
Adi tersenyum masam pada Maya, "Hmm… macam itu ternyata. Abang paham sekarang, ternyata kau butuh materi May." tuduh Adi yang membuat Maya langsung gelagapan.
"Aku gak kaya gitu. Pasti perempuan itu yang hasut Abang!" ujar Maya dengan menggelengkan kepalanya.
"Dia tak pernah hasut Abang, atau siapapun. Jadi tolong, segala sesuatunya jangan kau tuduhkan ke Dinda. Abang kenal dia, Abang paham bagaimana dirinya." tutur Adi dengan menatap tajam pada Maya.
"Abang udah gelap mata, gara-gara cinta Abang ke dia. Dia terlihat sempurna di mata Abang, tapi tidak untuk aku dan untuk masyarakat luar. Dia penulis awam yang banyak kesandung kasus, Bang. Dia pembunuh, Bang. Dia masuk berita terbaru sebagai model yang terkenal karena sensasinya. Dia…" ungkap Maya dengan menunjuk Adinda.
"Dia apa lagi? Sensasi apa? Coba kau ungkapin semua, biar Abang betulkan bagian yang salahnya." sela Adi dengan menurunkan telunjuk Maya, yang masih menunjuk pada Adinda.
"Sensasi perselingkuhan. Dia ada main, sama penyanyi yang gunain dia sebagai model. Dia mantan narapidana, juga jangan lupakan yang hijabnya hanya untuk variasi aja."
"Lebih baik kau lepas hijab kamu, Din. Berhijab tapi maksiat terus. Mending aku yang gak berhijab, tapi gak masiat."
Suara Maya yang mendominasi hasil bunyi yang berada di ruangan tersebut.
"Segala bentuk ketidakpatuhan kita kepada Allah itu, udah disebutnya maksiat." jelas Dinda dengan tersenyum manis.
"Tapi… emang betul kau macam itu, Din?" timpal ibu Meutia yang termakan ucapan Maya.
Dinda tersenyum pada ibu mertuanya, tapi ada suara berat yang membuat Maya diam.
"Wanita yang sempurna itu tak ada, yang baik pasti ada. Mungkin Dinda salah satunya yang terbaik untuk Adi.." ungkap pak Dodi dengan menyandarkan punggungnya pada sandaran sofa.
Adi tersenyum senang, mendengar pembelaan dari ayahnya tersebut.
__ADS_1
"May, May… dari pada kau korek-korek aib aku. Mending kau lurusin aja suami kau yang tidur terlalu miring ini. Kalau memang aku macam kau tuduhkan, rasanya tak mungkin bang Adi tahan sejauh ini. Dari situ aja udah nampak, May. Aku tak mungkiri tentang aku pembunuh, juga segala macam yang kau tuduhkan. Tapi setiap orang itu bisa berubah, selagi orang itu masih bernafas." sahut Adinda yang membuat Adi bingung.
Adi menggenggam tangan Adinda, "Adek tak macam itu! Adek kan nurut sama Abang, mana ada yang dia kata tadi itu betul." timpal Adi pelan, tetapi bisa terdengar untuk beberapa orang yang posisinya dekat dengan mereka.
"Abang pun udah rasain sendiri, macam mana kasarnya aku. Lagi pulak, buat apa juga ditutupin? Kita kan tetap udahan juga, anak-anak mungkin sama aku sampai lulus SD aja. Lepas itu mereka dipesantrenkan, biar tak macam emaknya yang pembunuh ini. Sebelumnya kan kita memang udah bicarakan masalah ini, Abang pun udah setuju. Syarat terakhir pun, udah aku tunaikan. Terus tunggu apa lagi? Aku tak mau nih, berlarut-larut punya masalah sama keluarga Abang dan istri Abang itu." ungkap Adinda dengan mengeratkan genggaman tangan suaminya.
Adi mulai merasakan sesak, ia teringat kembali akan hal itu. Mau tidak mau, ia harus menunaikan talak yang harus ia ucapkan untuk Adinda.
Adi mengangkat tangan kanannya, kemudian ia langsung memegang pucuk kepala Adinda.
"Adinda, istriku…..
Tiba-tiba tangan Adi ditepis oleh ibu Meutia, "Kau gila? Mau ceraikan Dinda? Dengan anak sebanyak itu? Lebih baik kau balik sana ke kampung kau, dari pada harus cerai sama Dinda. Udah mending pisah, tanpa perceraian. Dinda dan anak-anak kau sama Umi, biar mereka hidup sama Umi." ujar ibu Meutia dengan sorot mata marah pada anaknya.
"Gak bisa begitu dong, Umi! Maya istri bang Adi, bang Adi gak boleh punya istri lain." timpal Maya dengan suara yang membuat ibu Meutia terhenyak kaget.
Maya dibuat melongo dengan ucapan Zuhra barusan, lalu ia menggelengkan kepalanya berkali-kali dengan berbalik memandang suaminya.
"Anak satu aja Umi yang menuhin, ditambah tiga putra lagi. Belum nanti bakal hamil 20x kali, rasanya batang pun akan dijualnya." ujar Adinda dengan suara pelan, tapi hal itu masih terdengar sampai ke gendang telinga Maya. Adi dan ibu Meutia yang berada di sebelah Adinda pun, bisa mendengar dengan jelas ucapan Adinda sendiri.
Namun, Adi tak memahami ucapan Adinda barusan. Karena sebelumnya, Adinda pernah mengatakan bahwa ia tak akan membawa seluruh hartanya. Tapi hari ini, seolah Adi yang akan ke luar dari rumah hanya dengan mengenakan kaos dan celana pendek saja.
"Dek, macam mana nasib rumah tangga kita?" tanya Adi dengan bersandar pada sandaran sofa, dengan tangannya merengkuh pinggang Dinda dari belakang.
"Tak ada macam mana, macam mana! Maya tanda tangani surat untuk poligami, dengan Dinda yang harus kau resmikan juga. Tengok Ghifar yang papah Abang, papah abangan terus. Tengok kembar yang Dinda kewalahan ngurusnya! Belum lagi Givan yang papah Adi bikin sayur kacang. Kau ingat di situnya, Di!" tegas ibu Meutia, yang membuat kepala Adi seketika merasa berdenyut.
__ADS_1
"Kalau aku jadi yang pertama, harusnya aku yang lebih berkuasa dong. Bukannya perempuan itu!" balas Maya yang membuat semua orang geleng-geleng kepala.
"Macam di atas kuat lama aja!" ketus Zuhra yang kembali dari dapur, dengan seteko air putih dan juga beberapa makanan ringan di tangannya.
Semua orang terbahak-bahak mendengar sahutan dari Zuhra tersebut, minus Maya saja yang terlihat begitu marah dengan aksi kurang sopan Zuhra.
"Oh iya…" ucap Zuhra dengan membalikkan tubuhnya.
"Aku pesan roti bakar nanas, Kak. Aku juga pesan martabak telor bebek, Bang. Aku juga pesen martabak manis toping keju, juga ada kue pukis pandan sama donat kentang varian toping."
"Nanti ada yang anter. Terus juga…. Aku belum bayar ya, Bang."
Ungkap Zuhra beruntun, yang mendapat pelototan tajam dari Adi.
"Sialan kau! Kirain mau jajanin, tak taunya kau minta bayarin." sahut Adi yang membuat tawa Zuhra menggema, lalu gadis itu kembali masuk ke dalam kamar. Di mana anak-anak Adi dan Adinda tengah tertidur pulas.
"Jadi udah ya, ini keputusan akhirnya. Dinda tetap istri Adi, menantu Umi dan Ayah. Dengan Maya juga sebagai istri Adi." putus pak Dodi mengalihkan perhatian semua orang.
"Aku gak mau, aku mau cerai aja." tutur Maya dengan bersedekap tangan.
"Alhamdulillah… dari tadi dong, May." tukas Adi dengan tersenyum bahagia. Lalu ia langsung memeluk Adinda yang berada di sebelahnya.
"Jangan senang dulu! Aku mau bagaian aku dan Naya juga harus adil. Lepas semua beres, aku baru mau tanda tangani itu semua." ujar Maya kemudian.
Tabiat Maya terbongkar detik ini juga. Adi dan Adinda mengetahui niatan Maya selama ini. Pak Dodi dan ibu Meutia pun, hanya bisa geleng-geleng kepala melihat keputusan Maya barusan.
__ADS_1
......................