
Beberapa saat kemudian, Seila pamit pulang. Ia mengatakan, jika aku akan berangkat ke pesta itu. Lebih baik hubungi dia terlebih dahulu. Karena pesta itu jelas menyalahi aturan syariat di sini. Pasti mereka yang sudah merencanakan pesta tersebut, sengaja mengelabui penduduk setempat.
Entahlah, aku sudah tak tertarik lagi dengan dunia penuh keseruan. Aku hanya ingin hidup tentram, bahagia, dan harmonis dengan keluarga kecilku saja.
Aku menghampiri istriku. Ia terlihat sudah tertidur. Padahal masih setengah sebelas, yang menurutku masih termasuknya waktu pagi.
Itulah Adindaku. Kebiasaannya terlihat berbeda sekali, saat ia mengandung anakku. Ia lebih banyak tertidur, daripada menemani Givan bermain. Biasanya ia main ke tetangga, saat ia memiliki waktu senggang, selepas ia menyelesaikan tugasnya. Namun bahkan sekarang ia jadi tak pernah main ke tetangga lagi. Pagi hari ia habiskan dengan morning sicknya, yang entah kapan akan berakhir.
"Papah, aku mau bikin b*bi air. Macam ini." ucap anakku yang menunjukkan ponsel ibunya.
"Siapa yang download ini?" tanyaku heran. Pasalnya, sebelumnya di ponsel Dinda tak ada aplikasi tok-tok tersebut. Di ponselnya hanya terdapat beberapa aplikasi untuk membaca novel, sosial media, dan game pertanian saja. Dinda enggan memberikan anaknya ponsel pribadi. Karena menurutnya, ponsel belum begitu dibutuhkan untuk anaknya. Lebih-lebih Givan hanya untuk bermain-main saja dengan ponsel. Yah… sekedar untuk bermain game.
"Mamah aku. Aku ambilkan plester coolnya dulu ya, Pah. Nanti Papah ikutin langkah-langkah macam betina itu praktekan." jawab anakku yang berlari menuju kulkas.
"Berapa kali Papah bilang, jangan sebut perempuan dengan betina!" seruku menegaskan. Heran aku dengan anak laki-lakiku. Kenapa ia susah betul diberi pengertian.
"Ya Papah. Maafin aku." sahutnya dengan berjalan ke arahku, sambil membawa plester penurun panas.
Kemudian aku mengamati langkah-langkah, yang dilakukan perempuan dalam video tersebut. Lalu aku mulai mengambilkan apa yang dibutuhkan. Dan mulai membuatkannya untuk anak laki-lakiku.
"Harus direndam air dulu ini. Papah simpan ya? Nanti besok kita tengok lagi, b*bi airnya udah ngembang apa belum." ujaktu yang diangguki langsung olehnya.
Lalu aku membawanya bermain ke luar rumah. Givan sedikit rewel, saat ia mengetahui akan memiliki adik. Entah karena ia khawatir tak mendapat kasih sayang lagi. Atau memang hanya perasaanku saja.
Sambil mengawasi Givan yang bermain dengan teman-teman sebayanya. Aku membuka aplikasi chat dalam ponselku.
Kontak dengan nama Furqon, menghubungiku beberapa kali. Dan mengirimiku pesan chat.
__ADS_1
Sejauh ini Dinda tak mencurigai apa pun. Karena memang ia tak pernah membuka ponselku. Apa lagi sejak ponselnya baru. Ia tak melirik sedikit pun, pada ponselku. Ia hanya fokus bermain ponsel barunya saja.
Dengan ponsel lamanya yang ia berikan pada salah satu anak saudaraku, yang masih kelas tiga SMA. Mungkin karena ia kasihan, karena gadis alim itu tak memiliki ponsel untuk kepentingan sekolahnya. Atau memang Dinda sudah sangat dekat dengan gadis itu, yang bernama Cut Azimah. Atau biasa dipanggil dengan sebutan dek Ning.
Akhir-akhir ini, dek Ning sering sekali diminta Dinda untuk menjaga Givan. Saat dirinya tengah tidur. Karena aku sedikit sibuk mengurus pembibitan ladang baruku.
Aku menghubungi balik kontak bernama Furqon itu.
"Ada apa, May?" tanyaku langsung, saat panggilan sudah terhubung.
"Bang, kapan kirim lagi?" sahutnya terdengar.
"Ya nanti. Perasaan belum sebulan dari waktu Abang balik. Kok udah minta uang lagi?" balasku menjawabnya.
"Uang aku habis. Aku gak doyan masakan rumahan. Jadi setiap kali makan, aku makan di luar. Atau order terus." jawabnya membuatku menghela nafas.
"Ya udah, pikirin aja sendiri masalah keuangan kau. Abang lagi tak pegang uang. Uang Abang, udah Abang suntikin buat modal usaha kawan Abang. Nanti bisa kau terima hasilnya setiap bulan. Ini kan belum sebulan dari jarak Abang balik. Tapi kau udah minta lagi, macam mana sih May?" seruku dalam panggilan telepon.
"Udahlah, May. Jangan hubungi Abang dulu. Nanti juga ada uang yang masuk ke rekening kau. Kau tunggu aja." ujarku lalu langsung mematikan sambungan teleponnya.
Sebaiknya, untuk sementara aku memblokir nomor kontak Maya saja. Agar aku tak merasa begitu dihantui tentangnya. Labih-lebih, aku takut Dinda tau lebih awal. Semoga mimpi buruk itu tak pernah terjadi.
Aku menarik nafas gusar. Aku bingung sekali sekarang. Aku tak memiliki uang sepeserpun di rekeningku.
Sembilan ladang hektar yang kubuat mahar untuk Dinda dulu. Jelas saja hasilnya masuk ke rekening Dinda. Dan empat hektar tambahan juga, masuk ke rekeningnya. Satu hektar yang atas nama Givan. Masuk semua ke tabungan pendidikan anakku.
Bahkan untuk modal pembibitan di ladang baru pun, uangnya atas izin dari Dinda.
__ADS_1
Bukan aku tak memikirkan matang-matang masalah keuanganku, dan ladang yang aku balik namakan. Sebelumnya memang aku tak pernah berpikir untuk menikah lagi. Aku tak pernah memikirkan uang untuk orang lain, dan keperluan lain. Karena jelas, semua keperluanku sudah diurus semua oleh Dinda.
Mulai dari listrik, beras, kebutuhan dapur, keperluan mandi, cemilan, dan lainnya. Dinda semua yang mengurusnya. Aku memakan apa yang ia siapkan. Aku mandi, dengan peralatan yang ia sediakan. Dan aku hidup nyaman dalam rumah yang terasa begitu hidup, karena kehadirannya dan Givan.
Bahkan Dinda sekarang ikut asuransi, untuk aset yang kami miliki. Untuk kesehatan, ia hanya ikut serta dalam program pemerintah yang berbayar setiap bulannya. Tapi sekarang ia mengikuti program untuk kelas satu. Setidaknya, untuk berjaga-jaga saja. Seperti itu yang ia katakan.
Ia juga sudah daftar haji untuk semua anggota keluarga. Baik keluarganya, maupun keluarga besarku. Namun harus menunggu dua puluh tahun lagi untuk kami berangkat.
Usaha puyuhnya berkembang cukup baik. Ia sekarang sudah memiliki 5000 ekor puyuh. Dengan hasil bersih sekitar Rp. 14.460.000 perbulan. Usaha ini kurang lebih baru berjalan sekitar dua bulan. Namun cukup jelas penghasilannya. Tapi jelas saja, itu usaha milik istriku.
Sekarang ia tengah berencana untuk membuat kolam ikan. Untuk kesibukan orang tuanya. Terserah dia saja sebetulnya. Aku tak mau melarangnya memberikan apa pun untuk orang tuanya.
Aku sadar, secara tidak langsung. Aku membelenggu anak perempuan mertuaku, dari jangkauan mereka. Sejak menikah denganku. Ia hanya berkunjung sekali ke rumah orang tuanya. Dan sampai sekarang, aku tak pernah memberikan izin padanya untuk pergi ke rumah orang tuanya. Apa lagi sejak aku menikah dengan Maya. Aku takut orang tuanya memberitahu Dinda.
Bukan apa-apa, aku hanya takut ditinggalkan anak perempuan mereka. Aku sangat mencintai Adindaku. Ia adalah aset yang paling berharga untukku.
"BANG…" panggil suara yang kukenal dengan baik. Aku langsung menoleh ke arah sumber suara.
"Bang, boleh aku bawa mobilnya. Aku ada janji, udah telat nih. Aku buru-buru." seru Dinda yang nampak sudah berpakaian rapih.
Mau ke mana dia pergi? Perasaan, ia belum mengatakan apa pun. Bahkan ia tak memberitahuku, bahwa ia punya janji di luar.
TBC.
Main rapih ya sebetulnya. Tapi pasti deh gerak-gerik Adi mencurigakan Adinda...
Dinda mau ke mana itu?
__ADS_1
Tuh kan mulai kebawa judul 🤭
Apa-apa Adinda harus izin, giliran dirinya nikah lagi pun tak pakek izin dari Dinda dulu.