Belenggu Sang Pemuda

Belenggu Sang Pemuda
BSP88. Bayi perempuan


__ADS_3

Adi langsung masuk ke dalam ruangan tersebut. Hamzah langsung menolehkan pandangannya ke arah pintu.


"Kau tak mati?" tanya Adi dengan berjalan mendekat.


"Aku cuma temennya Maya, Mas." jawab orang tersebut.


"Aku tanya apa, kau jawab apa. Kau tak malu kah jalan sama istri orang? Tak sekalian kau nikahin aja dia dari awal? Dari pada ngumpet-ngumpet macam itu. Malu-maluin aku aja kau!" sahut Adi terdengar begitu kasar.


"Aku cuma temennya, Mas." balas Hamzah, mengulangi ucapannya.


"Sering kau jalan?" ujar Adi dengan menatap tajam pada Hamzah.


"Gak, Mas." jawab Hamzah dengan rasa takut yang menyerangnya.


"Tinggal jujur aja." ucap Adi kemudian.


"Ya, Mas. Sering." ujar Hamzah.


Adi mengangguk, dan keluar dari ruangan itu. Hamzah menggaruk kepalanya yang tidak gatal, ia merasa bingung dengan suami Maya tersebut. Bisa-bisanya ada laki-laki yang sesantai itu, saat mengetahui bahwa istrinya sering jalan dengan laki-laki lain. Meski hanya teman.


~


Beberapa saat kemudian, Adi dicari-cari oleh Jefri. Karena suster memberitahukan bahwa operasinya berjalan lancar dan Adi diminta untuk mengadzani anaknya.


Jefri menemukan Adi yang tengah mengunyah makanannya di kantin rumah sakit.


"Anak kau udah keluar itu, bahagia apa selebrasi kek. Adzanin sana! Asik ngunyah aja kau." ucap Jefri dengan duduk di kursi yang berada di hadapan Adi.


"Lapar! Pusing! Kesel!" sahut Adi tanpa ekpresi.


"Segitu Dinda belum tau, gimana itu kalau dia tau?" balas Jefri, membuat Adi berhenti dari aktifitas mengunyahnya.


"Kau jangan bikin aku tambah pusing ya, Jef!" ketus Adi.


"Ya sana adzanin. Anak kau bening, tak macam kau." ujar Jefri. Adi mengernyitkan keningnya, ia malah teringat akan Novi. Anak Edi, yang wajahnya dan warna kulitnya begitu mirip dengan Edi.


Adi langsung bangkit dari duduknya, dan berlalu pergi meninggalkan Jefri.


"Heh, kau bayar belum tuyul?" seru Jefri.


"Udah." sahut Adi tanpa menoleh pada Jefri.


'Kenapa aku tak bahagia, dengar Maya lahiran?' gumam Adi merasa bingung dengan dirinya sendiri.


Adi mempercepat langkah kakinya dan langsung menuju ke ruang bayi.


"Sus, mau adzanin anak dari ibu Maya." ucap Adi pada seseorang yang baru keluar dari ruangan itu.


"Oh, iya. Sebentar Pak. Bayinya sedang dilakukan pemeriksaan lanjutan." sahut suster tersebut.

__ADS_1


"Silahkan tunggu aja di sini. Nanti bayinya saya ambil, setelah pemeriksaan selesai." lanjut suster tersebut. Adi hanya mengangguk, dan duduk di kursi tunggu yang tersedia.


Adi mengetikan pesan pada seseorang temannya, yang ayahnya seorang jaksa.


[Minta ayah kau urus perceraian yang hak anak jatuh ke suami.] tulis Adi dalam pesannya.


Tak lama, ia mendapatkan panggilan masuk dari Ilham. Seorang temannya, yang ayahnya berprofesi sebagai jaksa itu.


"Siapa yang mau cerai?" tanya Ilham langsung, setelah panggilan sudah terhubung.


"Aku, tapi pastiin anaknya ikut sama aku." jawab Adi.


"Kapan nikahnya? Tiba-tiba mau cerai aja." sahut Ilham, suaranya terdengar begitu keheranan merespon ucapan Adi.


"Udah tinggal kau urus aja. Nanti surat yang diperlukan aku kirim aja, ya? Dan, jangan sampai berita ini tau sama orang-orang." balas Adi cepat.


"Ok, sesuaikan aja." ujar Ilham menimpali. Yang Ilham maksud untuk menyesuaikan adalah masalah bayarannya, ia berterus terang meminta lebih untuk uang tutup mulutnya.


"Ya, kirim aja alamat kantor ayah kau. Atau alamat rumah kau." tutur Adi dengan memperhatikan langkah kaki orang-orang yang berlalu lalang.


"Siap bos." tukas Ilham, lalu ia mematikan sambungan teleponnya.


'Semoga kepusingan ini segera berakhir.' gumam Adi dalam hatinya.


Tak lama kemudian, datang seorang suster dengan membawa bayi Maya.


"Ini Pak. Silahkan bayinya diadzanin dulu, terus mau dibawa kembali." ucap suster yang tadi ditanya oleh Adi.


"Cepat ya, Pak. Soalnya berat bayi di bawah rata-rata, jadi harus dijaga agar tetap hangat." tegur suster tersebut. Adi mengangguk, dan mulai mengumandangkan adzan di telinga kanan bayi tersebut.


~


~


~


Empat hari kemudian


ADI POV


Hari ini Maya dan Cut Naya Maulida sudah diperbolehkan pulang ke rumah. Ya, anak perempuan dari Maya kuberi nama Cut Naya Maulida.


Anak yang begitu mungil, lahir dengan berat 2,2kg dan panjang 48cm. Matanya seperti Dinda, begitu sipit. Dan pipinya Naya seperti bakpao, begitu tembem meski tubuhnya mungil.


Herannya aku, kenapa matanya seperti Dinda. Apa karena aku begitu mencintai Dinda kah. Sampai-sampai benihku mirip dengan Dinda. Entahlah, aku tak tau pasti


Aku malah tak merasakan bahwa Naya adalah anakku. Mata Maya tergolong belo, mataku tergolong biasa saja. Sipit tak, belo pun tak. Tapi umi selalu berkata, bahwa wajah bayi masih berubah-ubah.


Umi begitu bahagia, ia selalu menggendong-gendong Naya. Ayah pun demikian, raut wajahnya begitu senang. Karena mendapatkan cucu dariku.

__ADS_1


"Ris, mana kambingnya?" tanyaku, pada Haris yang berjalan ke arahku dengan menggendong Kin. Mungkin ia akan melihat bayiku.


"Nih, hadiahnya. Kambing nanti siang diantar." jawab Haris. Karena sebelumnya, aku sudah meminta Haris untuk mencarikan kambing untuk aqiqah Naya.


Haris memberikan gelang bayi berjumlah tiga buah.


Dan aku langsung memasukkannya ke dalam saku. Dengan aku yang langsung mengikuti langkah kaki Haris.


"Paapaaaa…." ucap Kin dengan merentangkan tangannya.


"Papahnya udah punya anak, udah tak mau sama Kin." sahut Haris yang melarang Kin untuk ikut denganku.


"Aaaaa, papa…." pekik Kin kemudian. Aku dan Haris tertawa bersamaan, melihat reaksi dari Kin. Lalu dengan cepat aku mengambil alih Kin dari gendongan Haris.


"Katanya anaknya tak mirip kau ya, Di?" bisik Haris padaku.


Aku mengangguk lemah, dengan tersenyum miris.


Haris terkekeh geli, "Kalau anak hasil di luar nikah memang tak mirip ayahnya, biasanya begitu." ucap Haris kemudian.


"Tapi anak Edi mirip dia betul." sahutku berbicara dengan suara pelan.


"Kan tak semuanya. Kin aja wajahnya campuran Shalwa sama Aziz. Kalau Kin mirip Shalwa, pasti mukanya tak jauh beda sama aku. Nah ini kan Kin beda sama aku, tapi agak nampak mirip kan kalau dia lagi senyum macam itu?" balas Haris.


Aku hanya manggut-manggut mengerti, meskipun sebenarnya aku merasa bingung sendiri.


"Mana anak kau?" tanya Haris cepat.


"Umi… bawain Naya ke depan." seruku dengan berjalan menuju ke kamar Maya.


"Ada siapa?" tanya umi, setelah melihatku muncul dengan menggendong Kin.


"Ada Haris." jawabku pada umi, "Nih May, hadiah dari Haris." lanjutku dengan memberikan tiga buah gelang emas pemberian Haris.


"Anak siapa itu, Di?" tanya ibu Rokhayah, ibu mertuaku. Banyak konflik di antara aku dan ibu mertuaku ini. Aku sekarang hanya berbicara seperlunya, biar saja nanti akan kuberikan langsung surat cerai itu di depan mata ibu mertuaku ini. Nyuruh cerai setiap kali ada masalah. Tau anaknya yang salah, tetap aja nyalahin menantunya. Macam tak punya pemikiran jernih, ibu mertuaku ini.


"Heh, Kin anak siapa katanya?" ucapku yang malah bertanya pada Kin.


Kin bersandar manja pada dadaku, "Papa Di." jawabnya malu-malu.


"Oh, anak Papah Di ini tuh? Coba sih liat mukanya mirip Papah tak?" sahutku dengan membingkai wajah Kin.


Aku melihat sekilas ke arah Maya dan ibunya. Ada kah mereka berpikir sejauh ini? Aku pun ragu bahwa anak itu adalah anakku, karena tak ada mirip-miripnya. Aku pun merasa Naya seperti anak orang lain. Atau mungkin memang hanya perasaanku saja?


"Maksud Abang apa?" ucap Maya dengan memperhatikanku dengan Kin.


TBC.


Segala cara telah kucoba, agar Adi cepat ketahuan. Tapi tetap aja, kenapa pikiranku selalu realistis. Karena tak mungkin ujug-ujug langsung ketahuan aja gitu kan? Ini author lagi berpikir keras, dan memutuskan untuk ngasih tau aja deh. Bahwa nanti ketahuannya di episode 100 lebih ya 🤭

__ADS_1


Udah segitu aja ngasih taunya, nanti tak penasaran lagi 😆


__ADS_2