Belenggu Sang Pemuda

Belenggu Sang Pemuda
BSP192. Tamu-tamu Adinda


__ADS_3

Esok harinya, kediaman ibu Meutia begitu ramai. Bukan karena anak-anak dari Adinda saja, tapi Novi anak perempuan Edi juga ikut serta memeriahkan suasana pagi ini. Berbeda dengan Naya yang hanya terdiam, sembari memeluk ibunya. Anak perempuan berusia sepuluh bulan itu, tengah demam tinggi sejak malam tadi.


"DEK…. PASUKAN KAU UDAH PADA DATANG INI." teriak Adi dari arah ruang tamu.


"Siapa, Bang?" tanya ibu Meutia yang mendengar seruan dari anak sulungnya. Ia melangkah menuju sumber suara, dengan rasa penasaran yang menyelimutinya.


"Ehh, Nurul ya?"


"Lah, ada Shasha sama Seila juga."


ucap ibu Meutia menyambut kedatangan mereka.


Adi tengah terlihat begitu sibuk dengan anak-anaknya. Ghifar yang mengepel lantai dengan tumpuan duduknya itu, membuat Adi cukup kewalahan. Karena ia sembari menggendong Ghavi, juga tengah menyuapi Givan makan.


"Kau lagi ngapain sih, Di? Olahraga kau?" tanya Seila dengan memperhatikan aktivitas Adi, setelah dirinya dipersilahkan masuk.


"Ini lagi kerja keras! Bertanya pulak kau!" ketus Adi dengan melirik Seila dengan tajam.


"Dek Dinda mana, Bang?" tanya Shasha yang memperhatikan isi ruang tamu tersebut.


"Nyebokin Ghava. Itu anak kau?" jawab Adi dengan bertanya kembali pada Shasha.


Shasha mengangguk, "Ya Bang, setelah perjuangan sejauh ini. Akhirnya aku bisa bawa balik anakku ke tangan aku." ungkap Shasha memberitahu.


"Syukur dong, sini di lepas. Coba kita adu sama Ghifar, kuatan mana mereka." sahut Adi yang mendapat toyoran ringan dari ibu Meutia.


"Umi bikin minuman dulu ya." pamit ibu Meutia pada mereka semua.


"Siapa ini namanya, Sha?" tanya Adi, saat Shasha menurunkan anaknya dari gendongannya.


"Haikal Putra Sulaiman." jawab Shasha dengan tersenyum pada anaknya.


Baru saja dilepaskan, Haikal sudah mendapat pukulan mainan di kepalanya. Bukan lain pelakunya adalah Ghifar, anak itu terlihat menatap penuh marah pada Haikal yang mengambil alih permainannya.


Tangis anak Shasha seketika memenuhi ruangan, dengan Shasha reflek mengangkat tubuh Haikal.


"Ngeri betul Adi kecil. Kau galak betul, Nak." ucap Shasha dengan nada dibuat seperti tengah ketakutan.


"Hai, hai, hai… tamu-tamuku." sapa Adinda yang baru muncul dengan menggendong anaknya.

__ADS_1


"Dek, Dek… sini duduk dekat Akak. Akak mau tunjukkin barang baru, kau pasti tertarik deh." ucap Seila dengan semangat.


"No, no, no… aku mau perawatan kulit. Apa aja treatment terbaru kali ini, Kak? Tapi yang halal dan jangan pakek rasa sakit." ujar Adinda membuat Seila mengerucutkan bibirnya.


"Kok ada di sini sih, Rul?" tanya Adi dengan memperhatikan istrinya yang duduk di sebelah Nurul.


"Aku ngambil pendidikan lagi. Makanya lama aku tak main, tak nengokin anak-anak kalian juga." jawab Nurul, sesaat kemudian ibu Meutia muncul dengan membawa beberapa minuman hangat. Karena sekarang masih pagi, sekitar pukul sembilan pagi.


"Tapi waktu itu, Dinda treatment setrika perut katanya. Terus rambutnya jadi nenek-nenek macam itu, memang tak sama kau?" sahut Adi yang mulai membombardir Nurul dengan pertanyaan seputar istrinya. Karena Adi pun tak mengetahui, bahwa Nurul tak di provinsi A lagi. Membuat pertanyaan muncul, tentang ke mana istrinya perawatan selama ini.


"Husna yang gantiin aku di sana, sama beberapa asisten aku. Kalau rambut aku kurang tau, di tempat aku tak ada treatment rambut apa lagi diwarnai macam nenek-nenek." jelas Nurul kemudian.


Adi langsung menatap tajam istrinya, "Jadi kau perawatan di mana, Dek? Kau bilang, kau ke tempat Nurul." ujar Adi yang terlihat terpancing emosi.


"Iya di tempat Kak Nurul. Kan tadi Kak Nurul bilang sendiri, tempatnya dipegang Kak Husna sama asistennya. Kalau rambut aku di salon lah, Bang. Cuma bukan tempatnya di situ aja, langsung meletup-letup." tutur Adinda dengan melirik malas pada suaminya.


"Tau, lah. Kesel Abang! Mulut tuh alot betul buat cerita aja." tukas Adi membalas ucapan istrinya.


"Udah banyak kasus, banyak yang disembunyikan. Ehh, orangnya tak terbuka juga ternyata." ujar Maya lirih, dengan melewati mereka semua begitu saja.


"Siapa itu, Dek?" tanya Seila dengan mendekati Adinda.


"Dia adalah… menantunya Umi Meutia." jawab Adinda dengan melirik pada mertuanya yang tengah menggendong Ghavi, yang baru diambil alih dari dekapan Adi.


"Aku barang ilegal, Umi." balas Adinda yang membuat semuanya terkekeh kecil.


"Oh iya, Sel. Aku pesan mahkota sunting A***, tapi dari emas ya." ucap Adi, dengan nimbrung pada kumpulan perempuan itu.


"Arghhh… Bang… Dih.. Di…" teriak Ghifar dengan menggeser tumpuan duduknya ke arah ayahnya.


Semua orang tertawa geli, saat mendengar Adi dipanggil dengan sebutan 'abang' oleh anaknya sendiri.


"No, no, no, no! Ini Bang Adinya Tante, Adek tak boleh dekat-dekat." ujar Seila dengan berpindah posisi tempat, membuat Adi diapit di antara Seila dan juga Adinda.


Tangis anak itu langsung membuat kaca jendela bergetar, disusul teriakkan dan lemparan mainan ke arah Seila.


"Di, ngeri betul ngamuknya anak kau." ujar Seila dengan menghalau lemparan mainan yang mengarah ke arah wajahnya.


Adi langsung bangkit dari duduknya, kemudian mengangkat tubuh anaknya tersebut.

__ADS_1


"Cep, Sayang. Sayangnya Abang…" ucap Adi dengan menepuk pelan punggung anaknya.


"Nih, nih kue. Wah… apa ini? Jokernya bang Givan ini, mana tuh Batman-nya?" lanjut Adi mencoba menenangkan Ghifar.


Dengan mudahnya, tangis anak itu terhenti. Lalu Adi kembali duduk di sofa ruang tamu, dengan mamangku Ghifar yang tengah bermain miniatur tokoh kartun dan juga melahap kue yang Adi berikan.


"Dek, keknya gara-gara dia mandi darah Abang deh. Makanya dia pengennya nemplok terus sama Abang." ungkap Adi, dengan bersandar pada sofa dan memperhatikan istrinya yang tengah fokus pada layar ponsel yang Seila tunjukkan.


"Hah, kok bisa mandi darah Abang? Gara-gara kepatok ular itu?" tanya ibu Meutia yang tengah bermain-main dengan para cucunya tersebut.


"Bukan, Mi. Kepatok ular sih ini nih, di kelingking kaki. Malah masih diperban tuh." tunjuk Adi dengan meluruskan kaki kirinya.


"Kau kepatok, Di? Bukannya kau king kobra ya, Di? Kok kau masih kena patok aja?" tanya Seila yang membuat orang-orang tertawa tertahan.


"Tau lah, Akak tuh mesumin suami aku terus. Janda gatal kau!" sewot Adinda dengan menghentakan kakinya, sembari duduk dengan menggendong bayi Ghava tersebut.


"Nah kan betul? Kau korban king kobranya. Ini anakan ularnya, hitam-hitam semua pulak." sahut Seila dengan membelai jidat Ghava, yang berada di pangkuan Adinda.


"Serius loh aku, Sel. Darahnya sampek banyak kali." ungkap Adi dengan memperhatikan Seila dengan wajah serius.


"Yang penting kau sekarang tak apa-apa, itu udah cukup buatku. Demi apapun, Di. Memandangmu tersenyum bahagia pun, aku ikut bahagia melihatnya." ujar Seila, yang langsung mendapat gigitan di lengan kanannya.


Teriakan Seila begitu lepas, membuat Adi langsung terkonek ke konsep yang lain.


"Galak betul ular betina ini!" ucap Seila dengan mengelus-elus tangannya yang sudah terlepas dari gigitan Adinda tersebut.


"Makanya aku sih kapok, pas dibilang pacaran tak lama aja. Sok kali kau. Sudah cukup untukku, aku tak mau cari mati sama bos ladang." timpal Nurul kemudian.


"Ya Allah, untungnya selama ini aku tak pernah diapa-apain." sahut Shasha dengan mengelus dadanya, membuat beberapa orang tertawa karena ucapan Shasha barusan.


"Jadi, kemarin Abang digigit ular sambil bawa Ghifar?" tanya umi kembali.


"Tak, Abang mandi darah karena dipukul Dinda." jawab Adi santai.


"APA???" pekik ibu Meutia, yang membuat Adi langsung menepuk jidatnya sendiri.


"Kok bisa? Kapan kejadiannya?" lanjut ibu Meutia mengintrogasi anaknya.


"Hmm… Waktu aku baru tau kalau bang Adi itu punya istri lain, Mi." jelas Adinda dengan menundukkan kepalanya.

__ADS_1


"APA????????????" paduan suara yang berasal dari tiga wanita tersebut.


TBC.


__ADS_2