
ADI POV
Yang betul ini? Dinda mengunci kamar dari dalam?
Tok, tok, tok…
"Dinda, Sayang… Abang mau masuk, Dek." ucapku di hadapan pintu kamar yang tertutup rapat ini.
"Dek…" panggilku kembali, tapi tetap tak mendapat sahutan dari Dinda juga.
"Sayang, Abang mau tidur ini." seruku mulai kesal. Apa-apaan ini? Seenaknya ia mengunciku di luar kamar seperti ini.
Sudah cukup enam belas hari aku tidur kedinginan tanpa pelukan darinya. Masa ia aku malam ini pun, tak bisa memeluknya juga.
"Udah tidur kah, Sayang?" tanyaku kembali. Aku masih berharap Dinda menyahutiku, lalu membukakan pintu untukku.
Namun… tetap. Masih tak ada sahutan darinya juga.
Aku berdecak kesal, kemudian langsung berjalan ke kamar Givan. Mungkin malam ini aku akan memeluk anaknya dulu. Biar lepas subuh nanti, aku akan puas-puasin menjamah Adindaku.
Aku langsung masuk ke kamar Givan, lalu merebahkan diri di sampingnya. Lalu aku mulai memejamkan mataku, mencoba menyelami malam ini agar bisa memimpikan Adindaku.
~
Esok paginya, aku terbangun saat adzan subuh berkumandang. Kemudian aku langsung beranjak dari kamar Givan, menuju ke kamarku.
Alhamdulillah, sudah tak dikunci kembali. Sepertinya Dinda sudah terbangun dan tengah beraktifitas.
Aku ingin menyegarkan tubuhku dulu, sebelum bertemu dengannya. Dengan cepat aku langsung masuk ke dalam kamar mandi, yang berada di dalam kamarku. Lalu aku langsung menikmati guyuran shower pagi ini. Air di daerahku selalu sedingin ini, pantas saja tiap pagi Givan selalu minta mandi dengan air hangat. Tapi jika mandi sore, ia menggunakan air dingin juga.
"Sayang…" panggilku dengan berjalan menuju dapur, tapi tak ada istriku di sana. Hanya teko pluit yang berada di atas kompor yang menyala, potongan bawang dan sayuran yang ada di atas telenan, gula dan teh yang berada di dalam gelas kaca berukuran besar, juga mejikom yang tengah menanak nasi. Mungkin setelah nasi tanak, dia akan langsung membuat sarapan.
Aku melangkah menuju tempat cucian baju. Di sana baju kotor, baju kering, mesin cuci, tempat setrika berada. Intinya kumpulan pakaian yang keluar dari lemari dan hendak di masukan ke lemari kembali.
Terdengar suara mesin cuci tengah beroperasi, dengan Dinda yang tengah menyetrika pakaian sekalian melipatnya.
Ia bisa melakukan beberapa aktifitas sekaligus, itulah hebatnya istriku. Tapi menurut artikel yang aku baca, wanita bisa melakukan beberapa aktifitas sekaligus. Karena mereka memiliki lapisan otak yang 3 cm lebih tebal dari laki-laki. Tapi entahlah, yang aku tau tak semua wanita bisa melakukannya. Bahkan Maya pun tak sanggup untuk menyelesaikan pekerjaan rumahnya sendiri.
__ADS_1
"Boleh Abang bantuin?" tawarku mencoba membuka obrolan pagi ini.
"Tak perlu, yang penting Abang jangan gangguin aku!" ketusnya yang berarti menolakku, sebelum aku mengajaknya.
Hmm, kegeeran betul dia. Tapi memang aku langsung kecewa mendengar penolakannya.
Gara-gara semalam dia, aku nomor duakan. Sekarang dirinya ngambek dan menomor duakan suaminya sendiri, dengan kumpulan pakaian tersebut.
"Jadi Abang ngapain?" tanyaku dengan memperhatikan kegiatannya. Ia terlihat begitu cekatan melipat baju-bajunya yang ia setrika sekilas. Karena memang baju tersebut, hanya dikenakan di rumah saja. Mungkin karena kusut, sampai ia menyetrika pakaian tersebut.
"Sholat." jawabnya begitu ringkas. Bahkan ia tak menoleh sedikitpun padaku.
"Udah, Dek." sahutku kemudian. Lalu berjalan mendekatinya, aku ingin ia menyudahi acara ngambeknya. Bagaimana pun caranya, aku tak mau dicemberutin dengan istri sendiri.
"Olahraga sana! Terus cabutin rumbut kek, bersihin daun kering kek!" serunya dengan delikan tajamnya. Kadang kala ia menoleh, tatapan begitu mematikan.
"Yuk olahraga, Abang cabutin rumputnya sekalian." balasku dengan membahas ke arah dewasa. Entah dia paham atau tak, atas kode yang kuberikan barusan.
"Ya udah sana!" ujarnya dengan beralih ke depan mesin cuci. Lalu mengatur kembali mesin cuci yang tengah beroperasi tersebut.
"Hadeh… ya ayo. Memang Adek tak ingin? Semalam sampek ngambek, suami sendiri sampek tak bisa masuk ke kamar. Diajak malah ogah, maunya macam mana sih Dek?" tuturku mulai kesal.
Atau memang ia ada mainan baru? Sampai tahan selama itu.
"Udah dikeluarin ya sama yang lain?" tanyaku kemudian.
Namun, anggukan kepalanya membuat tubuhku melemas. Apa betul jawaban dari tubuhnya tersebut? Ia disentuh laki-laki lain?
Aku menepis pemikiran, bahwa laki-laki tak bernafsu dengan wanita hamil. Karena aku merasakannya sendiri, bagaimana menariknya wanita hamil. Memang tidak mungkin, jika Dinda bersetubuh dengan yang lain. Tapi kenapa aku malah tidak yakin, padahal Dinda tadi mengiyakan.
Aku tahu Dinda, ia tak mungkin segampang itu. Buktinya dengan suaminya sendiri pun, harus dibujuk dan dipanasi juga.
"Macam aku tak punya jari." ucapnya dengan memilah beberapa baju.
"Hah?" reflek suaraku yang kaget mendengar ucapannya barusan.
Ia menoleh ke arahku, kemudian terkekeh geli. Mungkin ekpresiku sangat lucu untuknya. Untuk sepersekian detik, aku membayangkan istriku tengah memuaskan dirinya sendiri dengan jari-jari tangannya.
__ADS_1
Aku mendekatinya, lalu langsung memeluknya.
"Ngprank pikiran suami aja!" ucapku sambil memeluknya, kemudian menyesapi bau wangi yang aku rindukan ini.
"Tapi memang pas Abang ditahan untuk proses sidang kemarin. Aku sempet ngamer sama yang lain." ujarnya membuat tanganku langsung melepaskan tubuhnya.
Aku memutar setrikaan ke mode 0, membuatnya mendingin saat tak beroperasi.
Lalu aku memutar tubuh istriku, untuk berhadapan denganku.
"Apa?" tanyanya kemudian. Ia terlihat santai dan biasa saja. Betulkah ucapannya tadi? Atau memang hanya omong kosong belaka.
"Ngomong tuh jangan dibuangin aja, Dek." jawabku dengan memperhatikan wajah Dinda.
"Kalau aku memang suka buang-buangin omongan aku. Tak macam Abang, yang suka makan balik omongan Abang sendiri." sahutnya seperti biasa. Ia selalu bisa menjawab suaminya sendiri.
"Buktinya Abang bisa lepas tuh, karena aku ngamer sama Supriyatna." ucapnya yang membuat hatiku berdenyut nyeri.
Serasa tulangku lunglai begitu saja. Aku menarik kursi yang tadi digunakan untuk menumpuk pakaian, lalu aku mendudukinya.
Kalau memang demikian? Kenapa ia sampai melakukannya? Yang aku pahami ia wanita cerdas. Tak mungkin jika ia merelakan tubuhnya dijamah orang, hanya untuk membebaskan aku dari penjara.
Tapi… ia pernah mengatakan waktu membesukku, bahwa ia begini karena ia mencintai aku.
Benarkah rasa cintanya padaku, membuatnya gelap mata. Lalu merelakan dirinya dijadikan tumbal, hanya untuk tetap bisa bersamaku.
Rasanya aku tak bisa mempercayai ini semua. Dinda begitu tiba-tiba mengatakannya padaku. Sejujur itukah dia padaku? Atau dia sengaja membuatku cemburu? Seperti halnya Maya waktu itu.
Ia mencium bibirku sekilas, namun entah mengapa aku langsung mengusap bekas bibirnya.
Ya Allah, jangan sampai aku merasa jijik karena kejujurannya itu. Tapi sungguh aku tak bisa membayangkan jika dirinya dijamah laki-laki lain, kemudian langsung kujamah sendiri.
Ia memperhatikan aku, lalu tersenyum lebar. Kemudian ia pergi meninggalkan aku sendirian, karena suara pluit dari tekonya sudah berbunyi.
Bibir tadi, bibir yang selalu membuatku ingin menyesapinya. Benarkah telah dinikmati oleh orang lain?
Kenapa aku seperti ini? Kenapa rasa jijik itu kian meningkat? Ya ampun, aku tak bisa membayangkan jika itu benar terjadi.
__ADS_1
......................