Belenggu Sang Pemuda

Belenggu Sang Pemuda
BSP234. Rumah sakit atau hotel?


__ADS_3

Flashback on


Seluruh anggota keluarga menatap tajam pada Adinda, yang baru saja menolak lamaran Amrin. Arif yakin, hanya Amrin yang tepat untuk adiknya. Afan juga meyakini, bahwa Amrin tak akan pernah ditolak oleh adiknya. Karena sepengetahuan keluarganya, Adinda tak memiliki kekasih dan calon suami. Jadi bagaimana mungkin? Adinda bisa menolak lamaran, seseorang yang dicap sebagai laki-laki yang baik dan bertanggung jawab tersebut.


"Mau cari yang kaya gimana lagi?" pertanyaan yang muncul dari mulut ayah kandung Adinda.


"Mau sama Jefri? Atau Haris? Coba suruh mereka ke sini!" timpal Arif yang memang cukup mengenal baik kedua teman adiknya tersebut.


"Tak, A. Sama bang Haris dan bang Jefri cuma berkawan aja." jawab Adinda dengan menundukkan kepalanya.


"Ohh, Ibu tau. Jangan-jangan laki-laki yang sama ibunya ke sini kemarin hari itu?" tuduh ibu Risa.


"Ibu udah ngerasa aneh, pas ada laki-laki main ke sini bawa ibunya. Buat apa coba dia main ke rumah perempuan, sama ibunya lagi? Mana mereka asli orang A*** lagi, orang sebrang. Kamu suka sama laki-laki itu? Sampe Givan kamu ajarin buat manggil dia papah."


"Jangan bikin susah diri kamu sendiri, Din. Memang gak semua orang sana kaya yang kita sangka, tapi khawatirnya yang kamu pilih itu malah yang kita sangkakan itu. Orang sana tempramen, sekali marah kedengaran satu RT. Untung-untungan kalau gak main tangan, kalau main tangan juga bisa babak belur kamu. Belum lagi kalau ternyata dia pelit, kamu nanti masih disuruh kerja aja meski udah punya suami dia." ucap pak Sodikin dengan memperhatikan wajah anaknya yang terlihat tertekan tersebut.


"Udah mana jauh, kalau kamu ikut dia gimana kita nengok kamunya?" lanjut pak Sodikin kemudian.


"Lagian laki-laki itu juga kayanya gak suka sama kamu, kamunya aja yang terlalu kegeeran." timpal Arif dengan tersenyum miring. Sedikit banyaknya ia tahu kegiatan adiknya selama di luar rumah.


Arif memahami adiknya tak memiliki tujuan hidup, setelah perceraiannya. Ia pun mengetahui pergaulan adiknya yang terlalu bebas, tapi ia masih menahan dirinya agar tak mengatakan pada orang tuanya.


Adinda menoleh ke arah kakak keduanya tersebut, terlihat Arif tengah membuang wajahnya ke arah lain sambil menggelengkan kepalanya.


"Tapi aku yakin, aku yakin bang Adi juga ngerasain hal yang aku rasain. Aku paham laki-laki yang pura-pura atau beneran suka, nampak jelas di matanya kalau bang Adi tak pura-pura meski dia belum ada bilang apa-apa." ujar Adinda yang menarik perhatian semua keluarganya.

__ADS_1


"Adi siapa?" tanya Afan yang tak mengetahui laki-laki yang tengah dibicarakan kali ini.


"Itu, bosnya di provinsi A. Dia ada di sini, tapi dia ngirim Dinda buat kerja di sana." jelas Arif yang mendapat anggukan kecil dari Afan.


"Punuk merindukan bulan. Jangan mimpi bisa merangkul gunung, Din. Yang sederajat aja lah, mabokin bos sedangkan keadaan kamunya udah ada anak gini." ucap Afan dengan santainya, ia mengulurkan tangannya untuk mengambil kacang sangrai yang tersaji di meja tamu. Lalu ia membuka dan memasukannya ke mulutnya.


"Udah mana orang A***, dia bos lagi. Sedangkan kamu apa coba? Buat makan besok aja, kamu dadak cari kan? Yang paham keadaan kamu, Din. Cari yang sederajat, yang sederhana aja yang penting baik buat kamu dan keturunan kamu."


"Dia punya istri kamu nanti. Terus dia ada urusan bisnis di kota lain, nanti dia punya istri lagi. Begitu seterusnya, sampek masanya kamu tau segalanya. Kan jangan sampai kaya gitu, kan?"


Ungkap pak Sodikin, yang berakhir membuat Adinda mengangguk lemah.


"Udah aja! Jangan terlalu mikirin Adi, jangan berusaha ambil hatinya Adi. Tinggalin yang udah-udah, fokus kerja kalau memang belum pengen nikah. Jangan mainan laki-laki aja, fokus ke toko atau usaha yang jelas buat masa depan Givan." putus pak Sodikin yang membuat Adinda menahan air matanya.


Adinda menatap kedua telapak tangannya yang berair. Ia paham keputusan orang tuanya, yang tetap tak menginginkan menantu yang telah dirinya pilihkan.


Ingatan pak Sodikin akan hal itu, membuatnya semakin merasa bersalah. Jika ia tahu, anaknya dan bos dari anaknya tersebut saling mencinta. Mungkin saat itu juga, ia akan meminta Adi langsung menikahi anaknya tersebut. Akan tak membuat cinta anaknya menjadi rumit, berakhir hingga anaknya lagi yang harus berkorban akan segalanya yang sudah terjadi.


"Biar apa, Pak? Dinda ngeflek sekarang, terus di bawa ke rumah sakitnya besok. Sengaja kah biar anak Adi yang ini tak selamat?" tanya Adi dengan memperhatikan wajah mertuanya tersebut.


"Segala masalah sudah Adi lewati dengan baik, juga Adi masih bertahan sampek sekarang. Adi tak mungkin ninggalin Dinda, dengan segenap perjuangannya ngelahirin anak Adi sebanyak ini. Adi juga bakal mati-matian, buat ngasih makan dan pendidikan anak Adi dengan baik."


"Abang..! Udah sana bawa Dindanya dulu, tenang aja anak-anak kami yang jaga." ucap pak Dodi, yang melihat wajah anaknya sudah merah padam. Menunjukkan Adi yang tengah dikepung emosi.


"Ya, Yah." sahut Adi dengan berbalik badan, kemudian mengayunkan kembali kakinya menuju kamarnya.

__ADS_1


Saat Adi membuka pintu kamarnya, terlihat Adinda tengah duduk di tepian tempat tidur dengan wajah pucatnya.


Pikiran Adi bertambah kacau, memahami keadaan istrinya yang tengah lemah tersebut.


"Yuk Abang gendong, biar romantis." ajak Adi dengan tersenyum manis. Ia mencoba membuat istrinya tak panik, dengan keadaannya sekarang.


"Jadi? Kita malam pertamanya di tunda kah?" tanya Adinda setelah berpegangan pada leher suaminya.


Adi melirik sekilas pada mata istrinya, lalu ia mengangguk dan tersenyum samar.


"Huft… setiap malam pertamaan, pasti ditunda. Waktu habis digrebek dulu tak jadi langsung waheho karena aku sakit tifus, mana empat malam di rumah sakit lagi. Sekarang malah flak, udah pasti bakal lama lagi aku dimasukinya." gerutu Adinda yang membuat Adi ingin terbahak-bahak.


"Udah deh, jangan bikin ngac*ng." timpal Adi yang membuat Adinda tetawa puas dalam gendongan suaminya.


Semua orang menatap ke arah tangga, yang memperlihatkan Adi yang tengah menggendong mesra istrinya yang tertawa puas tersebut.


"Kau mau ke rumah sakit, apa mau cek in di hotel? Katanya ngeflek, bisanya pada ketawa-ketawa?" tanya ibu Meutia dengan mata yang masih tertuju pada anak sulungnya dan menantunya tersebut.


"Itu, Mi. Dinda kata malam pertamanya ditunda lama, setiap malam pertama pasti begini." jawab Adi dengan melenggang pergi, masih dengan posisi Adinda yang bergelayut manja pada lehernya tersebut.


Rahang ibu Meutia terjatuh, mendengar ucapan anaknya tersebut.


"Steril kau lepas lahiran ini, Din! Anak udah banyak, malam pertama kau pikirkan terus. Heran Umi, tak perempuan tak lakinya sama aja!" seru ibu Meutia kemudian. Membuat seluruh orang yang mendengarnya, tertawa geli mendengarnya.


"Steril mempengaruhi hormon tak itu? Nanti yang ada, Dinda tak mau lagi. Adinya suka yang enak-enak, Dindanya sukanya dienakin. Ya udah klop, bisa bikin RT sendiri sama anak-anaknya nanti." ucap pak Dodi pada istrinya. Membuat pembahasan malam ini, menjadi semakin riuh karena anak-anak Adi dan Adinda yang saling baku hantam.

__ADS_1


......................


.


__ADS_2