Belenggu Sang Pemuda

Belenggu Sang Pemuda
BSP114. Ngerumpi


__ADS_3

Adinda menegakkan tubuhnya, kemudian berjalan ke arah pintu.


Supriyatna memperhatikan gerakan Adinda, ia khawatir pisau kecil itu tiba-tiba menyayat tubuhnya secara mendadak.


Adinda berbalik badan, "Tolong ambilkan sarungnya." ucapnya dengan menunjuk penutup pisau kecil tersebut, yang tergeletak di dekat kaki laki-laki tersebut.


Supriyatna mengangguk, lalu dengan cepat memberikan penutup pisau tersebut.


Adinda mencongkel pintu tersebut dengan mudah, tanpa menggunakan kunci yang ia masukkan ke dalam penutup dadanya tersebut.


Lalu ia menoleh pada Supriyatna yang masih memperhatikan gerak-geriknya.


Adinda memberikan senyum manisnya, lalu mengedipkan sebelah matanya pada laki-laki tersebut. Kemudian ia melanjutkan langkahnya, untuk segera pergi dari rumah tersebut.


Dengan cepat Adinda membawa mobil kesayangan suaminya, menjauh dari halaman rumah tersebut.


'Jangan ditiru, Nak. Ini cuma scene dalam novel.' gumam Adinda dengan mengelus perut besarnya.


~


~


Esok harinya, Adi masih berada di kantor polisi. Adinda semakin pusing memikirkan nasib suaminya. Ia ingin Adi, ia ingin suaminya menemaninya saat bersalin nanti. Karena ia merasa takut, ia masih terbayang sakitnya kontraksi saat mengeluarkan Givan dulu. Sampai pintu jalan lahir Givan, sengaja disobek oleh bidan. Agar mempermudah keluarnya Givan.


Hari ini Seila mengatakan akan singgah di rumah Adinda. Karena dirinya akan menawarkan perhiasan model terbaru pada Adinda, Sukma dan Nurul. Mereka sengaja membuat janji temu di rumah Adinda.


Adinda menceritakan sedikit tentang musibah yang dialaminya, mereka pun tak menyangka Adi kembali ditahan oleh polisi.


"Dek, ambilin piring gih. Akak bawa salak pliek, sama salak super tebai. Enak loh, Dek. Kau pernah cobain belum?" ucap Sukma, saat dirinya menyadari membawa sesuatu untuk Adinda. Karena sedari tadi, mereka asik mengobrol dan melupakan makanan yang Sukma bawa.


"Salak pliek aja pernahnya." sahut Adinda, saat hendak berjalan ke arah dapur.


Lalu mereka menikmati makanan khas daerah Adi tersebut. Dengan Seila yang mulai menceritakan tentang beberapa perhiasan yang bernilai fantastis tersebut.


"Kau mau ambil yang mana, Dek?" tanya Nurul pada Adinda.

__ADS_1


"Yang paling murah ada tak? Buat hadiah nikahan." jawab Adinda yang mengundang tawa renyah dari mereka.


"Tuh kan kebawa sama Adi." balas Seila dengan menunjuk pada Adinda.


"Nih ada nih, 20 jutaan." lanjut Seila kemudian. Dengan menunjukkan sebuah foto di ponselnya.


Terlihat sebuah cincin bertahtakan permata berwarna putih. Cincin tersebut terlihat sangat sederhana, dengan garis sebesar kawat jemuran yang melingkar.


"Aduh, malu kali aku. Emas ajalah, biar dapat agak besaran." ungkap Adinda, membuat Seila terbahak-bahak. Ditambah lagi ekpresi wajah Adinda, yang terlihat sangat lucu bagi Seila.


"Ada emas, Kak?" tanya Adinda, lalu Seila langsung mengangguk.


"Berapa pergram?" lanjut Adinda bertanya, dengan memperhatikan mobil Adi yang berhenti di depan rumahnya. Tak lama Givan keluar dari dalam mobil bersama Zuhra. Karena beberapa waktu sebelum para wanita itu datang, Zuhra mengatakan bahwa cemilan di rumah sudah habis. Lalu Adinda menyuruhnya untuk berbelanja di minimarket, diikuti dengan Givan yang selalu mengekori Zuhra.


"750 ribu, Dek. 10 gram juga udah pantes, tapi aku saranin kasih batangan aja. Jangan bentuk cincin atau lainnya." jawab Seila kemudian.


"Assalamualaikum…" ucap Givan dan Zuhra bersamaan.


"Wa'alaikum salam…" sahut Adinda dengan menoleh ke arah pintu.


"Hai, Dek." sahut Nurul dengan tersenyum pada Zuhra.


Zuhra mencium satu persatu, tangan wanita yang berada di situ. Lalu ia pamit masuk, diikuti dengan Givan.


"Adiknya Adi yang paling cantik tuh dia kalau menurut aku." ungkap Nurul, saat Zuhra sudah tak terlihat lagi.


"Kalau Zulfa mukanya khas orang provinsi A gitu ya? Rahang kek tegas gitu, terus matanya tajam." timpal Sukma berkomentar.


"Adik laki-lakinya tak mirip Adi loh, Suk. Yang paling manis dan berwibawa itu Adi, mana kan dia kek cuek gitu orangnya. Ngomong ya seperlunya." sahut Nurul membuat Adinda menghela nafasnya. Ia tak suka dengan sikap Nurul, yang selalu sok lebih mengenal Adi lebih dalam.


"Pacaran tak lama pun, sok paham betul kau!" cetus Adinda membuat mereka semua menyuarakan tawa puasnya, kecuali Nurul yang malah mengerucutkan bibirnya.


Ia tak menyangka, Adinda malah mengeluarkan pendapat tentangnya di depan dirinya langsung. Membuat Nurul merasa malu sendiri.


"Yang digantungin dua tahun aja biasa aja tuh. Memang gatal-gatal sedikit!" sindir Adinda pada Seila.

__ADS_1


Seila terkekeh geli dirinya disindir langsung oleh istri laki-laki yang dulu dipujanya itu. Sedikit banyaknya, Seila pun paham tentang sikap Adinda jika tengah dilanda serangan hati seperti saat ini.


"Memang luar biasa itu ulat bulu, udah hitam, besar panjang pulak. Ngeri-ngeri sedap ya, Dek?" balas Seila dengan cekikikan. Ia yang terlihat santai saja. Berbeda dengan Nurul yang langsung masam, karena ditegur langsung oleh istri dari mantannya tersebut.


"Tapi aku salut sama kak Shasha, dia mana pernah bahas-bahas bang Adi sama dia dulu." ujar Adinda dengan memperhatikan wajah Seila. Pasti Seila pun mengetahui siapa Shasha itu.


"Perempuan itu bener-bener legowoan orangnya. Dia nerima aja, tutup-tutupi semuanya. Wajahnya juga kek teduh gitu kan, ya? Mana tak pernah neko-neko. Sayang malah jadi korban jahatnya laki-laki." tutur Seila dengan mengunyah makanan yang terhidang di meja.


"Biar lepas ini aku ajarin dia jadi bin*l. Nanti tinggal kedipin manja aja, laki-laki langsung oleng." tukas Adinda yang mengundang tawa mereka semua.


"Dia sering ke sini kah, Dek?" tanya Sukma bersuara, karena sedari tadi ia hanya menyimak saja.


Adinda mengangguk, "Dia buka PO makanan macam itu, Kak. Stuff roti, salad buah, terus banyak makanan lama yang dimodifikasi sama dia. Tapi aku tak pernah order, aku mual tengok makanan macam bubur. Salad buah, sama stuff roti macam itu. Nampak macam sesuatu yang kental, asin, dan berbau yang ditumpahkan ke mulut tuh Kak." jawab Adinda yang membuat mereka terbahak-bahak. Mereka paham maksud ucapan Adinda.


"Seru loh, Dek. Pas laki-laki lepas kl*maks, terus langsung dijilatin lagi. Ekspresinya sungguh membuat bangga diri sendiri." sahut Seila yang mulai membahas ke arah dewasa.


"Ya Allah, berdosa betul kalian! Ngomongin macam itu di depan gadis perawan." timpal Nurul dengan wajah nelangsanya.


"Memang siapa yang perawan? Kak Seila, janda. Kak Sukma pun janda. Aku jebolan janda yang sekarang sudah berbahagia." ucap Adinda tanpa dosa.


"AKU!!!" seru Nurul dengan menunjuk dirinya sendiri.


"Halah… malahan perawan Akak, suami aku yang dapat." sahut Adinda yang membuat mereka semakin kuat tertawa.


Mereka semua hanyut dalam candaan ringan, dengan sesekali saling melempar ejekan yang membuat kram perut.


Sampai seseorang muncul dari balik pintu, dengan menempelkan telunjuk tangannya pada bibirnya.


Ia terlihat begitu bahagia menatap seseorang yang tengah merebahkan diri di sofa santai, dengan posisi miring. Karena perut besarnya, membuatnya dirinya tak nyaman untuk telentang.


Adinda tak tau, ada seseorang di ambang pintu. Karena posisinya membelakangi pintu tersebut.


TBC.


Mbuh sapa, melu othor bae 😆

__ADS_1


__ADS_2