
Aku sudah menuruti segala keinginannya. Ia perawatan sampai jam dua siang, hanya untuk perawatan kulit wajah dan tubuhnya. Berlanjut ke salon untuk cuci dan touch up warna rambutnya, kurang lebih memakan waktu satu jam lebih. Hingga mampir sejenak, untuk membeli beberapa produk kosmetik yang ia tinggalkan di rumahku. Aku pun tak tau, ternyata Dinda menggunakan skincare untuk wajah dan tubuhnya.
"Buat apa sih itu kosmetiknya?" tanyaku setelah berada di dalam mobil.
"Buat jaga-jaga aja, ini kan dari lidah buaya macam itu Bang. Ini sunscreen, biar aku tak gosong macam Abang. Ini buat rontokin bulu, Abang juga sering aku pakekan kan?"
"Ini kan buat cuci muka, Abang juga pakek ini kan?"
"Terus ini buat daki Abang, kan aku gosok daki Abang pakek ini. Makanya Abang tak gelap-gelap betul. Lekukan leher pun bersih, tak hitam-hitam macam dulu."
"Ini buat telapak kaki, soalnya tuh tengok. Tumit aku ada garis yang mau pecah macam itu. Ini pasti karena cuaca di sini panas."
"Terus ini body lotion, buat Abang ngocok."
Ucapnya dengan memperlihatkan satu persatu produk yang ia beli tadi.
Aku menoleh cepat, saat ia mengatakan hal yang terakhir.
"Perasaan Abang punya m*ki yang beberapa hari kemarin WOT, Dek. Balikin lagi aja itu body lotion!" sangkalku dengan memberinya delikan tajam. Ia malah tertawa puas, dengan menunjuk wajah kesalku.
"Abang dari dulu tak punya lipatan hitam di leher, Dek. Paling lutut sama siku aja, Adek ngada-ngada betul. Adek kira Abang sekotor itu?" lanjutku dengan melirik sekilas padanya.
Tawanya lebih puas dari sebelumnya, terdengar lepas dan bahagia.
"Perasaan tadi Adek milih shampo, sama lipstik." tanyaku kemudian.
"Iya, ada juga. Ini shampo dari brand luar, Bang. Mereka ngeklaim bisa lebatin rambut, juga ngurangin kerontokan. Makanya shampo ini mahal. Lipstik juga dari brand luar, makanya agak mahalan mesti model stik biasa." jelasnya dengan mengeluarkan lipstik, lalu ia mengoleskan pada bibirnya. Seperti biasa, ia pasti membeli lipstik tak hanya satu warna. Karena Dinda pasti mengganti warna bibirnya, setelah ia menunaikan shalat. Lima waktu dalam sehari, warna bibirnya berubah-ubah. Tergantung warna mana yang ia inginkan.
"Kenapa tak pakek dari brand dalam negeri aja? Brand dalam negeri juga kualitasnya tak kalah dengan brand luar, cuma mereka tak kena pajak aja. Jadi harganya tak begitu mahal." sahutku dengan sesekali memperhatikan dirinya yang masih merapikan warna di bibirnya.
"Aku pakek brand campuran, tergantung arah angin yang lagi rame aja. Tapi kalau di tempat perawatan, banyaknya brand luar yang dipakek. Makanya bisa mahal, belum lagi pijat-pijat manjanya." balas Dinda dengan tersenyum lebar pada kaca yang seukuran genggaman tangannya.
__ADS_1
"Mampir dulu ke dokter gigi, gigi aku suka linu yang depan ini." pintanya yang membuatku berbelok ke arah yang lain.
"Itu gigi Adek diapakan sih? Putihnya macam kapas, kan normalnya gigi itu putih kekuningan. Macam warna tulang aja." ujarku dengan memainkan pengatur lampu sen yang searah dengan tujuanku.
"Ini bukan gigi asli, gigi aku……"
"Hah?" selalu kaget, sebelum ia menuntaskan kalimatnya.
Aku menoleh ke arahnya sekilas, terlihat Dinda yang tengah menatapku dengan kebingungan.
"Kenapa, Bang?" tanyanya kemudian.
"Itu gigi palsu? Macam nenek-nenek? Tapi kok gak bau mulut, Dek?" ucapku beruntun, dengan fokus kembali pada jalanan.
"Jadi… kalau akar masih pakek gigi aku, cuma diganti mahkota giginya aja. Yang graham empat, udah dipakek crown karena berlubang. Sisanya hasil veneer semua, veneer itu bukan mutihin gigi aja. Tapi dia juga memperbaiki bentuk gigi, juga merapikan tampilan gigi." ungkapnya seperti biasa, ia menjelaskan seperti layaknya dokter.
"Mahal itu?" tanyaku singkat, dengan berhenti sejenak karena lampu tengah merah.
"Crown empat jutaan, veneer lima jutaan." jawabnya dengan memperhatikan pemotor yang berada di samping jendela kaca mobilnya.
Ia menoleh ke arahku, "Itu satu gigi, di kali aja jadi berapa." balasnya dengan memperhatikanku.
"Hah? Satu gigi?" seruku karena terkejut mendengarnya.
Ia mengangguk beberapa kali, disusul dengan bunyi klakson yang bersahutan. Karena mobilku tak kunjung bergerak.
Sekaya itu kah istriku dulu? Dia mampu membeli ini dan itu. Tapi ia hanya memiliki rumah sederhana, juga satu mobil saja. Apa hanya itu yang aku ketahui saja?
Aku langsung bergegas menjalankan mobilku, kemudian tak lama kami sampai di tempat klinik gigi terbesar di kota ini.
"Aku cuma perawatan aja bentar, tak lama kok." ucapnya setelah ia selesai berbicara dengan pegawai yang berjaga di meja depan.
__ADS_1
Aku hanya mengangguk, kemudian duduk di bangku yang sudah disediakan.
Tak lama Dinda masuk ke dalam ruangan dokter, dengan aku yang memainkan ponselku. Terdapat beberapa pesan dari Edi, ia melaporkan bahwa dirinya dicakar oleh Ghifar. Zuhra hanya mengirimkan pesan, tentang list makanan yang harus kubawa pulang.
"Nungguin siapa, Di?" tanya seorang wanita, dengan menepuk pundakku. Lalu ia duduk di sebelahku.
Aku menoleh ke arahnya, detik itu juga aku mengenali wanita itu. Aduh… apa lagi ini? Kenapa mantan-mantanku bermunculan satu persatu seperti ini?
"Salma?" suaraku yang tiba-tiba keluar.
Ia mengangguk padaku, dengan memamerkan senyum teduhnya. Aduh, semoga aku tak meleleh karena senyumnya itu.
Ingat Adinda, Di. Adinda lebih dari segala-galanya dari wanita manapun, Adinda paling hebat dari wanita yang aku kenal. Adinda yang memberikanku keturunan yang berlimpah, juga hantaman yang bisa menjadi kenangan sampai masa tua.
"Aku… aku nungguin istri." jawabku dengan membalas senyumannya, lalu aku mengalihkan pandangan mataku ke arah yang lain.
"Baru masuk ya istri kamu itu?" tanyanya yang langsung kuangguki.
"Oh, kok aku gak tau kalau kamu udah nikah. Nikah sama orang mana, Di?" tanyanya kembali. Saat aku menoleh ke arahnya, terlihat ia tengah memperhatikan wajahku dari samping.
"Sama orang kota C, udah lama juga nikahnya." jawabnya dengan fokus pada ponselku kembali. Aku sebenarnya hanya menscrool beranda sosial media milikku, karena aku tak tau harus apa. Aku sengaja menghindarinya, apa lagi dari pandangan matanya itu. Aku merasa bersalah padanya, karena ia dulu terlalu sering menangis karenaku. Apa lagi kegiatan zina, aku lakukan pertama kali dengannya. Yang awalnya aku hanya berjanji untuk menggesekannya saja, tetapi akhirnya aku memasukkan Adi's bird juga.
"Udah punya berapa anak, Di? Sekarang kamu stay di mana?" balasnya terdengar jelas di telingaku. Sepertinya ia menghadap padaku, dengan memperhatikan wajahku dari samping.
"Udah lima anak aku. Stay di provinsi A, cuma lagi liburan di rumah umi." ujarku sewajarnya.
Dia tertawa dengan menepuk lenganku, "Ya ampun, yang bener anak kamu udah lima?" tuturnya kemudian.
Aku mencari foto-foto anakku, kemudian aku memperlihatkan layar ponselku padanya.
"Ini yang sulung. Terus ini yang perempuan, ini yang laki-laki nomor tiga. Terus yang terakhir kembar laki-laki semua." ucapku dengan menggeser layar ponselku. Karena aku tak memiliki foto kelima anakku secara bersamaan.
__ADS_1
"Kok yang pertama sama yang kedua bening ya, Di. Kaya orang Chinese." sahutnya saat aku menarik layar ponselku.
......................