Belenggu Sang Pemuda

Belenggu Sang Pemuda
BSP163. Menjemput Adinda


__ADS_3

"Udah aja… aku tak mau tau apapun. Aku tak mau kita lanjut. Abang cari kamar lain aja, aku pengen tidur sendiri." ucapnya dengan terisak.


Aku tak paham dengan apa yang ia rasakan. Ia menangis, setelah berbicara kasar. Ia menyuruhku pergi, saat dirinya tengah merasa sedih seperti ini.


"Abang pengen, kita tetap baik-baik aja. Abang tak mau kita renggang macam ini, Abang tak mau kita pisah. Ingat perjuangan kita, Dek. Ingat rasa yang menyatu dari dalam diri kita, Dek. Abang mohon, maafin kesalahan Abang. Demi Allah, Dek… Abang tak pernah mau untuk menikah lagi. Demi Allah, Dek… Abang tak pernah campuri dia selama pernikahan ini. Asal Adek tau aja, Abang udah talak dia. Abang sama dia udah selesai secara agama, Abang pun udah pernah kirim surat cerai. Percaya Dek, sama Abang. Jangan korbankan pernikahan kita, anak-anak kita. Hargai usaha Abang selama ini, hargai semua yang Abang lakuin untuk Adek. Demi Adek, demi pernikahan kita dan demi anak-anak." ungkapku dengan memandangi wajahnya.


"Aku tak percaya!!! Aku tau macam mana Abang, kalau udah di kamar sama aku." sahutnya dengan menatap mataku sekilas, lalu ia membuang pandangan mata kami lagi.


"Iya… makanya dengerin cerita Abang. Adek kenapa sih jadi keras kepala macam itu?" balasku dengan memeluknya. Namun, dengan cepat ia menghempaskan tanganku.


"Udah sana keluar! Aku mau tidur." serunya dengan mendorong tubuhku.


Hmm, aku bingung dengan keadaan ini. Ada apa dengan Adindaku? Aku harus bagaimana menyikapinya?


"Biarin macam ini dulu, Dek. Abang pengen peluk Adek." tuturku dengan mengulangi pergerakanku untuk memeluknya kembali, tapi ia memberontak pelukanku berulang kali.


"Aku jijik sama Abang!" serunya dengan langsung memunggungiku.


Sungguh aku merasa kesal, karena ia sering mengucapkan hal itu padaku. Aku hanya menyentuhnya saja selama ini, bagaimana mungkin ia jijik padaku?


Aku langsung bangkit dari posisiku, lalu keluar dari kamar ini. Mungkin suasana hatinya akan membaik, setelah ia bangun tidur esok nanti.


Aku mengalah saja, menuruti apa yang ia inginkan. Agar ia paham, bahwa aku menghargai segala ucapannya.


~


Pagi harinya, setelah Dinda menyiapkan ASIP untuk Ghifar. Ia langsung pergi dengan menggunakan mobilku.


Ia tak menyiapkan sarapan untukku dan anak-anak, ia tak memasak apapun untuk kami yang berada di rumah. Kenapa ia setega itu? Membiarkan anak, suami dan adik iparnya kelaparan di rumah.


Aku melewati pagi ini dengan repotnya mengurus anak-anak, berbarengan dengan mesin cuci yang tengah menggiling pakaian.


"Bang… katanya kak Dinda lama tak balik ya? Kak Dinda bilang Ghifar diselingi susu formula aja, tapi nanti ada orang anterin ASIP buat Ghifar juga." ujar Zuhra yang tengah menyuapi Givan.

__ADS_1


Apa? Yang benar saja? Tapi ia tak mengatakan hal itu padaku? Semalam ia hanya bilang, dia akan pergi ke kota L.


"Hmm." sahutku ringkas. Karena aku tengah menahan amarahku, yang tak tau harus aku utarakan pada siapa.


~


~


Benar apa yang Zuhra katakan, sudah satu minggu Dinda tak pulang. Hanya orang suruhannya saja, yang datang dua hari sekali untuk mengantarkan ASIP yang sudah disimpan dalam cooler bag.


Aku pun sudah mendapat sedikit informasi tentang Dinda, bahwa esok nanti ia berada di homestay yang tak jauh dari daerahku.


Dinda dan para crew pembuatan film itu, berada di B** homestay K*la L*ngkio. Aku juga mendapat informasi, bahwa Dinda menjadi model lagu dari soundtrack untuk filmnya. Entahlah, aku tak tau pasti. Akan aku datangi sendiri besok, biar aku tau bagaimana kegiatan di sana. Karena sejauh ini, aku percaya dengan istriku. Apa lagi ia tengah mengandung anakku.


Akhir-akhir ini, Maya dan umi sering menghubungiku. Namun, aku tak mengetahui saat ponselku berbunyi. Jadi aku tak tau pasti apa yang ingin mereka bicarakan, karena aku begitu sibuk dengan anak-anakku.


"Dek, bisa tak kau jaga Ghifar sekaligus Givan? Besok Abang mau nyusulin kak Dinda, dia udah terlalu lama pergi." ucapku pada Zuhra yang tengah memainkan ponselnya.


"Ya udah atur aja, gimana baiknya. Abang tak mau tambah renggang sama kak Dinda." balasku yang langsung diangguki oleh Zuhra.


Entah bagaimana caranya, aku berniat menjemput Adindaku. Lalu membicarakan tentang pekerjaannya itu, karena aku tak suka dia bekerja. Apa lagi sampai meninggalkan rumah selama ini.


~


Esok harinya, aku langsung bergegas menuju tempat tersebut. Yang berjarak sekitar satu jam lebih, dari rumahku. Aku pergi ke sana dengan mengendarai mobil milik Safar, karena memang aku hanya memiliki satu mobil untuk perjalanan di jalan raya. Dikarenakan mobil J*epku, pajaknya mati dan juga begitu butut. Aku hanya menggunakannya, saat aku pergi ke ladang yang jaraknya cukup jauh.


Akhirnya, aku sampai di tempat tujuan. Aku bertanya pada bagian resepsionisnya, lalu ia mengatakan bahwa beberapa tempat sudah dibooking untuk pembuatan film.


"Boleh saya masuk ke tempat tersebut? Saya mau jemput istri saya soalnya ini, Kak." ucapku dengan tersenyum ramah pada resepsionis tersebut.


"Silahkan istri Bapak dihubungi aja dulu." sahutnya dengan ramah.


"Ya udah, Kak. Terima kasih." balasku dengan menjauh dari tempatnya.

__ADS_1


Lalu aku melihat beberapa crew yang membawa alat-alat untuk keperluan syuting, dengan si produser yang pernah Dinda kenalkan tersebut berjalan di belakang rombongan.


"Hai, Bang…" panggilku dengan melambaikan tangan padanya.


Ia melihat ke arahku, kemudian menyahutiku dan berjalan ke arahku.


"Nomor Dinda tak aktif beberapa hari ini, aku jadi khawatir Bang." ucapku setelah berjabat tangan dengannya.


"Ohh, iya… dia ada bilang juga masalah nomor yang tak aktif itu. Lagu kejar deadline dia, Bang. Soalnya naskah yang lagi proses syuting ini, lagi direvisi balik untuk endingnya. Jadi dia lagi selesaikan itu, biar fokus katanya Bang." jelasnya kemudian.


Aku manggut-manggut mengerti, "Boleh aku ketemu dia?" sahutku langsung mengarah ke tujuanku berada di sini.


Dia memperhatikan wajahku sekilas, "Ini… Bang Adi yang juragan ladang itu kan? Yang suami sirinya dek Dinda?" ujarnya dengan masih mengamatiku.


Jadi, dia tak tau siapa aku sedari tadi? Apa ia hanya tak yakin saja?


"Iya, aku Adi suaminya Dinda. Boleh antar aku buat ketemu dia?" jawabku sembari mengecek jam tangan, yang berada di pergelangan tangan kiriku.


"Boleh, boleh. Mari, Bang." sahutnya dengan mempersilahkan aku untuk berjalan lebih dulu.


Namun, aku menolak. Untuk lebih memilih berjalan di belakangnya saja, karena aku tak tau pasti di mana Dinda berada.


Tak butuh waktu lama, akhirnya aku sampai di kamar yang ditunjukkan oleh si produser tersebut. Ia mengatakan, bahwa Dinda tengah beristirahat di dalam sana dengan para pemain wanita.


Aku langsung bergegas menuju kamar berbentuk segitiga tersebut, kemudian langsung membuka pintunya tanpa mengetuknya.


Detik itu juga, rasanya nafasku berhenti sejenak. Detak jantungku bergemuruh hebat, mungkin disertai hujan angin juga.


"APA-APAAN KAU?!!!" seruku merasa terkejut dengan pemandangan istriku…..


......................


Untung tak disertai badai petir juga... 😆

__ADS_1


__ADS_2