Belenggu Sang Pemuda

Belenggu Sang Pemuda
BSP208. Pemahaman sederhana


__ADS_3

"Ini pesan chat dari bang Haris, tadi pun aku telponan sama dia. Aku masih ragu sebetulnya, meski bang Haris udah jelasin panjang lebar. Aku takut Abang tak terima, aku takut Abang marah sama aku dan berpikir aku ini pengen buang Naya dari kehidupan Abang." ucap Dinda yang membuat teka-teki ini semakin membuat pikiranku runyam.


Aku mengulurkan tanganku, kemudian menggenggam tangannya. Mencoba menyalurkan rasa hangat dari hatiku ini, agar Dinda paham sejauh mana aku mempercayainya.


"Ungkapin aja, Abang tak akan marah. Asal jangan bilang Adek suka sama laki-laki lain, terus mau nikah sama dia. Abang tak terima itu, karena Adek istri Abang." sahutku yang membuatnya terkekeh samar.


Dinda melepaskan tangannya, dari genggaman tanganku. Lalu ia menjejer KTP Maya, KTP milikku juga dan juga layar ponselnya yang menyala.


"Di screenshot ini dijelaskan, tentang golongan darah berdasarkan keturunan. Jika hasil perkawinan, dari golongan darah B dan golongan darah AB. Maka kemungkinan keturunannya memiliki golongan darah A, B, AB. Di sini juga dituliskan, tidak mungkin golongan darah O. Kecuali, keturunan dari perkawinan golongan darah B dan O. Kemungkinan golongan darah keturunannya, yaitu B dan O. Di sini juga dituliskan, tidak mungkin B dan AB. Paham, Bang?" jelasnya yang membuatku melongo tak jelas.


"Nah, terus?" tanyaku yang tak mengerti dengan arah pembicaraannya.


"Coba tengok KTP Abang punya, sama KTP Maya punya." jawabnya dengan memajukan letak KTP milikku dan juga milik Maya.


"Keterangan golongan darah di KTP Maya, itu B. Terus… golongan darah di KTP Abang punya, itu AB. Terus Naya, keturunan dari perkawinan golongan darah B dan AB malah memiliki golongan darah O. Sedangkan dalam tabel disebutkan, bahwa itu tidak mungkin. Itu contoh pemahaman sederhana aja, karena kalau jelasin ke arah yang lebih lanjut pasti Abang migren dadakan." ungkap Dinda yang membuat aku menoleh cepat pada Naya yang tengah tertidur memunggungiku.


"Jadi?" suaraku yang tiba-tiba keluar dengan rasa gemetar yang menjalar di tanganku.


"Tak jadi-jadian. Aku ikhlas 4,8 M uangku disumbangkan ke Maya. Selebihnya, Abang ambil kesimpulan sendiri aja. Aku tak mau suudzon." sahut Dinda dengan menggeserkan layar ponselnya.

__ADS_1


"Nih, contoh sederhana lagi." lanjut Dinda dengan memperhatikan foto jejeran KTP miliknya dan KTP milik seseorang.


"Ini KTP lama aku, sama KTP Mahendra punya. Ini dulu diperlukan untuk kepentingan surat cerai. Nah, di sini juga tertera golongan darah aku A dengan Mahendra juga A juga." jelas Dinda dengan memperbesar bagian fotonya, yang bertuliskan golongan darah.


"Tengok ini juga." lanjutnya dengan menunjukkan foto surat hasil laboratorium.


"Aku jadiin ini kenang-kenangan, karena ini aku urus sendiri tanpa suami. Givan delapan bulan, kena demam tinggi sampai 40 derajat celcius kalau malam aja. Aku panik, takut DB atau tifus. Jadi aku bawa bayi Givan ke lab puskesmas, dengan rujukan dokter setempat juga. Setelah hasil lab keluar, ternyata Givan cuma terinfeksi virus aja. Jadi darah putihnya sampek 14000 lebih, buat ngelawan virus itu. Terus bayi Givan juga dehidrasi berat, padahal ASI tak lepas-lepas. Karena dehidrasi itu bukan soal air, tapi elektrolit atau apalah itu. Di hasil lab juga dituliskan, bahwa golongan darah Givan ini A. Kalau aku sama Mahendra lanjut punya keturunan lagi, kemungkinan golongan darah anak kami itu bisa A dan O. Tidak mungkin, B dan AB. Itu contoh dua perkawinan dari golongan darah aja. Dengan aku dan Mahendra, yang punya Givan dengan golongan darah yang valid. Juga Abang dan Maya, yang punya keturunan dengan golongan darah tidak mungkin. Jadi menurut kesimpulan aku… Naya bukan hasil perkawinan dari golongan darah B dan AB. Kemungkinan besar Naya hasil keturunan perkawinan dari golongan darah A dan B, yang memiliki keturunan dengan golongan darah A, B, AB dan O. Mungkin Naya juga hasil perkawinan dari golongan darah B dan B, yang mungkin akan memiliki keturunan B dan O. Juga bisa hasil perkawinan dari golongan darah B dan O, yang pasti juga punya keturunan dengan golongan darah B dan O lagi. Kenapa aku tunjukin hanya pada tabel dengan golongan darah B? Karena Maya bergolongan darah B. Seperti itu kiranya, Abang paham?" jelas Dinda dengan menunjukkan KTP miliknya dan Mahendra, foto hasil lab Givan. Juga terakhir Dinda menunjukkan screenshot, dari tabel golongan darah berdasarkan keturunan.


Mumet? Jelas membuatku pening seketika. Dinda menjelaskan begitu detail, tentu membuatku paham dengan maksud arah pembicaraannya.


"Naya bukan keturunan Abang? Macam itu, Dek?" tanyaku memastikan.


"Kenapa bahasanya mesti diperhalus? Adek bukan lagi berhadapan dengan klien, atau vendor dari perusahaan tertentu. Ini suami kau, biasanya juga kalau ngomong jebret-jebret aja sama Abang. Aku jijik sama Abang, aku tak bahagia sama Abang! Bisanya segala pakek materi pelajaran pulak jelasinnya?!" sahutku dengan terkekeh sumbang, juga menggeleng kepalaku berulang. Tak habis pikir aku dengan istriku ini.


"Masalahnya ini tentang anak, anak itu hal yang sensitif. Apa lagi tempat aku ini salah, aku seolah menyandang peran antagonis setelah hadir Naya di antara kita. Aku ibu tiri, bisa juga disebutkan dengan istri lain dari ibunya. Kalau masalahnya aku sama Abang, udah lain lagi masalahnya. Karena tak ada orang lain yang terlibat, dalam pertengkaran kita." balasnya dengan membereskan kembali dokumen-dokumen tersebut.


"Kalau golongan darah Naya mungkin ikut neneknya atau kakeknya, mungkin tak Dek?" tanyaku mengungkapkan apa yang ada di benakku.


"Ini tentang hasil perkawinan dari golongan darah tersebut, bukan keturunan berdasarkan biologis. Kalau masalah kakek neneknya, mungkin Naya mewarisi wajah dan sifat yang sama kalau tak ada warisan ladangnya." jawab Dinda yang membuat suasana mencair. Aku terkekeh geli dengan memeluknya.

__ADS_1


Hatiku campur aduk, aku merasa kecewa dan sakit hati. Tapi entah mengapa, aku bersyukur karena memiliki wanita seperti Dinda. Tanpa tes DNA, Dinda menjelaskan secara sederhana tentang Naya.


"Terus Abang mesti macam mana, Dek?" tanyaku dengan masih memeluk tubuhnya.


Aku merasa usapan di punggungku, "Makanya kalau niat jadi pucek boy, seimbangin sama ilmu basic dan juga pengetahuan umum. Jangan sampek, perempuan udah hamil Abang maen gauli aja. Kan dia jadi kira itu anak Abang." jawabnya kemudian.


"Perlu tes DNA kah, Dek?" sahutku dengan melepaskan pelukanku, kemudian memperhatikan wajahnya yang terlihat begitu mengantuk tersebut.


Ia menguap lebar sebelum menjawab pertanyaanku, "Sebelumnya, aku pun udah hubungi Maya dan ibunya. Bukan untuk nyidang mereka, tapi untuk kasih tau tentang keadaan Naya. Tapi tak ada yang aktif, nomor mereka yang aku minta dari keluarga Abang. Masalah DNA, aku terserah Abang aja. Aku coba ungkapin, apa yang mengganjal di hati aku selama ini. Aku ngerasa aneh, pas Ilham kasih surat dan nunjukin KTP Maya. Karena aku dulu SMP, pernah ikutan ekskul PMR. Terus aku kasih selebaran tentang tabel golongan darah berdasarkan keturunan ini, terus ketua PMR ada bilang. Coba kasih tanya ke orang tua kalian, sama tak tuh golongan darah kalian sama orang tua kalian. Dengan nada gurau gitu nah, Bang. Jadi aku inget terus sampek sekarang, apa lagi ingatan aku waktu dulu belum tercemari." ungkap Dinda dengan merebahkan tubuhnya asal.


Sepertinya ia sudah tak bisa menahan rasa kantuknya. Beberapa kali ia menguap pun, bukaan mulutnya begitu lebar.


"Menurut Abang….


TBC.


Pandai kan Author? 🤪


Iya dong ahh 😝

__ADS_1


__ADS_2