
AUTHOR POV
Adi berniat menemui seseorang yang sudah Zuhra janjikan. Ia begitu penasaran dengan gerak-gerik Zuhra. Sampai-sampai tak diketahui oleh orang tuanya, bahwa Zuhra sudah bermain dengan dunia luar sejauh ini.
Ia keluar dari rumahnya, dengan mengendarai mobil milik Zuhra.
'Edan ini anak! Tak belajar dari cerita abangnya. Malah ia terjun sendiri ke jalanan.' gerutu Adi, dengan mulai menjalankan kendaraannya.
Beberapa saat kemudian, Adi sudah berada di tempat yang sudah dijanjikan.
[Aku udah di posisi, Om.] tulis Adi, dan ia langsung mengirimkan pesan chat pada seseorang yang sering mengajak Zuhra untuk bertemu itu.
[Ok, aku berangkat.] balas dari orang tersebut.
Tak lama, di depan Adi muncul mobil sejuta umat yang berhenti di depannya. Lalu orang yang memiliki wajah, sama dengan foto dalam aplikasi chatnya. Menghampiri mobil yang Adi naiki, dan ia langsung mengetuk jendela mobil sedan mewah tersebut.
Adi langsung membuka pintu tersebut, dan mencekal tangan laki-laki yang sudah terlihat seperti om-om itu. Dan memutar tangan orang tersebut ke belakang, membuat pergerakan orang tersebut terkunci.
Orang tersebut meringis kesakitan, karena ia merasakan tangannya seperti akan dipatahkan.
"Heh, Woy!!!" seru seseorang yang keluar lagi dari mobil yang berada di depan Adi. Rupanya orang ini tak hanya sendirian untuk bertemu dengan Zuhra.
Terlihat Adi tak gentar, saat orang yang baru keluar dari mobil tersebut. Berjalan cepat ke arahnya, lalu ia menempelkan senjata tajam pada leher Adi.
Adi menoleh ke orang yang menempelkan senjata pada lehernya.
"Sialan kau, Di! Nakutin aja!" ujar orang tersebut, lalu ia mengamankan senjata tajamnya lagi.
Adi malah terkekeh kecil, saat ia mengenali orang yang menempelkan pisau kecil nan tajam tadi.
Lalu adi melepaskan tangan orang yang ia kunci tersebut.
"Sial betul rasanya aku ketemu kau. Keknya, bau-bau aku kena ringkus lagi ini." ujar orang tersebut.
"Rekan baru kau ini? Lepas sama Romli, kau lanjut bareng dia?" tanya Adi yang mendapat anggukan dari laki-laki pemegang pisau tadi. Yang tak lain adalah seseorang yang Adi kenal, Alif Naufal. Pemasok barang haram untuk Adi dan kawan-kawannya dulu. Ia dulu menjadi pengirim barang dengan Romli, kawan Adi yang sekarang beralih profesi sebagai penjual obat kuat. Yang saat itu menawarkan dagangannya pada Adi, waktu Adi baru menikah dengan Adinda.
__ADS_1
"Kau mau ambil barang? Cepatlah ambil, terus aku mau cabut nih. Pasti sial aku kalau ketemu sama kau." ujar Alif, karena ia masih ingat nasibnya saat Adi dan semua kawannya terjaring oleh polisi. Dengan dirinya pun yang harus mendekam di jeruji besi. Namun, nasib mujur masih berpihak padanya. Ia bisa keluar kembali, berbarengan dengan Adi dan segerombolan kawan Adi.
"Kau tau Zuhra, yang bawa mobil ini?" tanya Adi langsung.
"Ya, tau. Kenapa?" jawab Alif kemudian. Berbeda dengan laki-laki gempal, yang terlihat seperti om-om itu. Ia hanya menyimak percakapan Adi dan rekannya tersebut.
"Ngapain dia ketemuan sama kalian di sini?" sahut Adi cepat. Ia tau, rekannya memiliki waktu yang tak banyak.
"Dia mau ambil barang sama aku." balas Alif kemudian.
"Hah? Dia pemakai? Udah berapa lama? Terus barang apa?" tanya Adi terburu-buru.
"Ya, dia makek. Baru tiga bulan terakhir. Gele, macam kau dulu." jelas Alif, "Udah ya, aku buru-buru nih." lanjutnya dengan menepuk bahu Adi.
Adi langsung memasuki mobil yang ia kendarai, dan ia langsung menuju ke jalanan ramai. Ia pun merasa ngeri dengan jalanan sepi, untuk menuju tempat yang sudah dijanjian tadi.
'Zuhra pemakai. Pasti susah lepas kalau aku bawa dia balik. Kalau di rumah rehabkan, dia pasti kena pasal terus dipidana juga. Pusing betul aku.' gumam Adi dalam hati. Dengan menjambak pelan rambutnya.
~
Adi baru selesai dengan aktifitas olahraganya. Setelah ia selesai mencuci tangan dan membasuh mukanya. Ia mengambil posisi duduk sebelah Zuhra.
"Umi, Ayah… Nanti kalau Abang balik, lepas Maya lahiran. Abang mau bawa Zuhra ke sana, biar dia ikut Abang aja." ucap Adi dengan wajah seriusnya.
"Macam tak punya orang tua aja! Semalam aja kau semprot dia, sampai dia menggigil. Kalau dia ikut sama kau nanti, entah apa yang terjadi." sahut pak Dodi. Ia masih merasa kesal pada Adi, karena tanpa masalah yang jelas. Tiba-tiba Adi bertindak yang tak mengenakan hati ayahnya. Karena kedudukan Zuhra sebagai anak bungsu, memiliki tempat tersendiri di hati orang tua.
"Logikanya, Abang tak mungkin bertindak macam itu. Kalau Zuhra tak buat masalah." balas Adi, "Pokoknya, Zuhra harus ikut Abang. Umi sama Ayah fokus urus Zulfa aja. Minta dia balik ke sini, karena Jefri pun mau balik ke kota M. Kasian Zulfa tak ada yang jagain di sana." lanjut Adi kemudian.
"Tapi, tapi Zuhra… gak mau ikut Abang. Biar Zuhra di sini aja, Bang." ujar Zuhra dengan perasaan takut yang mendominasi dirinya.
"Abang tak mau dengar penolakan apa pun. Mau tak mau, kau harus ikut sama Abang. Yang nurut sama Abang." tegas Adi.
Lalu Adi bangkit dari kursinya, karena ia menyadari sesuatu. Yaitu lehernya, yang tengah diamati oleh ayahnya. Adi masih ingat, bahwa di lehernya penuh dengan tanda merah.
"Zuhra mergokin kau maen perempuan rupanya. Sampai kau semarah itu ke Zuhra. Kau takut Zuhra ngadu ke Ayah sama Umi, kan?" tuduh pak Dodi, membuat langkah kaki Adi terhenti.
__ADS_1
"Mana ada!" jawab Adi dengan memutar tubuhnya menghadap ke ayahnya.
Pak Dodi menggelengkan kepalanya, "Kau udah dewasa, Di. Kau udah mau tiga puluh tahun. Kau masih macam itu aja kah? Kau tak ingat istri kau yang tengah ngandung itu kah? Padahal kau keturunan dari orang baik-baik, Di. Kau paham agama, kau pandai ngaji. Tapi Ayah tak sangka, bahwa kau macam itu. Cukup, Di… jangan bikin kecewa orang tua terus!!! Jangan bikin ulah terus!" ungkap pak Dodi dengan pandangan lurus ke arah Adi.
"Terserah Ayah mau ngomong apa. Abang tak seburuk yang Ayah kira. Makanya Abang tak betah di rumah, karena beginilah. Kesalahan dalam bentuk apa pun, pasti kesalahan Adi lebih dulu diungkit lagi." lalu Adi berjalan manaiki lantai dua.
Tak lama, ia kembali dengan pakaian yang sudah berbeda. Ia sudah mengenakan jaket berhodie, dan celana jeans panjang
Adi berjalan ke arah ibunya, "Umi jaga kesehatan. Abang ke Maya dulu." tutur Adi, dengan mencium pipi ibunya sekilas.
"Naik apa, Bang?" tanya Edi berseru.
"Kereta api." jawab Adi dengan melanjutkan langkah kakinya.
Adi berjalan menuju minimarket terdekat, ia membeli minum dan roti bungkus.
'Lapar betul. Biasanya udah sarapan, dilayanin Dinda. Ini jam segini perut masih kosong melompong aja. Mana pagi-pagi macam ini, dihidangin debat.' gumam Adi pelan, sambil duduk di kursi depan minimarket.
Lalu Adi memainkan ponselnya, untuk memesan ojek online. Yang akan mengantarkannya ke stasiun kereta api.
Setelah selesai menghabiskan rotinya, Adi langsung meneguk air mineral kemasan tersebut.
Tak lama, ada ojek online yang berhenti tepat di depan minimarket.
Dan Adi langsung menghampirinya. Setelahnya ia memastikan bahwa ojek itu adalah ojek yang ia pesan. Lalu ia menaiki motor tersebut, dan berlalu pergi menuju stasiun kereta api.
Sesampainya ia berada di stasiun, Adi langsung memesan tiket untuk kepulangannya ke kota C.
Namun ia harus bersabar, karena kereta api yang akan mengantarkannya. Akan tiba sekitar dua jam lagi.
Ia memainkan ponselnya, dan menempelkannya pada telinganya.
"Hallo…
TBC.
__ADS_1
Abang nelepon siapa nih?