Belenggu Sang Pemuda

Belenggu Sang Pemuda
BSP178. Keadaan Adinda


__ADS_3

Sudah dua hari lamanya, Dinda masih pulas dalam tidurnya. Anak kembarku pun, dipisahkan di ruangan NICU. Mereka prematur, meski mereka baik-baik saja. Namun, mereka tetap harus menggunakan alat bantu pernafasan. Karena tarikan nafas mereka tak stabil .


Si adik hanya berbeda tiga menit, dari si kakak. Bobot si kakak lebih besar dari bobot adiknya. Si kakak lahir dengan berat 2.1 kg, sedangkan si adik lahir dengan berat 1.9 kg. Mereka begitu kecil, juga rentan. Dokter mengatakan, mungkin kembar akan berada di ruangan NICU. Sampai kurang lebih satu bulan, tergantung pada kondisi kembar.


"Aku mau balik, Di. Aku tak bisa ninggalin tugas aku terlalu lama, karena cuma dikasih izin tiga hari dari rumah sakit." ujar Haris yang membawakan perlengkapan untukku. Seperti pakaian ganti, juga makanan ringan.


"Ya udah, ati-ati di jalan. Makasih ya?" ungkapku dengan menerima ransel yang ia bawa.


Haris mengangguk, "Nanti juga Dinda pulih, jangan terlalu dilamuni." sahut Haris dengan menepuk pundakku.


"Bisanya kembar lahir lebih dini tuh, karena Dindanya udah tak kuat. Fisiknya tak sanggup ngandung dua bayi, untungnya tak kenapa-kenapa." lanjut Haris kemudian.


Sebetulnya aku sudah tau akan hal itu, karena dokter kandungan yang biasa kami kunjungi pernah mengatakan hal itu. Terlihat dari kondisi fisik Dinda yang semakin menurun, ia selalu lemas dan merasa lelah.


Aku memperhatikan Dinda yang masih terbaring lemah di atas tempat tidur. Aku tak mengerti dengan kondisinya sekarang. Beberapa kali ia menggerakkan tubuhnya, juga helaan nafas yang seperti kelelahan. Namun, ia tak kunjung membuka matanya.


"Aku tak bisa tengok dia macam ini." balasku dengan memejamkan mataku. Entah kenapa, aku selalu merasa cengeng.


"Makanya lain kali kalau hamil, terus mau melahirkan lagi. Ikuti saran dokter, karena mereka pasti melakukan yang terbaik untuk bayi dan ibunya. Memang luka operasi, cukup lama untuk sembuh. Tapi dengan Dinda melahirkan secara operasi, akan menekan resiko buruk yang terjadi. Kalau kemarin dioperasi, pasti sekarang Dinda lagi masa pemulihan. Bukan kelelahan macam ini, mana keadaannya turun naik lagi." ungkap Haris dengan berjalan ke arah ranjang tempat istriku berbaring, lalu ia memperhatikan alat-alat yang bersahutan tersebut.


"Tapi posisi bayinya udah siap dilahirkan, Ris. Pembukaan Dinda juga cepet. Dia ke sini, udah bukaan enam. Setelah aku selesai ngurus prosedur rumah sakit, Dinda udah bukaan sembilan. Terus waktu aku masuk ke ruang bersalin, Dinda udah bukaan komplit." jelasku pada Haris, dengan melangkah menghampirinya.


"Iya udahlah, udah terjadi juga. Anak-anaknya pun udah lahir ke dunia." sahutnya dengan mengatur laju air infusan.


Lalu ia berbalik badan, "Aku balik ya. Kabarin aja kalau ada apa-apa. Anak-anak kau sama Zuhra, sama Shasha juga." lanjutnya kemudian. Lalu ia berlalu pergi ke luar ruang kamar Dinda.


Aku duduk di tepian tempat tidur, aku membelai wajah mulusnya dengan jari telunjukku.


Wajah ini, wajah yang pernah aku tunjuk saat aku menumpahkan amarahku ketika terjadi salah paham dengan Supriyatna waktu itu.


Mulut ini, mulut yang pernah melukai hatiku dengan ucapan kasarnya. Namun, mulut ini juga yang mengucapkan kata maaf dan kata cintanya.

__ADS_1


Mata yang terpejam ini, adalah mata yang selalu mengawasiku dan memperhatikanku setiap harinya.


Cepat bangunlah, Dinda. Abang kangen dengan suara berisik kau. Abang kangen dengan semua aduan kau, tentang anak-anak dan juga tentang yang kau rasakan. Lekaslah pulih, cepatlah bertenaga kembali.


Tanganku yang masih berada di wajahnya ditepis pelan, dengan tangan yang terpasang infusan.


"Duh, risih!" ucapnya dengan menggeliatkan tubuhnya, tapi masih tetap memejamkan matanya.


Aku langsung tersenyum lebar, kemudian memberikan kecupan di seluruh wajahnya.


"Abang!!!" rengeknya dengan mendorong tubuhku.


"Alhamdulillah, Abang seneng Adek bangun." ucapku dengan menekan tombol untuk memanggil dokter, yang berada di atas kepala Dinda.


Matanya terbuka perlahan, lalu ia menguap sangat lebar. Sungguh aku bahagia melihatnya terbangun dari tidurnya, karena sentuhan tanganku di wajahnya.


"Kok tau sih, Dek? Bahwa ini Abang. Padahal Abang tak ngomong apa-apa." tanyaku dengan memasangkan hijabnya asal, hanya untuk menutupi rambut hitam putihnya saja.


Karena tadi pagi, ia baru selesai kubilas. Namun, belum sempat aku pakaikan kembali hijabnya.


Suaranya sedikit serak, tapi nada suaranya tetap terdengar seperti biasanya. Aku yakin istriku baik-baik saja, ia sudah pulih sekarang.


"Masa, Dek? Padahal Abang tadi pagi pakek A*e, yang warna hitam itu. Yang Adek suka, coba cium ketek Abang." ucapku mengajaknya bergurau.


"Nah itu, A*e pun kalah baunya. Udah sana geser! Sempit betul tuh!" sahutnya yang membuatku terkekeh geli.


Pintu kamar terbuka lebar, dengan seorang dokter dan perawat yang masuk ke dalam ruangan kamar ini.


Aku menggeser posisiku, agar mereka bisa mengecek keadaan Dinda dengan baik dan benar.


"Boleh aku minum? Boleh aku makan?" tanya Dinda saat penampungan darah nifasnya dicek oleh perawat.

__ADS_1


"Tunggu dua jam ya, Bu." jawab dokter tersebut.


"Yang ada nanti aku mati, kalau harus nunggu sampek dua jam. Aku haus, aku kelaparan." sewot Dinda yang membuatku cekikikan sendiri.


"Boleh minum ya, Bu. Tapi sedikit saja." putus dokter tersebut, setelah mendapat amukan istriku.


Lalu dokter dan perawat itu pamit keluar, dengan aku langsung duduk di tepian ranjang kembali.


"Cepet siapin, tak kasian betul Abang sama aku." ujarnya kemudian, dengan memperhatikan tangannya yang dipasang infus.


"Siap, Sayang." sahutku dengan mengecup sekilas pipinya.


Aku langsung berjalan ke arah sofa panjang, yang terdapat di ruangan ini. Karena di depan sofa itu, ada meja yang berisikan makanan yang Haris bawa.


"Tengok, Bang. Bengkak betul tangan kiri aku." tuturnya, saat aku tengah membuka wadah makanan tersebut.


"Katanya kapan aku balik? Aku pengen minum teh p**** yang dingin, terus mau makan bakso rudal yang di pengkolan sana." lanjutnya kemudian.


Mungkin ia tengah mengasah lidahnya, juga melenturkan kembali otot mulutnya yang kaku.


"Kenapa sih kok pengen itu?" tanyaku dengan berjalan ke arahnya, dengan membawa air mineral kemasan botol.


Dinda langsung mengambil alih botol yang aku bawakan, dengan ia memiringkan kepalanya dan langsung menghadapkan mulut botol yang sudah terbuka tersebut tepat di mulutnya. Ia meminum beberapa teguk, lalu memberikannya kembali padaku.


"Tadi aku mimpi. Mimpi makan belimbing wuluh, asem betul rasanya. Itu belimbing wuluhnya dari Givan, Bang. Dia kata katanya yang ini mateng, tak asem. Pas aku gigit, langsung menjerit gigi mahal aku. Merinding aku karena asemnya, kecut betul. Terus aku ganti lagi, makan bolu kukus. Rasanya seret betul, karena Zuhra buatnya gagal. Abang tau kan kalau Zuhra buat-buat makanan macam itu, banyak gagalnya dari pada jadinya. Air di rumah habis, galon juga kosong. Pas mau godog air, gasnya habis. Aku beli gas ke sana ke mari, tak ada semua. Masa ia mau sesapi air dari belimbing wuluh lagi. Aku tak tahan asemnya." ungkapnya bercerita tentang mimpinya.


Entah kenapa, aku malah tertawa lepas dibuatnya. Mimpinya seperti kenyataan menurutku. Bukan hal aneh, Givan memang suka memetik buah yang tumbuh di sekitar rumah. Seperti belimbing wuluh, buah kersen, buah ciplukan, buah beri liar. Buah beri liar banyak tumbuh di sekitar rumah tetangga, difungsikan sebagai pagar pembatas rumah dan jalan setapak. Buah itu jika sudah matang akan berwarna ungu cenderung hitam, juga rasanya manis. Buah itu sering dicari anakku, untuk konsumsi istriku. Namanya juga anak-anak, ia hanya suka mencari dan memetiknya saja.


Juga tentang Zuhra yang gagal membuat kue, itu bukan hal yang aneh lagi. Dengan yakinnya, ia mengikuti tutorial membuat kue dari YT. Tapi kue buatannya, pasti bantet semua. Kadang kala tak bantet, malah kuenya gosong. Namun, tetap dimakan juga olehku dan Dinda. Kasihan ia sudah berusaha untuk membuatkannya, sayang jika hasil usahanya terbuang begitu saja.


Masalah gas pun memang demikian. Gas yang berwarna pink, memang tengah sulit didapat di daerahku. Sekalinya ada pun, aku harus membeli di pom bensin yang jaraknya cukup jauh.

__ADS_1


"Tuh udah makan kuenya Zuhra, yakin Adek masih pengen makan?" tanyaku dengan memperhatikan wajahnya.


TBC.


__ADS_2