
Adi menghela nafasnya, "Bukannya kau yang ngomong sendiri, bahwa Dinda itu pembunuh. Kau memang tak takut, kalau nanti Naya dibunuh Dinda? Bukannya Abang tak mau urus Naya, Naya pasti disamaratakan dengan anak-anak Abang yang lain. Cuma kan lebih baik diurus oleh ibu kandungnya sendiri, dari pada diurus oleh ibu tiri. Pas awal-awal kau sampek nangis-nangis, minta Abang suruh jangan bawa Naya. Sekarang kok beda lagi? Apa jangan-jangan ini menyangkut baby sitter dan materi yang lain?" ucap Adi dengan mengamati perubahan wajah Maya dengan seksama.
"Ini bener-benernya aku dirugikan di sini. Aku harus jadi janda, bawa anak juga. Mana aku cuma dapat ladang kosong, yang gak tau mau diapakan. Abang bener-bener tega! Pelitnya kebangetan. Pasti ladang juga aku dapatnya gak lebih dari satu hektar kan?" sahut Maya dengan duduk di tepian tempat tidur.
"Kau bener-bener ya, May!! Udah sana pulang, Naya biar kau tinggal di sini. Nyesel Abang punya keturunan sama kau! Kemasi barang-barang kau, tunggu surat cerai yang sampek ke sana. Dari pada kau di sini, bikin kaku batin." ungkap Adi dengan suara lantang, lalu ia langsung ke luar dari kamar Maya.
Adi berjalan menghampiri anak-anaknya, yang berada di ruang tamu dengan Zuhra dan kedua orang tuanya.
"Lah… biasanya belum pada balik?" tanya Adi, setelah melihat Seila dan kawan-kawannya masih duduk manis dengan teh yang menemani mereka.
"Nanti sih, Di. Orang baru juga datang." sahut Seila yang terhenti dari aktivitas mengobrolnya.
"Udah kelar?" tanya pak Dodi yang tengah berada di ambang pintu. Ia tengah duduk, dengan mengoper bola pada Ghifar dan Givan.
"Tak jadi, Ayah sih ganggu aja!" jawab Adi dengan merebahkan tubuhnya di lantai, ia langsung menciumi bayi kembarnya. Yang tengah berada di atas kasur lipat, dengan menendang-nendangkan kaki dan tangannya.
"Kau ini, memang tak punya malu apa macam mana? Pantas aja anaknya banyak, sekali tembak langsung tembus ke ovarium." sahut pak Dodi, yang membuat semua orang tertawa puas.
"Namanya juga anak muda, Yah. Dinda kan tak berani pakek KB, jadi macam itulah." balas Adi enteng, dengan fokusnya masih tertuju pada anaknya.
"Tapi Umi heran, ini kan Ghifar sembilan bulan. Kembar, 40 harian. Terus mengandungnya berapa lama?" timpal ibu Meutia dengan menghapus ingus Novi, anak Edi dan Benazir.
"Kembar kan prematur, mereka tujuh bulan lahir." jelas Adi membunyikan mainan anak kembarnya.
"Kan tujuh bulan lahir, ditambah umur mereka 40 hari. Jadi kurang lebih waktunya sembilan bulan, kan? Terus waktu Dinda nifas dari lahirin Ghifar kapan? Kenapa tak ada selang waktu nifasnya?" ungkap ibu Meutia dengan rasa penasarannya.
__ADS_1
"Dari isu yang aku dengar dari keluarganya Bang Adi di sana kan, dek Dinda dicampuri sebelum empat puluh hari." jelas Shasha yang menimpali obrolan mereka.
"Astaghfirullah…" ucap ibu Meutia dan pak Dodi bersamaan, dengan menggelengkan kepalanya.
Adi hanya bisa menahan tawanya, ia tak menyangkal hal tersebut. Karena hal itu adalah suatu kebenaran, yang Adi tak bisa memungkirinya.
"Disteril aja, Bang. Apa pasang KB tanam, macam implan apa IUD." saran ibu Meutia yang hanya diangguki oleh Adi saja.
Lalu mereka melanjutkan obrolan seputar berat emas, untuk keperluan sunting pernikahan Adi dan Adinda. Sampai tak terasa, tiba saatnya jam anak-anak untuk tidur.
~
Malam harinya suasana rumah begitu panas, karena Adi berulang kali meminta Maya untuk pulang ke rumah orang tuanya.
"Naya lagi sakit, Bang. Biarin aja dulu kenapa sih?" ucap Adinda dengan memeluk lengan suaminya.
"Kapan memang mau diurus?" tanya Adinda kemudian.
"Ilham yang urus, Abang udah ada bilang ke dia." jawab Adi dengan memperhatikan Givan yang berjalan ke arahnya.
"Naya dikasih obat belum, Bang? Kalau demam tuh, obat penurun demamnya diminum empat kali sehari. Kalau dia tak kuat, bisa kejang loh Bang." ujar Adinda dengan menggeser tempat duduknya, karena Givan duduk di antara dirinya dan Adi.
"Kalau diperiksakan aja macam mana, Dek? Perasaan anak-anak kita kalau sakit tak selemah ini, mereka masih mau mainan dan ngemil." tutur Adi dengan merangkul pundak kecil anaknya, Givan.
"Dehidrasi dia tuh. Perasaan anak ini tak diapa-apakan sama ibunya, Naya tidur juga langsung merem aja. Tak dikasih susu lebih dulu. Abang merhatiin tak coba?" tukas Adinda dengan suara menurun, agar Maya tak mendengar ucapannya barusan.
__ADS_1
Adi mengangguk, "Yuk, ke dokter aja. Sekalian antar Givan ini, enaknya dicabut atau ditambal giginya." ajak Adi dengan mencium Givan yang tengah menahan sakit gigi tersebut.
"Itu gigi susu, kalau kata aku sih cabut aja. Udah busuk hitam macam itu, waktunya ganti gigi dewasa." ucap Adinda dengan mengangkat tubuh anaknya, kemudian dipindahkan ke pangkuannya.
Adinda menciumi pipi Givan, anak itu terlihat menahan kepala ibunya. Agar tak menciuminya berkali-kali.
"Aku mau sekolah, Pah. Ayo kita pulang ke rumah, aku tak mau satu kamar isi banyak orang. Aku tak mau tidur bareng Ghifar, adek nendangin aku terus." ujar Givan dengan memeluk ibunya.
"Umi…. Minta si mbak, untuk siapin kamar lain." seru Adi yang langsung disahuti ibunya.
"Tuh, udah selesai kamarnya. Nanti kita pulangnya, mungkin beberapa bulan lagi. Nanti kita pulang juga bawa Adek ini, Naya. Tapi sebelumnya, nanti Papah sama Mamah jadi pengantin dulu macam abi Haris sama tante Alvi itu." jelas Adi membuat sudut bibir Givan turun ke bawah.
"Aku tak mau adik perempuan, aku tak mau adik yang diem aja macam itu. Dia tak lucu, dia tak bisa diajak bercanda. Terus sekolah aku macam mana? Kalau aku lama di sini, aku tak betah Pah." rengek Givan dengan menatap sendu ayahnya.
"Kan udah punya adik yang hebohnya, yakin tak mau adik alim? Nanti besok kita jalan-jalan, cari sekolah baru untuk Bang Givan." sahut Adi dengan tersenyum lebar.
"Aku… aku tak bisa urus Naya. Aku udah keteteran sendiri urus anak-anak, bahkan aku aja tak bisa urus diri aku sendiri." timpal Adinda dengan bersandar pada bahu suaminya.
"Maaf ya, nanti kita cari jalan keluarnya. Masalahnya… masalah Abang sama Maya belum terang, masalah materi juga dia minta lebih." ungkap Adi dengan melingkarkan tangannya melewati dagu istrinya.
"Kita ngontrak aja, aku tak betah di rumah orang tua Abang. Aku… tak bebas, rasanya macam tamu." aku Adinda kemudian, lalu ia menegakkan tubuhnya dan menatap wajah suaminya.
"Tak bebas apanya?" tanya seseorang yang membuat Adi dan Adinda langsung menoleh ke sumber suara.
Adinda tersenyum canggung, "Anu…..
__ADS_1
......................
Tau sendiri lah, bagaimana nikmatnya pondok indah mertua. 🤭