
"Kenapa, Bang Adi?" tanya Benazir yang baru keluar dari kamarnya.
Langkah kaki Adi terhenti, "Ini, Ghavi tak mau tidur. Mau ambil ASIP di kulkas Zuhra, soalnya kak Dinda Abang suruh tidur." jawab Adi dengan menoleh ke arah Benazir yang berjalan ke arahnya.
"Ohh.. biar aku ambilkan. Abang duduk aja dulu, biar aku angetin dulu." sahut Benazir dengan melangkah pergi ke arah kamar Zuhra.
Beberapa saat kemudian, Benazir sudah berada di hadapan Adi. Dengan ASIP yang berada di dalam botol dot, dengan suhu ASIP yang lumayan hangat.
"Siniin dot-nya." pinta Adi dengan mengulurkan tangannya.
"Abang tidur aja, biar Ghavi aku bawa." ucap Benazir dengan berdiri setengah membungkuk.
Ia langsung mengambil Ghavi yang berada di dekapan Adi, sesaat matanya melotot pada Adi. Karena gerakan tangan Adi yang meloloskan diri dari tubuh Ghavi, malah menyenggol part sensitif miliknya.
"Ehh, maaf-maaf." ujar Adi reflek, setelah ia menyadari kesalahannya.
"Ati-ati dong, Bang." sahur Benazir dengan wajah kesalnya.
Adi hanya mengangguk, dengan Benazir yang berlalu pergi dengan membawa Ghavi ke dalam kamarnya.
"Astaghfirullah…" ucap Adi reflek. Setelah dirinya mengalihkan pandangan matanya ke arah tangga.
Ia melihat wanita yang menatap marah padanya, bukan lain adalah Adinda. Setelah Adi berdiri dan berjalan menghampiri istrinya, dengan Ghava yang masih berada dalam kain jarik yang membebani pundaknya. Namun, Adinda malah menaiki anak tangga dengan cepat. Kemudian ia langsung berlari masuk ke dalam kamarnya.
Adi sudah berada di depan pintu kamarnya, ia mendengar isakan pilu yang terdengar jelas.
Ceklek…
Adi membuka pintu kamarnya, dengan menyaksikan istrinya yang tengah menangis sembari memeluk guling.
Adi menghela nafasnya, "Hampir subuh sekarang. Adek masih belum tidur aja? Nangisin apa lagi sekarang? Udah anaknya rewel, emaknya juga rewel. Pening kali, Abang." ucap Adi dengan menaruh Ghava di ranjang bayi.
Setelah Adi menyelimuti tubuh anaknya, ia langsung berbalik badan dan melangkah menuju ke tempat tidurnya.
Adi langsung merebahkan tubuhnya, dengan langsung melingkarkan tangannya di pinggang istrinya.
__ADS_1
"Dah, tidur! Abang peluk mesra, biar nyaman." ujar Adi dengan mengeratkan pelukannya.
"Cari perawan! Jangan istri adiknya, jorok betul!" ucap Adinda lirih. Gelombang bunyi tersebut, sontak membuat mata Adi terbuka lebar.
Adi langsung membalikkan tubuh istrinya, dengan dirinya yang bertumpu pada kedua siku tangannya.
"Mau ribut? Ngajak berantem? Rewel terus dari tadi kenapa sih?! Kurang puas kah? Karena tadi cepet? Udah selesai masalah dari pihak eksternal, sekarang masalah internal. Kapan kita baik-baik aja sampek tamatnya?" ungkap Adi dengan mengunci netra istrinya.
"Abang sengaja megang kan? Aku liat itu, Bang!" sahut Adinda dengan suara bergetar.
"Mana ada!!! Tertoel, bukan sengaja. Mending megang ini aja, sekalian Abang remas, Abang hisab kuat-kuat, Abang gigit pakek gigi, Abang sapu-sapu pakek lidah, macam mana? Dibikin kl*maks beberapa kali, terus lelap Adek tidurnya. Dari pada rewel macam ini. Ini keknya efek cuma kl*maks sekali ini tuh." balas Adi dengan tersenyum menakutkan. Tangannya pun tak tinggal diam, satu tangganya mengunci kedua tangan istrinya, dengan satu tangannya ia menyibakkan baju istrinya.
"Abang, Abang… no, no, no. Tak mau aku!" tolak Adinda dengan mencoba melepaskan cekalan tangan suaminya.
"Abang maksa, Dek. No, no, no mau na, na, na. Adek harus terima itu." ujar Adi dengan meluncurkan serangan demi serangan yang mematikan.
Tak butuh waktu lama, sudah terdengar suara pasrah dari Adinda atas segala tindakan suaminya. Adi menang lagi untuk kesekian kalinya, Adi berkuasa atas segala haknya.
~
"Tapi nanti di undangan pernikahannya, aku minta tulisannya itsbat pernikahan kami. Jangan akad nikah, karena memang udah nikah. Biar orang tau kalau kemarin aku sama istri memang suami istri, bukan kumpul kebo." usul Adi dengan memilih model undangan pernikahannya.
"Bisa, Mas. Bisa juga ini dirubah jadi 'anak kami', untuk undangan dari pihak orang tua. Kalau untuk pihak mempelainya, biasa disebut dengan 'pernikahan kami'. Jadi kita bisa cetak sekalian, untuk pihak orang tua. Barangkali mau ngundang rekan kerja, atau teman lama." jelas pihak WO, dengan menunjukkan bagian dari undangan pernikahan tersebut.
Adi dan Adinda mengangguk, "Aku mau yang ini nih. Sederhana tapi mewah, tintanya pakek tinta warna emas juga." tunjuk Adinda pada salah satu kartu undangan, yang berada di hadapan suaminya.
"Abang mau yang ada fotonya, biar orang tau kalau Abang nikahnya sama Adek." timpal Adi dengan memilihkan kartu yang dirinya inginkan.
Urat wajah Adinda langsung masam, ia memberi suaminya delikan yang mengisyaratkan bahwa dirinya tengah marah.
"Bisa kok yang ini dikasih foto, Mas. Ini untuk tanggal berapa? Biar dicarikan gedungnya juga." ungkap pihak WO, yang menyadari perubahan wajah istri dari kliennya.
"Di halaman rumah aja, Kak. Macam ngunduh mantu kek gitu lah, Kak. Tapi itulah, aku minta sunting A***." ujar Adi dengan membereskan kartu undangan yang bercecer.
"Hmm.. kan ada akad nih, Mas. Ehh, maksudnya istbat akad. Nah, dengan Mas yang minta seperti prosesi ngunduh mantu. Otomotis untuk akadnya, sebaiknya tidak dilakukan di satu tempat dong Mas." tutur pihak WO, terlihat ia sedikit bingung dengan keinginan dari Adi tersebut.
__ADS_1
Adi menoleh pada istrinya, "Di mana ya, Dek? Akad di masjid terdekat? Atau akad di rumah Adek, yang di kota C?" tanya Adi kemudian.
"Jauh perjalanannya, takut kenapa-kenapa. Belum lagi anak kita banyak, takut mereka drop di perjalanan. Jadi keknya mending di masjid terdekat aja deh, untuk istbat ulangannya." jawab Adinda, dengan menoleh pada makhluk kecil yang menghampirinya dengan menggeserkan alas duduknya tersebut.
"Dih… Bang… Dih…" celotehan Ghifar dengan mengulurkan satu tangannya ke arah ayahnya.
"Sama Tante dulu gih. Beli jajan sana, ajak kak Naya juga." sahut Adi dengan memberikan Ghifar selembar uang berwarna hijau.
Ghifar langsung berlalu pergi, setelah ia mendapatkan uang dari ayahnya. Pihak WO sampai menahan tawanya, melihat anak yang hampir berusia sebelas bulan tersebut.
"Ok… jadi untuk tanggal berapa ini? Masnya juga minta pakaian yang baru kan? Jadi nanti kita minta waktu juga, untuk masa pembuatannya." ucap pihak WO yang memusatkan perhatian mereka kembali.
"Kalau tanggal 23 bulan ini macam mana?" tanya Adi dengan menoleh ke arah istrinya kembali.
"Sekarang aja tanggal 17, perhiasan aja belum jadi. Nanti aja bulan depan." jawab Adinda dengan menoleh pada suaminya sekilas.
"Ya udah, Abang ikut Adek aja."
"Nanti masalah tanggalnya kita rundingkan lagi, Kak." ujar Adi dengan beralih menatap pihak WO tersebut.
"Baik, Mas. Tinggal chat saja di nomor kontak kami. Kalau begitu, saya permisi dulu Mas, Mbak." pamit pihak WO, dengan berdiri dari posisi duduknya.
Adi dan Adinda tersenyum ramah, dengan mengantarkan mereka sampai ke depan pintu.
Adinda bersedekap tangan, dengan membalikkan tubuhnya menghadap ke arah suaminya.
"Pue?" tanya Adi yang menyadari bahwa dirinya tengah diperhatikan begitu lekat.
"Aku mau senam, mau olahraga. Aku mau Abang bisa rawat aku baik-baik, jangan ada pelakor di antara kita. Apa lagi cuma gara-gara selang*angan. Aku tak suka, cara Abang memperlakukan aku tadi malam." ungkap Adinda lirih, tetapi begitu mengusik gendang telinga suaminya. Bukan karena nada suaranya, tapi ucapannya yang lagi-lagi menyinggung perasaan suaminya.
Adi menghela nafasnya, "Abang kira masalah kita semalam udah selesai, pas Abang ulangin lagi sebelum tidur itu." sahut Adi merangkul pundak istrinya, sembari berjalan masuk ke dalam rumah.
"Aku punya…..
......................
__ADS_1
Sepele memang? tapi tanpa kita sadari, masalah-masalah begini yang bikin pasangan selingkuh. Terus hadir pelakor, lalu terjadilah perceraian. 🥺