
"Aku gak mau putus, Bang." tukas Zulfa cepat. Adi memahami kekhawatiran Zulfa. Ia takut laki-laki lain tak mau dengannya, karena dirinya sudah tidak suci lagi.
"Minta bang Jeff kau itu buat kerja sama Abang aja. Abang butuh orang buat bantu Safar di sana. Safar cukup kewalahan, ditambah lagi dia pun ngurusin ladangnya sendiri. Tapi mau tak laki-laki kau itu kerja kasar?" ungkap Adi, karena menurutnya jika Zulfa tak mau meninggalkan Jefri. Ia mencoba membantu Jefri, agar bisa mencukupi kebutuhan Zulfa.
"Jadi buruh petik?" tanya Zulfa dengan menoleh pada Adi.
"Ya ngawasin ladang, tapi tangannya harus entengan. Bantu-bantu petik, bagi upah, atau ke tempat proses lanjutan. Jam kerjanya tak bisa ditebak." ujar Adi sedikit menjelaskan.
"Pesuruh Abang begitu?" balas Zulfa dengan pandangan tak percaya.
Memang Adi ingin mengatakan hal itu. Namun ia tak sampai hati mengungkapkannya.
Adi mengangguk samar, "Yang penting kan kerja. Abang juga kan bayar upahnya, tak cuma nyuruh-nyuruhnya aja." sahut Adi.
"Berapa?" ucap Zulfa ambigu. Adi sedikit bingung dengan pertanyaan singkat adiknya.
"Berapa apanya? Bayarannya?" tanya Adi dengan menoleh sekilas pada Zulfa.
"Iya, berapa bayarannya?" jawab Zulfa. Lalu ia menjelaskan kalimatnya lagi.
"Masalah bayaran ya tengok nanti, yang penting Jefrinya mau apa tak. Bayaran kan bisa diomongin Abang sama Jefri, kalau Jefrinya mau kerja sama Abang." sahut Adi.
Zulfa manggut-manggut mengerti, "Berarti aku juga harus tinggal di sana?" balas Zulfa kemudian.
"Ya kalau kau udah nikah, kau tinggal di mana laki-laki kau cari nafkah. Laki-laki jangan disuruh merantau sendirian. Pasti ada yang tak beres nanti. Entah kaunya, atau laki-lakinya." ujar Adi. Ia mengatakan hal demikian. Karena mendengar cerita Adinda, yang mengatakan bahwa suaminya dulu bermain di belakangnya. Dan ia pun mendapat pengalaman sendiri, saat dirinya dipenjarakan. Ia malah ditinggalkan, karena Shasha berpacaran dengan laki-laki lain sampai hamil. Dan ia pun mencurigai Maya melakukan hal yang sama dengan Shasha. Apa yang ia lihat kemarin, membuat dirinya berprasangka bahwa Maya sering pergi dengan laki-laki lain.
"Aku gak mau keluar dari pulau J. Pasti di tempat sana aku butuh penyesuaian lagi. Ditambah lagi, daerah sana kan kampung banget." tutur Zulfa dengan menerawang jauh.
"Kata siapa? Kau tak pernah tengok pasti pemandangan alam yang menyejukkan hati. Belum lagi kabut dingin menambah keromantisan viewnya." tukas Adi, menceritakan sedikit tentang kampungnya.
"Tapi susah sinyal, belum lagi pasti jauh dari mall." timpal Zulfa. Adi menggelengkan kepalanya.
"Jauh dari mall, bukan berarti kau tak bisa ke sananya. Tak ada sinyal, tak mungkin rasanya Abang gampang dihubungi. Kau pakek lah provider yang jaringannya kuat di sana. Tinggal ganti kartu perdana aja susah betul." sahut Adi.
__ADS_1
"Abang kan udah biasa. Lebih-lebih asal Abang dari daerah sana." balas Zulfa kemudian.
"Memang emak kau asal mana? Emak kau asal Bali, kalau kau lupa. Dan ayah kau dari pedalaman kampung, yang sering konsumsi ular buntet buat dimakan sambil begadang." ujar Adi sedikit sewot.
"Memang umi dari Bali?" tanya Zulfa bingung.
"Ya lah, Banda Aceh belok kiri." jawab Adi. Lalu mereka tertawa bersama. Adik dan kakak itu tertawa bersama, dengan membahas hal-hal lainnya. Adi pun sering menyelingi ucapan dengan tentang kampungnya, agar jika suatu saat Jefri mau diajak kerja oleh Adi. Zulfa tak kaget jika harus tinggal di sana.
~
Beberapa saat kemudian, mereka sudah sampai di kediaman Haris. Kinasya yang sempat tertidur, langsung bugar kembali. Saat ia mengetahui bahwa dirinya sudah sampai di rumahnya. Ia begitu kegirangan, saat Adi menurunkan sepeda roda tiga dan boneka besar miliknya.
Kinasya meminta diturunkan dari gendongan Zulfa. Lalu ia berlari kecil, menuju ke sepedanya.
Adi tersenyum senang, melihat tingkah bocah kecil itu.
"Eh, udah pulang." ucap Haris, dengan penampilan khas bangun tidur. Dengan terselip rokok di sela jarinya.
"Bi, bi… nan, nan." seru Kinasya dengan menepuk sepedanya.
"Papah. Papah Di…." jawab Kinasya. Haris mencium pipi anaknya sekilas. Lalu ia berseru memanggil pengasuh Kinasya, untuk mengambilkan makanan Kinasya.
"Udah makan nuget di sana." ucap Adi, saat mendengar seruan Haris.
"Harus nasi. Yang namanya makan harus nasi." sahut Haris. Zulfa terkekeh geli mendengarnya.
"Indonesia banget." balas Zulfa menimpali.
"Masuk gih, sana rebahan." ujar Adi pada Zulfa.
"Memang gak langsung pulang, Bang?" tanya Zulfa pada kakaknya.
"Nanti, Abang mau ngobrol dulu." jawab Adi kemudian.
__ADS_1
Zulfa masuk ke dalam rumah Haris. Dan Adi mulai mengajak Haris berbicara, membahas tentang modal yang ia tanam di usaha Haris.
"Soalnya ada anak. Jadi aku mau nambahin jatah untuk Maya." ucap Adi, agar Haris paham maksud Adi.
"Usaha aku anteng di titik ini aja, Di. Tak ada Dinda, ya tak ada yang ngajuin ke tempat lain. Aku pun tak begitu paham. Aku jalani apa yang udah di arahkan aja." sahut Haris, dengan meladeni anaknya. Yang meminta untuk naik di sepeda barunya.
"Terus macam mana ini?" balas Adi bingung.
"Ya coba kau tanam di tempat lain aja lah. Kebanyakan modal, tapi perputaran barang cuma segitu-gitu aja ya… macam mana juga? Hasil pun cuma segitu-gitu aja." ungkap Haris serius.
"Terus terang aja ke Dinda. Kasian dia paling dirugikan di sini. Dan uang yang kau umpet-umpetin itu, bisa jadi uang haram untuk Maya. Karena kau tak izin dulu ke Dinda. Sesuatu yang tak diridhoinya, bisa jadi malah bikin petaka untuk diri kau sendiri." lanjut Haris kemudian.
Adi menoleh pada Haris, dan memperhatikan wajahnya. Ia merasa ucapan temannya itu ada benarnya. Tapi ia masih khawatir terjadi sesuatu dengan Adinda dan kandungannya. Apa lagi usianya sudah menginjak trimester ketiga.
"Tanggung, Ris. Udah trimester ketiga, tinggal dua bulan lagi. Aku pun sebetulnya tak tega bohongin dia terus." ujar Adi dengan menundukkan pandangannya.
"Terserah kau." timbal Haris ringan. Lalu Haris mengajak Kinasya berkeliling di sekitar rumahnya, dengan pengasuh yang menyuapi makanan untuk Kinasya.
Dan Adi fokus pada ponselnya. Ia mengetikan pesan, untuk dikirimkan ke Adinda.
[Abang abis beli sepeda dorong roda tiga buat Kin.] tulis Adi. Lalu ia mengirimkan foto Kinasya, yang ia ambil sebelum Kinasya dibawa berkeliling oleh Haris.
Bukannya balasan, ia mendapat panggilan video dari Adinda.
Adi menoleh ke arah pintu, ia khawatir Zulfa ada di sana dan mengawasinya. Mau bagaimana pun, ia sebenarnya belum terlalu percaya bahwa Zulfa bisa menjaga rahasianya.
"Ya, Sayang." ucap Adi, dengan mencari pencahayaan yang pas. Agar istrinya bisa melihat gambarnya dengan jelas.
"Lagi di mana?" tanya Adinda dengan suara lemah.
Adi langsung panik, mendengar suara istrinya yang begitu tak berdaya. Lalu ia memperhatikan wajah istrinya di layar ponselnya, terlihat wajah Adinda begitu pucat.
"Lagi di rumah Haris. Adek sakit kah?" tanya Adi dengan khawatir.
__ADS_1
......................
Author butuh dukungan dari kalian semua. Bagi like, vote, hadiah, rate dan komennya juga.