"Papah tak bawa uang." sahutku kemudian. Givan mengerucutkan bibirnya kecewa.


Lalu kami berjalan menuju rumah kami. Sepanjang jalan, Givan merengek minta ini dan itu. Aku tau anak ini sudah mengantuk.


"Hai, Di." sapa seseorang dari dalam mobil yang berjalan persis di sampingku.


Aku menoleh pada sumber suara. Dan orang tersebut menurunkan kaca jendela mobilnya lebih lebar. Aduh, kenapa pulak dia berada di sini?


"Boleh aku mampir?" tanyanya kemudian.


Kenapa mantan yang satu ini suka sekali mencari perhatianku. Di sosial media pun, dia gencar menandaiku atau menyebutkan namaku sejak pertama kalinya kami bertemu lagi itu. Berulang kali aku menghapus tanda yang ia bubuhkan, tapi tak bosan-bosannya ia merecoki kehidupanku. Kenapa dengannya? Padahal dia tau aku sudah beristri?

__ADS_1


TBC.


Mantan lagi ini Mak 😆


__ADS_2