
ADI POV
"Sebenarnya ini bukan darah daging Adi, Bu." akuku ragu. Aku pernah mendengar ucapan Dinda, tentang kebenaran ini untuk jadi rahasia keluarga kami saja. Tapi hari ini, aku mengungkapkan hal tersebut pada mertuaku.
Sudah pasti reaksi mereka semua, hampir membuat mata mereka terlepas dari tempatnya.
"Terus anak siapa? Ya diusut dong, Di. Bisa-bisanya anak orang, tapi kamu yang tanggung jawab. Bikin rumah tangga kamu sama Dinda berantakan aja!" seru ibu mertuaku dengan menatapku dengan tatapan tajam.
"Tak tau anak siapa. Dinda kata, mending udah aja, tetep dianggap anak sama Adi." balasku dengan tersenyum samar. Sejujurnya aku takut, dengan perubahan wajah mertuaku.
"Udah aja, Bu. Biar nanti jadi masalah kami, tak usah terlalu dipikirkan. Nanti rencananya… tanggal 23 ya, Bang? Bulan depan kah?" tanya umiku dengan menolehkan kepalanya ke arahku.
Aku mengangguk mengiyakan, "Iya rencananya tanggal 23 bulan depan. Mau isbat, sama resepsi. Tapi resepsi juga tak lama, paling 4 jam aja. Soalnya Dinda pakek sunting yang beratnya sekitar empat kiloan, jadi paling tahan 4 jam aja." jelasku.
"Dindanya mau?" tanya ayah mertuaku. Terlihat ia seolah tak menyukai, dari raut wajahnya kentara sekali terlihat menahan sesuatu.
Aku mengangguk kembali, "Mau keknya, Pak." sahutku jujur, karena memang aku tak mengetahui pasti Dinda mau atau tidak. Karena aku yang selalu mengatakan, bahwa harus dengan sunting A***. Meskipun Dinda tak mengiyakan, tapi aku yakin Dinda tak menolaknya.
"Dinda punya riwayat darah rendah, jangan sampai pandangannya gelap terus berakhir di rumah sakit." balasnya yang membuatku teringat kembali riwayat penyakit istriku.
Dinda memiliki sakit lambung, juga memiliki riwayat darah rendah juga. Aku jadi berpikir dua kali, aku takut istriku malah jatuh sakit nanti.
"Keknya Dinda kuat, Pak. Soalnya dia juga ikut serta, buat ngurus pernikahannya. Segala sesuatunya udah dipesankan, udah dibayar juga. Tinggal nunggu hari H aja kan, Bang?" ujar umiku, yang langsung kuangguki.
Lalu kami melanjutkan obrolan seputar undangan pernikahan, juga rombongan yang akan ikut ke resepsi pernikahan aku dan Dinda. Dengan aku diminta menyiapkan beberapa bus, untuk rombongan yang akan ikut dari sini.
Hingga beberapa saat kemudian, umi dan ayah meminta diantar ke rumah Dinda. Jangan lupakan Givan dan Ghifar yang minta ikut denganku, tentu karena Dinda pulas dalam tidurnya. Sehingga tak bisa untuk membujuk anaknya, agar tak ikut denganku.
~
~
~
__ADS_1
Dua hari kemudian, aku dan keluarga kecilku sudah menempati rumah Dinda. Aku melihat istriku bermandikan keringat, karena sekarang waktunya anak-anakku untuk mandi sore. Tangis kembar bersahutan, belum lagi Naya yang lebih sering menangis karena selalu dijahili oleh Ghifar.
Ia seperti tengah bermaraton dari kamar mandi ke kamar. Tentu karena ia tengah memandikan anak-anakku satu persatu. Dengan aku yang memakaikan baju anak-anak, berharap usahaku bisa membantu meringankan pekerjaan Dinda.
"Heh, belum pakek baju juga? Susah betul kau diurus! Kalau masih belum pakek baju juga, Mamah tak ajak Ghifar jalan-jalan!" seru Adindaku, karena melihat Ghifar masih telanjang bulat. Dengan mengesot ke sana ke mari.
Padahal Ghifar mandi lebih dulu, tapi ia begitu sulit untuk dipakaikan pakaian. Ia selalu meronta, setiap kali aku memaksanya untuk memakai pakaiannya.
Ghifar langsung mendekatiku, dengan mengambil diapers yang berada di sebelah si kembar.
"Kan apa Abang kata tadi, sampek Abang lepas mandi Adek belum salin juga. Habis kau kena marah mamah." ucap Givan, yang muncul dengan rambut basah dan handuk yang melingkar di pinggangnya.
"Abang bisa tak pakek baju sendiri? Papah lagi pakekan Ghifar pakean ini." ujarku dengan memperhatikan Givan yang melepaskan handuknya, lalu ia mengeringkan rambutnya dengan handuk tersebut. Sulungku masih kecil, ia tak mengenal malu pada keluarganya sendiri.
Aku jadi teringat Givan dulu yang menuduhku seorang pedofil, anak pandai yang punya cara dalam menjaga dirinya.
"Bisa, Pah. Itu Naya tak apa sendirian depan TV?" sahut Givan dengan memilih pakaiannya sendiri.
"Tak apa, yang penting TV-nya nyala." balasku yang diangguki saja olehnya.
"YAA, DEK." sahutku cepat dengan berteriak kembali.
Sebenarnya kembar sudah ingin menyusu pada ibunya, tapi Dinda malah ingin mandi terlebih dahulu.
"Pomade aku habis, beli Pah." ucap Givan, dengan bercermin di lemari pakaian.
"Ya, pakek aja dulu bajunya. Masa mau telanjang dada aja." sahutku yang dianggukinya.
"Pah… Naya ikut kita kah? Aku tak suka adik perempuan, dia cengeng. Meskipun Ghifar nakal, aku suka Pah. Malah kalau Ghifar dibuat nangis sama kawannya, karena rebutan mainan. Rasanya aku mau marah aja, aku tak suka Ghifar dibuat nangis orang. Mending dia yang buat nangis anak orang." ungkap Givan, dengan berbalik badan dan mendekati adik kembarnya. Ia menciumi mereka secara bergantian, kemudian ia membunyikan mainan milik kembar.
Aku akui Givan belum bisa mengerti tentang adik, juga menjaga adik-adiknya. Tapi aku memahami sesuatu, Givan menyayangi adik-adiknya. Sering kali, anak itu merasa cemburu dengan adik-adiknya. Ia masih anak kecil, aku memaklumi hal itu.
"Pang… pang…" celotehan Ghifar, dengan mendekati abangnya. Entah apa artinya, dia sering kali menyebut abangnya dengan sebutan 'Pang'. Meski bukan namanya, tapi Givan menoleh juga pada adiknya tersebut.
__ADS_1
Ghifar mengambil mainanan kembar, yang tengah dimainkan oleh Givan. Dengan ia yang memamerkan giginya itu, pada abangnya.
"Kau main rebut-rebut aja! Sana tuh main sama Naya, dia seumuran sama kau." ujar Givan terlihat kesal.
Aku merasa, masa baligh anak-anakku akan berbarengan. Givan, Ghifar, Ghava dan Ghavi akan dewasa bersama-sama. Meski Givan dan Ghifar berjarak sekitar lima tahun, tapi aku merasa mereka akan tumbuh bersama.
Givan keluar dari kamar, dengan diikuti dengan Ghifar yang tengah berusaha turun dari ranjang dengan berhati-hati.
"Pang… Pang…" celotehan Ghifar yang terdengar kembali.
Sudah kuduga, kebersamaan adik dan kakak ini berakhir kegaduhan.
"BANG… ANAKAN ITU!!!"
Aku langsung bergegas, terlihat Naya tergeletak di karpet ruang TV dengan tangis yang heboh. Ghifar pun menangis kencang, dengan menunjuk barang yang dipegang oleh Givan. Ternyata pemenang kali ini adalah sulungku, ia terlihat begitu kesal dengan mata yang fokus pada televisi.
"Kenapa lagi sih ini?" ucapku dengan membangunkan Naya. Ghifar mendekatiku, dengan langsung memeluk kakiku.
"Ini udah jadwalnya plontos main, aku mau tengok plontos." sahut Givan dengan duduk bersila menghadap televisi.
"Jangan bilang aku suruh ngalah. Aku punya hak mempertahankan milik aku ya, Pah. Aku tak suka, Ghifar main rebut remote TV yang aku pegang." lanjut Givan kemudian.
"Terus kenapa Naya nangis ini?" tanyaku dengan memindahkan Naya ke pangkuanku. Untuk kembar belum bisa tengkurap dan berpindah tempat, jadi aku tak terlalu kewalahan saat menghadapi situasi seperti ini.
"Tak tau, Naya kan memang cengeng." sahut Givan yang fokusnya masih pada televisi saja.
Sepertinya, Givan masih begitu acuh pada gadis kecil ini. Sebenarnya aku kasian pada Naya, ia seperti terbuang begitu saja. Menurut sepengamatanku, Naya seolah tak diinginkan oleh Maya. Apa lagi Maya sempat mengatakan, bahwa aku yang menyebabkan dirinya menjadi punya anak.
"Mamah salin dulu, ya? Terus kita keluar jalan-jalan." ujar Dinda dengan berpenampilan begitu menggoda.
Sejak kejadian itu, aku belum menyentuh Dinda lagi. Entah kenapa, rasa jenuh dengan hubungan yang begitu-begitu saja semakin mendominasi perasaanku. Padahal dulu aku begitu menggebu-gebu padanya, tapi sekarang seolah sudah biasa saja. Aku khawatir, Dinda pun jenuh padaku. Karena bisa fatal menurutku, jika Dinda sudah bosan padaku.
......................
__ADS_1
Lebaran kah hari ini?
Minal aidin wal faidzin, mohon disayang jangan disia-siain 😁🙏😉