
Sekarang sudah pukul sembilan pagi. Aku berada di ladang, tapi pikiranku masih membayangkan Dinda yang tengah telan*ang bulat dengan orang lain.
Apa sebaiknya aku tanyakan langsung pada Dinda? Atau pada Supriyatna itu?
Sebetulnya aku takut ucapan Dinda itu benar, jika aku langsung menanyakan pada Dinda. Sebaiknya aku singgahi tempat kerja Supriyatna, untuk menanyakan apa yang mereka lakukan selama aku di penjara.
"Bang, ini mau sampek ke tanah sebelah kah?" tanya seorang yang bekerja cukup lama padaku, saat aku berjalan menuju ke mobil J*epku.
"Iya lanjut aja, kalau bisa diselesaikan sekarang aja." jawabku dengan menoleh padanya.
"Ya… aku butuh waktu, Bang. Tak mungkin selesai hari ini juga." sahutnya kemudian, aku hanya mengangguk dan pergi dari ladang baruku.
Memang cukup merepotkan jika baru mulai pembibitan lagi. Menunggu sampai siap panen pun harus sabar menanti. Sepertinya, aku harus punya usaha lain. Mungkin tanah yang di provinsi L, akan kuolah menjadi ladang jahe saja. Aku ingin mendapat hasil panen yang lebih cepat, karena jika hanya menunggu yang tiga hektar saja rasanya aku tak mungkin sabar.
Oh, tepat sekali. Saat aku hendak memarkirkan mobilku, si Supriyatna baru saja keluar dari apotek tempatnya bekerja.
Aku menekan klakson mobilku, lalu ia menoleh ke arahku. Kemudian ia bertanya dengan menaikan dagunya.
Aku melambaikan tangan padanya, memintanya untuk menghampiriku. Ia mengangguk dan langsung berjalan ke arahku.
"Kau tidur sama istri aku?" tanyaku langsung, saat ia berada di samping pintu mobilku.
"Mana ada! Coba minta dia cerita sendiri, malas kali aku ceritakan sama kau." jawab Supriyatna dengan wajah tak bersahabat. Lalu ia berjalan menuju ke mobilnya sendiri, setelah menjawab pertanyaan dariku.
"Heh, belum siap aku ngomong. Kau udah maen pergi aja." seruku dengan menatap kepergiannya. Tak jelas kali dua orang ini, tak Dindanya, tak si kutu kupret itu. Dua-duanya sama saja membuatku kesel.
Dinda bikin geram saja, penasaran setengah mati aku dibuatnya. Betul tak sebenarnya, ucapannya tentang ia ngamer dengan yang lain itu?
Namun, saat aku berada di jalan pulang. Aku berpapasan dengan mobil kesayanganku.
Si pengemudi menekan klakson dua kali, saat bertemu dengan mobil J**p yang aku kendarai ini.
Aku langsung menepikan mobilnya, kemudian mengambil ponselku
Aku mencari nama seseorang, lalu aku dekatkan pada telingaku
__ADS_1
"Zuhra…."
"Dek?" ucapku berulang. Karena panggilan sudah tersambung, tapi tak ada suara yang terdengar.
"Ya, Bang." sahut Zuhra kemudian.
"Pergi kah bawa mobil Abang?" tanyaku dengan mengusap wajahku, aku merasakan hari ini begitu panas.
"Ya, Bang. Sama kak Dinda, sama Givan juga. Mau ke tempat kak Nurul dulu, terus mau ke homestay yang di K*** L******." jawab Zuhra jelas.
"Ngapain ke sana? Kak Dinda lagi hamil besar. Perjalanan ke sana sekitar satu jam loh, Dek. Nanti sakit pinggang, ini itu." tukasku sewot. Lagian Dinda macam tak khawatir lahiran di jalan, pergi seenaknya tanpa izin dariku. Jangan-jangan saat aku dipenjara, dia asik-asikan ke sana ke mari.
"Ada produser film yang lagi nemenin syuting di sana. Dia ada bilang, mau filmkan novel aku. Ya… meski cuma tayang di YT aja, Bang." ungkap Dinda, tapi suaranya terdengar cukup jauh. Mungkin Zuhra yang memegang telepon, dengan Dinda fokus berkendara.
"Kan Abang udah ada bilang, jangan ke luar rumah sebelum dapat izin dari Abang. Kau ke K*** L****** maen slonong aja!" seruku dalam panggilan telepon ini. Apa benar-benar ia melupakan ucapanku waktu itu kah?
"Sampai mana sekarang? Balik lagi kau!" seruku yang benar-benar marah. Karena mereka tak menyahuti ucapanku tadi.
"Ya, Bang. Kita balik lagi." sahut Zuhra. Rupanya tak berani menyahutiku lagi istriku itu.
"Sabar, Kak. Bang Adi kan memang macam itu orangnya." ucap Zuhra lirih, mungkin ia tengah mengobrol atau memberikan pengertian pada Dinda.
Terdengar kekehan geli dari Zuhra, "Waras, Kak. Gilanya cuma sama Akak aja." balas Zuhra yang membuatku tersenyum samar.
Mungkin Zuhra lupa jika panggilan telepon masih tersambung. Aku langsung mematikan sambungan teleponku, lalu bergegas kembali ke rumah. Sebelum mereka datang.
~
Setelah mereka kembali, Dinda melengos begitu saja. Dia melewatiku seperti tak melihatku.
Tadi pagi ia mengaku sudah ngamer dengan orang lain, membuatku bergidik sendiri. Sekarang, ia berulah lagi. Dengan pergi tanpa izin dariku.
Apa jangan-jangan salah satu artis lokal idola Dinda tengah syuting di K*** L******? Jika memang begitu, pantas saja Dinda langsung tancap gas untuk menghampirinya ke sana.
Aku harus menanyakannya langsung, semoga amarahnya tak terpancing karena laranganku di telepon tadi.
__ADS_1
"Dek… mau ke mana tadi?" tanyaku dengan tersenyum manis dan mencium pipinya sekilas, lalu duduk di sebelahnya. Ia tengah berada di ruang keluarga, dengan televisi yang menyala.
"Aku kan tadi udah kata, aku mau ke K*** L******. Ada produser film yang tertarik sama cerita aku, terus dia mau filmkan novel aku." jawabnya dengan memperjelas setiap kalimat yang ia ucapkan. Sepertinya memang ia tengah bad mood, gara-gara aku minta dia untuk kembali ke rumah.
"Syuting apa mereka di K*** L******? Tepatnya di mana?" sahutku dengan menyerongkan posisi dudukku, agar bisa memandang wajahnya.
"Lagu baru, di B** homestay." balasnya begitu jutek.
"Siapa penyanyinya?" ujarku ingin tahu sekali. Sebelum menjawab, Dinda menyempatkan untuk bertanya pada anaknya yang berlari ke arah dapur.
"Mau ambil kue." seru Givan menjawab pertanyaan ibunya.
"Si abang itu, yang dari kota L." jawab Dinda sangat pelan.
Sudah kuduga, memang dia ingin bertemu idolanya. Bertemu dengan produser hanya untuk alibinya aja.
Masalah ngamer belum selesai, ia menambah beban pikiranku dengan idolanya itu.
Jujur aku cemburu pada laki-laki yang ia idolakan tersebut. Mereka sering bertukar komentar, di media sosial berlogo kamera. Belum lagi, Dinda sering memuji karya idolanya tersebut. Saat idolanya upload single terbarunya di YT.
Apa dia tak puaskah diidolakan banyak orang? Masih saja menggilai laki-laki lain, sampai ia idolakan setengah mati.
"Abang pengen ngomong baik-baik sama Adek." tegasku langsung, dengan menarik tangannya untuk mengikutiku.
Ia bangkit dari duduknya, dan mengekoriku di belakang.
Aku membawanya ke kamar kami, kemudian menutup pintunya tanpa menguncinya.
"Sini, Dek. Duduk!" ucapku dengan menepuk sofa yang barusan aku duduki. Sofa ini tepat berada di depan jendela kamarku, dengan menghadap ke tempat tidur kami.
Dinda menduduki tempat di sebelahku, "Apa, Bang?" ujarnya terdengar malas-malasan.
"Ceritain bisanya Adek ngamer dengan Supriyatna itu, macam mana? Terus, sebegitu terobsesinya Adek ke idola Adek itu kah? Sampek-sampek tak mikirin resikonya, kalau Adek perjalanan jauh hanya untuk nemui dia aja?" tanyaku komplit, agar ia detail saat menjelaskannya.
Dinda menghela nafasnya, kemudian menyandarkan punggungnya pada sofa. Ia melirik sekilas padaku, lalu pandangannya fokus ke depan. Memperhatikan ranjang tidur kami yang sudah ia rapihkan.
__ADS_1
TBC.
Tuh kan tanggung 😌