
"Anu, Bang…" ucap Zuhra dengan tersenyum canggung. Tepat saat kakaknya berada di hadapannya, dengan ia
langsung duduk dari posisinya. Beserta juga Adinda yang bangun dari rebahannya, karena ia merasa dirinya pun akan terkena amarah suaminya.
"Heran, mulut perempuan pada lancar-lancar betul kalau ngomongin aib orang." ujar Adi setelah menyentil pelan mulut adiknya, lalu Zuhra reflek menutupi mulutnya dengan tangannya.
"Kau pulak ngapain? Suami tidur malah begadang di sini. Balik ke kamar, tidur!!" tutur Adi sewot pada istrinya. Sampai perkataan 'Kau' pun, diucapkannya secara tidak sadar.
Adinda mengangguk, kemudian nyelonong begitu saja. Ia tahu dirinya salah, maka dari itu ia mengamankan dirinya sendiri.
"Kau pun tidur! Malah cerita-cerita ke istri abang kau, tentang masa lalu jelek suaminya. Ngotak dong, Dek." maki Adi, sebelum meninggalkan kamar Zuhra.
'Untung udahmalam, jadi bang Adi tau kira buat marahin aku. Lagian tau aja itu pejantan tangguh, istri keluar dari kamar aja sampai bangun lagi dari mimpi indahnya.' gumam Zuhra dengan menutup kembali jendela kamarnya.
~
~
Satu minggu kemudian
Saat Adinda dan Zuhra tengah membersihkan halaman. Ketua RT setempat datang ke kediaman Adi, kemudian langsung menanyakan keberadaan Adi.
"Lagi di ladang, Pak. Dzuhur nanti biasanya pulang." jawab Adinda dengan membukakan gerbang untuk ketua RT tersebut.
"Ditelepon aja abangnya, Dinda. Soalnya Adi dapat surat panggilan dari polisi." jelas pak RT tersebut, yang malah membuat Adinda kaget setengah mati.
"Astaghfirullah, ada apa ini? Kok bang Adi sampek dapat surat pemanggilan." tanya Adinda dengan raut wajah khawatir. Ia menerima amplop tersebut, lalu langsung membukanya. Kemudian melihat isi tulisan yang berada di sana.
"Ya Allah, Bang…." lirih Adinda begitu syok.
Zuhra merangkul tubuh kakak iparnya tersebut, "Ayo kak, duduk dulu. Inget bayi Akak, jangan terlalu panik. Itu gak baik." ingat Zuhra pada Adinda, dengan membawa adinda untuk duduk di bangku panjang yang berada di bawah pohon.
"Nanti Adi bisa saya antarkan. Ditelepon aja Adinya, terus kalau udah pulang. Suruh ke rumah saya dulu ya, Dinda." ungkap pak RT tersebut, kemudian langsung diangguki oleh Adinda.
"Telepon Abang, Zuhra." ucap Adinda cepat, lalu Zuhra segera berlari masuk untuk mengambil ponselnya.
__ADS_1
Ia keluar dari rumah, dengan ponsel yang menempel pada telinganya. Terlihat Zuhra berjalan ke arah Adinda, dengan mengobrol dengan seseorang yang berada di seberang telepon.
"Udah, Kak. Abang mau langsung balik ini." ujar Zuhra memberitahu.
Adinda memikirkan ucapan suaminya, tentang Supriyatna yang ingin mengambil posisi Adi. Benarkah demikian?
Apa lagi sekarang, jelas surat pemanggilan polisi atas Adi sudah berada di tangannya. Jadi seperti itukah cara bermain Supriyatna, sampai ia tak melawan ketika dihajar oleh suaminya.
Zuhra mengambil alih surat yang berada di tangan Adinda, kemudian ia membacanya cepat.
"Pengeroyokan?" tanya Zuhra singkat dengan menoleh pada Adinda.
Adinda mengangguk, dengan pandangan kosong ke depan.
"Sebetulnya itu kejadian salah paham aja. Abang cemburu buta, terus maen hajar laki-laki yang nuntut abang ini. Tak taunya dia malah visum keknya Dek, terus buka kasus macam ini. Visum kan buat bukti dari kekerasan yang dia dapat, dari abang kau." tutur Adinda dengan begitu frustasi.
"Macam mana ini Zuhra? Akak tak mau Abang dipidana." lanjut Adinda dengan menggoyang lengan Zuhra.
Zuhra memeluk kakak iparnya, "Tenang, Kak. Semuanya pasti bisa diselesaikan. Akak jangan khawatir, ok?"
"Macam mana, Dek?" tanya Adi dengan wajah paniknya. Ia pun tak kalah panik saat adiknya mengatakan bahwa ia mendapat surat panggilan dari polisi.
Zuhra memberikan surat tadi pada Adi, Adi menerima surat tersebut lalu mencium istrinya sekilas. Kemudian duduk di sebelah istrinya.
"Givan kasih minum, sama ajak pipis dulu Dek." ucap Adi dengan mulai melihat isi surat tersebut.
"Ayo, Bang jago." ajak Zuhra pada Givan. Givan terkekeh geli, mendengar dirinya dipanggil dengan sebutan bang jago.
"Terus Abang harus macam mana, Dek? Langsung ke polisi kah?" tanya Adi kemudian. Dengan menggenggam erat tangan istrinya.
"Katanya suruh ke pak RT dulu. Aku ikut ya, Bang. Mana tau aku bisa jelasin di sana. Aku tak mau Abang dikurung, nanti anak aku siapa yang adzanin?" ucap Adinda dengan mata yang basah. Sifat cengengnya kembali mencuat, saat dirinya berada di posisi seperti ini.
"Abang pasti nemenin Adek lahiran, terus juga pasti adzanin anak kita. Adek tenang aja, ok?" ujar Adi memenangkan istrinya.
Adinda mengangguk samar, lalu memeluk erat tubuh suaminya yang bau matahari tersebut.
__ADS_1
Ia tak bisa membayangkan jika suaminya harus merasakan dinginnya jeruji besi kembali. Ia pun pernah merasakan sendiri, bagaimana sensasi berada di kurungan penjara seperti itu.
Dengan segera, Adi dan Adinda menemui pak RT setempat. Lalu bergegas menuju ke kantor polisi.
"Telpon pak cek, Dek." ucap Adi dengan fokus pada jalanan. Adinda mengangguk, kemudian melakukan panggilan pada pak Akbar.
~
Adi melakukan pemeriksaan selama dua jam lamanya, dengan Adinda yang selalu memanjatkan doa untuk suaminya. Sungguh ia tak menginginkan suaminya jauh darinya, meski suaminya jelas sudah banyak membohonginya.
"Pak cek, kalau bayar aja macam mana?" ucap Adinda begitu lirih.
"Tetep aja harus ikut proses, meski bayar juga. Adi dulu juga bayar, biar hukumannya tak terlalu lama dan juga biar dia dapat sel yang nyaman." jelas pak Akbar pelan.
Pak Akbar mengecek ponselnya, lalu beralih menatap seseorang yang duduk di seberangnya.
"Pak RT pulang aja, itu Safar udah nunggu di depan. Kasian lama prosesnya." ungkap pak Akbar, pada RT setempat yang membantu Adi.
"Iya Cek, nanti kalau perlu bantuan saya tinggal hubungi aja." sahut pak RT tersebut. Lalu beliau pamit pulang pada Adinda dan pak Akbar.
"Jadi macam mana ini, Pak cek?" tanya Adinda dengan wajah pusingnya.
"Ikut proses aja dulu, misal memang harus ditahan. Pak cek usahain biar abang kau tak diberatkan. Syukur-syukur yang buka kasus, mau cabut tuntutannya. Itu bakal mempermudah semuanya, biar abang kau bebas tanpa syarat." jelas pak Akbar pelan, karena ia sadar dirinya masih berada di kantor polisi.
Adinda mengingat kembali kasusnya, ia memberikan uang kompensasi pada keluarga korban yang ia tusuk tangannya dengan jumlah yang lumayan banyak. Lalu keluarga korban akhirnya mencabut tuntutannya pada Adinda.
"Dinda coba hubungi orangnya dulu ya, Pak cek." ujar Adinda dengan merogoh ponselnya yang berada di dalam tasnya.
Pak Akbar mengangguk, "Coba minta dia untuk diselesaikan secara kekeluargaan aja." sahut pak Akbar kemudian.
Adinda mengangguk, dan menempelkan ponselnya pada telinganya. Ia mencoba menghubungi Supriyatna, ia tak menyangka Supriyatna sampai berani menuntut suaminya.
TBC.
Ujian rumah tangga datang dari segala arah, semoga nanti ceritanya bisa happy ending. Kasian Adi dibikin pusing terus, kasian Adinda dapat rugi terus.
__ADS_1
Kira-kira, misalkan tamat nanti bikin novel baru tentang kelanjutan kehidupan mereka? Atau udah aja ya? Ini sih lagi ngomong kosong ya, belum tentu iya. Lagi minta pendapat aja gitu.