Belenggu Sang Pemuda

Belenggu Sang Pemuda
BSP91. Rencana yang gagal


__ADS_3

Siang harinya, setelah kambing datang. Aku langsung menyuruh orang untuk mengatur aqiqah untuk Naya. Aku yang memang tak memiliki pegangan uang yang banyak, lebih memilih membagikan daging dalam keadaan mentah.


"Tak jadi kita nyate kambingnya?" tanya Jefri dengan membantu memasukkan daging kambing dalam plastik.


"Tak, uang aku tak cukup. Ini aja dua juta setengah. Ok lah biaya rumah sakit Maya kecover dengan B*JS yang dari tempat kerja Maya kemarin. Tapi kan untuk kebutuhan lainnya, tetep aku ngeluarin uang. Belum peralatan bayi kemarin kan belum lengkap." ungkapku terus terang. Karena aku membawa semua kartu ATM milikku, meski Dinda mengizinkan aku untuk membawa semuanya. aku sadar keadaan keuanganku dengan Dinda yang belum mendapat pemasukan, sejak uang deposito itu cair. Sedangkan kartu ATM yang lain, tabungan saat aku muda dulu. Aku malah lupa di mana menyimpannya, biar nanti aku tanyakan pada mak cek atau kak Ayu saja. Mana tau mereka ada yang tahu.


Hasil peternakan puyuh, Dinda fokuskan untuk mengembangkan usaha puyuhnya. Dan hasil dari ladang kopi. Tentu baru mengalami perubahan, jelas keuanganku belum begitu stabil. Kalaupun stabil, pasti pembagian lebih banyak masuk ke rekening Dinda.


"Pusing ya Di jadi orang tua?" tanya Jefri kemudian.


"Pusing sih tak juga, cuma masalahnya aku punya dua dapur dan dua negara. Nah negara yang di sana lebih berkuasa, jadi biar negara ini sejahtera aku pusing mikirnya. Mana kalau negara itu tau, bahwa presidennya punya negara lain bisa di penggal kepala presidennya." ungkapku miris. Jefri malah tertawa lepas mendengar ucapanku barusan.


"Enak tuh punya satu negara dan satu dapur. Sejahtera, adem, damai, bahagia, sentosa tiada duanya." lanjutku kemudian, dengan tersenyum lebar.


Jika perceraian aku dengan Maya cepat di proses. Maka dengan mudahnya aku hidup bahagia bersama Dinda.


"Jadi kapan kau balik? Itu terasi titipan Dinda udah ada di rumah kau, buat kau bawa ke sana." sahut Jefri dengan memindahkan daging kambing yang sudah dibungkus dengan plastik.


"Besok. Malam ini kita melekan, mumpung kau sama Haris besok libur." balasku yang disahuti dengan gumaman pelan dari Jefri. Lalu ia pergi membantu membagikan daging itu dengan Zulfa.


Zulfa dan Jefri terlihat seperti om dan keponakan. Jefri terlalu tua untuk Zulfa. Entah mengapa, jika aku melihat hasil fotoku dan Dinda. Aku nampak lebih muda dari umurku, aku seperti terbawa dengan usia Dinda.


Aku juga bingung, Zulfa bisa cinta mati pada Jefri karena apanya. Karena menurutku Jefri terlihat biasa saja, bentuk tubuhnya pun tak ideal sepertiku dan Haris. Hanya saja memang Jefri lebih tinggi dari Haris. Haris paling pendek diantara kami bertiga.


Tak ada yang menarik darinya. Hanya saja memang ia terlihat begitu terpelajar dan berwibawa saat mengenakan jas putihnya. Kalau aku jelas, aku tampak terlihat begitu sholeh dan menarik saat mengenakan sarung. Itu yang Dinda katakan, entah ia sengaja agar aku giat memakai sarung.


Aku mencari nama a Arif dalam kontak teleponku, dan menjauh dari sekitar rumah. Aku ingin memberitahu mereka, bahwa besok aku akan pulang. Dan berencana mengajak ibu dan bapak mertuaku dari Dinda.


"Assalamualaikum, A." ucapku mendahului.


"Wa'alaikum salam, kenapa Di?" sahutnya langsung.


"Besok Adi balik ke provinsi A. Dinda minta ibu dan bapak ikut, buat acara tujuh bulanannya." ungkapku dengan mengawasi kegiatan pembagian daging aqiqah itu, di sekitaran rumahku.


"Oh, iya. Nanti aja kamu ngomong langsung ke ibu sama bapak." balas Arif yang sepertinya tengah sibuk di peternakan. Karena terdengar suara burung petelor itu.


"Maksudnya biar Adi pesankan penerbangannya dari sekarang. Soalnya kalau tiket pesawat tak bisa dadakan, A. Paling bisa pesan sore buat malam, pesan malam buat pagi. Macam itu A." jelasku dalam panggilan telepon.

__ADS_1


"Oh gitu. Ya udah sore aja nanti telepon lagi. Soalnya ini masih di tempat ternak." ujarnya. Betul kan tebakanku, ternyata ia masih berada di peternakan.


"Ok A, nanti abis ashar Adi telpon lagi." tuturku. Lalu a Arif mengiyakan dan aku langsung mengakhiri panggilan teleponku.


Aku ingin memberikan kejutan pada Dinda. Lebih baik aku tak mengabari kepulanganku. Aku ingin melihat Dinda tanpa persiapan, saat menyambut aku yang tiba-tiba muncul di hadapannya.


~


~


Setelah aku membantu Maya untuk mandi. Giliran aku yang mandi dan segera menunaikan shalat ashar. Setelahnya, aku membawa Naya dalam gendonganku. Dengan menyenandungkan shalawatan, ia masih begitu kecil. Berat badannya malah turun satu kilo, sebelum dirinya pulang dari rumah sakit. Namun, terlihat keadaannya baik-baik saja dan menurut pemeriksaan medis. Naya pun baik-baik saja, tak ada masalah pada tubuh mungilnya. Saat ibunya mengalami kecalakaan itu.


Namun kami di sini harus selalu menjaga Naya agar tetap hangat, kain pun selalu menyelimuti tubuhnya. Pakaian yang ia kenakan berlengan panjang, dengan topi yang selalu menutupi kepalanya. Rambutnya hampir tidak ada, begitu tipis dan jarang-jarang.


"Bang, itu A Arif telpon." seru Maya dari dalam kamar. Oh iya, aku melupakan hal itu.


"Heran aku sama kau. Bersin katanya sakit jahitannya, tapi kau bisa ngomong kenceng." ucapku setelah berada di dalam kamar. Lalu aku meletakkan Naya di tengah tempat tidur, dengan begitu hati-hati. Dan setelahnya, aku mengambil ponselku di nakas.


"Bang, aku harus ganti perban." ujar Maya saat aku hampir keluar dari kamar.


"Ya, A." ucapku dengan menempelkan ponselku pada telingaku.


"Gimana, Di?" oh, ternyata ibu mertuaku yang menelponku.


"Macam ini, Bu… Adi kan besok balik ke provinsi A, nah Ibu sama Bapak diminta ikut pulang sama Adi. Katanya buat acara tujuh bulanannya." ungkapku langsung. Dengan berjalan menjauhi rumah.


"Memang harus tujuh bulanan, Di? Di sini biasanya tujuh bulanan hanya untuk anak pertama aja." sahut ibu mertuaku.


"Kan itu anak pertama Adi." jawabku dengan memperhatikan mobil ayah yang baru sampai di depan rumahku.


"Bukanlah, anak pertama kamu ya itu dari yang kedua. Yang sama Dinda kan anak kedua kamu." balas ibu mertuaku, terdengar suara bapak mertuaku yang ikut bicara.


"Kan dari Dinda itu anak pertama Adi. Jadi gimana, Bu?" tanyaku langsung. Karena sepertinya ibu dari istriku ini, tak ingin ikut pulang denganku ke provinsi A.


"Kalau tujuh bulanan itu mesti ada air dari tujuh sumur keramat, biasanya sumbernya dari sumur di keraton kesepuhan. Gak asal mandi, Di." jelas ibu mertuaku dengan perlahan.


"Jadi Ibu tak ikut Adi?" putusku langsung.

__ADS_1


"Dinda suruh ikut adat sana aja. Biasanya di sini pun ikut adat dari pihak laki-lakinya." ujar ibu mertuaku. Sudah kuduga, memang mereka tak ingin pulang denganku. Hanya saja memang perkataannya diperhalus.


"Tapi Ibu nanti ke sana ya kalau Dinda lahiran." tuturku menanggapinya.


"Dindanya kenapa gak lahiran di sini aja sih?" tukasnya terdengar tak suka.


"Dinda udah sering kontraksi palsu, belum lagi kehamilannya udah besar. Takut lahiran di pesawat." ungkapku jujur. Karena memang itu yang aku takutkan. Sepertinya rencanaku yang akan mengajak ibu dan bapak mertuaku pulang gagal terjadi. Padahal Dinda amat menginginkan dirinya dikunjungi oleh orang tuanya.


"Bukan karena takut ketahuan sama yang muda?" suara bapak mertuaku yang ikut menimpali. Sepertinya panggilan teleponku ini dispeaker.


"Tak juga, Pak. Ini juga Adi lagi proses pisah. Nunggu selesai nifas aja, tapi Adi udah ngurus-ngurus suratnya." ucapku kemudian.


"Dengan kamu pisah sama yang kedua, bukan berarti kamu terus-terusan tutupi yang kedua dari Dinda kan?" tanya bapak mertuaku.


"Ya lepas Dinda lahiran, nanti Adi coba bicarakan baik-baik sama Dinda. Semoga aja Dinda mau ngerti." jawabku kemudian. Dengan memperhatikan wajah umi yang sepertinya kebingungan, setelah ia masuk dari rumah ibu Rokhayah.


"Tapi kalau Dinda minta udahan, jangan kamu paksa dia tetap tinggal ya, Di. Aa diam aja pun, karena mikirin kondisi Dinda." timpal a Arif. Jelas lah aku pun tak akan diam saja jika Dinda minta pisah.


"Adi usahakan yang terbaik buat hubungan Adi dan Dinda. Adi pun tak mau nyakitin Dinda." ucapku jujur.


"Ya udah, besok ke sini dulu sebelum pulang. Mau ada titipan untuk Dinda sama Givan." ujar ibu mertuaku.


"Ya, Bu. Assalamualaikum." tuturku sebelum mematikan sambungan teleponnya. Aku memperhatikan umi yang tengah berjalan ke arahku.


"Wa'alaikum salam." sahut suara di seberang telepon. Lalu panggilan telepon terputus.


"Bang, Umi sama Ayah mau langsung balik ke kota J." ucap umi dengan mata yang basah. Sepertinya umiku habis menangis.


"Kenapa dadakan? Besok juga Abang balik, bareng aja lah." sahutku kemudian. Dengan merangkul umi, dan membawanya kembali ke rumah.


"Sesuatu terjadi pada Zuhra." ungkap umi dengan terisak. Aku pun merasa terkejut, mendengar pernyataan umi barusan.


"Kenapa sama Zuhra?" tanyaku bertepatan dengan berhentinya langkah kaki umi.


......................


Zuhra kenapa? Zuhra kenapa? 😲

__ADS_1


__ADS_2