
"KETUBAN AKU PECAH." pekiknya dengan wajah panik. Tentu membuatku langsung ikut panik, lalu mencari beberapa pakaianku untuk bisa mencari jalan keluar.
"Pakek nih, ayo kita ke bidan." ucapku dengan buru-buru, kemudian aku membantunya memakaikan pakainya.
Air matanya sudah membasahi pipinya, wajahnya terlihat begitu kalap. Apa lagi aku? Aku sudah gemetaran tak karuan.
"Macam mana ini, Bang? Deras betul, rok aku jadi basah." ujarnya dengan melihat ke bawah.
Aku langsung terburu-buru mencari buku KIA yang berwarna pink dan menggulungnya, Lalu aku masukkan ke dalam saku celanaku. Aku masih mengingat pesan bidan, yang meminta Dinda untuk selalu membawa buku itu. Termasuk saat Dinda akan melahirkan. Entahlah, Dinda akan lahiran sekarang aku nanti. Yang jelas pikiranku sangat kacau.
Lalu aku langsung menggendongnya, dengan Dinda langsung berpegangan pada leherku.
Aku berjalan dengan terburu-buru, saat aku melewati kamar Zuhra. Aku langsung meneriakinya dari luar, "ZUHRA… TELEPON SAFAR SAMA PAK CEK. BILANG MEREKA, KAK DINDA MAU LAHIRAN. KAU JAGAIN GIVAN AJA. AMBIL HP ABANG, CARI NAMA JEFRI. TELEPON DIA SURUH KE RUMAH ORANG TUA KAK DINDA, JEMPUT MEREKA SURUH KE SINI. KIRIMIN UANG UNTUK ONGKOS MEREKA. PASSWORD BANKINGNYA 020691." teriakku dengan lanjut mengayunkan langkah kakiku, menuju ke garasi mobil. Aku akan membawa Dinda ke bidan, menggunakan mobil saja.
Terdengar suara bantingan pintu, dan telapak kaki yang beradu dengan lantai menuju ke arahku.
Setelah aku sudah mendudukan Dinda di bangku depan, aku menoleh ke belakang. Terlihat Zuhra dengan pakaian yang cukup minim.
"Dompet sama hp Abang di nakas kamar. Kau paham kan apa yang Abang bilang tadi?" ucapku dengan membuka rolling door garasi, terlihat Zuhra mengangguk cepat.
"Nanti pagi aja kau sama Givan nyamperin Akaknya. Pintu kunci rapat. Kalau ada yang ketuk-ketuk, kau tengok dulu dari jendela sebelum kau buka pintu." pesanku sebelum berlalu pergi, lalu masuk ke dalam mobil.
"Passwordnya tanggal lahir Abang ya?" tanyanya sebelum aku tancap gas. Aku langsung mengiyakan, kemudian buru-buru pergi. Aku khawatir air ketuban Dinda sudah habis, sebelum anakku dilahirkan. Tentu itu sangat berbahaya sekali.
Aku baru mencapai gerbang yang menjulang tinggi, dengan segera aku membuka gemboknya dan mendorong gerbang tersebut. Namun, saat itu juga mobilku bergerak melewatiku. Dasar bar-bar tak tau batas, apa ia tak paham kah bahwa dirinya akan bersalin.
Dengan segera aku menutup kembali gerbang tersebut, lalu menekan beberapa angka dalam gembok tersebut.
Cepat-cepat aku berlari ke arah mobil, ternyata Dinda sudah berada di tempat duduknya kembali.
"Ayo Bang, cepet." ujarnya membuatku semakin bertambah panik. Apa lagi wajahnya yang begitu pucat, sungguh rasanya perasaanku sungguh campur aduk. Padahal waktu Maya akan dioperasi, aku tak begitu panik seperti ini. Namun, pada Dinda aku begitu merasa khawatir plus bingung setengah mati.
Tak butuh waktu lama, mobilku sudah berada di depan rumah bidan setempat.
__ADS_1
Aku menggendong Dinda, lalu setelahnya ia duduk di kursi yang terdapat di teras rumah bidan tersebut. Aku menggedor pintu rumah bidan dengan cukup kuat, salam pun tak ketinggalan. Aku terus-terusan menyuarakan suaraku, berharap bidan terbangun dari tidurnya.
"Wa'alaikum salam." ucap seorang wanita dari dalam. Wah sepertinya bidannya sudah terbangun.
Ceklek…
"Eh, Bang Adi. Kenapa, Bang?" tanya bidan yang mengenalku. Tentu siapa yang tak kenal denganku di kampung ini, apa lagi gelar mantan napi mendukung semua orang untuk mengghibahiku.
Aku langsung mengangkat Dinda kembali, kemudian nyelonong begitu saja. Lalu ia langsung aku dudukkan di kursi pasien, yang berada di seberang meja kerjanya.
"Mau lahiran keknya, ketubannya bocor." jawabku kemudian, ia mengangguk dan malah mentensi istriku. Kenapa ia tak langsung membawa istriku untuk segera ke kamar persalinan?
"Bawa tak buku KIAnya?" tanya bidan yang berusia sekitar empat puluh tahunan tersebut.
Dinda mengangguk, dengan meminta buku itu dariku.
Lalu bidan itu memeriksa kembali buku milik Dinda, "Baru 33 Minggu? Masih terhitungnya delapan bulan ini." ungkapnya dengan masih membolak-balikan lembar di buku tersebut.
"Yuk dicek dulu, bisa jalan tak?" tanyanya dengan menunjukkan kamar persalinan, yang berada di sebelah ruangan ini.
Dinda berjalan perlahan, tetapi air yang menetes membuatnya menoleh ke arahku. Lalu Dinda tersenyum canggung pada bidan tersebut.
"Tak apa, nanti gampang dilap." ujar bidan dengan tersenyum ramah. Mungkin hal seperti ini sudah biasa, saat ia sedang membantu persalinan.
Aku ikut masuk, melihat Dinda diperiksa. Bidan tersebut menggunakan sarung tangan karet, yang berbahan seperti ko*dom.
"Maaf, terakhir hubungan badan kapan?" tanyanya dengan menoleh ke arahku.
"Barusan." jawabku dengan tersenyum malu.
Lalu jarinya masuk ke dalam inti Dinda, "Udah bukaan tiga, Dek Dinda. Mulesnya macam mana?" tanyanya kemudian.
Tentu Dinda melongo mendengarnya, "Tak ada rasa mules. Cuma memang udah dua hari, ******** udah kek ngeganjal aja." jelas Dinda yang mungkin jujur.
__ADS_1
"BAB belum?" tanya bidan kembali.
"Setelah selesai makan, pasti kebelet BAB. Terus sekitar jam delapan, jam sembilan tadi. Aku udah BAB 3 kali." sahut Adinda kemudian.
Lalu bidan yang bernama bidan Nurhayati tersebut mengangguk, "Bawa makanan tak? Makan dulu, soalnya mau minum obat." ucap ibu Nur dengan pergi berlalu.
Tak lama dia datang dengan air minum satu gelas dan satu butir obat. Yang bungkusnya sudah dipotong dengan menggunakan gunting.
"Obat apa ini?" tanya Dinda dengan menerima obat tersebut.
"Antibiotik, soalnya ketubannya udah pecah." jawabnya, "Kalau tak ada kemajuan, nanti dirujuk ke rumah sakit aja. Soalnya khawatir airnya keburu habis, sedangkan bayi masih berada di dalam." lanjutnya yang malah membuat aku dan Dinda semakin merasa cemas.
"Disiapkan aja perlengkapan bayi sama ibunya. Bawa kain buat bedong, kain buat Dek Dindanya juga. Atau sarung juga tak apa." pintanya yang membuatku bingung.
"Belum ada persiapan, Bu." jujurku dengan menggaruk kepalaku.
"Kok bisa? Ya udah kain aja tak apa. Kasian masa iya bayinya nanti suruh telanjang aja." sahut ibu Nur dengan menoleh ke arahku dan Dinda bergantian.
"Berapa banyak, Bu?" tanyaku agar tak bolak-balik lagi. Apa lagi aku tak sempat membawa ponsel tadi.
"Assalamualaikum… Assalamualaikum…" seru suara yang aku kenal, Safar. Kesempatan sekali dia datang.
"Wa'alaikum salam." sahut ibu Nur dengan pergi ke arah pintu utama.
Entah ada percakapan apa di antara mereka. Aku mendekati istriku, kemudian memberinya kecupan manis di jidatnya. Wajahnya sudah amat pucat, aku khawatir ia tak kuat mengejan nanti. Pikiran buruk bermunculan di benakku.
"Pinggul aku kek mau pecah rasanya, Bang." ungkapnya dengan mengusap keringat di pelipisnya sendiri.
Ia menggenggam tanganku erat, aku tersenyum padanya. Mencoba memberinya semangat.
"Bantuin aku, Bang. Aku mau……
......................
__ADS_1