Belenggu Sang Pemuda

Belenggu Sang Pemuda
BSP43. Rasa syukur


__ADS_3

AUTHOR POV


Lima minggu kemudian


Hari ini, adalah hari syukuran empat bulanan kandungan Adinda. Adi menggelar acara syukuran besar-besaran, di rumah orang tua dari almarhum ayah kandungnya. Karena rumahnya belum 100% siap untuk ditempati.


Segala sesuatu yang ia lakukan sendiri. Susunan acara yang ia rangkai sendiri, berharap diberi kelancaran dalam pelaksanaannya.


Ia pun melibatkan seluruh anggota keluarga besarnya, untuk memasak makanan yang akan dihidangkan dalam syukuran ini.


"Dek, setelah ini kabarin orang tua Adek. Kasih tau mereka, kalau Adek udah ngandung sekarang." ucap Adi, sebelum acara dimulai.


Adinda mengingat sesuatu, yaitu janji Adi yang belum Adi tepati. Sialnya lagi, Adinda baru mengingatnya sekarang. Ia merasa begitu telat untuk mengingatkannya pada suaminya. Tapi ia berpikir kembali, seharusnya Adi ingat janjinya tanpa harus dirinya minta.


"Abang tak lupa kan buat ngasih tau umi tentang hubungan kita. Aku sekarang udah mengandung anak Abang. Tapi sampai kandungan aku empat bulan, Abang belum ada ngomong apa pun sama umi." ujar Adinda kemudian. Adi menepuk jidatnya, ia seolah pura-pura lupa dengan janjinya sendiri. Padahal ini rencananya, bahkan sebelum Adinda dinikahinya. Adi sudah berencana untuk menceritakan semuanya pada ibunya, setelah Adinda mengandung.


"Abang lupa, Dek. Maaf, ya? Nanti malam Abang coba telepon umi." balas Adi dengan senyum yang meyakinkan. Sebenarnya ia tak melupakan janjinya. Tapi ia sadar, keadaan yang sebenarnya tak sesuai dengan rencananya. Ia tak mungkin memberitahu orang tuanya, di saat istri resminya tengah mengandung enam bulan. Pasti orang tuanya akan berpikir, bahwa Adinda adalah perusak rumah tangganya. Itu yang ada di pikiran Adi. Karena kandungan Adinda dua bulan lebih muda, dari kandungan istri resminya.


"Janji ya?" tutur Adinda yang langsung diangguki oleh Adi.


Lalu tak lama acara yang begitu sakral itu dimulai. Diawali dengan disebutkannya nama orang tua kandung, dari bayi yang Adinda kandung. Yaitu Adinda sendiri, dan suaminya, Adi Riyana.


Berlanjut hingga acara itu selesai. Dan diakhiri dengan dibagikannya sebuah bingkisan berisi makanan, dan beberapa kue. Untuk setiap orang yang hadir di sana.


Tak sampai di situ. Acara berlanjut dengan obrolan ringan, keluarga besar yang jarang sekali berkumpul itu. Mereka bersenda gurau, dan bercerita satu sama lain tentang kehidupan masing-masing.


Prang....


Suara piring yang menghantam lantai.


Disusul dengan suara tangis Givan membuat suasana ramai itu semakin genting. Lantaran ia terjatuh dengan membawa beberapa piring.


"AAAAAAAAA…. MAMAH… PAPAH… SAKIT." teriak anak itu.


"Kenapa ni?"


"Kenapa ni?"


Tanya beberapa orang yang berlari ke arah Givan. Adi pun bergegas menuju sumber suara. Terlihat Givan tengah dibantu berdiri. Namun alangkah terkejutnya mereka semua. Saat melihat baju Givan terdapat noda merah. Dengan rembesan cairan, yang semakin banyak memerahkan kemeja putih yang Givan kenakan.

__ADS_1


"Ya Allah, Nak." ucap Adi panik. Ia langsung mengecek keadaan anaknya tersebut.


Tangis Givan semakin kencang terdengar, apa lagi saat mengetahui tubuhnya terluka.


Ada beberapa pecahan dari kaca tersebut, yang masuk menembus pangkal lengan kirinya. Adi gemetaran melihat keadaan anaknya. Apa lagi jelas terlihat beling itu menancap melewati kain kemeja, yang anaknya kenakan.


"Jangan nangis, Bang." suara Adi terdengar tidak stabil. Adi cepat menggendong anaknya.


Namun, saat ia berbalik badan. Berniat akan segera membawa anaknya ke rumah sakit. Ia dihadang dengan istrinya yang berdiri tepat di hadapannya.


Bukan apa-apa, Adi hanya khawatir istrinya syok. Dan berakibat buruk pada kesehatan dirinya, apa lagi kondisinya tengah mengandung.


"Coba aku tengok." ujar Adinda. Ia pun terlihat begitu khawatir. Apa lagi ia mendengar beberapa orang yang mengatakan, bahwa Givan tertusuk pecahan beling dari piring.


"Abang jangan nangis, ok? Biar tak nambah sakit." lanjut Adinda berbicara pada anaknya. Saat dirinya membuka kancing dari kemeja tersebut. Adinda mencoba menyamarkan rasa khawatirnya, agar Givan merasa tenang.


"Jangan dicabut, Dek. Takut pecahannya potong di dalam." tukas Adi cepat.


"Yuk, bawa ke rumah sakit." tutur Adinda, setelah ia mengetahui bahwa pecahan itu menusuk pangkal lengan anaknya.


"Abang ngomong terus, ya. Kita ngobrol, ok?" lanjut Adinda sembari melangkah dengan terburu-buru. Dan sesekali ia membelai rambut anaknya.


"Aku yang bawa aja. Abang tetap ajak Givan ngobrol. Pokoknya alihin pikirannya. Dan jangan sampai ia tertidur, itu bahaya untuknya." ungkap Adinda setelah berada tepat di depan mobil Adi.


Adi sudah amat khawatir pada Givan. Ia tak memikirkan resiko jika Adinda yang berkendara. Yang terpenting untuknya sekarang. Adalah Givan yang terselamatkan, dan lukanya yang cepat mendapat pertolongan.


Mobil itu melaju dengan rasa khawatir yang menyelubungi pengendaranya. Adinda begitu lihai memainkan rem, saat ia membelokkan mobil suaminya. Belum lagi pedal gas yang ia injak tanpa takaran perasaan.


"Astagfirullah…" ucap Adi kaget. Dengan berpegangan pada barang yang bisa ia gapai. Karena tubuhnya sampai terhuyung ke kanan, saat Adinda berbelok tanpa menginjak pedal rem.


"Dek, ingat kau lagi hamil. Abang rasa Givan kuat, meski Adek santai bawa mobilnya." ujar Adi dengan menoleh pada istrinya.


"Bismillah aja, Bang." sahut Adinda dengan fokus ke depan.


Dan detik itu juga, Adinda melajukan kendaraan milik suaminya seperti akan terbang melewati jalan. Adi cepat-cepat memasang sabuk pengamannya. Lalu ia pun menoleh pada istrinya. Ternyata Adi mengecek sabuk pengaman istrinya. Yang tentu sudah terpasang sejak awal.


Jarak tempuh dari rumah menuju rumah sakit, yang biasanya memakan waktu sekitar tiga puluh menit. Bisa dipangkas oleh Adinda, dalam waktu kurang dari lima belas menit. Tentu saja dengan lampu segi tiga yang mengedip sepanjang perjalanannya. Menandakan mobil itu memberikan peringatan berhati-hati, pada pengendara lain. Karena mobilnya yang tengah dalam keadaan darurat. Membawa seseorang, yang benar-benar membutuhkan pertolongan.


"Lari ke UGD cepet, Bang." ucap Adinda yang mobilnya berhenti tepat di depan tempat unit gawat darurat.

__ADS_1


Setelah Adi keluar dengan menggendong Givan. Adi langsung bergegas menuju pintu tersebut, namun ia langsung dibantu dengan penjaga yang berjaga di tempat tersebut. Dengan Adinda yang memarkirkan mobil, di tempat yang telah disediakan. Lalu ia bergegas menyusul suami dan anaknya.


"Ke mana anak saya tadi?" tanya Adinda, raut wajahnya terlihat begitu khawatir. Namun ia mencoba berusaha tenang, dan berhati-hati dalam langkahnya. Ia sadar, bisa berakibat fatal jika dirinya sampai terjatuh. Karena tersandung gamis lebarnya sendiri.


"Anak yang tadi kah, Bu?" perawat yang berjaga di tempat tersebut, bertanya balik pada Adinda.


"Iya betul." sahut Adinda cepat, dengan kepalanya yang reflek mengangguk.


"Sedang diberi tindakan. Silahkan mengisi data pasien terlebih dahulu, Bu." balas perawat tersebut. Setidaknya, Adinda merasa sedikit lega. Bahwa anaknya tengah diberi pertolongan. Meski ia tak melihat secara langsung, keadaan anaknya sekarang.


Adinda diberi formulir data pasien. Ia langsung mengisinya dengan cepat dan tepat.


Sebenarnya bisa saja, ia meninggalkan formalitas rumah sakit. Dan langsung menemui anaknya. Tapi ia sadar, waktunya akan terbuang sia-sia. Apa lagi jika nanti suaminya yang harus mengurus data anaknya.


Adinda percaya, suaminya bisa mengurus anaknya di dalam ruangan sana. Jika ia mengandalkan Adi saja, Adi jelas akan merasa kerepotan. Dengan dirinya yang menemani Givan, belum nanti dirinya harus mengisi data.


"Ini, Bu. Boleh saya langsung masuk saja?" tutur Adinda, dengan senyum ramah.


"Oh, ya. Silahkan masuk." tukas perawat tersebut.


Lalu Adinda berjalan, dan mendorong pintunya perlahan.


"NO, NO, NO. Jangan pakek itu. Pasti sakit kali." pekik Givan, yang didengar jelas oleh Adinda.


TBC.


Alhamdulillah, udah 4 bulan aja.


Semoga anak mereka sehat, cerdas, baik budi, sholeh, akhlaknya terpuji. Macam author 😆


Aamiin


Dasar anak-anak. Kalau udah main, tak tau tempat. Semoga anak ajaib itu tak mendapat luka yang berat ya, Mak.


Aamiin lagi dong ah 😅


Segala ingat NO, NO, NO. Orang lagi diberi tindakan juga 😂


Anak-anak jaman sekarang, tak pernah lepas dari NO, NO, NO. Termasuk anak author 🤭

__ADS_1


__ADS_2