
"Rasanya udah mau ngejan aja." ungkap Dinda dengan menahan sesuatu.
"Bentar ya, dicek dulu." sahut ibu Nur. Lalu ia kembali memakai sarung tangan karet, dengan jarinya masuk ke dalam inti Dinda.
"Hah… Pembukaan komplit. Disiapkan aja, Ran." ujarnya dengan kaget, lalu ia terburu-buru mengenakan celemek atau apalah. Kemudian mengambil beberapa kain yang aku bawa masuk tadi.
Dinda mengejan tanpa instruksi, jelas itu sangat berbahaya. Apa lagi posisinya miring ke arah kiri lagi.
"Tahan ya, Dek. Tahan rasa mau ngejannya, yang rileks. Biar tak sobek nantinya. Ngejannya sambil buang nafas, sambil Adek pagang kakinya ini. Biar pantatnya tak ngangkat. Kepalanya sambil nunduk, tiap kali ngejan sambil buang nafas. Biar otot lehernya tak kendor, lepas selesai melahirkan nanti." jelas ibu Nur memberikan Dinda instruksi.
"Ada mules tak? Yuk, siap." lanjut ibu Nur kemudian, setelah Dinda mengangguk mengerti.
"Aku mau minum, Bang." ucap Dinda dengan menoleh ke arahku. Aku sudah bersiap di sampingnya, karena ibu Nur memintaku untuk menundukkan kepala Dinda saat Dinda mengejan nanti.
Aku memberinya minum, dengan cepat Dinda mengambil gelas itu. Lalu meneguknya hingga tandas.
"Aku tak mules, tak ada rasa apa pun." ungkap Dinda membuat kita semua melongo bingung.
"Coba dicubit-cubit p*t*ng dadanya, biar ada kontraksi." pintu ibu Nur pada Cut Rani, asistennya.
Namun, saat Rani membuka kancing kemeja putih yang Dinda kenakan, Dinda malah mulai mengejan kembali.
Perempuan melahirkan sampai ditelan*angi seperti ini. Apa lagi Dinda tak mengenakan pembungkus dadanya, jadi jelas saat kemeja itu dibuka. Tubuh bagian atasnya terekspos jelas.
Dengan cepat aku menundukkan kepalanya. Lalu bidan pun terus-terusan meminta Dinda untuk membuang nafasnya. Lepas itu Dinda berhenti kembali, ia meminta minum padaku.
"Dek, jangan bercanda lah." ucapku bingung.
"Yang botolnya aja langsung, aku haus kali." sahutnya dengan meraih sendiri botol air mineral kemasan besar. Setelah puas meneguknya, ia kembali mengejan.
"Laa hawla wa laa quwwata illa billah…" ucap ibu Nur, dengan fokus pada kel*min Dinda.
"Betul tak ada mules kah?" tanya Rani, saat Dinda sudah tak mengejan kembali. Dinda pun mengangguk mengiyakan.
"Cuma memang pinggulnya kek mekar itu rasanya, sakit kali. Kalau ngejan memang rasanya timbul sendiri." tukas Dinda, betulkah seperti itu?
"Berasa tak ganjalnya? Itu berarti bayinya yang dorong sendiri." tanya ibu Nur dengan memperhatikan wajah Dinda.
__ADS_1
"He'em…" jawab Dinda lirih.
"Karena memang udah di jalan lahir. Ayo Dek semangat, tiga ejanan lagi mungkin keluar kepalanya ini." jelas ibu Nur kemudian.
Tak lama, Dinda mengejan kembali. Mungkin rasa ingin mengejan itu timbul kembali. Ibu Nur pun terus-terusan melafalkan, 'Laa hawla wa laa quwwata illa billah' denganku yang terus bersyahadat dalam hati. Karena Dinda tak bisa untuk bersyahadat, saat dirinya tengah mengejan seperti itu.
Lalu, Dinda mengejan dengan air mata yang meleleh.
"M*ki aku pedas betul. Kek dibuka selebar-lebarnya." ungkapnya begitu lirih, dengan nafasnya yang ngos-ngosan.
Tak lama kemudian, terdengar suara yang membuatku menangis terharu.
Owaaa……
Suaranya sungguh kencang, bayi itu menangis kejar. Tapi malah membuat bidan dan asistennya panik, dikarenakan…
"Kepala dia baru keluar, udah nangis aja. Badannya masih di dalam kau, Nak. Sabarlah sebentar." ucap bidan tersebut, aku pun melongok ke bawah Dinda. Untuk bisa melihatnya, ia tengah dibersihkan saluran hidung dan mulutnya oleh Rani. Sedangkan ibu Nur tengah menghalanginya dari jepitan jalan lahir itu.
"Dek Dinda, ngejan sekali lagi. Terus tiup-tiup pelan aja, ayo Dek semangat. Kasian anak kau udah pengen di luar." ujarnya dengan memperhatikan wajah Dinda.
Sungguh sebetulnya aku malu sekali, karena beberapa kali ibu Nur dan juga asistennya melihat ke arahku. Tentu karena air mataku yang sedari tadi mengalir deras, tanpa aku kehendaki.
"Huuuh, huuuh, huuuhhh." suara Dinda yang tengah tiup-tiup, lalu ia mengejan kembali.
"Alhamdulillah… tiup-tiup lagi, Dek." ucap bidan tersebut.
Aku melongok kembali, anakku sudah keluar sebatas bahu. Badannya belum sepenuhnya keluar dan juga jelas kakinya masih berada di inti Dinda.
Dan tak lama, bayi itu ditaruh tepat di atas dada Dinda.
"Alhamdulillah…" ucap Dinda dengan air mata bahagia. Aku langsung mendaratkan ciuman di keningnya, dengan air mata yang deras keluar.
"Alhamdulillah, laki-laki." timpal bidan tersebut.
Anakku berkulit hitam sepertiku, dengan wajah yang persis denganku. Apa lagi suara tangisnya, begitu kuat dengan suara yang lepas. Hidungnya bahkan sama persis denganku, wajahnya hampir seluruhnya hidung. Karena mukanya sangat kecil dan imut.
"Mesti harus ngejen sekali lagi, Dek. Plasentanya belum keluar." tutur bidan Nur dengan menekan perut Dinda.
__ADS_1
"Sambil diadzanin aja, Bang Adi." lanjutnya dengan melihat ke arahku.
Aku mendekatkan mulutku pada telinga kanan anak laki-lakiku, "Allaahu Akbar, Allaahu Akbar. Allaahu Akbar, Allaahu Akbar. Asyhadu allaa illaaha illallaah. Asyhadu allaa illaaha illallaah. Asyhadu anna Muhammadar rasuulullah. Asyhadu anna Muhammadar rasuulullah.
Hayya 'alashshalaah. Hayya 'alashshalaah. Hayya 'alalfalaah. Hayya 'alalfalaah.
Allaahu Akbar, Allaahu Akbar. Laa ilaaha illallaah." aku mengadzaninya dengan suara yang bergetar. Bersahutan dengan suara tangis anakku yang semakin meninggi.
"Iqomah dulu, Bang Adi." ujar ibu Nur, dengan memutar kepala anakku.
"Allaahu Akbar, Allaahu Akbar. Asyhadu allaa illaaha illallaah. Asyhadu anna Muhammadar rasuulullah. Hayya 'alashshalaah. Hayya 'alalfalaah. Qad qaamatish-shalaah, Qad qaamatish-shalaah. Allaahu Akbar, Allaahu Akbar. Laa ilaaha illallaah." tuturku di telinga kiri anakku. Dan tangis anakku baru mereda, saat aku menyelesaikan iqomahku.
"Biarin dulu ya. IMD dulu." tukasnya dengan menyelimuti tubuh anakku dengan kain. Tapi tetap anakku berada di dada Dinda, dengan posisi tengkurap.
Dinda masih mengangkang, karena ari-ari anakku masih belum keluar. Sedang diusahakan, karena Dinda tidak merasa mulas.
"Udah dong, jangan nangis aja." ungkapku dengan membelai rambutnya, dan mencium pelipisnya.
"Aku yang ngandung, aku yang ngelahirin. Eh malah anak aku malah tak mirip sama aku." ucapnya membuatku tersenyum geli.
Jari anakku mencakar-cakar dada Dinda, "Nanti mulutnya bisa nemuin putingnya sendiri loh, Bang." lanjut Dinda dengan membelai wajah sikecil.
Eeee…
Suara anakku yang akan memulai menangis kembali sepertinya.
"Alhamdulillah, udah keluar ari-arinya. Sedikit sobek, dijahit dulu ya Dek." tutur ibu Nur, dengan menaruh wadah berbahan tanah liat yang berisi ari-ari anakku itu di bawah ranjang ini.
"Ada sakit tak ya, Bu? Kok anak aku nangis aja." tanya Dinda pada ibu Nur yang tengah mempersiapkan alat-alat untuk menjahit k*malu*n Dinda yang sobek.
"Tadi udah dicek, sebelum ditaruh di atas Dek Dinda. Normal semua kok, Dek. Mungkin memang suara tangisnya yang kencang. Lepas IMD nanti, terus mau ditimbang dan diukur dulu bayinya." jawab ibu Nur jelas.
"Aduh… sakit. Abang….." seru Dinda yang membuatku kaget. Tentu suaranya membuat anaknya menangis lepas, ia kaget dengan suara ibunya.
......................
Laki-laki... Alhamdulillah. Macam anak author 😊
__ADS_1