
"Di mana tempatnya, Pak cek?" tanya Adi dengan serius.
"Provinsi L. Tanah di daerah sana masih lumayan murah, Di. Ya memang daerah sini juga, tapi karena kawan Pak cek butuh uang. Bisa jadi harganya lebih murah dari pasaran." jawab pak Akbar. Pak Akbar menginginkan Adi bisa mengolah keuangannya, apa lagi ia tahu bahwa rumah tangga Adi dan Adinda tengah diterpa badai. Ia hanya mengharapkan Adi jatuh tak terlalu dalam, saat Adinda meninggalkan Adi.
Adi mengangguk mengerti, "Coba dihubungi dulu orangnya Pak cek." tukas Adi kemudian.
Pak Akbar mengangguk, kemudian langsung menghubungi seseorang di ponselnya. Dengan panggilan suara yang sengaja di-loudspeaker, agar Adi dapat menyimak obrolannya.
Beberapa menit berlalu, akhirnya Adi menyetujui usulan dari pamannya tersebut. Yang ada dipikiran Adi, hanya untuk anak dan istrinya. Berbeda dengan pikiran pak Akbar, yang memikirkan nasib Adi jika nanti ditinggalkan oleh Adinda.
"Tapi… Pak cek minta, sertifikat tanahnya atas nama kau aja ya." ucap pak Akbar dengan memperhatikan wajah Adi, yang sekilas terlihat begitu mirip dengan almarhum kakak kandung dari pak Akbar tersebut.
"Kenapa macam itu? Aku mau atas namakan Dinda aja. Karena anak Adi sama Dinda nanti tak punya akte lahir." jawab Adi dengan heran.
"Pokoknya atas nama kau aja. Nanti biar Pak cek yang urus. Kau tinggal kirim aja uangnya, ke nomor rekening tadi." sahut pak Akbar yang sepertinya tak bisa dibantah.
"Tapi Pak cek, nanti dek Dinda marah kalau Adi tak bilang dulu." balas Adi, dengan menoleh ke arah pintu belakang rumahnya yang terbuka dan menampilkan Zuhra di sana.
"Ya kau bilang sekarang, nanti kau bilang aja suratnya langsung diurus sama Pak cek. Dinda juga setau Pak cek, tak pernah minta tanah dan lain sebagainya. Dia cuma minta uang kan? Kenapa juga kau mesti kasih surat tanah segala. Bucinnya melebihi batas kau sih. Bucin itu sewajarnya aja, macam abi kau. Makanya kau dapat semua warisan dari abi kau. Coba kalau abi kau bucin macam kau. Dia meninggal, yang kaya nanti umi kau sama suami barunya. Kau tak dapat apa-apa selain warisan dari abusyik." jelas pak Akbar kemudian.
Tentu ucapannya didengar jelas oleh Zuhra, jelas membuat Zuhra merasa tak enak hati.
Apa lagi keadaan ayahnya jelas sangat membutuhkan bantuan biaya dari kakaknya tersebut.
"Abi ya abi, ya. Adi ya Adi, jelas tak sama." sahut Adi kemudian. Pak Akbar hanya terkekeh ringan, kemudian langsung pamit pulang. Karena hari sudah semakin malam. Tentu saja mereka sudah melewatkan shalat maghrib mereka.
Adi meregangkan ototnya, ia merasa pegal duduk dengan waktu cukup lama. Lalu ia berdiri, lalu memutar tubuhnya untuk kembali ke dalam rumah.
"Bang…" suara Zuhra terdengar seperti ragu-ragu.
Adi memperhatikan wajah Zuhra, kemudian ia berjalan ke arahnya. Lalu merangkul Zuhra, untuk membawanya masuk.
__ADS_1
"Apa, Dek? Udah makan belum kau?" ucap Adi dengan melangkah beriringan dengan adiknya.
Adi adalah seorang kakak yang baik dan hangat untuk adik-adiknya, meski jarang berkomunikasi. Tapi Adi cukup memahami karakter adik-adiknya.
"Bang, aku mau minta uang. Aku, aku…" ungkap Zuhra ragu. Dengan langkah kakinya yang berhenti mendadak, tepat di dapur rumah Adi.
"Apa, Dek? Kau kenapa? Minta uang buat apa? Kuota kau habis kah?" tanya Adi beruntun, dengan menutup jendela kecil. Untuk fentilasi dapurnya.
"Aku datang bulan, aku gak punya stok pembalut. Perut aku juga gak nyaman, mau sekalian beli plester untuk kram perut gara-gara haid." ungkap Zuhra dengan menundukkan kepalanya.
"Aku gak berani minta sama kak Dinda." lanjutnya kemudian. Jelas Zuhra merasa canggung pada Adinda, karena Adinda adalah orang lain yang tiba-tiba menjadi kakak iparnya. Apa lagi mereka baru akrab akhir-akhir ini.
"Oh, kirain minta barang lagi. Kemarin kan udah Abang kasih. Ingat ya, Dek. Abang cuma kasih dua kali seminggu." sahut Adi dengan memberikan atensi pada Zuhra.
Zuhra mengangguk mengerti, "Ayo Bang, ke minimarket." ajak Zuhra dengan bergelayut manja pada lengan kakaknya. Kemudian mereka melangkah masuk untuk menemui Adinda.
"Awas, Dek. Banyak kakak kandung yang nyabulin adiknya sendiri jaman sekarang tuh. Ati-ati tuh, apa lagi kau sama bang Adi kan bukan sedarah." ungkap Adinda dengan memicingkan matanya.
Berbeda dengan Adi yang paham, bahwa istrinya hanya bercanda saja. Istrinya juga pasti paham, Adi orangnya seperti apa.
"Biasa aja, Woy." seru Adi dengan meraup wajah tegang Zuhra. Membuat Adinda tertawa terbahak-bahak dengan menunjuk pada Zuhra.
Zuhra menghentakkan kakinya, kemudian langsung duduk di tepian tempat tidur Adinda. Dengan tangan yang reflek memukul pelan Adinda.
"Akak nakutin aku aja. Kan ngeri aku dengarnya." ucap Zuhra dengan bergelayut manja pada Adinda yang tengah duduk bersandar pada kepala ranjang.
"Macam perawan aja kau!" ejek Adi dengan melirik sekilas pada adiknya. Kemudian melanjutkan untuk mengambil uang pada dompet istrinya, karena ia tak memiliki uang cash saat ini.
"Ada ya Kak, abang kaya Bang Adi gitu?" ujar Zuhra pada Adinda, dan mereka terkekeh geli setelahnya.
"Tapi beneran loh, Dek. Pernah ada kasus macam itu. Mana itu orang terdekat Akak sendiri." ungkap Adinda kemudian.
__ADS_1
"Siapa, Kak? Terus gimana ceritanya?" tanya Zuhra begitu penasaran dengan cerita kakak iparnya tersebut.
"Ya ada… tapi sama ayah tirinya, sampai hamil dan dipaksakan menggugurkan kandungannya. Sampai akhirnya… adik perempuan tersebut meninggal." jawab Adinda membuat bulu kuduk Zuhra bergidik ngeri.
Zuhra yang akan menayangkan lebih lanjut, malah urung karena seruan dari kakaknya.
"Nih, lima puluh ribu cukup tak?" tanya Adi dengan menyerahkan uang yang ambil dari dompet istrinya, tentunya sudah mendapat izin dari pemiliknya.
"Kasian loh aku, Bang. Aku gak pernah jajan di sini." sahut Zuhra yang bermaksud meminta uang lebih pada kakaknya.
"Perasaan, Abang banyak nyetok makanan di kulkas. Di rak dapur juga banyak makanan ringan. Itu tiap malam ada aja yang ambilin, entah siapa itu pelakunya. Terus tiba-tiba pas pagi, banyak sampah bekas makanan keluar dari kamar kau. Ngeri betul ya?" balas Adi dengan nada suara seperti menceritakan hal seram. Membuat Zuhra tersenyum malu, dengan Adinda tertawa geli.
"Tak jajan juga di sini banyak cemilan. Kak Dinda pernah kena tifus gara-gara jajan sembarangan, jadi Abang inisiatif buat nyetok jajanan yang jelas halal dan toyiban aja. Takut malah yang lain, yang kena tifus." ucap Adi kemudian.
"Nih uangnya, sana beli sama Safar. Masih ada kan dia di depan?" lanjut Adi bertanya pada Zuhra.
"Malu lah aku, Bang. Masa bawa lima puluh ribu ke minimarket, mana cuma mau beli pembalut aja lagi." tolak Zuhra dengan melirik pada laptop yang berada di pangkuan kakak iparnya.
"Jauh loh, Dek. Minimarket di depan jalan raya sana. Beli di toko ceknya Shasha aja tuh, sana minta temenin Givan. Di depan rumahnya kak Ayu tuh, Dek. Kan tak begitu jauh juga dari sini. Ada kali cuma pembalut aja sih." ujar Adi dengan merebahkan diri di atas tempat tidur.
Zuhra beranjak dari posisinya. Namun, langsung mendapat seruan dari Adi.
"JOROK!!! Cuciin sana sprei kasur Abang." tegas Adi membuat Zuhra menghentikan langkahnya. Lalu menoleh langsung pada kakaknya yang terlihat begitu marah.
TBC.
Jorok kenapa jeh?
Nyantai aja dulu, kan kemarin abis nangis bombay 😅
Nanti lanjut nangis lagi kan malah bikin susah nafas, sabar ya. Ini aku ajak naik biang lala, bareng Belenggu Sang Pemuda 😉
__ADS_1