Belenggu Sang Pemuda

Belenggu Sang Pemuda
BSP152. Bertemu Ghifar


__ADS_3

"Jangan tega-tega kali, Dek. Setidaknya, biarkan Ghifar tetap sama Adek sampek dia cukup paham dengan keadaan ini." ucap Adi dengan menggenggam tangan Adinda, lalu ia menciuminya.


"Ok, Ghifar aku bawa. Asal Abang ceraikan aku sekarang juga." pinta Adinda yang membuat Adi seketika mendongak untuk melihat wajah istrinya.


"Abang tak mau kita cerai, Dek. Biar Maya yang Abang ceraikan, Adek tetap jadi istri Abang." tegas Adi dengan mata yang basah, dengan pandangan penuh harap pada istrinya.


"Udah terlanjur, aku udah jijik sama Abang!" seru Adinda dengan menarik tangannya, yang masih Adi genggam.


"Maafin Abang, Dek. Abang mohon jangan bilang jijik lagi, Dek. Demi Allah, Abang tak pernah nyentuh Maya. Atau kasih Maya nafkah batin. Demi Allah, Dek. Maya bisa hamil pun, kejadiannya sebelum kita nikah. Hari di mana, sebelum Abang koma satu bulan itu. Demi Allah, Abang tak pernah khianati Adek di hati. Cuma Adek yang ada di hati Abang, cuma anak-anak kita yang lengkapin kehidupan Abang. Percaya akan hal itu, Dek." ungkap Adi dengan suara yang bergetar. Ia sesenggukan, karena Adinda yang selalu menolak bujukannya dan sudah tak mempercayainya lagi kejujuran Adi.


"Jangan lupakan bahwa Naya juga anak Abang! Aku udah muak sama Abang, aku udah tak percaya lagi sama ucapan Abang. Lebih baik Abang pergi dari kehidupan aku, datangi aku kalau Abang udah siap untuk talak aku. Ok, Ghifar sama aku. Tapi saatnya aku lepas masa idha, bawa Ghifar pergi dari kehidupan aku. Aku tak mau Ghifar besar sama aku dan suami baru aku kelak." ujar Adinda yang membuat pandangan Adi kosong. Adi sudah membayangkan hidupnya tanpa Adinda, dengan Ghifar yang besar bersamanya dan Maya. Ia tak bisa melihat Adinda tersenyum bahagia dengan suami barunya kelak, ia berharap hanya dirinya suami dari Adinda.


Kemudian Adinda bangkit dari posisinya, lalu menarik hijabnya yang tergantung tak jauh dari tempatnya.


Ia mengenakan hijab itu dengan asal, kemudian keluar dari kamar itu.


Dengan cepat Adi mencegah Adinda pergi, saat dirinya menyadari gerak-gerik istrinya tersebut.


Namun, kaki Adi tersangkut pada sprai tempat tidur Adinda. Lalu Adi tersungkur sembari memeluk pergelangan kaki Adinda.


Adinda menurunkan pandangannya, ia menemukan suaminya yang berada di kakinya.


Adinda menendang-nendang kakinya, sayangnya pelukan tangan Adi cukup kuat untuk Adinda hempaskan.


"Lepasin, Bang. Aku mau pipis, bukan mau kabur lari-lari di luar rumah ini. Malu-maluin kali, macam sinetron aja." ucap Adinda dengan ketus, Adi tersenyum samar mendengar penuturan istrinya. Kenapa ada saja kejadian lucu, saat ia dan istrinya tengah beradu argumen seperti ini.

__ADS_1


Kemudian Adi melepaskan cekalannya pada kaki istrinya, lalu Adinda berlalu ke bagian belakang rumah ini.


Adi terduduk dengan memandangi air terjun buatan yang berada di hadapannya, 'Dinda bisa tidur, dengan pintu terbuka macam ini. Rasanya macam tidur di luar ruangan, mana percikan airnya terdengar di seberang telinga betul lagi.' gumamnya, dengan mengamati pintu yang terhubung dengan kolam ikan tersebut terbuka lebar.


'Kenapa juga ada adegan lucu, plus bikin aku malu sendiri. Saat lagi serius macam ini.' gumamnya lagi dengan tersenyum samar.


"Heh!" seru Adinda dengan mencolek bahu suaminya.


Adi mendongakkan kepalanya, melihat ke arah istrinya.


"Mana Ghifar? Kangen kali aku." ucapnya tanpa menurunkan rasa gengsinya.


"Dibawa nenek, Dek. Katanya maen ke A Arif." sahut Adi dengan bangkit dari posisi duduknya. Lalu ia melangkah mengikuti langkah kaki Adinda.


"Ya udah Abang sana pulang, nungguin apa lagi? Terus kalau pulang tuh, pulang ke istrinya. Bukan ngumpet di rumah aku!" balas Adinda dengan duduk di sofa ruang tamu dan memberikan Adi lirikan tajam.


Adinda hanya menghela nafasnya, kemudian punggungnya ia sandarkan pada sofa. Tangan Adi terulur di belakang tengkuk Adinda, ia mencoba menjadi sandaran untuk istrinya.


Namun, ia malah mendapat delikan tajam dari Adinda. Dengan Adi yang seketika menoleh dan menyunggingkan senyum manisnya.


Adi menggenggam tangan Adinda, dengan tubuh yang sedikit ia serongkan.


"Maaf ya, maafin Abang. Maaf selama ini udah bohongin Adek, maaf selama ini Abang nyembunyiin Maya. Maaf atas keegoisan Abang, Abang macam ini karena takut Adek tinggalkan. Abang tak mau kita pisah, Abang tak mau kita macam ini Dek." ungkap Adi lembut.


Adinda menoleh pada suaminya dan mencari kebenaran pada netra yang selalu menguncinya tersebut.

__ADS_1


"Assalamualaikum…" ucap beberapa orang yang berada di ambang pintu.


Adi dan Adinda seketika menoleh ke arah sumber suara, pandangan mata mereka terputus karena atensi yang mengundang mereka.


"Wa'alaikum salam." sahut Adi dan istrinya secara bersamaan.


"Papah… Papah udah pulang? Jangan pergi-pergi lagi, jangan bawa kabur adek aku lagi. Karena Ghifar adek terlangka, tak ada anak tetangga di sini maupun di sana yang teriakan nangisnya macam Ghifar." ungkap Givan yang berjalan menuju ayahnya, lalu ia duduk di pangkuan Adi.


Adi hanya membalas dengan senyuman saja, kemudian perhatiannya kembali pada beberapa orang yang masuk ke ruang tamu ini.


Telapak tangan Givan memegangi kedua pipi Adi, anak itu membingkai wajah ayahnya semampu jangkauan jarinya saja.


"Papah sakit ya abis dipukul Mamah? Kasian betul sampek boncor macam itu, untuk tak boncos. Harusnya Papah paham, Mamah tuh tukang gigit. Jadi, kalau Mamah lagi marah mungkin tindakannya di luar nalar. Macam hal-hal mistis kek gitu, Pah. Makanya Papah jangan macam-macam, orang tuh nurut sama Mamah. Mamah tuh udah capek masak nasi, masak lauk, bersih-bersih, urus anak, lap-lap, nyapu-nyapu, terus apa lagi ya… karena cuci piring udah nyuruh tante Zuhra, sama lipat baju juga udah nyuruh tante Zuhra. Hmm… pokoknya Mamah itu udah capek, belum kalau Ghifar rewel terus aku pilek. Mamah tuh lelah kali, Pah. Makanya Papah jangan aneh-aneh, deh. Itu aja nasehat dari aku, semoga Papah tak ulangi kesalahan Papah lagi." ungkap Givan membuat semua orang yang berada di situ terkekeh geli.


"Pintar ya kamu." sahut Arif dengan mengelus kepala Givan, lalu duduk di sebelah Adi.


Adinda tengah mendekap Ghifar dan menangisi anak yang berada dalam dekapannya tersebut. Ia menciumi Ghifar yang tengah terlelap, sampai anak itu menyuarakan tangis kencangnya kembali.


Ibu Risa, pak Sodikin, Arif beserta istrinya pun memperhatikan interaksi Adinda dengan anaknya tersebut. Arif sampai menggelengkan kepalanya berkali-kali, karena Adinda yang tersedu-sedu dengan masih menatap intens anaknya tersebut.


Adi hanya bisa menenangkan istrinya, dengan mengelus punggung istrinya. Ia mengerti akan kerinduan Adinda pada anaknya, apa lagi Jefri semalam bercerita bahwa Adinda seperti orang gila yang menyebutkan nama anaknya terus menerus.


"Disusuin dulu itu, Din." ucap pak Sodikin kemudian.


TBC.

__ADS_1


Udah kumpul loh keluarga Adinda, kira-kira mau ada apa nih?


__ADS_2