Belenggu Sang Pemuda

Belenggu Sang Pemuda
BSP71. Rencana Adi pulang


__ADS_3

Aku dan Dinda tengah sama-sama mengatur nafas kami yang memburu hebat ini. Karena aku telah menembakkan cairanku, di dalam intinya. Dan kami masih menyatu dalam dekapan erat.


Dinda menepuk punggungku lembut, "Lepas. Cuci, yuk." ucapnya.


Aku menurutinya, untuk melepaskan penyatuan kami. Namun aku malah memeluknya erat dari samping.


"Bentar, Sayang. Tunggu bentar lagi." ujarku kemudian.


Dinda memutar tubuhnya menghadap padaku. Kami saling berhadapan, dan mengunci pandangan satu sama lain.


Namun Dinda langsung meraup wajahku dengan tangannya, lalu ia terkekeh kecil.


"Pandang-pandangan. Nanti malah minta nambah pulak." ucapnya kemudian. Rupanya dia sudah hafal dengan gerak-gerikku.


"Kok tau, Dek?" tanyaku dengan membawanya dalam pelukanku.


"Tau lah, Abang kan kebiasaannya macam itu." jawabnya dengan melepaskan pelukanku.


Lalu ia berjalan menuju kamar mandi. Dan aku masih menikmati rasa nyamanku, karena sisa-sisa kenikmatan ini masih terasa di tubuhku.


~


~


~


Hari demi hari kami lalui dengan begitu cepat. Dengan canda, tawa, air mata yang silih berganti. Sampai kini kandungan Dinda akan menginjak usia tujuh bulan. Dan tinggal hitungan hari lagi, Maya akan melahirkan. Menurut HTP (Hari Taksiran Persalinan), Maya akan melahirkan sekitar dua minggu lagi. Ia pun mengaku sudah sering kali merasakan kontraksi palsu. Saat aku menghubunginya lewat telepon.


"Dek, Abang mau ke kota C. Nanti Abang juga mau mampir ke rumah orang tua Adek, buat cerita tentang kehamilan Adek. Nanti syukur-syukur mereka bisa ikut balik Abang ke provinsi A, buat ngadain syukuran tujuh bulanan Adek." ucapku, saat kami tengah bersantai di teras rumah. Dengan memperhatikan Givan bermain mobil remote, di halaman rumah.


"Kenapa tak aku aja yang balik? Kenapa mesti repot-repot bawa mereka ke sini? Terus Abang mau ngapain ke kota C?" tanya Dinda beruntun. Ia sepertinya tak suka mendengar aku akan bertolak ke kota C.


"Zulfa sama Jefri mau tunangan, Dek. Adek lagi hamil macam itu, resikonya gede Dek. Belajar dari pengalaman Adek coba. Adek dulu kan pernah naik pesawat dalam keadaan hamil, ya kan? Jadi lebih baik mereka yang ke sini aja." jelasku padanya.


Dinda terdiam membisu. Mungkin ia tengah memikirkan apa yang aku ucapkan.


Ia memainkan ponselnya, dan…

__ADS_1


"Hallo, Bang." ucap Dinda berbicara dengan teleponnya. Ia meloudspeaker panggilan telepon yang ia sambungkan tersebut.


"Ya, Dek." sahut… Jefri. Istriku memang sudah tak percaya pada suaminya sendiri. Ia sampai memastikan sendiri pada Jefri.


"Betul kah mau tunangan?" tanya Dinda langsung.


"Ya, Dek. Lagi persiapan doain ya semoga lancar. Kau pun diundang kalau kau mau datang." jawab Jefri terdengar, dan aku sedikit mendengar suara Zulfa berbicara pelan.


"Ya udah terserah kau aja, Dek. Kan bukannya kau yang pengen buru-buru. Percuma keknya orang tua nentuin tanggal, ini itu. Jangan bikin semuanya jadi sia-sia!"


"Plin-plan betul kau! Ya Abang kan udah tanya dari awal. Kau minta dipercepat, terus sekarang ganti lagi. Mau kau gimana?"


"Abang di kota M pun mau lanjutin dagang kain, Abang pun tetap lanjut dinas di sana. Bukannya mau cari baru, terus lupain kau."


"Ya kan, udah dijelasin dari awal. Kalau ngandelin dari gaji aja tak bakal cukup buat ngasih makan kau nanti, hidupin anak-anak kita nanti. Ya kan Abang di sana ngelola usaha juga, biar kita ke depannya tak kesulitan ekonomi."


"Ya kau yang paham! Kesal betul, kau dibilangin jawab aja!"


"Udah dibilang, bukan mau ninggalin kau. Bukan mau lari dari tanggung jawab. Cuma pengen nanti biar ke depannya kita baik-baik aja, hidup kita tak kesusahan."


Suara Jefri yang terus menerus menyahuti seseorang di sana. Mungkin mereka tengah bertengkar.


Dinda hanya terdiam mendengarkan. Meski aku panggil namanya berulang kali, ia terus diam membisu.


Aku mengambil alih ponselnya, dan memutuskan sambungan teleponnya pada Jefri itu. Sepertinya Jefri melupakan, bahwa dirinya tengah teleponan dengan Dinda.


"Dek, Abang udah pernah bilang ke Zulfa. Abang mau ajak dia ke sini. Mau Abang bukain dia usaha apa gitu kan, terus nanti dia bisa bantu-bantu Adek buat ngurus anak juga." ungkapku mengalihkan perhatiannya.


"Abang ngasih tau Zulfa tentang kita?" tanya Dinda kemudian.


"Belum, nanti biar dia tau sendiri aja. Terus Abang ceritain." jawabku jujur.


"Kenapa memangnya? Kedai kopi siapa yang ngelola?" sahutnya serius.


"Jefri mau balik ke kota M, dia juga mau pindah dinas di sana. Kedai mungkin nyuruh orang lagi." balasku, lalu aku menyeruput teh buatannya.


"Iya kenapa Zulfa mesti ke sini? Aku tak nyaman di rumah ada orang lain. Nanti kita tak bisa Ng W di ruangan lain." ungkapnya membuatku terkekeh geli.

__ADS_1


"Keknya Zulfa sama Jefri lagi tak baik-baik aja. Jadi sebelum Zulfa gila, lebih baik sama Abang di sini. Biar bisa lupain Jefri lebih cepat. Kalaupun lanjut sama Jefri, pasti LDRan. Kalau Zulfa di sini kan mereka gampang ketemunya." tuturku menjelaskan.


"Nanti kita Ng Wnya macam mana? Tak bervariasi dong kalau di kamar aja." tukas Dinda. Aku cekikikan sendiri mendengarnya protesnya berulang kali.


"Kan kita ada lantai atas. Biar Zulfa suruh tinggal di atas aja, jadi kita tetap bebas di lantai bawah." ucapku, saat ia hendak bangkit dari posisinya.


"Ya udah deh. Biar rumah ke isi juga, banyak kamar yang tak kepakek juga." ujar Dinda, lalu ia berlalu masuk ke dalam.


Tuh, padahal ia menyadarinya bahwa banyak kamar yang tak terpakai. Dari awal pun aku sudah menasehatinya, untuk membangun rumah yang sederhana saja. Tapi dia ngotot betul mau rumah mewah sesuai impiannya. Bukan aku tak mampu memberikannya, buktinya aku sanggup membangunkan rumah impiannya sekarang.


Tapi jika rumah terlalu besar, malah tak sesuai fungsinya. Banyak kamar yang tak terpakai dan ruangan yang tak digunakan. Hari-hari kami hanya menggunakan kamar, dapur, tempat khusus mencuci pakaian, ruang keluarga, tempat khusus olahraga, dan ruang tamu saja. Givan pun tak betah main di ruang bermainnya. Ruang bermainnya ia gunakan untuk menyimpan mainannya saja. Ia tetap mainan di ruang keluarga sambil menonton televisi, atau di kamarnya.


Dinda keluar dengan beberapa cemilan di tangannya, "Nanti beliin hadiah buat Bena, Bang. Anak dia laki-laki apa perempuan?" ucapnya kemudian.


"Perempuan, Dek. Mau kasih hadiah apa?" tanyaku dengan mengambil cemilan yang ia bawa tadi. Benazir sudah melahirkan anaknya empat bulan yang lalu, melalui operasi sesar. Karena ia mendapatkan pembukaan yang lama sekali, belum lagi keadaan Bena yang terus menurun dan ketubannya sudah rembes dari beberapa hari sebelum dirinya menyadari bahwa itu adalah cairan ketubannya. Jadi dikhawatirkan bayinya kekeringan cairan ketuban di kandungan. Begitulah cerita yang aku dapatkan, saat Edi meneleponku.


Semoga istri-istriku diberi kemudahan dalam persalinannya. Entah Maya, ataupun Dinda. Tapi aku yakin, Dinda bisa melahirkan normal kembali. Karena ia rajin berolahraga ringan, senam hamil dengan instruktur yang mau datang ke sini setiap tiga hari sekali. Tentu dengan bayaran yang tak sedikit.


Mengepel jongkok pun sudah ia lakukan. Ia pun pasti menghabiskan obat yang diberikan oleh bidan ataupun dokter kandungan. Dan akhir-akhir ini, aku membuatkannya jamu tradisional. Sesuai dengan adat masyarakat sini. Terkadang bibiku yang sengaja membuatkannya, dan memberikannya pada Dinda. Ia pun tak pernah menolak, ia menegak habis jamu yang sudah dibuatkan. Karena ia sadar, melahirkan itu butuh perjuangan. Dan juga usaha agar persalinannya mudah. Terlebih lagi, ia amat takut jika harus dioperasi.


"kasih gelang krincing aja lima biji. Aku nanti abis tujuh bulanan, mesti vaksin tetanus toksoid 2 Bang." sahutnya dengan memperhatikan langkah anaknya yang mendekat ke arahnya.


"Nanti Abang temenin, Abang tak lama di sana. Paling dua mingguan." balasku, dengan menerima mobil remote yang Givan berikan. Ia berhenti bermain, karena mobil remotenya kehabisan baterai ternyata.


"Dua minggu dibilang sebentar. Macam manalah Abang ini? Nanti aku kalau sakit pinggang siapa yang ngelus-ngelus? Nanti kalau aku butuh bantuan, siapa yang mau bantu aku? Tega ya Abang? Ninggalin aku sampek dua minggu lamanya. Kenapa tak sekalian aja satu bulan? Palak kali aku sama Abang!!!" serunya dengan memasuki rumah.


Sudah kuduga, aku pasti akan sulit untuk pergi dari rumah ini. Sebenarnya aku pun tak ingin pergi. Tapi bagaimana? Anakku akan segera dilahirkan ke dunia.


"Pah, sebentar lagi papah Hendra ulang tahun. Aku kangen, pengen teleponan sama papah, terus ngucapan selamat ulang tahun untuk papah." ungkap anakku, saat dirinya melihat kalender dalam ponsel ibunya. Yah, setelah dia selesai dengan mobil remotenya. Ia malah memainkan ponsel ibunya, yang tertinggal di luar ini. Karena pemiliknya sedang ngambek, dan masuk ke dalam.


"Hmm, Papah tak tau nomor telepon papah Hendra. Nanti tanya ke mamah ya." sahutku. Sebetulnya aku tak menyukai ini. Tapi bagaimana lagi, aku tak mungkin menghalangi Givan untuk berkomunikasi dengan ayah kandungnya. Yah hanya sekedar berkomunikasi, tapi rasanya aku berat. Apa lagi jika mereka harus bertemu.


TBC.


Sabar ya pembaca 🤭


Aku tak bisa bikin cerita dari hamil langsung lahiran 😅 Khawatir tak masuk di akal 🤭

__ADS_1


Maafkan bacaan ini yang terlalu berbelit-belit dan berkelok-kelok. Belum lagi tanjakan dan turunan yang curam 😆 Harap memaklumi karakter penulis dalam menulis ya kak 😅


__ADS_2