
"Apa ini, Dek? Terus kenapa? Kan ini mungkin aja kak Dinda abis narik uang, atau abis beli barang di minimarket." ucap Adi yang merasa heran, akan beberapa kertas yang berada di atas tempat tidurnya.
"Eh, bukan itu Bang. Ini nih, Bang. Itu sih bekas struck macam itu, mau aku buang." ujar Zuhra dengan memberikan Adi sesuatu yang lain.
Adi meraih berang tersebut, lalu memperhatikannya dengan seksama.
"Kaos laki-laki, kacamata ini juga. Perasaan Abang atau kak Dinda, tak pernah pakek kacamata ini." lanjut Zuhra membuat kepala Adi seketika berdenyut nyeri.
"Udah-udah. Sakit kepala, Abang." ucap Adi dengan membuang asal barang-barang tersebut, kemudian ia merebahkan tubuhnya di tempat tidurnya.
"Kalau udah selesai beres-beresnya kau keluar dari kamar, terus tutup pintu kamar Abang. Kau pun tidur, jangan begadang." lanjut Adi dengan menutup wajahnya dengan bantal.
Zuhra terdiam sesaat, ia tengah memperhatikan suara helaan nafas kakaknya yang tak stabil tersebut. Ia paham, kakaknya tengah tak baik-baik saja.
Kemudian Zuhra bergegas menyelesaikan pekerjaannya tersebut, lalu ia kembali ke dalam kamarnya.
Adi meyakini dalam hatinya, bahwa itu bukan milik istrinya. Sedikit terlintas di benaknya, bahwa Adinda membelikan baju tersebut untuk dirinya. Tapi Adi tak habis pikir, karena baju tersebut terlihat sudah bekas pakai. Dengan bau parfum laki-laki, yang begitu menyengat di hidungnya.
'Dinda pasti setia.' gumam Adi dalam hatinya, agar hatinya terus meyakini cinta istrinya.
Sakit kepalanya kian menyerang, Adi sampai menekan rasa sakit tersebut. Berharap agar rasa sakitnya tersamarkan, dengan tindakannya.
'Migren lagi, migren lagi. Tak bisa tidur aku.' gerutu Adi dengan memijat pelipisnya.
Karena sudah beberapa jam lamanya, Adi belum bisa memejamkan matanya karena rasa sakit tersebut.
Adi beranjak ke kamar mandi, lalu ia mengguyur kepalanya dengan air. Berharap rasa sakit kepala sebelahnya mereda, lalu ia bisa memejamkan matanya setelah ini.
Tak lama kemudian, Adi akhirnya bisa tertidur dengan rambut yang masih basah.
~
~
__ADS_1
~
Satu minggu kemudian, dengan Adinda yang stay di lantai atas rumah Adi. Anak-anaknya pun ikut pindah ke lantai atas, karena Adinda enggan untuk turun ke lantai bawah.
Adi pun sering menemui istrinya, hanya untuk mengajaknya berbicara atau memberi perhatian kecil untuk Adinda.
"Ya, May. Ada apa?" tanya Adi, dengan menempelkan ponselnya pada telinganya.
Ponselnya berulang kali berbunyi, membuatnya harus meninggalkan pekerjaannya yang tengah berkutat dengan mesin cuci tersebut.
"Bang… kita bicarain dulu rumah tangga kita, kita cari jalan keluarnya. Tadi ada orang minta buku nikah, aku tetap tak mau kasih itu. Aku tak mau kita cerai." ungkap Maya dalam sambungan teleponnya.
"Terserah kau lah, May. Yang jelas, Abang dan kau bukan suami istri lagi. Abang udah turunin talak untuk kau, kau pun dalam masa idha sekarang." sahut Adi begitu tegas. Dengan ia melirik sekilas pada Zuhra yang berlalu, dengan membawa pakaian yang sudah bersih dan rapi.
"Tapi aku udah bilang sama umi, bahwa kita masih baik-baik aja. Kita masih…" balas Maya yang langsung dipangkas oleh Adi.
"Terserah kau!! Yang jelas Abang udah bebas dari pernikahan kita, kau pun dalam masa idha. Nah lepas kau selesai masa idha, kau bebas mau jalan sama laki-laki manapun." sela Adi, kemudian ia langsung mematikan sambungan teleponnya.
"Cerai lewat telepon, tak jantan betul kau." timpal Adinda, yang ternyata berada di belakang Adi.
Tangan dan kakinya menendang tak beraturan, ia begitu excited melihat seseorang yang ia kenal dengan baik tersebut.
"Nih Ghifarnya, aku udah dijemput kawan. Aku mau keluar sama Givan." ucap Adinda yang membuat senyum Adi yang terpatri untuk anaknya itu luntur seketika.
"Ke mana, Sayang? Kawan siapa?" tanya Adi dengan menerima Ghifar.
"Ada, dia udah tunggu di depan gerbang. Mungkin aku balik lusa, Bang. Aku mau perawatan, sekaligus ada kerjaan sedikit." jawab Adinda dengan berbalik arah, kemudian melangkah pergi menuju pintu keluar.
Adi bergegas menyusul istrinya, ia ingin menghalangi kepergian istrinya. Sekaligus ia pun penasaran, dengan teman yang sudah menjemput Adinda di depan pagar tersebut.
"Dek… Dek… biar Abang sama Ghifar juga ikut. Abang mau jagain Adek." sahut Adi, saat Adinda bergegas menuju pagar rumahnya. Terlihat Givan sudah berada di luar sana, dengan berbicara pada seorang laki-laki yang bersandar pada mobil berwarna putih tersebut.
Adi berlari kecil, ia khawatir anaknya terguncang atas gerakannya tersebut. Lalu ia bisa melihat siapa laki-laki tersebut.
__ADS_1
'Sialan! Fanji lagi, Fanji lagi!!!' gerutu Adi, saat melihat istrinya dipersilahkan masuk ke dalam mobil laki-laki tersebut.
"Heh, Bang… mau kau ajak ke mana? Ingat itu istri saya, dia masih istri saya." ucap Adi, dengan melangkah mendekati laki-laki tersebut.
Laki-laki tersebut tersenyum ramah, "Tenang, Bang. Cuma untuk perihal pekerjaan aja. Mari, Bang. Saya permisi dulu." sahut Fanji, dengan cepat ia masuk ke dalam mobilnya. Kemudian mobil itu melaju perlahan, meninggalkan halaman rumah Adi.
Adi begitu miris dengan nasibnya, padahal ia tak sampai terlalu jauh dengan Maya. Tapi Adinda membalasnya begitu menyakitkan, tanpa rasa kasihan sedikit pun.
"Jangan bikin Abang nyerah, Dek." ucap Adi dengan kembali masuk ke dalam rumahnya.
Namun, Ghifar bersuara. Ia terlihat menolak untuk masuk ke dalam rumah.
"Hmm… mau ke mana, Nak? Papah belum selesai giling bajunya." tanya Adi pada buah hatinya. Ia memperhatikan wajah Ghifar yang semakin hari, semakin persis dengan wajahnya itu.
"Hitam betul kau ini, Nak. Padahal baru diajak ke ladang dua kali aja, udah rata macam ini hitam kau." lanjut Adi yang langsung mendapat pekikan nyaring dari bayi yang berada di dekapannya tersebut.
Adi tersenyum senang, melihat reaksi Ghifar saat ia mengejek anaknya tersebut.
"Gemes Papah, Adek Ghifar masih kecil udah mau jadi Abang aja. Doain ya, semoga Adek bayi bisa bikin mamah dan Papah bersatu lagi. Biar kita semua bahagia, tak kekurangan kasih sayang dari mamah." ujar Adi dengan berbalik arah. Ia memutuskan untuk mengajak anaknya jalan-jalan sebentar, ia berpikir anaknya mungkin bosan berada di dalam rumah terus menerus.
Ghifar disapa oleh beberapa orang yang berpapasan dengan mereka, lalu Adi berhenti di depan rumah Ayu. Karena Lestari, anak kedua Ayu yang berusia tiga tahunan tersebut meminta untuk mencium pipi Ghifar.
"Jadi, Dinda udah berapa bulan Di?" tanya Ayu dengan mengambil alih Ghifar dari gendongan Adi.
"Lima minggu, soalnya waktu dia balik itu bayinya baru tiga mingguan. Ke siniin udah dua minggu. Dinda belum cek lagi sih, Kak. Pas kemaren Adi ajak, katanya udah cek sendiri. Jadi Adi kurang tau pasti." jelas Adi dengan duduk di bangku panjang, yang berada di depan rumah tersebut.
"Jadi nanti lahirnya Akak dulu, ya?" sahut Ayu yang langsung diangguki oleh Adi.
"Niatnya punya berapa anak? Itu tak langsung KB atau macam mana? Kok bisa langsung hamil lagi, padahal baru habis nifas." balas Ayu kemudian.
Adi menoleh ke arah Ayu, "Mungkin setelah ini, nanti diminta pakek KB dulu. Kasian anak-anak, Ghifar aja masih kecil macam ini udah punya adik lagi. Hamil yang ini kan, memang tak direncanakan. Tau-tau dia balik, terus dia bilang lagi hamil." ujar Adi dengan memperhatikan orang-orang yang berlalu lalang.
"Kau yakin itu anak kau? Kan Dinda lagi deket sama artis itu." sahut Ayu yang membuat Adi langsung memicingkan matanya pada Ayu.
__ADS_1
......................
Menurut kalian, Dinda ada main tak sama idolanya itu?