Belenggu Sang Pemuda

Belenggu Sang Pemuda
BSP64. Bukan baby sitter


__ADS_3

"Pernikahan kau dan Dinda bisa ditangguhkan kan? Misal kau udah bagi tau dia tentang… Maya itu." ucap pamanku seperti ia ragu-ragu mengatakannya.


"Adi usahakan, Pak cek. Adi juga tak mau sampek pisah. Adi mikirin anak-anak Adi, Adi mikirin kacaunya Adi kalau sampek ditinggal Dinda. Karena Adi tau, Maya pasti tak bisa ngurus Adi sepandai Dinda." jawabku jujur.


"Pak cek malah mikirin miskinnya kau tanpa Dinda." sahut pamanku, yang membuatku langsung menoleh padanya.


"Bukannya apa-apa, udah susah payah kau pertahankan ladang itu. Sampek kuliah kau ambil fakultas pertanian, biar kau paham tentang dunia perkebunan. Kami sekeluarga bantu untuk menstabilkan ladang kau, waktu kau belum bisa ngolahnya sendiri. Tapi tiba-tiba setelah nikah, kau langsung bagi ladang kau sama Dinda semua. Kau tak punya apa-apa sekarang. Usaha kita semua selama ini kek sia-sia, Di. Kalau sampek kau dan Dinda pisah, dia pasti ambil semua apa yang udah jadi miliknya." jelas pamanku.


Wajar pamanku berpikir demikian. Apa lagi ladangku bukan ukuran meter lagi, tapi sudah hektar-hektaran. Mana diladangku mayoritas dikelola oleh keluarga besarku semua. Sudah pasti mereka menggantungkan hidupnya pada ladangku. Jika diambil alih oleh Dinda, mungkin pamanku berpikir bahwa semua anggota keluarga akan diputus kerjakan.


"Adi macam itu, biar Dinda yakin sama Adi. Adi udah tak mikirin harta lagi. Yang penting Adi bisa hidup bahagia sama Dinda. Adi pun tak menghendaki buat nikah lagi, makanya Adi pasrahkan semuanya atas nama Dinda. Karena Adi percaya sepenuhnya sama Dinda. Tapi Maya tiba-tiba hubungi Adi lagi, dan bilang bahwa dirinya udah ngandung tiga bulan. Pas Adi coba cari jalan keluar. Maya langsung ngabarin umi, dan dua hari kemudian Adi dinikahkan sama dia. Apa lagi kan kartu keluarga Adi masih ikut umi, jadi mereka lebih gampang urusnya. Sekarang pun Adi mau resmikan Dinda rasanya sulit betul. Pusing Adi, Pak cek. Kalau tak kasian sama anak yang Maya kandung, Adi udah kabur ke pedalaman sama Dinda sama Givan juga. Tapi Adi masih ada rasa kasian sama anak Adi yang ada di perut Maya." ungkapku jujur.


Aku memahami rasa khawatir pamanku. Apa lagi jelas ia sangat berjasa dalam menstabilkan ladangku, dari aku kecil sampai aku bisa mengolahnya sendiri.


Keluarga dari abiku sangat berjasa dalam kehidupanku, mungkin karena ada bayarannya juga. Tapi aku merasakan bahwa mereka mengurusku seperti mengurus anak-anak mereka sendiri.


Sampai ayah dari kak Ayu, kakak dari abiku. Membawaku ke kota istrinya, di kota L. Tempat aku menempuh pendidikan SMA dan perguruan tinggi. Agar aku bisa sekolah dengan baik, dan melanjutkan usaha abiku.


Terkadang aku merasa seperti benalu untuk mereka. Apa lagi saat mereka mengetahui, bahwa aku doyan melinting daun yang tumbuh subur di tanah Rancong ini. Mereka mati-matian membuatku lepas dari jeratan candu itu. Namun ternyata nasib berkata lain. Polisi lebih cepat meringkusku, sebelum aku lepas total dari rasa candu itu. Tentu itu membuat mereka sangat terpukul sekali. Anak laki-laki yang mereka didik dengan baik, tapi malah tak sesuai dengan harapan mereka.


"Jadi macam mana nanti?" tanya pamanku kemudian.

__ADS_1


"Mau tak mau,Adi membelenggunya kuat-kuat dengan cara Adi sendiri." jawabku, "Tapi Adi kenal Dinda, Pak cek. Dia tak mungkin ambil semua yang Adi punya, Dinda bukan tipe manusia serakah. Tapi meski macam itu, Adi tak mungkin biarin Dinda lepas gitu aja dari Adi." lanjutku kemudian.


Pamanku mengangguk mengerti, dengan sesekali ia menyesapi rokoknya.


"Meski Pak cek belum tau Maya itu, tapi Pak cek tak sreg sama dia. Apa lagi kasusnya hamil duluan, pasti lakunya tak sebaik Dinda." ujar pamanku. Dia tak tahu saja, bagaimana buruknya Dinda dulu. Sampai-sampai umi pun melarangku, karena umi mengetahui keburukan Dinda.


"Masalah se*s kan itu kebutuhan. Tak mematok pada perempuan baik-baik, atau sebaliknya." sahutku memberikan pendapatku.


"Memang kalau untuk laki-laki kebutuhan. Tapi kalau udah perempuan udah fatal kali, Di. Udah murahan dan nampak tak punya otak. Karena jelas-jelas mereka paham caranya, agar dirinya tak hamil." balas pamanku.


"Jangan ngomong macam itu loh, Pak cek. Ingat Pak cek punya anak perempuan." tuturku menginginkan. Karena aku menyaksikan sendiri bagaimana Dinda dimaki umi, saat aku ketahuan menemui Dinda di rumah Haris. Namun kejadian buruk malah menimpa putrinya sendiri. Zulfa sekarang tak suci laki, dan jelas mungkin sekarang ia sering melakukannya dengan Jefri.


"Astagfirullah, Zulkifli Ishaaq itu? Duda anak dua dia, Pak cek." ucapku yang langsung diangguki oleh pamanku. Yang benar saja. Sayang betul selaput darah milik Liana.


"Dapat duda nanti yang ada Liana malah dijadikan baby sitternya anak-anaknya loh, Pak cek." lanjutku berucap kembali.


"Rupanya kau pengalaman ya? Padahal kau bujang, kau laki-laki. Tapi tetap jadi baby sitter jandanya kau." sahut pamanku. Mengejek apa bagaimana pamanku ini? Sialan memang! Malah dibalikan pada keadaanku.


"Enak aja!!! Aku bukan baby sitternya." elakku, agar harga diriku tak turun.


"Terus apa namanya? Ngasuh anak, nyuapin makan sampek nelatenin ke jalan-jalan. Belum lagi sering Pak cek tengok, kau tengah nyapu, jemur pakaian, kadang lagi lap-lap kaca. Suram betul kau dapat janda." ledek pamanku, lalu ia tertawa puas sampai terbatuk-batuk.

__ADS_1


"Namanya sayang istri lah, Pak cek. Karena anak bukan tanggung jawabnya Dinda aja. Givan pun anak Adi, Adi ada kewajiban buat ngurus dia. Masalah pekerjaan rumah memang Adi kan ringan tangan. Dulu pun di sini Adi sering bantuin nyapu halaman. Tak masalah, Adi nampak kelihatan berkharisma dan jantan." balasku dengan bangga.


"Ya, ya, ya. Pejantan tangguh, sama istri kalah mutlak. Kau cakap macam Pak cek tak tau aja." ujarnya, lalu ia berlalu pergi menuju ke kamarnya.


Hmm, orang tua! Bikin kesal saja! Mulutnya itu loh, bikin aku naik pitam. Segala aku diledekinnya habis-habisan. Di rumah diledekin istri sama anak, di rumah saudara pun masih kena ledek juga. Haduh, Adi Adi!!! Nasib-nasib.


Aku berjalan menuju kamar Liana. Dan aku membuka pintunya sedikit. Terlihat Liana tengah menonton kartun dua plontos dengan anakku. Sambil mengemil beberapa kue kering, yang mungkin sengaja Liana siapkan di dalam kamarnya.


"Li… Hisssstttttt, Liana…" panggilku pelan. Liana menoleh ke arahku, dan ia bertanya dengan mengisyaratkan dengan dagunya.


"Abang di kamar sebelah ya, mau rebahan. Kalau Givan rewel, bilangin aja suruh ke Abang." ucapku pelan. Lalu Liana mengangguk mengerti.


Dan aku berjalan menuju kamar tamu. Untuk meluruskan pinggangku, sekaligus ingin menelpon Zulfa. Aku ingin sedikit menyaksikan acara tujuh bulanan Maya.


Sudah sebesar apa perutnya sekarang? Dan perkembangan anakku dalam perutnya bagaimana? Sebetulnya aku pun ingin menemaninya untuk mandi dalam acara sakral itu. Tapi bagaimana dengan Dinda? Pasti ia curiga, apa lagi akhir-akhir ini banyak konflik antara aku dan Dinda.


Aku menyentuh beberapa icon, untuk bisa menghubungi Zulfa. Dan setelah beberapa saat...


TBC.


Papah yang baik.. untuk anaknya Maya juga ternyata 😌

__ADS_1


__ADS_2