
"Bu… Adi nitip Dinda sama anak-anak Adi ya. Rencananya Adi tak pulang, nungguin Dinda aja sampek mau ikut Adi. Tapi adik Adi sakit di sana, kasian dia tak ada yang urus. Jadi Adi mau pulang dulu. Nanti insya Allah, dua minggu mendatang atau bulan depannya Adi pulang lagi ke sini. Barangkali lama tak ketemu, Dinda berubah pikiran Bu." ungkapku berbicara dengan ibu mertuaku yang tengah duduk sembari melipat baju. Sedangkan Dinda tertidur lebih awal, padahal Ghifar dan Givan masih berisik. Entah apa yang ia lakukan di luar sana, sampai-sampai ia kelelahan seperti ini.
"Zuhra yang sakit?" tanyanya dengan menoleh padaku sekilas, ia berhenti sejenak dari aktivitasnya melipat baju.
Aku mengangguk mengiyakan, "Masih berobat rutin kan dia, Di?" tanya ibu mertuaku kembali. Namun, ia sudah mulai mengerjakan aktivitasnya kembali.
"Iya, padahal kemarin hari dia abis ke B*nda diantar Safar." jawabku kemudian. Lalu terdengar seruan suara Dinda yang memanggil ibunya.
"Bentar ya, Di." ujar ibu mertuaku, sebelum dirinya berlalu untuk memenuhi panggilan anaknya.
Tak lama ibu mertuaku keluar, dengan menggendong Ghifar dan menggandeng Givan.
"Gak mau diganggu katanya. Anak-anak suruh keluar, dia mau tidur. Kalau udah begini, ibu sih kesel pisan sama Dinda. Anak juga bukan anak orang, anak dia sendiri. Tapi kaya risih gitu." gerutunya jelas.
"Mungkin Dinda lagi capek, Bu." sahutku dengan mengambil alih Ghifar dari dekapan ibu mertuaku.
Ghifar tengah asik menyuarakan suaranya, meski tak jelas diucapkannya. Hanya celotehan yang tiada arti, tapi seperti meladeni ucapan seseorang.
Aku pun merasa sedikit aneh dengan Dinda, sebetulnya ada apa dengannya? Aku jadi bingung sendiri.
~
Aku semalam menginap di rumah ibu mertuaku. Aku tidur di tempat tidur milik Dinda, bersama dua orang anakku dan juga Dinda yang pulas tanpa pergerakan. Rasanya sempit, tapi aku merasa bahagia bisa tidur bersama Dinda dan anak-anakku lagi. Meski pagi harinya Dinda sempat kaget dan langsung memunggungiku.
Aku pun sudah mengatakan padanya, tapi jawabannya begitu pedas didengar. Aku tak kau menghiraukan ucapan kasarnya, aku takut jika aku sakit hati. Lalu dosanya bertambah banyak karena hal itu.
Aku tengah dalam perjalanan ke rumahku, aku ingin berpamitan pada umi dan Maya.
Namun, saat aku berada di lampu merah yang dekat dengan mall kota C ini. Aku melihat pemotor yang membonceng wanita bertubuh gemuk, seperti Maya. Mereka begitu mesra, laki-lakinya pun tengah mengelus-elus lutut wanita tersebut.
Lalu perempuan tersebut menoleh ke arah mobil yang aku tumpangi ini. Aku menggelengkan kepalaku berulang kali, karena wanita itu benar Maya.
"Nanti di depan setelah lampu merah, nepi aja dulu ya Bang. Aku mau keluar sebentar." ucapku dengan menepuk pundak supir taksi online yang aku tumpangi ini.
__ADS_1
Ia menganggukkan kepalanya, tanda dirinya mengerti.
Aku langsung keluar dari mobil, lalu berjalan menuju Maya. Semoga saja lampu ini tak langsung hijau, karena akan sia-sia jika aku sudah seperti ini.
"Naya sama siapa, May?" tanyaku setelah menepuk pundaknya.
Maya menoleh ke arahku, lalu ia terlihat begitu terkejut. Ia menutup mulutnya, dengan mata yang membulat.
"Anu, Bang. Aku lagi keluar sebentar, lagi cari makanan." sahutnya dengan bangun dari jok motor tersebut, lalu membawaku ke pinggiran trotoar.
Laki-laki yang bersama Maya pun langsung menepikan motornya, lalu ia menyusulku dan Maya.
Entah siapa lagi dia? Dia bukan Hamzah, aku pun baru kali ini melihat dirinya. Tapi sepertinya aku pernah melihat seseorang dari laki-laki tersebut, tapi siapa ya? Karena saat ini aku sudah dikepung emosi yang memuncak.
"Siapa, May?" tanya laki-laki tersebut setelah berada di sebelah Maya.
"Kau ojek online?" tanyaku langsung pada laki-laki tersebut.
"Bukan, saya calonnya Maya." jawabnya dengan mantap. Dengan Maya yang menggeleng-gelengkan kepalanya, dengan wajah yang terlihat begitu cemas.
Aku mengulurkan tanganku, untuk menyentuh ujung kepala Maya.
"Maya Renawati, hari ini saya menjatuhkan talak untuk kau." ucapku dengan mantap.
Aku tak tahu juga ada yang memperhatikan kami atau tidak. Karena lampu sedang berwarna hijau, semua kendaraan pun tengah menancap gasnya kembali.
Maya menggelengkan kepalanya, "Aku gak mau, Bang." sahutnya dengan menggenggam tanganku.
Dengan begini, aku dan Maya bukan suami istri kembali. Apa lagi di sini ada bukti, si laki-laki calon dari Maya tersebut.
Laki-laki tersebut mengerutkan keningnya, mungkin ia tak percaya akan yang ia lihat saat ini. Bodi amat lah, aku tak mau tau lagi.
Aku langsung berjalan dengan berlari kecil, karena mobil yang aku tumpangi tadi sudah menungguku di depan lampu merah.
__ADS_1
~
~
Aku sudah berada di provinsi A. Saat aku sampai di rumah, lalu mengatakan kejadian di lampu merah tadi pada umi. Namun, umi seperti tak percaya. Aku pun sudah memberitahukan, bahwa Maya sudah aku talak.
Sekarang aku tengah memeluk Zuhra yang tengah menggigil, karena obat yang ia dapatkan baru diturunkan dosisnya kemarin. Membuatku sangat merasa kasihan padanya.
"Kau kenapa tak mau balik? Kau pasti udah tau kan, bahwa hubungan Abang sama kak Dinda udah di ujung tanduk. Biaya pengobatan kau pasti Abang biayain, meski kau udah tak bantu Abang lagi di sini." ungkapku dengan menarik selimut yang berada di atas tempat tidur.
Sekarang posisi Zulfa tengah meringkuk dalam pelukanku, dengan aku duduk di lantai dan bersandar pada ranjang tempat tidur.
"Bang Nahar." sahutnya lirih. Namun, ucapannya malah membuatku terkekeh geli. Zuhra pun ikut menyuarakan tawa gelinya.
"Heh, macam Nahar mau sama kau aja. Percaya diri betul kau!" balasku dengan dengan menonyor kepalanya.
"Aku usahain, soalnya aku sadar diri. Aku kan jadi pengasuh bayi, aku tak mampu untuk masalah materi. Apa lagi harus beli laki-laki." jelasnya yang membuatku geleng-geleng kepala.
"Usahalah kau sana! Pantas aja umi bilang kau sama orang P*riaman udah putus." ujarku kemudian.
Sepertinya pengaruh yang Zuhra rasakan sudah kian membaik, terbukti dari dirinya yang mau diajak ngobrol.
"Memang Nahar ada bilang apa? Kau udah akrab sama dia?" tanyaku dengan memperhatikan wajahnya yang masih terlihat begitu pucat, dengan kantung mata yang bengkak.
"Aku udah sering chatting sama bang Nahar. Terus, malam minggu kemarin juga dia main. Tapi ada Liana di sini, Bang. Jadi kita aman aja." jawabnya tersenyum lebar, dengan pandangan menerawang.
Aku memencet hidung Zuhra, rupanya anak ini tengah kasmaran.
"Inget sama yang nemenin kau selama 3 tahun ini. Bukan hal yang mudah, bagi laki-laki untuk mempertahankan keutuhan hubungannya dengan seorang perempuan tuh." ungkapku, mau bagaimana pun memang seperti itu kebenarannya.
"Tapi… dia bukan laki-laki yang baik, Bang." sahutnya dengan mendongak agar bisa melihatku sekilas.
TBC.
__ADS_1
Kita rileks dulu ya...